Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
58. Dinner


__ADS_3

Dinner dibayangan muda mudi yaitu makan malam romantis dihiasi dengan cahaya lilin. Namun, banyak juga kalangan orang tua makan malam digunakan untuk ajang perjodohan anak mereka karena disiang hari sibuk kerja.


Seperti halnya, ibu Heti dan temannya. Ia sudah janjian pukul 8 malam sudah di restoran yang telah disepakati.


"Vio, sudah siap?" Tanya ibu Heti kepada putrinya itu.


"Sudah" Jawab Viona dengan penuh percaya diri sembari senyum kepada ibunya.


Ibu Heti melihat putrinya dari kepala sampai ujung kaki.


"Kurang lipstik"


Seketika Viona angkat tangan tidak mau sambil menutup mulutnya.


"Sedikit aja Viona, supaya gak kelihatan pucat" Jelas ibunya.


"Mam, justru itu. Vio ingin lihat laki-laki itu menerima aku apa adanya atau tidak" Alasan Viona.


"Oke, gimana kalau terima kamu berarti siap nikah dong?"


"Gak gitu juga kali mam, main nikah-nikah saja" Tolak Viona tidak terima kalau ia cepat menikah.


"Kapan pergi nih mam?" Lanjutnya.


"Gak sabaran amat. Tunggu dong, ambil kunci mobil dulu" Ujar ibu Heti.


Kemudian mereka pergi di restoran untuk makan malam, Viona yang menyetir mobil. 30 menit sudah sampai restoran. Masuk dalam restoran dan disana sudah ditunggu oleh teman ibu Heti. Cupika cupiki itu yang dilakukan oleh ibu Heti dan temannya sedang Viona hanya cium tangan.


"Silah duduk" Ucap ibu itu mempersilahkan Viona dan ibu Heti.


"Iya, sudah lama sampai?" Tanya ibu Heti.


"Belum juga" Jawabnya, "Viona cantik banget" Lanjutnya dengan memuji paras Viona.


"Terima kasih bu" Jawab Viona sembari senyum.


"Eh mau pesan apa? Kita makan dulu sambil tunggu ponakan aku, dalam perjalanan katanya" Ujar ibu itu lagi.


Viona seketika deg degan dan gelisah mendengar orang tersebut sudah dijalan menuju restoran. Ia mulai tidak tenang seketika tenggorokannya kering.


Viona minum aqua yang telah disediakan restoran sampai habis satu botol. Rasa haus sudah hilang, mulai tenang perasaannya.


Rringg (bunyi ponsel teman ibu heti)


Mendengar itu Viona seketika rasa buang air kecil.


"Ya Tuhan setersiksa ini aku?" Batinnya.


"Wa'alaikumussalam, oh iya, meja 10 ya nak" Ucap ibu itu dalam telepon lalu mematikan sambungan telepon.


"Dia udah diparkiran" Ujarnya.


"Oh baguslah, biar kita pulangnya gak kemalaman juga, iya kan Vion.." Ujar ibu Heti seketika terhenti setelah menoleh ditempat duduk anaknya sudah kosong, "menghilang kemana tu anak?" Lanjutnya.


"Ke toilet"


"Terlalu semangat sampai anak aku pergi gak tau, hehe"


Sementara di kamar kecil atau toilet, Viona sedang menelepon Ahmad.


"Mad angkat dong, orang itu sudah di parkiran" Ucap Viona sembari menelfon Ahmad.


"Susah banget sih ditelepon" Gumam Viona lagi.


Viona melihat jam ditangannya, "sudah 10 menit aku disini"


Viona keluar dari kamar kecil, bercermin sembari menarik napas untuk menormalkan perasaannya.


"Ya Allah, beri aku petunjuk" Gumamnya sambil melangkah kembali ke meja makan.


Langkah yang berat menurut Viona, sampai meja makan kembali duduk dengan sesantai mungkin.


"Kok lama?" tanya ibu Heti dengan berbisik.


"Sakit perut mam" Jawabnya setelah minum.


"Nanti diantar ya, sama ponakan ibu" Teman ibunya menawarkan langsung.

__ADS_1


Viona senyum terlebih dahulu dengan terpaksa, "ini tinggal minum obat sembuh kok bu".


