Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
32. Ke Restoran lagi


__ADS_3

Hari ini Viona memutuskan untuk ke restoran dimana Ahmad kerja -tapi tidak seorang diri melainkan dengan kakaknya Yesi dan Ainun sang ponakan. Makan siang mereka di restoran seafood Ahmad.


Dalam perjalanan Yesi terus menerus melihat adiknya itu. Viona yang merasa diperhatikan langsung bertanya.


"Kenapa kak?, kok lihatnya kayak gitu banget" Ujarnya sambil mengemudi mobil.


"Benar dek berteman dengan Alex sepupu Lea?" Tanya Yesi.


Semenjak mendengar cerita dari Rifal, ia penasaran hubungan Alex dengan adiknya.


"Teman, ia teman. Emang salah berteman?" Tanya Viona tidak mengerti.


"Kakak bukan gitu maksudnya" Jelas Yesi lagi kepada Viona.


"Gimana maksudnya?" Tanya Viona lagi.


"Kamu ngeledek dek?" Tanya balik Yesi dengan serius.


"Hahaha, gimana sih kak?, aku perempuan kak tapi gak ngerti juga kode-kodean"


"Bibi, kita ketemu om baik ya?" Tanya Ainun memotong pembicaraan Yesi dan Viona.


"Kita cari makan enak sayang" Jawab Viona kepada ponakannya.


Yesi mendengar itu kembali melihat adiknya, "loh ini masih mau cari dek, bukannya udah tau restonya?" Tanya Yesi lagi yang ia sendiri terkejut dengarnya.


"Kak diam duduk manis, itu aja. Udah ditunggu disana" Ujar Viona lagi dengan arah pandang ke depan.


Viona kesana bukan pergi-pergi saja, ia terlebih dahulu menelfon pihak restoran yang biasa tertera dikotak makanan restoran Ahmad.


Sedangkan Alan dan Ray lagi di taman dekat bengkel, entah di rasuki roh baik darimana sehingga mendadak mengajak Alan ke taman yang Ray sendiri sebenarnya jarang ke taman. Itu bukan Ray bangat sebenarnya.


Alan tidak sabar mau mendengar cerita Ray.


"Mau cerita apa Ra?, bikin penasaran aja" Ujar Alan.


"Kenapa gak di bengkel saja ceritanya, apa ala-ala romantis kita?" Tanya Alan dengan tatapan genit.


Seketika Ray merinding bulu kuduknya mendengar kalimat dari Alan.


"He, aku masih normal ya. Aku mau cerita Lan" Ujar Ray lagi.


Alan menghela napas sembari memejamkan mata dan mengeluarkan napas perlahan lalu membuka mata sembari menoleh kesamping melihat sahabatnya itu.


"Cukup perempuan mau bicara satu kalimat lama banget, jangan dengan kamu Ra. Ingat! To the point, ingat itu!" Ujar Alan panjang lebar dengan mengangkat satu jari telunjuknya.


"Aku pernah dengar kisah tentang Ummu Sulaim dan Abu Thalhah" Ujar Ray.


Alan menatap sahabatnya itu penuh dengan tidak percaya, karena ia pernah juga mendengar kisah pada zaman Rasulullah itu. Berbeda dengan Ray, dia beda keyakinan dengannya.


"Terus?" Tanya Alan penasaran dengan kelanjutan cerita Ray.


"Viona minta seperti kisah itu" Lanjut Ray.


"Dan respon mu?" Tanya Alan lagi dengan cepat.


"Aku gak tau, soalnya aku gak tau kisah itu" Jawabnya membuat Alan ingin pergi dari taman itu sekarang juga.


Alan geleng kepala heran dan kepalanya pening seketika mendengar ucapan dari Ray itu.


"Kenapa bahas kisah itu, kalau gak tau Ra" Alan gregetan, "Suka bikin susah diri sendiri" Sambungnya.


"Itu asal jawab Lan, makanya aku ajak kamu kesini tentang itu, nanti kalau viona tanya aku tau jawabannya"


Alan dengan cepat searching di google, bukan Alan tidak tau sama sekali tapi ragu untuk menjelaskan kepada sahabatnya.


