Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
60. Berkedok Makan Malam


__ADS_3

Panas terik disiang hari, ibu Heti memanggil Viona untuk belanja perlengkapan dapur dan bumbu dapur. Ibu Heti sudah siap sedangkan Viona lagi sibuk dengan persiapan butiknya.


Tok tok.


"Masuk" Ujar Viona sembari melihat kearah pintu yang masuk.


"Siap-siap kita belanja"


"Sekarang?"


"Iya, mama udah siap nih" Jawabnya sambil duduk dibibir ranjang anaknya, "Sibuk?" Lanjutnya.


"Iya, tapi antar dulu mama baru lanjut"


Viona membuka lemari pakaiannya, mengambil gamis dan kerudung instan dan tidak lupa pakai masker.


"Yuk mam"


"Sudah?, Mama gak lihat cuci muka" Tanya ibu Heti tidak percaya.


"Kan pakai masker" Jawaban santai Viona.


Ibu Heti lagi-lagi menghela napas mendengar jawaban putrinya.


"Ok"


Keduanya pun keluar menggunakan mobil ibu Heti. Dalam perjalanan ibu Heti memanfaatkan waktu berdua dengan putrinya itu untuk tanya dari hati kehati tentang perjodohan itu.


"Vio, mama mau tanya?"


"Iya ma, tanya aja"


"Kamu suka gak dengan perjodohan ini?" Tanya ibu Heti.


Viona diam seketika, menjawab pun sekarang sudah takut salah karena sudah terlanjur mengaku pacaran dengan Ahmad.


"Kalau mama sendiri?" Tanya balik Viona.


"Kalau mama lihat anaknya baik, perhatian juga sama kamu. Ini menurut mama ya" Ujar ibu Heti dan Viona mengangguk paham.


"Paham agama dan insyaallah mengamalkannya juga. Mama itu selalu takut memikirkan jodoh kamu. Yesi dan Rifal sudah menikah jadi tanggung jawab mama tinggal kamu. Mama harap kalian itu berjodoh dunia akhirat" Tuturnya lagi.


Viona tertegun mendengar kata-kata Ibunya, begitu besar harapan ibunya berjodoh dengan Ahmad. Tapi bagaimana dengan hatinya sampai saat ini belum bisa menerima Ahmad lebih dari sahabat.


"Vio, kamu udah kenal akrab dengan Ahmad dan kalian pacaran juga. Kira-kira apa makanan kesukaan Ahamd?"


"Gak tau mam, Vio kan makan di restorannya"


"Gak pernah makan diluar?" Tanya ibu Heti memastikan lagi dan Viona menggeleng pelan.


"Untuk apa mama tanyakan itu?"


"Tanya saja" Jawab ibu Heti lagi.


"Mama aneh, apa ada acara dirumah?" Batin Viona sambil melirik ibunya.


"Vio mencium bau-bau keanehan disini" Sindirnya.


"Hahaha, oh iya" Respon ibu Heti yang mengundang rasa penasaran Viona.


Viona memilih main ponsel setelah mendengar jawaban dari ibunya. Ibunya seakan memberi kode tidak akan menjelaskan maksud dari pertanyaannya itu.


20 menit kemudian sampai di Hypermart dimana Viona sering belanja. Viona dan Ibunya keluar masuk bersamaan, Viona mengambil troli dan mendorongnya mengikuti ibunya.


Namanya ibu-ibu milihnya lama, dibandingkan, mana yang lebih segar sayurnya, serta bumbu dapur cek tanggal kadaluarsa dan sebagainya.


"Mam, kalau disini ini aman dari expired"


"Mama kalau belanja cari tanggal kadaluarsanya minimal tinggal setahun"


"Viona ngikut aja mam" Ujar Viona.


Belanja menyita waktu satu setengah jam. Belum memilih perabotan dapur.


"Ya Tuhan, betis aku kayak mau pecah ini" Viona mengeluh dalam hati.


"Vio, menurutmu mana yang bagus?" Tunjuknya dengan berbagai model dan bunga piring.


"Ma, dirumah sudah banyak piring yang belum dipakai"


"Mama, sengaja beli nanti kalau anak mama sudah menikah semua dan punya rumah, tinggal mama bagi. Aman kan?"

__ADS_1


Viona mengerutkan keningnya sembari menatap ibunya, ia tidak habis pikir ibunya pikirannya sudah sampai kesitu.


