
Viona terlalu memikirkan masalahnya membuat ia susah tidur, mata panda tergambar jelas dimatanya. Dengan gontai menuju ruang TV. Menyalakan TV dan nonton pilihan utamanya pagi ini.
Ibu Heti melihat putrinya bermalas-malasan diruang TV, ia langsung menghampiri.
"Vio, gak ke butik?"
Viona sembari mengganti channel tv, "malas mam."
"Jadi butik gimana?"
"Besok baru buka, hari ini badan Viona terasa sakit semua" Ujarnya.
"Mama aja kalau gitu ke butik" Ungkapnya lalu bangkit dari tempat duduk hendak siap-siap.
"Gak usah mam, Vio hari ini pantau lewat sosmed aja dulu" Larangnya kepada sang ibu.
"Ok, mama hampir lupa. Hamzah balik hari ini, mungkin sore sampai rumah" ibu Heti memberitahu Viona.
Viona langsung menoleh melihat ibunya dengan mata berbinar saking senangnya.
"Benar mam?" Tanya Viona meyakinkan diri.
"Iya, masa mama bohong" Jawabnya, "coba remote TV, siaran yang mama nonton tiap hari sudah mulai" lanjutnya.
Viona langsung memberikan remote kepada ibunya, ia sekarang tidak tertarik lagi dengan TV. Saking senangnya, ia memilih untuk ke Mall membeli mainan untuk Hamzah.
"Mam, aku ke Mall belanja mainan Hamzah. Mama ikut gak?" Tanya Viona.
"Mainan Hamzah udah full tuh dalam keranjang mainan" Ujar ibu Heti dengan mata sudah fokus di layar TV.
"Kapan mama beli?"
"Sssttt"
Ibu Heti menempelkan jarinya depan bibir tanda melarang Viona ribut. Viona beralih kelayar TV, yang ia lihat tayangan gosip.
"Mama nonton gosip perselingkuhan, itu gosip lama" Ujar Viona dengan tujuan agar ibunya tidak nonton lagi hal-hal yang tidak penting.
"Suka juga gosip ternyata" Ujar ibu Heti sembari melirik anaknya.
"Buka YouTube yang kayak gituan muncul, sekarang era digital. Semua berita ada di genggaman."
"Iya, tapi mama lebih suka nonton di tv layarnya besar jadi puas." Jawab ibu Heti lagi.
Viona memilih untuk tidak merespon lagi, ia rasa percuma berdebat dengan ibunya masalah nonton tv, karena ibunya pasti bertahan dengan alasannya.
"Mam, ada rangka apa kak Lea datang?" Tanyanya lagi, karena semenjak ke rumah orang tuanya Marcellea belum kembali dirumah ibu mertuanya. Dan ditambah sang suami pindah kerja di kota orang tua Marcellea sendiri. Membuat keluarga kecil itu semakin sulit untuk menjenguk nenek Hamzah.
"Kata Lea ada acara keluarga."
"Keluarga siapa mam?"
Seketika Viona penasaran dengan jawaban ibunya. Pikiran Viona saat ini tertuju pada Ray.
"Apa Ray?, Gak mungkin" Batinnya menyangkal.
"Keluarga Lea."
__ADS_1
Viona menarik napas panjang mendengar jawaban ibunya santai, karena bukan itu jawaban yang ia inginkan.
"Tau mam, maksud Viona siapa?" Viona bertanya dengan penuh sabar.
Ibu Heti tanpa menoleh dengan pandangan masih fokus dilayar tv.
"Mama juga gak tau."
Viona memutar bola matanya, capek menunggu jawaban yang pasti dan ujung-ujungnya tidak tau.
"Mama kalau depan tv langsung banyak gak taunya" Jengkel Viona lalu pergi.
Dengan melangkah jauh menuju kamarnya, pikirannya hanya tertuju pada Ray seorang. Pikiran dan hatinya tidak menentu saat ini.
