
Matahari mulai menyingsing Viona dan ibu Heti pun siap-siap untuk kembali ke kota, mengingat cucunya ke sekolah siapa yang antar.
"Pamit yaa, assalamualaikum" Pamit ibu Heti lalu jabatan tangan satu sama lain yang disusul oleh Viona.
Dalam perjalanan pulang tidak lupa bunda Heti singgah dibengkel untuk memastikan mobilnya aman atau tidak takutnya nanti mogok ditengah jalan.
"Ini aman semua bu, hanya jangan lupa isi bensin" Ucap yang periksa mobil ibu Heti itu.
"Iya, terima kasih pak. Berapa pak?" Tanyanya.
"Hanya periksa bu tidak ada yang diperbaiki" Jawabnya menolak.
Ibu Heti memaksa karena tidak enak, "Gak apa-apa pak, berkat bapak saya baru ingat bensinnya sisa sedikit"
"Lain kali diperhatikan bu, untung mati ditempat yang ramai, gimana kalau pas di ditempat sepi menuju kota disini banyak hutannya" Ujar yang punya bengkel tersebut membuat ibu Heti takut.
"Terima kasih ya pak, mari" Pamit Ibu Heti sementara Viona gak keluar dari mobil, sibuk main ponsel.
Ibu Heti sudah hafal jalan menuju kota. Ia seperti saat pergi memutar musik anak zaman sekarang sembari mengikuti lirik lagunya.
"Asyiknya" Ucap Viona.
"Iya, harus gitu menikmati dan bersyukur" Respon Ibu Heti.
"Apa gak ke pagian pulang nih ma?, Lihat tuh para pekebun baru sampai diladang" ucap Viona lagi sambil menunjuk orang baru masuk diladang mereka.
Melewati sawah dipagi hari memang buat hati tenang, apalagi menyusuri jalanan yang dikelilingi ladang. Indah dan tenang rasanya sembari menunggu sunrise.
Langit cerah dengan sunrise tepat depan mata, tidak membuat Viona terlena dalam menikmati sehingga lupa mengabadikan momen itu.
"Mam, pelankan mobil. Mau ambil gambar" Ucap Viona sembari mencari ponselnya yang ia titip di tas ibunya.
"Gak berhenti dulu?" Tanya ibu Heti.
"Boleh juga, nanti gantian berfoto mam"
"Ok" Jawab Ibu Heti dan meminggirkan mobilnya di pinggir jalan.
Viana dan ibu Heti mengambil gambar beberapa kali, dari mengambil gambar sunrise, Viona sendiri begitupun dengan ibu Heti lalu mereka foto berdua. Selesai sudah sesi foto-fotonya sekarang mereka kembali melanjutkan perjalanan yang cukup jauh.
"Gimana kalau shalawat!!" usul ibu Heti.
"Sudah bosan lagu TERLUKA TAPI TAK BERDARAH!" Ucap Viona diakhiri dengan menyanyikan lagu yang diputar ibunya dalam mobil.
"Shalawat enak" Jawab ibu Heti dan mencari lagu shalawat lalu ia putar.
Disepanjang perjalanan pulang shalawat yang menemani keduanya. Sekali-kali ibu Heti dan Viona ikuti shalawat tersebut, meneduhkan jiwa.
🌺
Viona dan ibunya sampai rumah. Masuk dalam rumah disambut oleh Ainun.
"Nenek.. bibi, ibu bawakan mainan baru lho" Lapor Ainun sembari memperlihatkan mainannya.
"Oh, ibu Ainun sudah sampai. Mana ibunya sayang?" Tanya Viona dengan senyum penuh arti.
"Lagi makan" Jawab Ainun lagi.
"Ainun lanjut main yaa.. bibi dan nenek istrahat dulu" Timpal Ibu Heti.
Viona dan Ibu Heti langsung menghampiri Yesi dimeja makan.
"Udah lama sampai?" Tanya Ibu Heti.
__ADS_1
"Sekitar setengah jam yang lalu" Jawab Yesi dan mengingat ucapan Rifal kalau ibu dan Viona ke kampung ayah.
"Kata Rifal dari kampung ayah, benar?" Tanya Yesi.
"Iya, Viona mengurut" Jelas Ibu Heti.