"Jadi mama tinggal sendiri dirumah?"


"Enggak dong.. sudah, sudah" Ujar ibu Heti.


Debat kecil itu mengundang perhatian pengunjung lain. Awalnya tidak menyadari, tapi setelah menoleh ke samping ternyata ada beberapa termasuk karyawan toko ikut menyaksikan.


"Ibu, emang tinggal berapa yang belum menikah?" Tanya salah satu pengunjung di toko yang sama itu.


"Sisa bontot bu, ini!" Tunjuk ibu Heti menjawab ibu-ibu itu.


Viona mendengar kata bontot ingin sekali menghilang saat itu.


"Mam, kenapa bilang bontot? Itu aku kayak anak kecil" Bisik Viona kepada ibunya.


"Sudah ada calonnya gak?" Tanyanya lagi.


"Iya, sudah ada. Maaf ya bu" Jawab Viona dengan cepat sembari mengatupkan tangannya didepan.


"Ibu, kami pergi dulu yaa" lanjut Viona.


Viona pergi dengan satu tangan menggandeng tangan ibunya.


"Sudah lengkap bahan untuk dimasak kan mam?, Fix berarti kita pulang" Ucap Viona sembari periksa belanjaan ibunya seakan ia tahu bahan apa saja yang dipakai untuk memasak nanti.


Viona mendorong trolinya menuju kasir, tanpa menunggu ibu langsung mengeluarkan semau belanjaan ibunya dari troli.


"Mbak pakai kantong plastik atau kardus ?" Tanya pegawai kasirnya.


"Kardus" Jawab Viona, "Berapa mbak?" Lanjut dengan pertanyaan.


"3.250.700"


"Ok" Jawab Viona lalu memanggil ibunya dengan melambaikan tangan.


Ibu Heti datang menghampiri anaknya di kasir, "berapa mbak?"


"3.250.700" Ulangnya lagi.


Ibu Heti memberikan kartu kreditnya. Setelah melakukan transaksi, belanjaan mereka bawa dengan bantuan pegawai toko sampai parkiran mobil.


🌺


Makan malam kali ini yang datang Ahmad, bibinya atau teman ibu Heti serta adik perempuan Ahmad.


Mereka sudah duduk dimeja makan, tinggal Viona yang di dapur mengambil sup. Viona datang dengan mangkok supnya dan menaruhnya diatas meja.


"Sekarang kita makan" Ujar ibu Heti.


Mulai sendok nasi masing-masing kemudian lauk pauk.


"Bibi, Ainun mau ayam goreng" Pintanya.


"Ok, bibi ambilin" Jawab Viona dan menaruh paha ayam goreng tersebut diatas nasi Ainun, "dagingnya upin dan ipin yaa" Lanjutnya membuat Ahmad dan bibi Ahmad ini kagum dengan sifat keibuan Viona.


"Mad, nama adiknya siapa?" Tanya Viona kepada Ahmad yang duduk didepannya.


"Nama aku, Tiara kak" Jawabnya.


"Tiara" Ulang Viona, "aku Viona" lanjut Viona memperkenalkan diri pada adik Ahmad.


"Sudah tau kak" Jawabnya lagi dengan cepat.


"Siapa yang kasih tau?" Tanya Viona sembari melirik Ahmad. Ia yakin Ahmad yang cerita, soalnya siapa lagi.


"Kak Ahmad, cerita ke ibu dan Tiara. Katanya kak Viona itu cantik dan baik"


Viona seketika mengangkat gelas air minumnya lalu ia minum.


"Kakak Viona boleh gak ambilkan Tiara sayur tumis kangkungnya?"


"Boleh dong" Jawab Viona dengan telaten mengangkat piring sayur tumis tersebut dan mengambilkan untuk Tiara.


"Cukup atau tambah lagi?" Tanya Tiara.


"Cukup kak" jawab Tiara.


"Bibi, Ainun juga" Minta Ainun tidak mau kalah.


"Sayang, kasian bibi Viona sudah tidak makan sekarang" Ujar Yesi. Ia tau anaknya cemburu kepada adik Ahmad.

__ADS_1


"Hiks hiks hiks.. bibi tidak sayang Ainun lagi"


Ainun marah, ia lari meninggalkan meja makan menuju kamarnya.