"Apa aku bertanya kepada Ray?, Tapi gimana caranya?, Bahasa apa yang aku gunakan?" batinnya sembari mendorong pintu kamarnya.
Sesampainya dalam kamar, membating badannya diatas tempat tidur empuknya yang belum lama ia tinggalkan hari ini.
"Berpikir Vio, kamu sudah menunggu begitu lama dalam ketidak pastian" Gumamnya.
Dengan menatap langit-langit kamarnya kembali berinteraksi dengan dirinya sendiri.
"Tapi aku dan Ray tidak sekiblat, tapi aku cinta. Ya Tuhan, tunjukkan jalanmu"
Viona mulai dilema dengan keputusan yang ia ambil selama ini. Ia mulai sadar ternyata salah menunggu orang yang belum tentu mau mengikuti jalannya. Pikiran buntu membuat kepala Viona terasa mau pecah.
"Mungkin lebih baik siang ini menelfon Ray, memperjelas semuanya" Batin Viona, ia sibuk dengan pikirannya sampai tidak sadar tertidur di pagi hari.
🌺
Viona baru sampai cafe yang sudah disepakati oleh Viona dan Ray, ia baru memijakkan kaki di tanah dari atas mobil, tiba-tiba Gladis menemuinya dari parkiran.
"Atau mau jadi pelakor?" Cercanya dengan nada tinggi sehingga orang-orang disitu mendengar.
Gladis kembali mempermalukan Viona didepan umum untuk kedua kalinya. Saat ini Viona pasti malu, dan bukan marah kepada Gladis melainkan kepada Ray, karena sudah membahas pertemuan mereka hanya empat mata tapi kenapa Gladis malah menyambutnya diparkiran, seakan tidak sabar ingin bertemu dengannya.
"Kamu datang dengan Ray?" Tanya Viona baik-baik dan lembut.
"Iya, kenapa?, Pasti gak nyangka kan aku datang?"
"Bukan seperti itu, justru aku senang kamu datang" Jawab Viona dengan lembut dan senyum, "ayo masuk dalam, kita temui Ray sekarang, pasti kalian sudah menunggu lama ya?" Lanjutnya dengan berlalu santai.
Gladis heran dengan respon Viona, ia ingin sekali memperlihatkan kepada Ray kalau Viona perempuan kasar, tapi malah terbalik.
Viona yang sudah melangkah masuk cafe, akhirnya kembali parkiran dengan senyum penuh makna.
"Ayolah Dis, aku datang mau ucapkan selamat buat kalian berdua dan doa untuk kelancaran pernikahan kalian, kasian kan anaknya sudah ada tapi ibunya masih single" sindiran itu membuat yang awalnya menjatuhkan Viona kembali pada dirinya.
Seketika wajahnya merah, malu dan marah jadi satu.
"Kamu sengaja mempermalukan aku ya?" Tanya Gladis dengan nada penuh penekanan.
"Liat saja nanti, butikmu tidak akan lama lagi tutup" Ancamnya dan masuk dalam cafe melewati Viona yang masih menunggunya.
Viona cuek saja dengan ancaman Gladis, toh Gladis bukan tuhan yang menentukan lama dan tidaknya usaha butiknya.
Viona baru masuk cafe sudah disuguhkan dengan perdebatan kecil yang akan segera menikah tersebut.
__ADS_1
"Ekhem, ada apa ini?" Tanya Viona membuyarkan pertengkaran itu.
"Diam" Jawab Gladis sambil menunjuk Viona, "kamu senang kan melihat aku dengan Ra bertengkar seperti ini?" Tuduhnya.
"Apa-apaan kamu Gladis" Ray marah seketika setelah Gladis membentak dan menuduh Viona.
"Kenapa, kamu pasti membela pelakor ini kan?" Cercanya begitu menyakitkan hati Viona.
"Siapa pelakor, dia atau kamu?" Tunjuk Ray bergantian, "ingat, aku akan menikahi mu setelah itu aku akan ceraikan" Lanjut Ray dengan tatapan mata nyalang.
Ray tidak terima jika Gladis dengan terang-terangan membentak Viona didepannya.
Berbanding terbalik dengan Viona, ia hanya diam seribu bahasa. Lidahnya kelu, ia tidak mampu mengeluarkan kata-kata lagi, otaknya seakan menyetujui perkataan Gladis kalau dirinya 'pelakor'.
"Aku datang baik-baik, tapi aku malah dipermalukan seperti ini, apa sebenarnya salahku Ray?" Viona sudah tidak tahan dengan keadaan seperti ini.
"Jangan drama, kamu sudah mempermalukan aku diparkiran tadi" ujar Gladis lagi.
"Bukan kamu duluan yang memulai, aku tegaskan AKU BUKAN PELAKOR. Ingat itu" Ucap Viona kepada Gladis lalu pergi meninggalkan cafe tanpa pamit.
Melangkah dengan cepat diselingi lari kecil agar cepat sampai mobil. Air matanya sudah dipeluk mata tinggal tunggu jatuhnya. Hatinya sakit mengingat perkataan Gladis, ia menumpahkan air matanya dalam mobil.
Lama Viona berada diparkiran untuk menenangkan diri sebelum meninggalkan cafe tersebut.
Sedangkan dalam cafe, kembali terjadi perdebatan sengit antara Ray dan Gladis.
"Apa sih yang kamu lihat dari dia Ra, ingat kalian berdua itu berbeda."
"Itu bukan urusan kamu, kamu urus saja masalahmu. Cari tau dimana ayah anakmu itu" Tunjuk Ray. Ia sangat benci dengan anak Gladis, karena kehadirannya membuat orang tuanya percaya penuh kepada Gladis.
"Ra, jangan bawa-bawa anak aku, dia tidak bersalah aku yang salah disini." Ujarnya sambil menunjuk perutnya dengan deraian air mata.
"Terus kenapa didepan Viona seakan semua dia yang salah?" Tanya Ray kepada Gladis.
"Karena dia, aku jauh dari kamu. Karena dia, aku dibentak di cafe seperti ini, karena dia juga aku seperti ini."
"Apa maksudmu Gladis?" Ray ingin tau semuanya, ia saat ini ingin mendengar semua bela pihak, alasan dari Gladis, Viona maupun kedua orang tuanya.
"Dia jahat Ra, dia tidak cocok untukmu, sadar Ra."
"Terus yang cocok itu kamu?, Aku gak habis pikir sama kamu, aku akan nikahi kamu tapi jangan urus urusan aku. Ngerti!"
Gladis mengangguk sembari menghapus air matanya.
"Iya, aku ngerti" Gladis mengalah, ia juga memikirkan kesehatan bayinya saat ini, jika dia terus emosional maka kesehatan bayinya terganggu.
"Aku pamit Ra, mulai sekarang gak urus lagi urusan mu. Terserah mau kemana, lakukan saja apa maumu. Aku hanya butuh dinikahi dan anggap anak ini anakmu" Ujar Gladis lagi.
"Berjanjilah Ra" Pintanya membuat Ray menatap mata Gladis yang sendu.
"Ok, saya pergi."
Setelah Ray sepakat dengan Gladis, ia pergi meninggalkan cafe.
"Iiihhh" Gladis kesal dengan tingkah Ray yang cuek kepadanya.
"Ra.. Ra.. gila kali yaa, udah mengikatmu lalu melepaskan begitu saja" Gumamnya dengan tatapan tajam nan jauh disana.
__ADS_1
"Akan ku pastikan sulit untuk melepaskan ku. Bukan Gladis kalau tidak mendapatkan apa yang diinginkan" Ujarnya lalu pergi meninggalkan cafe.