Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
76. Kode untuk Viona


__ADS_3

"Kurangi komunikasi" Ujar Ray lagi dalam telepon, biar bagaimanapun tidak ada cowok yang suka kalau orang yang ia cintai dekat dengan cowok lain.


"Laah, dia sahabat aku, itu gak mungkin Ray" Tolak Viona dengan santai.


"Kok gak mungkin, gak ada laki-laki dan perempuan sahabat"


"Aku dan Ahmad"


"Kalau memang sahabat toh!. Kenapa dia terima perjodohan itu?, Kenapa gak menolak supaya lebih mudah dan aku.." kalimatnya ia tidak lanjutkan lagi.


"Kenapa?" Tanya Viona penasaran, ia merasa ada yang Ray sembunyikan.


"Lupakan, aku hanya ingin katakan kalau aku serius sama kamu, tidak main-main. Bukan aku yang datang terlambat melainkan Ahmad yang masuk tanpa permisi. Dan itu aku gak akan terima" Tegas Ray sementara Viona hanya diam.


"Aku paham Ray"


"Semoga saja, by Vio. Aku ke rumah dulu, dipanggil Mami dan Papi" Pamit Ray.


"Iya, salam buat mereka. Hati-hati"


Komunikasi keduanya selesai, Viona dan Ray kembali keaktivitas masing-masing.


Ray membawa motornya mengarah ke kediaman Manulang. Sesampainya disambut oleh orang yang merawat rumahnya.


"Mami dan Papi ada didalam?" Tanya Ray sambil standar samping motornya.


"Iya, silahkan masuk tuan" Jawabnya.


Ray masuk dalam rumah sembari bersiul. Menyimpan helm terlebih dahulu lalu ia mencari keberadaan orang tuanya.


"Oh lagi makan!" Ujar Ray lalu ikut gabung di meja makan.


"Banyak makanan nih" Lanjut Ray lagi sampai bingung mau makan yang mana.


Mami Ray senyum mendengar penuturan anak semata wayangnya.


"Sengaja Mami masak banyak" Ujar Maminya sembari senyum, sendok ditangannya jadikan alat untuk menunjuk makanan, "makanlah!" Lanjutnya.


"Ok.. Alex makan ya, masakan Mami ter the best pokoknya" Puji Ray sambil mengangkat jempol tangannya, "Pokoknya full full enak deh" Sambungnya lalu menyuapkan makan dalam mulutnya.


Ray dalam menikmati makanannya, tiba-tiba tangan mengelus punggung Ray.


Papi Ray melihat itu sejenak menghentikan aktivitas makannya, ia tidak suka ada dengan tingkah laku Gladis yang begitu berani.


Tatapan Papi Ray dingin tanpa ekspresi kepada Gladis membuat sang empu menciut. Gladis mengambil posisi duduk disamping Ray.


"Ra, kok gak tunggu aku sih" Protesnya dengan nada manja.


Mami Ray yang memang menginginkan Ray dan Gladis kembali bersama, senang-senang saja melihat itu.


"Maafkan Alex ya, dia sepertinya terlalu lapar tadi" Jelas Mami Ray dengan lembut.


"Oh, gak masalah Tan. Begini saja aku sudah senang" Ujar Gladis lagi sembari senyum ramah.


Kembali makan bak satu keluarga, Mami Ray dan Gladis makan sambil berbagi cerita. Beda halnya Ray dan Papinya, keduanya memilih untuk menghabiskan makanannya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


"Mi, Alex ke kamar ya" Pamit Ray.


Mami dan Papinya langsung mengangguk mengiyakan. Sedangkan Gladis mendengar Ray pamit langsung bangkit dari kursi dan mengikuti Ray.


"Boleh aku ikut kamu gak Ra?"


Ray menoleh sekilas lalu kembali tatapannya didepan, "Mau ngapain dikamar cowok?, Kamu perempuan dan aku laki-laki, gak baik kedengarannya"


Mami Ray ikut bangkit dari duduknya, ia tidak ingin rencananya gagal untuk menyatukan keduanya.


"Maksud Gladis itu, hanya mengantar sampai depan pintu kamar"

__ADS_1


Papi Ray mendengar itu, langsung menatap istrinya. Kalimat yang ia tidak ingin dengar dari istrinya tapi keluar juga hari ini.


"Alex sudah dewasa dan ini rumahnya, jadi tidak mungkin lupa kamarnya" Ujar Papi Ray, "ekhem.. Lex, boleh ikut Papi sebentar" lanjutnya lalu pergi meninggalkan meja makan.


Ray langsung mengikuti belakang Papinya tanpa bertanya, karena menurutnya ini lebih baik dari pada diikutin Gladis.


"Tan" Panggil Gladis seakan meminta penjelasan.


"Tunggu aja, biasa bahas bisnis" Mami Ray menenangkan Gladis.


Gladis mengangguk paham, ia bertingkah seperti anak penurut sama orang tua dan lemah lembut.


"Tan, ada foto lagi. Bukan bermaksud menjelekkan orang lain tapi tante pengen punya mantu baik-baik kan dan pasti memperhatikan juga tingkah lakunya diluar rumah" Jelas Gladis membuat Mami Ray makin suka sama Gladis.


"Benar, Mami mau lihat" Minta Mami Ray.


Gladis kembali memperlihatkan foto hasil jepretan Gebi sebelum Edwan babak belur dipukul oleh Tono dan Iwan.


"Oh, pegang pinggang. Apa gak risih Viona seperti ini?" Tanya Mami Ray.


"Ada lagi Tan" Ujar Gladis.


Lalu Gladis menggeserkan foto menggunakan jarinya dan disana terlihat jelas gambar Viona diberikan bunga dan tangannya diraih oleh Edwan.


Mami Ray seketika menutup mulutnya, "Oh my good"


"Parah kan Tan?" Tanya Gladis lagi, ia terus memanas-manasi Mami Ray.


Masih tengah memperlihatkan gambar Viona bersama Edwan, seketika pesan dari Edwan masuk.


"Maaf Tan, sepertinya aku harus pulang. Ada tamu di rumah" Kilah Gladis.


"Oh gitu, kapan-kapan kesini lagi"


"Siap Tan" Jawab Gladis lalu pergi sambil menelfon Edwan.


🌺


Malam menjelang, Ray tidak kembali ke apartemen. Ia memilih untuk tidur dirumah bersama orang tuanya. Ray dan Papinya minum kopi sambil berbagi cerita. Tidak dirasa cerita mereka sampai kearah masa depan Ray tentang pasangan.


"Lex, apa Gladis seberani itu sama laki-laki?" Tanya Papi Ray. Mengingat kejadian makan siang tadi.


"Dulu gak kayak gitu Pi, tapi entah kenapa sekarang malah berubah. Bukan Gladis yang aku kenal dulu" Ungkap Ray sambil menyesap kopinya.


Papi menghembuskan napas dengan kasar lalu minum kopinya.


"Tapi Mami sangat menyukainya!"


Ray menyimpan kopinya diatas meja, "Apa gak ada sedikit pun tempat untuk Viona di hati Papi dan Mami?" Tanyanya sembari menghadap kearah Papinya. Kali ini Ray bertanya dengan serius.


"Kami saling mencintai Pi, tapi.." lanjutnya dan terhenti sejenak, mengatakan perbedaan dirinya dan Viona sangat berat baginya, meskipun demikian ia harus akui, "tapi perbedaan yang menghambat semuanya."


"Sudah tau kan, kenapa harus lanjutkan Lex?. Itu hanya akan menyiksa kalian nak" Respon Papi Ray begitu lembut.


"Papi hanya tidak mau kamu melangkah jauh tapi ujung-ujungnya kalian pisah, dan perbedaan kalian itu bukan faktor umur atau status sosial tapi keyakinan"


"Cinta itu tidak salah nak, yang salah itu orang yang menyikapinya. Banyak orang yang menganggap cinta itu harus bersama dengan orang yang dicinta, sehingga mati-matian berjuang tanpa berpikir apakah bisa bersama atau tidak?"


"Dan ingat satu hal nak. Puncak mencintai, saat orang yang kita cintai bahagia meskipun bukan bersama kita" Ujar Papi Ray lagi.


Kalimat terakhir itu membuat Ray diam dan menunduk. Begitu berat ujian cintanya. Pikirannya mendadak buntu. Keduanya lama terdiam sampai Papinya kembali bersuara.


"Papi pernah merasakan itu nak dan itu sangat sulit. Tapi, setelah Papi bertemu dengan Mami, Papi bisa melupakan semuanya dan bahagia seperti yang kamu lihat saat ini. Semoga kamu juga bisa"


"Caranya Pi?" Ray tidak tau lagi harus bertanya apalagi.


"Ikhlaskan, terima Gladis" Ujar Papi Ray membuat Ray memandang wajah Papinya penuh tidak percaya.

__ADS_1


"Pi, bercanda kan?"


Berharap itu hanya prank dari Papinya malam ini. Ray mengembangkan senyum untuk menggoda sang Papi.


"Pi?" Panggil Ray.


"Papi gak bercanda Lex" Jawaban itu membuat Ray bangkit dari kursinya.


Ray menggelengkan kepala kecewa pada Papinya, mengangkat gelas kopinya dan pamit pergi.


"Pi, aku masuk kamar dulu" Pamitnya lalu melangkah pergi, baru beberapa langkah ia memutuskan berhenti, "Pi, Alex sangat mencintai Viona" Lanjutnya lalu pergi.


Ia tidak ingin berdebat dengan Papinya, semua itu percuma.


Dari jarak yang lumayan dekat Mami Ray mendengar semua pembicaraan antara anak dan ayah, ia tidak ingin mengganggu keakraban keduanya. Setelah melihat Ray pergi, ia langsung menghampiri sang suami.


"Kenapa Pi?" Tanya Mami Ray pura-pura seakan tidak tau apa-apa.


"Ray sangat mencintai Viona."


"Mami gak setuju, Viona itu bukan wanita yang baik, tidak cocok dengan Alex, Pi" Tutur Mami Ray. Ia teringat foto-foto yang diperlihatkan Gladis tadi siang.


"Mi, tidak baik berpikir seperti itu" Papi Ray mengingatkan istrinya, "Kasih waktu Ray untuk berpikir" Lanjutnya.


"Gak bisa Pi, Gladis itu pengen sekali menikah dengan Alex."


"Gladis tidak cocok dengan Alex, Mi. Jangan buat anakmu terluka untuk kedua kalinya" Pinta Papi Ray.


"Yakin Pi, Gladis mampu membuat Alex lupa Viona" Jelas Mami Ray.


Papi Ray menatap miris istrinya, bagaimana bisa mementingkan orang lain dibandingkan perasaan anak sendiri.


"Gak habis pikir aku sama pikiranmu Mi" Ujarnya lalu pergi meninggalkan istrinya sendiri.


"Lah, dimana salahnya?" Mami Ray bicara seorang diri lalu menyusul suaminya.


Berbeda jauh dengan Viona. Ia sedang telepon dengan kakak-kakaknya, mereka melakukan video call.


"Ponakan bibi udah pada besar nih, gak kangen sama bibi Viona?" Pancing Viona kepada kedua ponakannya itu.


Ainun yang sudah besar dan biasa bersama bibinya langsung mengungkapkan rasa rindunya.


"Bibi, Ainun rindu sama bibi dan nenek" ucapnya.


"Aaaa, bibi terharu. Peluk jauh dari bibi" Ucap Viona sembari merentangkan tangannya depan kamera.


"Kalau Hamzah?" Tanya Viona beralih kepada ponakan yang paling bontot saat ini.


Karena Hamzah belum pintar bicara maka yang mewakili ibunya, Marcellea meniru gaya anak kecil.


"Hamzah pun rindu, bibi" Jawabnya.


"Aku kesepian tau dirumah hanya berdua dengan mama" Viona mengeluarkan perasaannya selama ini kepada kakak-kakaknya.


"Menikah dek, supaya ada teman" Ucap Yesi. Dan seketika Ainun muncul didepan layar lagi.


"Habis itu bibi Viona punya bayi juga" Timpalnya membuat yang dengar tertawa kecuali Viona sendiri. Ia malah mengerucutkan bibirnya.


"Sok tau anakmu kak" Jawaban singkat dari Viona, kali ini moodnya seketika rusak gara-gara sang ponakan.


"Hamzah juga menunggu adik dari bibi Viona lho ini" Timpal Marcellea membuat Viona menatap malas kali ini.


"Kenapa sih malam ini sangat menjengkelkan, hati aku itu tiba-tiba gak mood gitu" Sindirnya.


"Perbanyak istighfar dek" Pesan Yesi,


"Iya nih, dengar-dengar sudah punya butik, selamat ya" Timpal Marcellea.

__ADS_1


"Terima kasih kakak-kakakku, ditunggu dirumah yaa. Assalamualaikum" Ucap Viona lalu mematikan sambungan video call.


__ADS_2