
Bahagia, jikalau hari-hari diawali dengan orang yang dicintai. Kebahagiaan itu bukan terlukis tapi terukir, kadang tidak mampu kita ungkapkan tapi dengan hadirnya senyum kita bisa tau, meskipun seulas senyum tidak menjamin tuannya sedang bahagia.
Pagi ini sambil bersiul masuk dalam rumah menuju ruang tengah setelah olahraga. Mengambil remote mengganti siaran tv sembari minum Aquanya.
Ray memutuskan untuk bersantai ria dirumahnya. Ia sudah berkali-kali ganti siaran tapi menurutnya tidak ada yang menarik.
Ray mencoba menelfon sahabatnya yang ia tidak lihat beberapa hari ini.
"Kok gak aktif" Ucap Ray seorang diri karena yang ia dengar suara operator.
"Kemana sih ini anak?, gak biasanya" Gumam Ray sembari memikirkan cara agar bisa tau kabar sahabatnya.
"Viona, siapa tau dia tau kabar Alan" Gumamnya sambil mencari kontak viona di ponselnya.
"Halo Vio, sibuk gak?" Tanya Ray ditelepon dan viona terdengar jelas suara seraknya baru bangun.
"Iya, ada apa telepon malam-malam" Jawab viona mulai ngelantur tidak jelas ditelepon.
"Pagi bukan malam. Jadi perempuan jam segini belum bangun mau jadi apa?" Tanya Ray ditelepon
"Laki-laki telepon perempuan sepagi ini tidak kerja, mau jadi apa?" Tanya balik Viona ditelepon itu tidak mau kalah.
"Jadi suami kalau sudah menikah" Jawab Ray dengan santai dan kali ini ia rubah posisi dari duduk jadi rebahan diatas sofa.
"Gak penting tuh, ada apa menelfon?" Tanya Viona dengan serius, "mau tanya juga kalau aku nanti mau jadi apa?" Sambungnya sembari berguling diatas tempat tidur.
BUG...
"Aow, pinggang aku kayaknya patah deh" Ucap Viona seorang diri sambil meringis sakit. Ia tidak sadar kalau saat ini sedang menelepon dengan Ray.
Sementara diseberang telepon hanya ketawa ngakak mendengar ucapan Viona, Ray bisa prediksi kalau Viona jatuh dari atas tempat tidur.
"Kamu kenapa?" Ray pura-pura bertanya setelah ia selesai ketawa.
"Gak. To the point aja Ray. Ada apa menelepon pagi buta gini?" Tanya Viona sambil memijit pinggangnya.
"Mana sakit lagi.. encok kayaknya nih" Batinnya.
"Benar nih, aku dengar tadi ada yang jatuh" pancing Ray lagi.
"Aku matiin ya, by" Ucap Viona ditelepon itu dan diseberang telepon terdengar suara Ray teriak.
"Tunggu.. tunggu.. tunggu" Ucap Ray dengan cepat, "aku mau tanyakan Alan, apa Alan pernah telepon atau WhatsApp kamu gitu?" Sambung Ray dengan harapan ada secuil informasi dari Viona.
"Tidak, kamu sahabatnya masa gak tau kemana" Ucap Viona sembari baring-baring karena pinggangnya mulai terasa sakit.
"Yakin?" Tanya Ray tidak percaya kalau Viona baik-baik saja setelah ia dengar jatuh.
"Yakin, maksudnya? Tanya Viona kebingungan.
"Aku harus minta urut nih kalau gini ceritanya, mana sakit lagi" Batin Viona lagi.
Sementara dari luar kamar Viona. Rifal dan ibu Heti mengetuk pintu kamar Viona sekali lalu masuk.
"Bunyi apa tadi Vio?" Tanya ibu Heti.
"Emang dengar suara apa tadi ma?" Tanya balik Viona lagi.
"Suara kamu, makanya mama dan kakak kamu kesini"
"Iya dek, jatuh lagi dari atas tempat tidur?" Tanya Rifal.
Viona membulatkan matanya dengan cepat beralih kelayar ponselnya.
"Ray pasti dengar" batinnya lalu ia matikan dengan cepat.
"Heee" Hanya itu yang keluar dari bibir Ray. "Memang gadis aneh" Ucapnya seorang diri lalu bangkit dari mode rebahannya ke kamar mandi membersihkan diri. Dan hari ini memutuskan untuk ke apartemen Alan.
Sedangkan Viona sekarang sedang siap-siap pergi mengurut akibat ia jatuh tadi.
"Sudah siap mam" Ucap Viona.
"Gak bawa tas?"
"Gak, ponsel saja"
"Oke"
Mereka ke rumah saudara jauh ayah Viona, disana masih ada seorang nenek yang pintar mengurut.
__ADS_1
Dalam perjalanan Viona main ponsel. Sibuk dengan benda pipihnya itu.
"Viona ini perjalanan jauh, jangan main ponsel saja ajak mama cerita supaya gak ngantuk" Tegurnya kepada anaknya itu.
"Mau cerita apa ma?.. Masa kita berbeda, hehehe" Jawab Viona seakan mengejek.
"Mam sakit, jangan main cubit dong" Ucap Viona lagi sambil mengusap lengannya yang baru saja dicubit oleh bundanya.
"Makanya, coba buka google maps nanti kita kesasar" perintah ibu Heti. Ia pun lupa karena sudah lama berkunjung.
"Dulu nih, masih banyak hutan-hutan sekarang sudah sawah" Ucap ibu Heti sembari melihat sekeliling jalan.
"Seharusnya gak lupa dong ma, kan hanya hutan berubah jadi sawah. Bukan jalur jalannya diubah" Jelas Viona.
"Benar juga, tapi google mapsnya itu buka juga nanti kesasar. Kalau kita kesasar bisa-bisa besok baru kita pulang. Gak berani mama lewat disini malam-malam"
"Iya, alamatnya bun" Minta Viona sembari membuka maps di ponselnya.
"Jalan raya merdeka, lorong kubis"
"Hahaha, jauh amat mam merdeka dengan kubis. Makin penasaran aku, kalau nyaman aku tinggal beberapa hari disana"
"Ainun gimana?"
"Ada mama dan kak Yesi. Aku mau menikmati masa muda untuk jalan-jalan, lagian kita sudah lama juga ke rumah keluarga ayah. Kebetulan tetanggaan kan bun?" Tanya Viona.
"Dulu itu kalau gak berubah hanya beda lorong, makanya kalau sudah sampai kita akan kesana sebelum ke rumah nenek itu." Jelas ibu Heti.
"Ohh" Jawab Viona dengan semangat.
"Depan belok kanan ya mam" Viona mengarahkan bundanya.
"Tunggu, ini seharusnya belok kiri. Mama belum lupa, aku masih ingat persis nih rumah" Ucap bunda Heti sambil melihat kiri kanan.
"Ini sesuai aplikasi ma. Disini, belok kiri habis itu belok kanan, lurus lewati beberapa lorong sampai" Jelas Viona.
"Ok" Jawab ibu Heti. ibu Heti membawa mobil sesuai petunjuk maps yang dilihat Viona.
"Ini kemana lagi?" Tanya ibu Heti.
Viona yang kebetulan saat itu ditelepon Ahmad. Entah angin dari mana Ahmad tiba-tiba menelfon.
"Bentar ya Mad" Ucap Viona ditelepon lalu beralih ke mapsnya.
"Ma, didepan ada lorong, belok kesitu ya" Ucap Viona dan lanjut ke Ahmad.
"Mad, kamu di restoran?" Tanya Viona ditelepon.
Ibu Heti kesal dengan Viona yang dari tadi tadi menelfon terus kerjaannya, ia memutuskan untuk putar musik dengan volume tinggi.
"Astaghfirullah ma, aku gak budeg ma"
Ibu Heti hanya menoleh lalu kembali fokus depan.
"Vio, ini udah jalan buntu" Ucap ibu Heti, "Ponsel ini bikin masalah" sambungnya menarik cepat ponsel anaknya itu lalu ia buang dibelakang.
Viona hanya menganga kaget melihat ponselnya dia buang sembarang.
"Ponsel ku mam, gimana kalau rusak?" Tanya Viona.
"Salah sendiri, telepon dari tadi. Gak tau bunda pusing dengan alamat" Ibu Heti kesal ditambah sekarang sudah kesasar.
"Lihat didepan" Ucap ibu Heti sembari menunjuk depan bagian samping.
"Itu TPU, Viona" sambungnya.
Viona tiba-tiba takut mendengar kata TPU dan ia kembali lihat ponsel dibuang di belakang oleh ibunya.
"Terus, gimana ma?. Ponsel aku dibelakang dan mudah-mudahan gak rusak" Ucap Viona makin panik dan melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul satu siang.
"Ada warung makan gak ya disini?" Gumamnya.
"Ada penghuni TPU yang masakan" Jawab ibu Heti.
"Ihh mama"
"Makanya yang masuk akal saja, lihat kiri kanan hutan semua ini Vio, hadehh bawa orang dewasa sama seperti bawa anak kecil" ibu Heti mengomel sambil putar balik.
🌺
__ADS_1
Ray sengaja mencari Alan itu langsung ke apartemennya dan disana ternyata tidak ada Alan bahkan kata satpam pun beberapa hari ini Alan tidak di apartemennya.
"Kemana sih itu anak?" Ray bingung lalu kembali mengendarai motornya dan siang ini memutuskan untuk kembali ke bengkel.