"Oh" Batin Alan membaca singkat kisah Ummu Sulaim dan Abu Thalhah.


"Ra, Ummu Sulaim itu wanita yang bermaharkan islam dan laki-laki yang melamar itu Abu Thalhah" Jelas Alan.


"Dan Abu Thalhah itu melamar Ummu Sulaim dulu bukan hanya satu kali lho"


Ray penasaran, "terus-terus.." Ucap Ray tidak sabar mendengar kelanjutan cerita Ummu Sulaim dan Abu Thalhah.


"Dengar aja, jangan potong" Ucap Alan sebelum melanjutkan ceritanya.


"Abu thalhah itu melamar Ummu sulaim dengan mahar yang menarik tapi Ummu Sulaim menolaknya dengan alasan karena Abu Thalhah ini musyrik, dengan perasaan sedih Abu Thalhah pulang dan kembali dikemudian hari dengan mahar yang lebih menarik lagi dengan harapan diterima."


"Namun yang terjadi apa?, Lagi-lagi Ummu Sulaim menolak lamaran Abu Thalhah"


"Yang lebih menarik disini jawaban Ummu Sulaim.." Ujar Alan dengan semangat.


"Apa yang menarik Lan?" Tanya Ray lagi memotong ucapan Alan.

__ADS_1


"Sabar dong, masih aku coba ingat ini" Jawab Alan setelah ia diam.


"Ummu Sulaim berkata, 'demi Allah lelaki sepertimu tidak patut di tolak siapa pun, tapi kamu ini lelaki kafir sedangkan saya wanita muslimah. Aku tidak boleh menikah denganmu."


"Jadi respon Abu Thalhah gimana dengar jawab Ummu Sulaim?" Tanya Ray lagi.


"Aku udah bilang jangan potong, dengarkan saja sampai selesai" Jelas Alan, "kamu benar menguji kesabaranku" sambungnya lagi.


"Maaf lanjut" Ray kembali diam menyimak apa yang Alan sampaikan.


Alan kembali cerita lagi, "Abu Thalhah bilang, 'itu bukan permasalahanmu',.. Ummu Sulaim bertanya lagi, 'memangnya apa permasalahanku?'... 'emas dan perak' Jawab Abu Thalhah."


"Aku tidak menginginkan emas dan perak. Yang aku inginkan dirimu hanyalah kau masuk Islam, sahut Ummu Sulaim" Ungkap Ummu Sulaim.


"Abu Thalhah lagi bertanya, siapa yang bisa membantunya masuk islam. Ummu Sulaim menjawab, Rasulullah. Begitu cerita singkatnya" Ungkap Alan.


Ray senyam-senyum mendengar cerita dari sahabatnya itu.


Alan menautkan kedua alisnya, "Kenapa lu?" Tanyanya dengan heran.


"Aku kira yang kamu tau hanya club doang bro" Ungkap Ray dengan jujur, lalu ia menepuk pundak Alan, "Jadi maksudnya aku harus sekeyakinan dulu dengan Viona baru bisa menikahinya?."


"Kurang lebih seperti itu" Jawab Alan dengan tatapan mata kedepan jauh menerawang.


"Ya Allah, aku akan kehilangan orang yang sudah mampu membuatku berubah" Batinnya dengan sekali-kali menghela nnapas kasar.


Ray menatap sahabatnya itu, "Kenapa lagi Lan?" Tanyanya.


"Tidak, jadi kalau ditanya Viona sudah punya jawaban kan?" Tanya Alan memastikannya lagi kepada sahabatnya itu.


"Iya, tapi Rasulullah itu siapa?" Tanya Ray lagi pemasaran.


"Nabi Muhammad Saw, Ray. Viona sudah tau kalau kamu sebut baginda nabi atau Rasulullah" Jelas Alan lagi dengan sabar meskipun ada setitik rasa sakit dihatinya.