"Dan kata tukang urut tiga hari kedepan mengurut lagi" Lanjut Viona.
"Kok bisa dek.." Ucap Yesi kaget, "gara-gara jaga Ainun ya?" Sambungnya lagi.
Viona ingin sekali mengiyakan tapi karena ada ibunya jadi sangat tidak mungkin, bisa-bisa kena tabok sama ibu Heti karena berbohong.
"Bukan, sering jatuh dari atas tempat tidur" Jelas Ibu Heti dan seketika Yesi lega.
"Bukan hanya itu mam, capek bawa motor pulang balik jemput Ainun" Ucap Viona sengaja.
"Ya Allah dek, kakak minta maaf ya. Sebenarnya kakak ingin cepat pulang tapi disana ada kegiatan jadi di tunda terus deh"
Yesi menjelaskan kenapa dirinya tidak cepat pulang.
"Yang terpenting oleh-oleh aku mana?" Tanya Viona sembari menyodorkan tangannya minta oleh-oleh sama kakaknya itu.
"Buru-buru dek, jadi gak sempat" Bohong Yesi.
"Benar?" Tanya Viona memastikan.
"Iya, maaf ya dek" Ucap Yesi lalu memberi kotak kecil itu kepada sang adik.
Seketika senyum sumringah Viona terlihat, sembari membuka kotak yang diberikan sang kakak.
"Ini untuk mama" Yesi memberikan ibunya kotak lebih besar dari Viona.
"Apa ini nak?" Tanya Ibu Heti.
"Dibuka dong, itu ayah Ainun yang pilih" Ucap Yesi lagi.
"Hahaha, itu gajinya" Jawab Yesi membuat Viona melepaskan pelukannya.
"Kalau dihitung mah, ini gelang gak sebanding dengan tenaga antar jemput Ainun di sekolah" tutur Viona.
"Astaghfirullah, ini anak. Bersyukur" Ibu Heti mengingatkan Viona.
"Alhamdulillah ya Allah" Ucap Viona dengan cepat, membuat ibu Heti geleng kepala melihat tingkah Viona yang kadang-kadang kekanak-kanakan.
"Kamu itu sudah besar lho, kalau menikah sudah punya anak juga" Ucap ibu Heti lagi.
"Gak sempat cari gebetan mam, sibuk jaga Ainun" Jawab Viona membuat Ibu Heti istighfar dan heran kepada anak bungsunya itu.
"Perempuan memantaskan diri bukan mencari" Ibu Heti mulai mengingatkan Viona.
"Tanggung jawab mama ini berat nak, Ayahmu berpesan kalau sudah baligh pakai kerudung tapi sampai sekarang belum pernah liat kamu pakai kerudung, sedih lho Ayahmu Viona" Jelasnya lagi dengan wajah sedih mengingat suaminya.
Seketika mereka lupa istrahat.
"Belum siap mam?" Tanya Viona singkat
"Kapan kamu siap?" Tanya Ibu Heti lagi.
Viona menggelengkan kepala, ia pun tidak tau kapan memutuskan untuk berjilbab.
"Kamu sendiri saja tidak tau kapan pakai kerudung, sayang ayah dan mamamu?" Tanya Ibu Heti membuat Viona seketika melihat wajah ibunya itu.
"Mam, jangan bicara seperti itu. Mana ada anak tidak sayang orang tuanya" jawab Viona lagi sedangkan Yesi hanya jadi pendengar setia.
__ADS_1
"Kalau sayang, tutup aurat mu" Permintaan Ibu Heti.
"Tapi mam.." Ucap Viona dipotong oleh Yesi.
"Dek, itu bukan permintaan mama, tapi itu perintah Allah dan dalam Al Qur'an sudah dijelaskan" Tutur Yesi.
"Surah Al-Ahzab ayat 59" Jawab Viona.
"Itu tau, dek dosanya yang sudah tau tapi tidak mau jalankan itu lebih berat dibandingkan dosa orang yang belum tau sama sekali" jelas Yesi membuat Viona merenung.
"Jadi aku harus berjilbab sekarang?" Tanya Viona setelah ia diam.
"Maksud mama kalau keluar rumah pakai kerudung, nanti di kira non-muslim lho" Ujar Yesi lagi.
"Gak mungkin kak" