
Viona seperti rencananya sejak siang tadi, ia akan keluar sore sampai malam menjelang tidur baru akan balik rumah, untuk persoalan akan kemana itu urusan belakangan.
"Mam, Vio keluar dulu ya" pamitnya sambil salam dan cium tangan ibunya.
"Mau kemana?, Ini udah sore sebentar lagi tamu datang."
Ibu Heti mengingatkan anaknya dan sebenarnya ia larang secara tidak langsung.
"Udah janjian dengan teman mam dari minggu lalu. Gak enak tiba-tiba Viona batalin" Kilahnya dan berharap omongannya mampu tersampaikan dengan baik.
"Maaf mam, kali ini Vio bohong" batinnya lalu pergi.
Viona membawa mobil ibunya, dengan kecepatan sedang sambil berpikir kemana akan pergi.
"Ke mall lebih baik sepertinya" Gumamnya.
Mobilnya pun mengarah ke Mall, tidak terasa mobil pun parkir disana. Masuk Mall dengan santai sembari melihat barang-barang yang sedang ada diskon.
"Jiwa belanjaku muncul nih" Batin Viona seketika matanya berbinar melihat tulisan diskon 50%.
Mulai bergabung dengan para pemburu diskon lainnya, karena pakaian yang di diskon saat ini berbagai pakaian dewasa wanita dan laki-laki.
Mata Viona tertuju pada jaket yang sedang ia incar selama ini, dan kebetulan ada potongan harga maka tidak disia-siakan oleh Viona. Gerakan cepat Viona menuju jaket tersebut, tinggal beberapa langkah lagi ada tangan cowok yang mengambil jaket itu.
Viona langsung berhenti dan menatap cowok itu sekilas sembari menarik napas lalu ia hembuskan dengan kasar. Kali ini jaket yang ia inginkan sudah dimiliki orang lain, baginya jaket lain sudah tidak menarik lagi.
"Mungkin sayang pacar kali ya" batinnya lalu melangkah pergi meninggalkan toko itu.
Viona memilih pergi ke restoran Mall tersebut. Sesampainya disana, ia memanggil waiter untuk pesan makanan, setelah selesai pesan menunggu beberapa menit pesanannya pun datang.
"Selamat menikmati" Ujar waiter.
"Iya, terima kasih" Balas Viona sembari senyum.
Viona memilih menghabiskan waktu di restoran ketimbang di rumah, ia tidak membenci keluarga Ahmad hanya saja jika kedatangan mereka ada maksud tertentu maka ia memilih untuk pergi.
Mengaduk-aduk minumannya yang sudah setengah, ia sebenarnya bosan berada di restoran sendirian.
"Baru jam 7 malam, kemana lagi aku pergi. Apa ke rumah Ina saja?" Tanya dalam hati.
"Fix, kesana" Jawabnya sendiri.
Viona dengan cepat memanggil waiter untuk menanyakan harga makanan dan minuman yang ia pesan lalu bayar.
Mobil Viona saat ini sudah dijalan menuju rumah Ina, setelah mengirim pesan ke Ina meminta alamat rumahnya.
Lima belas menit kemudian, mobil Viona sudah parkir cantik di rumah Ina. Pertama yang viona lihat rumah itu sunyi dan gelap.
"Kok sepi, tidak ada orang kayaknya" Gumam Viona sembari menekan bel yang tertempel di dinding rumah Ina. Rumah Ina sederhana memiliki teras dan pagar kayu sehingga mudah orang masuk dihalaman rumahnya.
Viona mengeluarkan ponselnya dan menelepon Ina.
"Assalamualaikum na, kok sepi?" Tanya Viona dalam telepon yang masih berdiri diteras rumah.
Diseberang telepon sambil melayani pembeli menjawab.
"Wa'alaikumussalam, kamu dimana?" Tanya balik Ina.
"Yang ini mbak, warnanya masih lengkap" Jelas Ina kepada calon pembelinya.
Viona seketika menepuk jidatnya sendiri, ia baru sadar dan ingat kalau Ina sekarang di butik. Jam 10 malam baru balik rumah.
"Lanjut aja Na, aku harus pergi sekarang. Assalamualaikum" Pamit Viona lalu matikan sambungan telepon.
Sekarang kembali bingung, tidak ada cara lain selain pulang rumah.
Disisi yang berbeda Ray masih merundingkan pernikahan yang sudah direncanakan oleh kedua orang tuanya lagi. Ternyata, barang yang Maminya beli perlengkapan pernikahan mereka.
"Mi, kenapa harus memutuskan sendiri tanpa bertanya kepada Alex sebelumnya?" Tanya Ray dengan lembut kepada kedua orang tuanya.