Meskipun selama ini mengatakan kepada Ray kalau ia sudah ikhlas, nyatanya mendengar kata Ray menikahi Viona masih merasakan sakit.


Berbeda dengan Ray, ia sedang merenungi apa yang baru saja didengar. Diam!, Itu yang dilakukan keduanya.


Entah apa yang dipikirkan keduanya, sehingga membuat mereka sejenak merenung untuk merenung.


"Ray kamu ragu?" Tanya Alan mencoba memahami perasaan sahabatnya itu, "Lagian, kenapa harus bahas itu sama Viona?, tanyanya lagi, lalu ia melanjutkan kalimatnya membuat dirinya maupun Ray patah semangat, "Mana Viona sudah pakai kerudung pasti kriterianya bukan seperti kita-kita ini."


"Maksudnya?" Tanya balik Ray.


"Yang paham agama, kamu gak lihat tatapan kakaknya saat kita datang, mukanya gak bersahabat, kita itu kayak terjebak dalam kandang macan" Jelas Alan sembari bersandar dibangku tempat duduknya itu.


"Ok" Respon Alan begitu singkat.


"Lakukan menurutmu baik bro" Ungkap Alan lagi.


"Ya Allah, apakah aku berdosa jika meminta Viona jadi milikku?" Batin Alan lagi, seketika ia sadar dari kata hatinya itu.


"Astaghfirullah" Ucapnya Alan tiba-tiba.


"Kenapa?" Tanya Ray lagi.


"Tidak ada Ra. Jadi gimana ini, pulang atau masih duduk disini?" Tanya Alan lagi. Ia ingin istirahat diapertemenya saat ini.


"Kita pulang. Ok!" Jawab Ray.


Alan dan Ray pulang dan kembali ke bengkel terlebih dahulu.


🌺


Viona sedang makan diresto Ahmad, berbagai menu ada diatas meja. Ainun senang melihat itu, apalagi ditambah dengan eskrim.


"Bibi besok kesini lagi!" Ujarnya.


"Bangkrut juga ibumu nak kalau tiap hari makan di restoran" Timpal Yesi menjawab ucapan anaknya itu.


"Bibi juga senang kalau makan disini, apalagi teman bibi kerja disini" Ujar Viona sembari senyum.


"Siapa Vio?" Tanya Yesi.


"Ahmad" Jawab singkat Viona sembari menikmati kepiting, "Ainun, kalau kesini ajak bibi saja tidak udah ibu, kita makan eskrim saja, gimana?" Sambung Viona sembari memainkan alisnya pada ponakannya.


"Iya bibi, berdua saja ibu gak mau.. hehehe" Jawab Ainun dan ia diam sejenak, "tapi.. tapi Om baik kenapa tidak datang lagi dirumah?"


"Masih kembali lagi disitu, si bocil ini" Batin Viona.


Yesi melirik adiknya, "itu mau dijawab bagaimana" Sedikit berbisik agar tidak di dengar oleh anaknya.


"Tenang kak" Jawabnya pada Yesi dan melihat Ainun, "Kan bisa ke bengkelnya Om baik"

__ADS_1


"Jangan gila Viona, kamu perempuan lho samperin laki-laki. Gak baik, hargai proses hijrahmu" Tegas Yesi pada adiknya itu.


Ia tidak rela jika Viona dekat dengan Ray, apalagi adiknya baru saja hijrah.


"Disana banyak orang kak, bukan hanya Ray tapi karyawan bengkel juga" Jelas Viona.


"Tetap aja, gak baik"


"Ada Ainun juga"


"Gak bisa, kakak gak izinin" lagi-lagi Yesi tegas dalam ucapannya.


Viona menghela napas pasrah sembari mengangkat kedua tangannya.


"Ya sudah" Jawab Viona. Ia tidak bisa membantah jika sudah kakaknya yang bicara.


Selesai sudah mereka makan, Yesi memanggil waiter untuk menanyakan harga makanan yang mereka pesan.


"Berapa semuanya mbak?" Tanya Yesi.


"Gak usah bayar mbak, biasa disini kalau bawa anak kecil makanan yang dipesan semua gratis" Jelas waiter itu.


"Gitu ya mbak?" Tanya Viona lalu menoleh kearah Ainun dengan senyum.


"Itu promonya sampai kapan mbak?" Tanya Viona lagi.


"Setiap hari" Jawabnya lagi sembari senyum.


Viona melihat Yesi sekilas, "Aku kantongi anakmu tiap hari kak"


Viona kembali ke waiter, "apa peraturan disini semua seperti itu?" Tanya Viona memastikan lagi.


"Tidak semua mbak, disini biasa diundi" Jelasnya lagi.


"Undi?, Tapi disini tidak ada nomor undiannya. Ohh aku tau, pakai nomor meja ya?" Tanya Viona lagi pada waiter.


"Benar sekali mbak" Jawab waiter tersebut sembari senyum ramah.


"Oh gitu" Jawab Viona sambil manggut-manggut.


"Ada lagi yang ditanyakan mbak?" Tanya waiter itu.


"Tidak ada mbak, makasih ya" Jawab Yesi.


Viona senang dengarnya hanya bawa anak kecil bisa makan gratis.


"Aku manfaatkan nih sebelum Ainun besar, hahaha" Viona membatin.


Mereka tidak sadar kalau Ahmad memantau mereka dari jauh. Ia sengaja pantau hanya untuk memastikan temannya itu nyaman makan di restorannya.


Waiter setelah dari meja Viona langsung menghampiri Ahmad.


"Sudah pak" Ucapnya pada Ahmad.


"Ok, lanjut kerja lagi" Jawab Ahmad dan waiter itu pergi.


Ahmad pergi dan meninggalkan restorannya itu tanpa menemui Viona terlebih dahulu.


"Vio katanya punya teman yang kerja disini, kenapa gak muncul?" Tanya Yesi dan Viona baru sadar kalau ia belum melihat Ahmad sampai saat ini.


"Sibuk mungkin kak, kita udah selesai makan juga, pulang yuk kenyang dan ngantuk nih" Ujar Viona sembari bangkit dari kursinya.


Mereka baru jalan meninggalkan kursi melewati meja dan kursi do restoran itu semua karyawan yang berpapasan dengan mereka senyum.


Yesi heran, antara mau senyum atau tidak tapi waiters itu senyum ramah pada mereka.


"Vio, jujur sama kakak. Sering kesini ya?" Tanya Yesi.


"Baru dua kali, kenapa kak?" Tanya Viona balik dari kakaknya.


"Senyum sama kita setiap berpapasan" Yesi masih heran dengan pelayanan restoran.


"Sudah begitu kak, aku saja heran. Sampai Ray kesal itu hari" Jelas Viona membuat Yesi menatap adiknya.


"Santai aja kali matanya. Makan siang disini, eh ternyata disini ada eskrim kesukaanku pasti senang dong aku" Jelas Viona dan memegang tangan ponakannya itu, "Yang penting aku dan Ainun akan sering makan disini sebelum Ainun besar" Sambungnya yang diangguki oleh Ainun.


"Makan eskrim bibi?" Tanyany Ainun.


"Iya dong, bibi telepon teman bibi yang kerja disini lalu kita pesan meja tadi siapa tau kita menang undian" Jelas Viona dan Ainun mengangguk senang.


"Iya bibi" Jawabnya.


"Makanan gratis nomor satu kalian dua yaa" Ujar Yesi lalu masuk dalam mobil. Kali ini Yesi yang akan mengemudikan mobil, ia tidak mau mengambil resiko menyuruh Viona yang katanya mengantuk lantaran kenyang.

__ADS_1


Mobil yang dibawa oleh Yesi membela jalan kota yang ramai, karena waktu sudah sore jadi dijalan sudah mulai macet. Berbeda dengan Ainun dan Viona, keduanya ketiduran dalam mobil.


"Anak dua ini malah tidur, macet begini enaknya ngobrol" Gumam Yesi dan mencoba sabar karena terjebak macet.


__ADS_2