
Waktu begitu cepat berlalu, sudah seminggu Viona ke restoran Ahmad dan sampai saat ini senang dengan waiter yang melayaninya selama ini.
Viona dan Ainun duduk berhadapan sambil makan eskrim. Senikmat itu mereka menikmati eskrim yang disediakan restoran itu.
"Tambah!" Ujar Ainun sambil mengangkat sendok eskrimnya.
Viona menggelengkan kepala, "sudah ya, nanti makan lagi"
Ainun cemberut karena keinginannya tidak dituruti.
"Tapi bibi besok gak kesini" Ucapnya sambil melihat tempat eskrimnya.
"Bisa lusa kan?" Tanya Viona dengan lembut, "Ainun itu udah besar, gak boleh ngambek" Bujuk Viona lagi.
"Ini.." Ucap Ahmad seketika dengan mendorong pelan kotak eskrim kearah Ainun.
Ainun senang tergambar jelas diwajahnya, sedangkan Viona hanya menghela napas pasrah melihat kotak eskrim lebih besar dari yang Ainun pesan sebelumnya.
"Ahmad, terima kasih banget tapi kalau Ainun makan takutnya sakit" Ujar Viona kepada Ahmad.
"Ini buah asli Viona, jadi gak masalah" Jelas Ahmad lagi.
Viona menatap Ahmad dengan memelas, "bukan masalah buahnya tapi eskrim itu dingin kan, nanti kalau banyak makan flu lagi"
"Gak akan, percaya deh sama aku" Ucap Ahmad mencoba meyakinkan Viona.
"Terserah kalian berdua" Jawaban pasrah dari Viona, "Bibi boleh minta satu permintaan?" Sambungnya dengan pertanyaan.
Ainun mencoba membuka penutup kotak eskrim itu, "iya bibi"
"Nanti makan eskrimnya dirumah saja, gimana?" Tanya Viona.
"Bibi!" Panggil Ainun dengan wajah memelas.
Ahmad mendengar ucapan Viona itu, ia tidak mau memaksa karena bagaimanapun yang tau kesehatan Ainun itu Viona bukan dirinya.
"Benar kata bibi Viona, lebih enak kalau makannya bersama ayah dan ibu Ainun" Ahmad ikut membantu Viona.
Viona menganggukkan kepala sembari senyum.
"Tapi ayah Ainun itu jauh" Jawab Ainun lagi.
"Kalau gitu, untuk Om Ainun" Ujar Ahmad lagi, " Dan tenang eskrimnya saya tambah lagi dua, jadi pulang bawanya tiga" sambungnya sambil mengangkat tiga jari didepan Ainun.
"Gimana?" Tanya Ahamd lagi.
"Iya, Ainun mau" Jawab Ainun membuat Viona dan Ahmad lega.
"Alhamdulillah" Gumam Viona sambil mengusap dada.
"Berapa semua itu Mad?, aku bayarnya ke kamu aja ya soalnya disana banyak cowok" Tunjuk Viona kearah kasir.
"Ternyata udah berubah total ya" Ujar Ahmad.
"Masa setengah-setengah, sebagai sahabat seharusnya dukung"
"Siapa yang gak dukung Viona, dari dulu kali aku ingin lihat kamu tutup aurat" Jelas Ahamd lagi.
"Hehehe" Jawab Viona hanya cengengesan.
Ahmad dan Viona lagi cerita dipotong oleh Ainun yang sudah tidak sabar pulang rumah agar bisa makan eskrimnya.
"Bibi pulang!" Rengek Ainun.
"Iya" Jawab Viona, lalu menoleh kearah Ahmad, "Mad, kapan diundi kuponnya?" Tanya Viona lagi.
Ahmad langsung menyodorkan tangannya depan Viona, "kuponnya mana?"
Viona langsung mengeluarkan kupon selama makan eskrim di restoran itu.