"Maaf ya, dilanjutkan makannya" Ucap Yesi sebelum menyusul anaknya.


"Maaf ya biasa drama anak kecil, suka manja sama Viona" Ibu Heti menjelaskan agar tidak salah paham.


"Santai aja bu Heti, kayak kita gak saling kenal saja" Ujar temannya atau bibi Ahmad tidak mempermasalahkan.


"Kakak Viona, kapan ke rumah. Pasti ibu senang" Ucap Tiara lagi.


"Nanti ya" Jawab Viona.


"Ehh, lanjut makan saja dulu nanti kita lanjut bincang-bincang itu di ruang tengah" Ujar ibu Heti.


Tidak membutuhkan waktu lama, makan malam selesai. Sekarang mereka menuju ruang tengah. Pembahasan dimeja makan pun lanjut di ruang tengah.


"Bu Heti, gimana nak Viona dengan perjodohan ini, mau gak dia?" Tanya bibi Ahmad.


"Sebaliknya bu, mau gak Ahmad sama Viona?"


"Kalau aku, serahkan ke Viona Tan" Jawab Ahmad, ia tidak mau terlalu memaksa Viona meski ia mencintainya.


"Gini, kuncinya ada sama laki-laki. Wanita mudah luluh dengan perhatian" Jelas ibu Heti.


Ahmad kembali berpikir, "Tapi bagaimana dengan orang yang Viona cintai. Aku tidak bisa menikah dengan orang yang belum siap melepaskan masa lalunya" Ucap Ahmad dalam hati.


"Ahmad, gimana?" Tanya bibinya.


"Mau ya kak, Tiara suka kakak Viona" bujuk Tiara.


"Kenapa sekarang tergantung aku?" Batin Ahmad.


"Aku rasa perlu tanya Viona karena ini bukan menyangkut kebahagian sepihak melainkan kedua bela pihak" Jelas Ahmad.


"Viona mengikut, percaya sama mama. Karena, jujur aku tidak mau menikahkan anakku dengan orang yang tidak mencintainya" Ibu Heti mengeluarkan isi hatinya.


"Kalau itu semua orang Tan" Jawab Ahmad lagi.


"Ahhh.. hampir lupa, mereka saling mencintai ternyata makanya diam-diam pacaran" ujar ibu Heti. Ia baru ingat yang diucapkan anaknya di restoran malam itu.


Ahmad mendengar itu antara bahagia dan sedih, karena alasan itu bukan hanya untuk menghindari perjodohan.


"Atau gini aja, kalian bicarakan dulu hasilnya kasih tau kami" Ujar bini Ahmad teman ibu Heti ini.


"Benar, lebih bagus seperti itu" Timpal ibu Heti.


Dalam disiskusi itu, Viona ke kamar mandi jadi ia tidak mendengar semua pembicaraan. Kembali dan duduk, semua mata tertuju padanya, ia heran dan menatap satu-satu orang disekelilingnya.


"Apa ada yang salah?" Tanyanya bingung.


"Gak ada" Jawab Ahmad.


"Kakak cantik" Puji Tiara lagi.


"Makasih" Jawab Viona lagi sembari senyum.


"Kami tunggu keputusan, habis itu baru kita pikirkan selanjutnya dan kami sepertinya bu harus pulang udah larut malam" Pamit bibi Ahmad.


"Oh iya, terima kasih udah menyempatkan waktunya"


Ibu Heti dan bibi Ahmad pun berpelukan sebelum pulang.


"Hati-hati dijalan" Ujar ibu Heti lagi masih dalam berpelukan.


"Iya, kapan-kapan datang dirumah Ahmad juga, silaturahmi" Ujar bibi Ahmad.


"In syaa allah" Jawab ibu Heti lagi.


Selesai peluk-pelukan antara dua bu ibu itu baru mereka pulang. Ahmad terlebih dahulu mengantar bibinya lalu mereka balik rumah.


Dalam perjalanan pulang, Tiara tidak habis-habisnya membahas Viona.


"Tiara suka deh kakak Viona" Ujarnya.


"Masa?" Pancing Ahmad lagi seakan tidak percaya.


"Iihh, benar kak. Kak Viona baik" Pujinya lagi.


"Oh iya, hmmm" Respon Ahmad yang singkat membuat Tiara malas bicara lagi dengan kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2