Viona kembali fokus gelas dan ponselnya, menunggu telepon dari Ahmad.


"Mad, tolong Vio dong" Batin Viona.


Viona kembali minum dan kali ini, ia minum jus. Ia rasa tenggorokannya selalu kering melepas pipet itu.


"Sudah, kayak anak kecil" tegur ibu Heti dengan pelan.


"Deg degan aku mam" Jawab jujur Viona membuat ibu didepan mereka tersenyum lucu.


"Ponakan aku suka gadis apa adanya" Pujinya lagi membuat Viona tersedak air minum.


"Uhuk..uhuk.. uhuk.." Viona batuk.


Dari sisi yang tidak jauh Ahmad jalan menuju meja Viona. Seketika Viona melambaikan tangan.


"Itu mam, pacar Viona jadi gak perlu di jodohkan lagi" Ucap Viona sengaja.


"Haa.. terus.."Ujar ibu Heti berhenti bicara sembari menunjuk temannya.


"Maaf ya bu, ternyata pacar aku datang tepat waktu" Ucap Viona lagi.


"Kata ibu Heti, nak Viona ini tidak pacaran" Ujar ibu bersebut.


Ibu Heti bingung menjelaskan kepada temannya, sedangkan Viona dengan terang-terangan mengaku pacaran.


"Pacar belum tentu jodoh bu, ini kita bahas perjodohan" Ucapan ibu Heti direspon baik oleh temannya.


"Benar juga" Sembari senyum.


Ahmad semakin dekat dan senyum Viona tidak luntur diwajahnya.


"Ternyata Ahmad gak ingkar janji" batinnya.


Ahmad duduk tepat disamping ibu tersebut, Viona langsung memainkan mimik wajahnya.


Ahmad hanya senyum melihat itu.


"Disini" Ujar Viona sambil nunjuk kursi disampingnya.


"Ahmad?" Tunjuk Viona tidak percaya dan ibu tersebut mengangguk.


Viona kembali minum jusnya dengan tangan mengetik dengan cepat lalu ia kirim ke nomor Ahmad.


Ponsel Ahmad berdering tanda ada pesan masuk, dengan santai Ahmad membuka pesan tersebut seketika senyum sekilas.


"Kenapa gak bilang dari awal Mad?" Tanya Viona.


"Sesuai kesepakatan, sekarang tinggal jujur" Balas Ahmad.


Viona membaca itu langsung membulatkan matanya, "gila nih Ahmad, suruh jujur mana tadi mengaku pacarnya lagi" Batinnya.


"Gimana kita makan dulu"


"Boleh" jawab Ahmad.


Ahmad mengangkat tangannya memanggil pelayan.


"Dibawa sekarang dan jangan lupa eskrim" Ujar Ahmad kepada waiter.


"Baik pak" Jawabnya lalu pergi.


"Tapi ini belum disentuh sama sekali" Ucap Viona menunjuk makanan diatas meja mereka.


"Tinggal tambah" Jawab Ahmad singkat dan santai.


Ibu Heti senyam senyum kepada Viona. Sementara Viona pura-pura tidak melihatnya.


"Nak Ahmad, sudah lama pacaran dengan Viona?" Tanya ibu Heti.


"Oh, Ahmad yang dimaksud nak Viona tadi?" Tanya balik teman ibu Heti.


"Iya, ibu tidak menoleh tadi pas Viona tunjuk"


Viona menoleh ketempat lain, sebenarnya bukan malas hanya tidak ingin melihat wajah Ahmad yang menertawakannya.

__ADS_1


"Viona mengaku aku pacarnya, bertahun-tahun perasaan ini dipendam dan malam ini Viona mengakui aku sebagai pacarnya didepan Ibunya" Batin Ahmad seketika berbunga-bunga.


"Capek-capek aku jodohkan ternyata mereka sudah pacaran, ini bukan mencarikan jodoh tapi mempercepat proses saja. Bagaimana bu Heti?" Tanya temannya.


"Betul"


Jawaban ibu Heti itu direspon suara tawa bahagia keduanya.


Waiters datang membawa makanan serta eskrim seperti biasa. Setelah makanan tersaji diatas meja, Ahmad langsung mempersilahkan makan.