"Tunggu, kenapa kamu yang minta Mad?" Tanya Viona lagi.
"Aku karyawan disini, jadi gak masalah kalau aku yang ambil kuponnya" Jelas Ahmad lagi dengan santai agar tidak dicurigai oleh Viona.
"Oh iya juga sih, kok aku tiba-tiba bego yaa.. hehehe" Ujar Viona diakhiri dengan ketawa.
"Mad, pastikan aku menang yaa, soalnya eskrim disini favorit aku banget"
"Bibi" Panggil Ainun lagi.
"Sabar sayang" jawab Viona pada ponakannya itu.
Viona kembali kearah sahabatnya Ahmad.
__ADS_1
"Mad, jangan lupa" Viona mengingatkan Ahmad.
"Mana bisa gitu Vio, tergantung rezeki siapa" Jawab Ahmad lagi.
"Mad aku pakai jalur orang dalam, ingat Mad.." Ucap Viona terpotong oleh nada dering ponselnya.
"Hhmmm, siapa sih?.. oh" Gumam Viona setelah melihat nama yang tertera dilayar ponselnya dan menaruhnya kembali dalam tas.
"Angkat saja, siapa tau penting" Ujar Ahmad dan memanggil satu waiter, "tolong bawakan paper bag yang bahan plastik" sambungnya yang diangguki oleh Ahmad.
Viona melihat itu hanya melongo. Kok bisa seorang karyawan biasa bisa menyuruh karyawan lainnya.
"Mad, kok kamu suruh karyawan, apa bos kalian memperbolehkan itu?" Tanya Viona yang masih terheran-heran.
"Kami disini dibebaskan" Ahmad asal jawab saja dengan harapan Viona percaya.
"Bagus,. Eh Mad.." Panggil Viona sembari memperbaiki posisi duduknya, "apa disini buka lowongan pekerjaan?"
"Kirain apa, udah serius pas lihat wajah kamu serius ternyata bercanda" Jawab Ahmad dan kembali melihat Ainun yang sedari tadi diam tanpa suara.
"Viona lihat ponakan mu, saking lamanya kamu cerita sampai dia ketiduran kayak gitu, kasian lho dia" Ucap Ahmad lagi dan langsung bangkit dari duduk menghampiri Ainun.
"Mobil kalian dimana?, Kalian langsung pulang aja kasian dia kayak gini atau mau keruangan saya?" Ahmad menawarkan diri, "astaghfirullah Ahmad" sambungnya dalam hati.
"Disini ada ruangan khusus karyawan juga?" Tanya Viona penasaran.
"Tempat barang bawaan karyawan tepatnya" Jelas Ahmad lagi.
"Oh, aku bawa motor Mad jadi kalau begini gak bisa" Ujar Viona lagi.
Viona memutar otak cara agar ponakannya tetap tidak terganggu tidurnya tapi mereka tetap pulang. Beberapa menit berpikir, ia pun memutuskan untuk menelpon Yesi.
"Tunggu ya Mad, aku telepon kak Yesi dulu" Ucap Viona sembari mencari kontak Yesi dalam ponselnya.
Seketika ponsel Viona tersambung dengan ponsel kakaknya. Berdering tapi tidak dijawab teleponnya.
"Gak diangkat lagi" batinnya
Viona kembali mencari kontak sang ibu, dan hasilnya sama dengan Yesi, sama-sama tidak menjawab telepon.
"Gimana sih orang rumah" Batin Viona lagi dan sambil mencari kontak-kontak dalam ponselnya yang bisa diminta tolongin.
"Mad, kembali kerja aja kasian yang lain pada kerja kamu santai disini" Ujar Viona lagi.
"Ini kerja juga namanya, membantu pengunjung yang datang kesini agar tidak kesusahan" Jelas Ahmad lagi.
"Baik bener bos kalian, aku daftar jadi adik bos kalian dong, hehehe bercanda" Ucap Viona sebelum kembali menelfon.
"Gak ada permintaan la...i...n?" Tanya Ahmad diakhir kalimatnya ia pelankan dan sedikit terjeda disetiap huruf.
"Hallo Ray, bisa minta tolong gak?" Tanya Viona ditelepon itu.
Ray yang masih sibuk dibengkel langsung menyuruh karyawannya untuk melanjutkan pekerjaannya yaitu memantau yang memperbaiki mobil langganan utamanya selama ini
"Apa itu?" Tanya Ray lagi diseberang telepon dan terdengar jelas kalau ia lagi menjauh karena suara bising semakin tidak terdengar.
"Minta tolong dijemput sekaligus teleponkan derek" Ucapan Viona itu membuat Ray salah paham, ia kira Viona kecelakaan.
"Viona kamu kenapa?" Tanya Ray dengan panik.
Viona yang mendengar itu hanya menautkan kedua alisnya, "emang aku kenapa?" Tanya balik Viona yang tidak mengerti.
Ahmad melihat itu langsung bertanya kepada Viona, "laki-laki yang pernah datang disini bersama kamu?".
Ray samar-samar mendengar kalimat dari Ahmad itu, yang awalnya panik berubah jadi cemburu.
"Kamu sebenarnya dimana?, Kok ada suara cowok!" Ray masih mencoba untuk bertanya, "turunkan ego Ray" Sambungnya membatin.
"Ini direstoran yang pernah kita datangin. Minta tolong dong Ray, emang gak rindu sama kak Lea?" Tanya Viona lagi ditelepon, ia sengaja membawa-bawa nama iparnya dalam telepon tadi agar Ray tidak menolak.
"Iya, iya" Ray menjawab dan kembali diruangannya untuk mengambil kunci mobil, "untung aku bawa mobil, bisa-bisa aku kembali dirumah baru kesana, dan pasti tadi suara laki-laki itu" Sambungnya setelah mematikan sambungan telepon.
Sementara di restoran, Ahmad dan Viona kembali duduk dengan Ahmad memangku Ainun.
"Aku kira kamu udah hijrah sepenuhnya Vio, ternyata.." Ucap Ahmad dengan nada sedikit kecewa.
"Ternyata belum juga" Sambungnya.
"Aku gak mungkin lepas satu kali Mad, harus bertahap" Jawab Viona, "lagian Ray itu sepupu kak Lea istrinya kak Rifal" Sambung Viona sambil melihat layar ponselnya, ia jaga-jaga kalau Ray menelepon berarti sudah diparkiran.
"Aku peduli Viona.."
"Terima kasih udah peduli dengan hijrahku, kamu memang sahabat terbaik ku deh" respon Viona membuat Ahmad menghela napas dan diam.
__ADS_1
"Jadi dimana cowok itu?, aku ingin menemui dia. Hukum alam berlaku untuk dia dari aku" Ucap Ahmad lagi membuat Viona berpikir sejenak mencerna kalimat demi kalimat dari temannya itu.
"Maksudnya?" Pertanyaan itu bersamaan dengan telepon dari Ray.
"Tuh, angkat suruh kesini" Ucap Ahmad lagi mengabaikan pertanyaan Viona.
"Hehehe, apaan sih" Respon Viona membuat Ahmad kesal, "Gak usah diangkat teleponnya langsung ke parkiran saja, ayo Mad" Sambungnya lalu berdiri hendak melangkah jalan.
"Paper bagnya Viona, ditelepon cowok lupa apa yang mau dibawa pulang" Ujar Ahmad lalu pergi mendahului Viona.
"Jiwa emak-emak yang terpendam muncul" Gumam Viona.
Viona mengambil paper bag lalu jalan dengan cepat menyusul Ahmad. Sementara diparkiran Ray sudah menunggu.
Ray melihat laki-laki dengan menggendong anak yang sedang tidur menoleh kiri kanan seperti mencari seseorang pernah ketemu.
"Teman Viona" Gumam Ray.
Dan tidak lama melihat Viona dari jauh dengan arah yang sama, seketika Ray menghampiri Ahmad.
"Itu Ainun ya?" Tanya Ray kepada Ahmad sembari ia senyum.
"Iya" Jawab Ahmad dengan senyum terpaksa, "dimana mobilnya?" Tanya Ahmad lagi.
"Oh disana, mari" Ajak Ray dengan ramah.
Ahmad dan Ray pergi menuju mobil, sesampainya dimobil Ray membuka pintu bagian penumpang lalu Ahmad membaringkan Ainun disana.
"Teman Viona?" Tanya Ahmad setelah dalam mobil Ray.
"Iya, aku Ray" Ucap Ray lagi memperkenalkan diri.
"Aku udah tau, Viona yang memperkenalkan di restoran ini juga" Jawab Ahmad mengingatkan Ray dan Ray membalasnya dengan senyum seadanya.
"Pacaran dengan Viona?" Tanya Ahmad lagi.
"Haaa.." Ray kaget dengan pertanyaan Ahmad.
"Jawab aja" Ucap Ahmad lagi.
"Begini..."
Ray baru mau menjelaskan Viona tiba-tiba sampai dan mengetuk kaca mobil.
"Ditelepon gak angkat" Kesal Viona harus kesana kemari mencari mobil Ray yang parkir.
"Maaf" Jawab Ray lalu membukakan pintu mobil bagian depan untuk Viona.
"Eh" larang Ahmad.
Ahmad turun dari mobil dan menyuruh Viona untuk tukar tempat, biarkan Viona yang menjaga Ainun.
"Oh iya lupa, kamu kan harus kerja" Ujar Viona dan keluar dari mobil dan berpindah ke belakang.
Viona melihat Ahmad duduk didepan, "Mad, kamu gak kerja nanti kena marah sama bosmu, dan takutnya kenapa imbas dikupon saya, sia-sia aku kumpul selama seminggu" Jelas Viona panjang lebar kepada Ahmad.
"Urusan aku itu bukan urusan kamu" Jawab Ahmad kesal kepada Viona.
Ray membawa mobilnya menuju jalan utama, dengan kecepatan sedang membela jalan kota.
"Emang di restoran mana yang pakai kupon?" Tanya Ray kepada Viona.
"Itu khusus yang bawa anak kecil Ray, bukan yang makan sendiri" jelas Viona lagi.
"Waoow, berarti restoran itu banyak anak kecil dong?" Tanya Ray lagi.
"Hmmm" Viona berpikir sejenak.
Ahmad hanya melihat ke arah samping dijendela mobil Ray.
"Kenapa Viona pakai acara cerita segala" Batin Ahmad.
"Iya, banyak anak kecil" Jawab Viona berbohong karena ia pun tidak tau secara dia ambilnya sisi pojok agar tidak terganggu dengan kebisingan pengunjung lain.
"Bagus juga tuh, kan bisa bawa Ainun lumayan gratis. Siapa sih bosnya aku penasaran?" Tanya Ray kepada Viona lagi.
Jujur, namanya laki-laki pasti punya feeling dengan ucapan Viona yang menurut Ray sendiri aneh, pertanyaannya saja terkahir harus berpikir dulu untuk jawab.
"Mad jawab dong, soalnya aku gak tau" Ujar Viona lagi.
Ahmad bingung karena tidak mungkin menjawab kalau dirinya bos restoran itu sekaligus pemiliknya.
"Coba kita jangan ribut nanti Ainun terganggu tidurnya" Ahmad mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Seketika mereka diam, tapi Ray masih menaruh curiga pada Ahmad teman Viona ini.
"Oke" Jawan Ray singkat dan mengemudi menuju rumah Viona tanpa ada pembicaraan diantara mereka lagi. Sunyi senyap dalam mobil, musik pun Ray tidak diputar.