"Pasti kamu tidak akan mau dan Mami yakin kalau dibicarakan lebih awal kamu pasti banyak alasan" Ujar Mami Ray.
"Mi, tapi yang menikah ini Alex bukan Papi" Balas Ray.
"Alex, jaga mulut mu. Kenapa bicara seperti itu sama orang tuamu sendiri" Timpal Papi Ray.
Ray menggelengkan kepala pelan, "Alex tidak habis pikir, saya mencintai Viona bukan Gladis" Tegas Ray.
"Papi tidak pernah mengajarkan kamu untuk kurang ajar sama perempuan, seharusnya senang orang tuamu bertindak cepat" Ujar Papinya panjang lebar.
__ADS_1
"Bertindak cepat apa sebenarnya?, Alex tidak mengerti"
"Sebelum Gladis hamil, kalian segera menikah" Tutur Mami Ray.
"Kalau dia hamil bagus dong, aku tidak perlu lagi repot-repot menolak kayak gini" Tutur Ray sambil melihat kedua orang tuanya, "Mi, Pi, batalkan niat untuk menikahkan aku dengan Gladis" lanjutnya dengan memohon.
"Gak bisa, Papi dan Mami udah urus semuanya!" Tegas Papi Ray.
Ray mengusap wajahnya dengan kasar, ia berdiri lalu duduk lagi, "Papi tidak memikirkan kebahagiaan Alex!"
"Justru itu, kami ingin kamu bahagia" Jelas Maminya lagi.
Dengan menggelengkan kepala Ray menjawab, "Enggak Mi. Mami dan Papi bertindak tanpa bertanya pada Alex terlebih dahulu"
Ray rasa orang tuanya benar-benar sudah lewat batas, rasa sabar Ray udah mulai menipis.
Papi Ray mengeluarkan amplop dari dalam tasnya.
"Ini"
Amplop itu ia simpan diatas meja.
"Apa ini Pi?"
"Buka aja dulu Lex" Ujar Maminya.
Ray pun mengambil amplop itu dan membukanya. Ia penasaran isi amplop itu.
"Ko dobel amplopnya, Pi?" Ray heran dengan amplop putih tanpa tulisan.
"Korea" Ujar Ray lagi tidak percaya, "benar Mi?"
Kedua orang tuanya mengangguk sembari senyum.
"Iya, disana kalian akan melangsungkan pernikahan" Ujar Papinya.
Ray seketika menaruh kembali amplop itu diatas meja.
"Maaf pi, mi" ujarnya lalu pergi.
Keluar dari rumah dengan hati marah kepada kedua orag tuanya. Ia merasa seperti boneka orang tuanya, tidak ada tempat untuk menentukan pilihannya sendiri.
Sungguh tidak enak menjadi anak tunggal dalam keluarga, antara pilihan sendiri atau pilihan orang tua yang diikuti. Sering mengorbankan hati sendiri demi orang tua.
"Kapan aku dimengerti?" Tanya Ray kepada dirinya sendiri.
Sudah satu jam keliling kota dimalam hari tanpa tujuan. Ia mengendalikan mobilnya kemana moodnya bisa. Ray kali ini memilih untuk ke taman kota, ini memang yang paling aneh dilakukan Ray semasa hidupnya.
Ray melangkah sesukanya dalam taman, sebab ia pikir sendirian di taman itu. Melangkah dengan ponsel dan kunci mobil ditangannya.
Sudah lama Ray berada di taman, tapi baru sadar sepertinya ada acara. Disana terdapat meja dihiasi dengan lilin dan dua kursi. Dilihat dari suasana dan fasilitas yang ada seperti pertemuan dua hati yang saling mencintai.
Dari jauh terdengar suara dua orang wanita yang tertawa, ia penasaran dan mengintip dibalik bunga.
"Gladis dan Gebi" Gumam Ray, ia menajamkan pendengarannya.
"Geb, ngapain coba kesini?" Tanya Gladis penasaran melihat kiri kanan yang sudah dihiasi lampu-lampu kecil warna warni dan lilin diatas meja.
"Tenang, duduk dulu dong" Pinta Gebi sambil mengarahkan Gladis untuk duduk.
Gladis pun duduk, "Terus?"
"Tunggu!"
Gebi pergi dan tidak lama kembali dengan seorang laki-laki.
Ray yang memantau tidak jauh, bingung dengan sosok laki-laki itu. Ia merasa tidak asing dengan wajahnya, tapi siapa dan dimana?.
Gladis melihat yang datang dengan Gebi langsung berdiri dari duduknya. Ia tidak sabar menunggu langsung menghampiri keduanya.
"Ngapain kamu kesini?" Tunjuk Gladis.
"Ini acara aku yang buat" Jawabnya santai.
"Tenang dong, aku disini datang demi kalian" Ujar Gebi.
Gladis langsung berdiri dan bertepuk tangan, kalian hebat ya ektingnya, kalian yang ketemuan aku yang dibawa-bawa" Ujarnya sambil jalan mengitari Gebi dan Edwan.
"Kalau saling suka, jangan malu-malu" Ujar Gladis lagi.
__ADS_1
Gebi dan Edwan saling melempar pandangan, tujuan keduanya bukan seperti itu. Edwan buat semua ini untuk Gladis, ia sadar kalau perbuatan mereka salah dan ia ingin bertanggung jawab dengan menikahinya.
"Tapi Dis.." Ucap Gebi dan dipotong langsung oleh Gladis dengan memeluk Gebi.
"Ra, ada disini. Bantu aku" Pintanya dalam pelukannya dan Gebi pun mengangguk setuju.
Gladis melepas pelukannya dan menyuruh Gebi dan Edwan untuk duduk. Mereka berbicara dengan nada pelan.
Ray mencoba untuk dengar apa yang mereka ucapkan, tapi tidak mampu menangkap apa yang mereka bicarakan. Ia memilih untuk meninggalkan tempat itu, ia merasa buang-buang waktu jika yang di bicarakan tidak bisa didengar. Namun, bagi Ray yang paling penting ternyata mereka itu saling kenal.
Ray menuju mobil sembari menelepon Alan.
"Lan, aku menuju apartemen kamu sekarang" Ujar Ray lalu ia matikan sambungan telepon.
Alan yang baru saja buka mulut untuk menjawab, telepon sudah mati.
"Emang nih anak, aneh" Kutuk Alan kepada sahabatnya Ray.
30 menit kemudian Ray sudah sampai apartemen Alan. Alan menyambut sahabatnya dengan senyum sumringahnya.
Ray melihat itu mendadak hatinya tidak enak.
"Kenapa?"
"Enggak" Jawab Alan dengan cepat.
"Ok"
Ray sudah tidak curiga dengan senyum Alan yang menyambutnya tadi. Ia bersandar santai sebelum menceritakan yang ia lihat di taman.
"Ra, kamu udah dengan Gladis. Jodohkan aku dengan Viona" Pinta Alan sambil memainkan alisnya.
Ray langsung duduk tegap, "Apa?"
"Egois banget sih kamu, udah sama Gladis tapi gak mau iklasin Viona" Tutur Alan.
Ray seketika terdiam dengan omongan sahabatnya itu, ada benarnya juga. Melepaskan Viona sulit baginya dan menerima Gladis pun sulit juga dalam hatinya.
Ray menghela napas dengan kasar, "Susah, tidak semudah itu."
"Halaah.. harus pilih salah satunya. Gak mungkin kan pilih dua-duanya?"
"Benar juga, aku butuh waktu untuk semua itu."
"Waktu yang menjawab semuanya?, Kamu memang aneh, sampai kapan?" Alan bertanya sembari berdiri.
"Tegas dengan diri sendiri dong" Lanjut Alan lagi.
"Iya, berisik lu" Respon Ray diluar dugaan Alan.
"Terserah kamu kalau gitu" Alan pasrah dengan jawaban Ray. Ia memilih untuk masuk kamar dan tiduran, daripada mendengar ocehan Ray dan diberi nasehat sepertinya ogah-ogahan.
Ray mengikuti Alan ke kamarnya, ia ingin sekali minta pendapat Alan tentang apa yang ia lihat tadi di taman.
"Lan, aku mau cerita"
"Lan"
"Lan" panggil Ray.
"Hmmm" Respon singkat dari Alan di bawah selimut.
"Kayak cewek aja lu" Ujar Ray lalu menarik paksa selimut Alan, alhasil selimut yang menutup badan Alan berpindah tempat. Ray sengaja buang dikursi yang tidak jauh dari tempat tidur Alan.
"Ternyata Gladis dan Gebi itu saling kenal Lan" Ujarnya dan itu mampu menarik perhatian Alan.
"Terus-terus apa lagi?"
"Ada cowok tapi gak asing orang itu, seperti pernah lihat tapi dimana."
Ray sambil berpikir keras berusaha mengingat orang yang ia lihat di taman.
"Gak ingat sama sekali Lan" lanjutnya.
"Dejavu kali" tutur Alan, "kirain penting" lanjutnya pura-pura kesal.
Alan bangkit ambil selimutnya dan menyelimuti badannya kembali dengan posisi merebahkan badan membelakangi Ray.
"Lan, nginap ya. Lagi malas di rumah" Izin Ray lalu pergi meninggalkan kamar Alan. Malam ini Ray tidur di apartemen Alan lagi.
__ADS_1