15 menit kemudian Ray sampai depan bengkel dan disana dikagetkan dengan seorang perempuan yang duduk santai menunggunya. Siapa lagi kalau bukan Gladis.
"Gladis ini kayak gak punya kerjaan saja" Gumamnya sambil mencabut kunci motornya dan masuk bengkel.
"Ra, tumben baru datang?" Tanya Gladis ramah.
"Suka-suka aku, ini bengkel aku" Jawab Ray dengan cuek.
"Ra, kenapa sih jawab pertanyaan aku gak niat banget?" Tanya Gladis tidak terima.
"Itu tau, kamu kenapa datang disini?" Tanya balik Ray lagi yang sudah masuk di ruangannya.
Gladis mengikuti Ray masuk dalam ruangan itu, tanpa disuruh Gladis langsung duduk dikursi depan Ray.
"Ra, kembali seperti dulu" ajak Gladis dengan sedikit memohon, "please Ra"
"Kamu perempuan, gak malu datang ditempat laki-laki?" Tanya Ray lagi.
"Kenapa harus malu" Jawab Gladis dan bangkit dari duduknya menghampiri Ray di kursinya.
Tanpa permisi Gladis membungkukkan badannya dan berbisik ditelinga Ray.
"Ra.." panggil Gladis dengan lembut dan mendayu-dayu.
Ray mendengar itu langsung bangkit dari kursinya.
"Apa-apaan kamu Gladis, aku kira kamu sudah benar-benar perubah ternyata hanya sebatas omongan doang" Ucap Ray dengan emosi.
Gladis tersenyum mengejek, "apa untungnya aku berubah, jika kamu saja tidak mau kembali"
Ray tidak habis pikir dengan pola pikir Gladis saat ini. Bagaimana bisa ia berpikiran berubah hanya untuk dirinya.
"Berubah karena orang lain, seperti kamu ini hasilnya bukan lebih baik tapi makin gila"
Gladis mendengar itu tersulut emosi, "apa kamu bilang. Aku gila?, Iya aku sudah gila, memang aku sudah gila, semua itu karena kamu Ra" Ucap Gladis sembari teriak.
"Berusaha berubah agar kamu kembali padaku, tapi nyatanya apa? secuil pun perasaanmu untukku tidak ada" Ucapnya dengan masih dengan nada tinggi, "Jadi apa untungnya aku berubah Ra? Jelaskan padaku" Sambungnya berakhir tangis.
"Kenapa kamu lakukan ini padaku Ra?"
Ray hanya diam, sebenarnya ia kasihan dengan Gladis tapi untuk kembali seperti dulu ia tidak bisa, hatinya sudah diisi oleh Viona.
"Ra" panggil Gladis lagi dengan mata kembali berkaca-kaca, "aku akan benar-benar berubah jika kamu kembali padaku. Aku tidak pernah ingkar janji" Sambungnya penuh yakin.
"Gladis, berubah untuk dirimu sendiri bukan karena orang lain. Yang kamu lakukan saat ini, itu salah" Jelas Ray lagi.
"Keputusan dan yang ku lakukan saat ini sudah benar, hanya kamu saja yang menganggapnya salah"
Ray mendengar itu, awalnya kasihan berubah jengkel.
"Itulah bedanya kamu dan Viona" Ucapnya keceplosan depan Gladis.
"Apa? Jadi suka Viona? Jawab Ra" Ucap Gladis lagi tidak sabar menunggu jawaban Ray itu.
"Ra.." panggil Gladis lagi karena Ray hanya diam tidak menjawab pertanyaan Gladis.
"Keluar dari ruangan saya sekarang" Usir Ray.
"Jawab dulu pertanyaanku" Ucap Gladis kekeh dengan pertanyaan tadi sembari mendekati Ray yang berdiri didepannya.
"Aku tidak akan pergi sebelum jawab pertanyaan ku" Ucap Gladis lagi.
"Terserah kamu" Jawab Ray dan melangkah ingin kembali duduk dikursi, tapi tiba-tiba tangannya ditahan oleh Gladis.
"Ra please jawab dulu" Ucapnya melembut, jujur saja Gladis capek hadapi Ray saat ini.
"Lepaskan tanganmu dulu" Ucap Ray dengan dingin.
"Gak, sebelum jelaskan padaku" Ucap Gladis.
Lagi-lagi Gladis berbuat sesuai kehendaknya tanpa memikirkan Ray. Ray pun nurut dengan tangan dipegang Gladis menuju salah satu kursi yang ada dalam ruangan itu.
"Oh ternyata kamu seperti ini?" Ucapnya.
Ray dan Gladis melihat ke sumber suara tepat depan pintu yang sudah dibuka.
__ADS_1
"Maksudnya?" Tanya Ray tidak mengerti.