"Ternyata bagus juga dilayani sama pemilik resto sendiri" Puji ibu Heti sembari melirik putrinya.


"Mama kasih jadinya, bikin pusing" Batin Viona.


Viona menghela napas, "gimana kita langsung makan saja, lapar"


"Seperti biasa" Ujar Ahmad sambil mengangkat piring dan ia simpan tepat depan Viona.


Viona langsung melirik Ahmah sambil bicara dengan nada pelan, "Jangan buat mama aku makin yakin, bingung nih bagaimana jelasinnya nanti"


"Tinggal bilang saja, gampang kan" Jawab Ahmad lagi dengan nada kecil sembari ala-ala melayani Viona agar kedua ibu-ibu dimeja itu tidak curiga.


"Enak ya bu, dilayani seperti ini. Nanti nak Viona tinggal minta ajar masak sama Ahmad" Ujar teman Ibunya.


"Hehehe, benar banget bu tidak perlu beli buku resep" Respon Viona sebaik mungkin.


"Gak perlu masak nanti aku yang masak, lagian masak itu bukan kewajiban istri" Timpal Ahmad.


"Mulai" Gumam Viona.


"Masya Allah.. yang paham kewajiban dan hak istri dalam rumah tangga itu jarang lho kita temukan" Ucap ibu Heti.


"Apalagi zaman sekarang ya bu, sangat susah" Timpalnya.


Kedua ibu-ibu didepan Viona selalu memuji Ahmad sejak duduk disamping bibinya itu. Sementara Viona, seakan diharuskan u itu bersyukur mendapatkan Ahmad.


"Mam, Bu, bisa saya bicara dengan Ahmad sebentar?" Tanya Viona.


"Disini saja" Ucap Ahmad tiba-tiba.


"Disana mad, sebentar saja" Ucap Viona dengan lembut dan memohon.


"Ok" Jawab Ahmad.


"Pamit sebentar" Lanjutnya.


Viona dan Ahmad sedikit menjauh dari kedua bu ibu itu.


"Mad, ini gimana?. Jujur aku bingung" Viona mengeluarkan isi hatinya yang sejak tadi tertahan didalam.


"Aku juga gak tau"


"Kok pasrah Mad, bantu mikir dong"


"Aku mau bantu apa?, Udah mentok kayak gini"


"Sudah tidak ada jalan keluarnya gitu?, Ya ampun Mad, kamu itu selalu punya ide brilian" Ujar Viona lagi.


"Mana tadi aku mengaku pacar kamu lagi.. Eh hampir nih aku lupa tanya juga, perjodohan ini memang kamu tau atau baru tau seperti aku?" Tanya Viona sembari menunjuk dirinya.


"Lupakan perjodohan dulu, kenapa tadi mengaku pacar itu akan mempersulit rencanamu sendiri"


"Mad kalau aku tau kamu, mana ada aku ngaku pacaran sama kamu. Lagian gak bilang dari awal kalau kamu orangnya"


"Emang kenapa?" Tanya Ahmad penasaran dengan maksud ucapan Viona.


"Aku udah hina kamu Mad. Maaf nih aku jujur" Ujar Viona lagi dengan ekspresi muka bersalah.


"Hehe, santai aja kali. Gak usah diambil pusing" Jawaban santai dari Ahmad.


"Mad, pokoknya pikirkan cara gimana perjodohan ini tidak berlanjut, aku gak mau"


"Semenjijikan itu sampai kamu tidak mau sama sekali, setidaknya kasih peluang kecil buat orang yang pernah dijodohkan sama kamu" Tutur Ahmad sedikit kecewa mendengar kalimat yang keluar dari Viona.


"Aku kembali dimeja, jika mau perjodohan segera dibatalkan maka pikirkan sendiri alasannya. Aku lepas tangan, assalamualaikum" Pamit Ahmad


Ada perasaan kecewa dalam hati Ahmad, ia tidak meminta Viona untuk mengakui dirinya sebagai pacar dan sekarang malah Viona mati-matian mencari cara untuk membatalkan perjodohan.

__ADS_1


Viona menyusul Ahmad dan kembali berbincang santai lalu mereka pulang.


__ADS_2