
Polisi keliling dalam gedung tidak menemukan satu barang untuk dijadikan bukti, hanya keadaan butik yang acak-acakan.
"Tidak ada apa-apa pak" Ujar polisi tersebut kepada kedua temannya.
"Ok, kita cek diluar" timpal satu polisi lagi. Ketiganya berpencar namun tidak menemukan barang yang mencurigakan.
Viona kepikiran dengan tulisan ancaman ditembok gedung butiknya itu.
"Ray, aku diancam" Ujar Viona kepada Ray.
Ray dan Viona berada dihalaman butik, membiarkan polisi untuk cek keadaan butik.
"Tau dari mana?" Tanya Ray.
"Disana, ada tulisan ditembok" Tunjuk Viona.
"Kita kesana, bisa saja orang yang sama pelakunya" Ujar Ray, "ayo" lanjut Ray karena melihat Viona hanya diam ditempat.
"Iya"
Ray dan Viona kesamping butik tersebut, dimana tulisan itu berada.
"Mana?"
"Sudah hilang Ray, siapa yang hapus?" Tanya Viona bingung, "tadi pagi jelas-jelas disini, malah mama foto itu tulisan" Lanjutnya.
"Apakah kamu punya musuh?" Tanya Ray. Ia rasa kejadian ini bukan kebetulan tapi sudah direncanakan.
Viona geleng kepala mendengar pertanyaan Ray.
"Terus?" Tanya Ray lagi.
"Terus aku gak tau, aku rasa gak pernah ganggu orang selama ini" Ujar Viona.
"Yang jengkel sama kamu?" Tanya Ray lagi. Ia tau, kalau bertanya tentang musuh maka Viona pasti menjawab tidak punya, jadi mau bertanya berkali-kali pun hasilnya tetap sama.
"Gak tau pasti ini yaa, tapi aku rasa hanya Gladis yang jengkel sama aku" Jelas Viona. Ia rasa tidak masalah juga memberitahu Ray, supaya calonnya dia nasehati.
"Gladis gak mungkin seperti itu, apalagi jahat sama kamu. Aku kenal dia sudah lama, jadi karakternya sedikit tau" Jelas Ray.
Viona dengan melangkah menghampiri polisi sambil menjawab ucapan Ray.
"Mantan sekarang naik pangkat jadi calon istri, gak mungkin tidak tau karakternya kan?, Ray.. aku hanya bilang yang jengkel sama aku bukan jahat sama aku" Ujar Viona, "meskipun aku juga gak tau, ini ulahnya atau bukan" Sambungnya dalam hati.
"Maksud aku.." Ujar Ray dipotong oleh Viona dengan mengangkat tangannya.
"Sudah, aku gak masalah Ray" pangkas Viona lalu ia lanjut bertanya kepada polisi.
"Gimana pak?" Tanya Viona.
"Tidak menemukan apa-apa bu, selain butik yang berantakan" jelasnya.
"cctv pak, disini ada cctv" Ulang Viona dan masuk dalam butik.
Viona cek komputernya, namun hasilnya nihil, sepertinya pelakunya ia hapus sebelum meninggalkan butik tersebut.
"Gimana Viona?" Tanya Ray sudah tidak sabar menunggu rekamannya.
"Kosong, sepertinya ada yang hapus" Jelas Viona.
"Maaf pak, rekamannya kosong pak sepertinya ada yang sengaja hapus" jelas Viona kepada pak polisi.
"Baik, kami tidak bisa membantu karena barang bukti tidak ada" Jelas salah satu polisi.
"Kami pulang pak, bu" Pamit ketiga polisi itu.
"Iya pak" Jawab Viona dengan sopan.
Sepulang polisi, Viona memilih duduk dikursi sambil menatap nanar pakaian butiknya berserakan dilantai. Viona menghela napas terlebih dahulu, kerugian Viona bisa mencapai puluhan juta.
"Ya Allah, ada orang sejahat ini sama aku" Batin Viona dan bangkit dari duduknya.
"Makasih Ray, sudah bantu aku tadi. Bisa kamu pulang, sepertinya aku harus rapikan dulu pakaian yang berserakan ini baru aku pulang" Jelas Viona.
"Sekali lagi terima kasih ya" Lanjut Viona dengan tulus sembari senyum.
Ray hanya menatap Viona dengan diam. Ia rasa Viona semakin jauh darinya, semenjak inisiatif orang tua mereka di jodohkan dengan pilihan orang tua masing-masing.
Ray bangkit dari kursi mengikuti Viona dengan senyum getir.
__ADS_1
"Dulu aku selalu melarangmu untuk tidak mengucapkan kata maaf berulang-ulang, tapi sekarang aku mendapatkan kalimat berbeda dengan pengulangan yang sama" Jelas Ray.
"Karena kamu pantas mendapatkan itu" Jawab Viona.
"Aku bantu kamu, baru aku antar pulang" Keputusan Ray seakan tidak bisa diganggu gugat siapapun.
"Mau cepat gak nih?" Lanjutnya.
"Mau dong" Jawab Viona.
Merapikan pakaian yang berserakan dalam butik yang lumayan luas itu membutuhkan waktu yang cukup lama, sampai Viona mengeluh untuk istrahat.
"Aku nyerah Ray, besok aja sisanya baru dirapiin" Ujar Viona dan sekarang ia sudah duduk bersandar dikursi sambil menyalakan AC.
"Boleh tapi pakaian ini akan kotor dan lembab, karena akan berada diatas lantai semalaman" Jelas Ray.
"Tapi... Jujur aku capek banget" Ungkap Viona sambil bertopang dagu.
"Haomm" Viona menguap.
"Ray, aku ngantuk" Ujarnya lalu mengambil posisi menyadarkan badan disandaran kursi sambil memeluk tubuhnya.
"Gak bisa Viona, kapan selesainya kalau hanya aku yang kerja" Teriak Ray, tapi tidak ada sahutan dari Viona.
"Benar-benar itu anak" gumam Ray.
Ray lanjut kerja sendiri, sudah beberapa menit tidak ada bunyi suara dari Viona, sunyi senyap dalam butik. Ia menoleh kebelakang tidak menemukan Viona.
"Apa benar dia tidur?" Ray bertanya-tanya dalam hati.
Ray terpaksa berhenti sejenak hanya untuk mencari keberadaan Viona. Ray membulatkan matanya setelah melihat Viona tidur pulas diatas kursi.
"Berani banget tidur disini" Gumamnya sambil menghampiri Viona di kursinya.
Ray sejenak melihat wajah polos Viona tanpa beban sedikit pun, terasa damai dihatinya.
"Vio, kenapa kita diberi perbedaan yang begitu jauh sehingga tidak mudah untuk disamakan?" Tanyanya dengan lirih.
"Apa sih syahadat itu Vio?" Tanyanya lagi.
Melihat wajah Viona, begitu banyak pertanyaan dalam benak Ray yang bermunculan.
Ray memilih istrahat dikursi panjang yang sengaja disediakan untuk para pembeli dibutik itu. Merebahkan badannya diatas tempat duduk itu untuk meluruskan pinggangnya yang menurutnya hampir patah gara-gara jongkok dan berdiri saat mengambil pakaian dilantai. Berbantalkan lengan pilihan Ray.
"Istrahat sejenak, lagian baru jam 9, biasa Viona pulang jam 10" Gumamnya lagi sambil menutup mata.
"Apa tadi aku sudah kunci pintu?" Ray bertanya dalam hati, lalu ia bangkit cek pintu.
"Ternyata belum"
Ray kunci pintu utama butik tersebut lalu kembali istrahat.
Keduanya ketiduran dibutik, tanpa terusik sedikit pun.
Berbeda dengan ibu Heti, ia khawatir dengan Viona belum sampai rumah sudah selarut ini. Ibu Heti mondar mandir ruang tamu, sekali-kali mengintip di jendela rumah hanya untuk melihat pintu gerbang.
Ibu Heti menelfon Viona sudah berkali-kali tapi tidak diangkat.
"Kemana ini anak, jam segini belum sampai rumah" Ujar ibu Heti seorang diri dengan hati tidak tenang.
Melihat ponselnya, memastikan apakah Viona mengirim pesan, tapi lagi-lagi tidak ada pesan sama sekali dari Viona.
"Mungkin Ahmad" Ibu Heti mengingat Ahmad. Biasanya Ahmad yang mengantar Viona kalau sudah tengah malam seperti ini.
Ibu Heti tidak menunggu waktu lama, langsung menelepon Ahmad. Tersambung.
"Assalamualaikum tan" Ucap Ahmad dengan nada khas orang baru bangun tidur.
"Wa'alaikumussalam, nak Ahmad ada dirumah?" Tanya Ibu Heti to the point.
"Iya Tan" jawab Ahmad.
"Kirain kamu dengan Viona" jelas ibu Heti lagi, tapi hatinya saat ini makin tidak tenang.
"Kemana itu anak?" Batin ibu Heti.
"Viona belum pulang tan, emang dia kemana tan?" Tanya Ahmad lagi diseberang telepon.
"Di butik, tadi menyuruh mama pulang duluan tapi gak tau kenapa dia belum pulang, gak biasanya dia seperti ini" Jelas ibu Heti membuat Ahmad yang dengar jadi panik.
__ADS_1
"Sudah telepon tan?"
Ahmad langsung bangun mendengar Viona belum pulang, rasa khawatir tiba-tiba muncul dalam hatinya, karena ia tau persis begitu bahayanya Viona diluar sana.
"Sudah tapi gak angkat" jawab ibu Heti.
"Saya coba telepon Viona dulu Tan kalau begitu, kalau tidak angkat juga maka saya akan susul ke buktinya, assalamualaikum tan" Ucap Ahmad lalu mematikan sambungan telepon setelah ibu Heti menjawab salamnya.
Ahmad kembali mengotak-atik ponselnya mencari kontak Viona, setelah mendapatkannya tidak menunggu waktu lama langsung menelepon. Berdering tanda tersambung, tapi berakhir suara operator.
Ahmad kembali telepon lagi dengan harapan kali ini teleponnya diangkat oleh Viona, setidaknya rasa khawatirnya berkurang kalau mendengar suaranya.
Seketika dilayar ponsel Ahmad muncul angka, tanda Viona mengangkat teleponnya.
Ahmad tidak membutuhkan waktu lama langsung bertanya kepada Viona.
"Viona, kamu dimana?" Tanya Ahmad ditelepon itu.
"Salam dulu Mad, assalamualaikum" Ujar Viona yang membuat Ahmad diseberang telepon ingin menjewer telinga Viona.
"Wa'alaikumussalam, dimana?, Mama kamu khawatir lho Viona"
"Dikamar lah Mad... Ehhh tunggu.." Ujar Viona yang masih terdengar ditelinga Ahmad.
"Kenapa lagi, kamu dimana?" Tanya Ahmad yang masih panik.
"Astaghfirullah, aku ketiduran di butik Mad. Terima kasih Mad. Aku harus pulang sekarang, tapi Ray masih enak tidur."
"Apa?" Ahmad teriak diseberang telepon membuat Viona seketika menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Aku gak budeg lho ini, gak usah teriak juga" Ujar Viona lagi.
"Jangan kemana-mana, tunggu aku disana. Aku akan jemput kamu sekarang. Ok"
"Ada Ray yang antar Mad" Tolak Viona dengan lembut.
Ahmad menarik napas terlebih dahulu mendengar kalimat Viona.
"Aku calon suamimu, jadi sepantasnya aku yang jemput bukan malah Ray yang antara" Jelas Ahmad dalam telepon itu.
"Aku tinggal pakai jaket" Lanjutnya sedikit teriak.
"Kenapa sih Mad kamu memaksa, aku belum menerima perjodohan itu" Jelas Viona membuat Ahmad yang diseberang telepon terhenti sejenak aktivitasnya.
Sedangkan Ray yang berada tidak jauh dengan Viona kaget mendengar kalimat itu.
"Berarti selama ini, aku sudah salah menilai Viona" Batin Ray.
Ray bangun dari tidur setelah mendengar ponsel Viona yang berkali-kali berdering. Ia sengaja tidak membangunkan Viona saat ponselnya berdering. Mungkin ia egois, tapi momen bersama Viona sangat ia rindukan.
"Mad, kenapa sih seperti ini sama aku" Viona bingung dengan perlakuan Ahmad kepadanya. Disisi lain sahabatnya tapi disatu sisi ia orang yang dijodohkan dengannya.
"Aku harus gimana Ray?" Tanya Viona setelah melihat Ray didepannya, seketika tangisnya pecah.
Ray mengulurkan tangannya ingin mengusap kepala Viona yang belapis jilbab. Namun, seketika terlintas di kepalanya pernah membaca buku kalau wanita muslimah tidak boleh bersentuhan dengan laki-laki. Ia urungkan niatnya, tangan ia turunkan.
"Aku gak tau saran aku benar atau tidak, tapi pernah aku dengar ada shalat istikharah" Ujarnya lalu ia kembali duduk di kursinya semula. Menjauhkan dari Viona.
Viona seketika menatap Ray dari jauh, ia tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut Ray.
"Tunggu, tau dari mana shalat istikharah itu?" Tanya balik Viona sembari melangkah mendekati Ray.
Seketika Ray mengangkat tangannya, melarang Viona untuk mendekat "kembali ke kursi mu, aku masih bisa dengar ucapanmu"
Viona seketika berhenti dari langkahnya, ia nurut. Setelah kembali duduk dikursi pertanyaan yang sama keluar dari bibir Viona.
"Tay dari mana shalat istikharah?"
"Viona apa benar yang aku dengar tadi?" Tanya balik Ray yang membuat Viona menghela napas.
"Iya, sekarang gilirannya jawab pertanyaanku" Pinta Viona.
"Aku pernah baca sebuah buku" Jujur Ray, "karena aku ingin selalu bersamamu" Lanjutnya dengan lirih.
"Hanya itu?"
"Iya, emang salah alasanku?"
"Gak ada yang salah hanya sedikit keliru" Jawaban singkat dari Viona menutup pembicaraan mereka berdua, seketika diam dan kembali sunyi.
__ADS_1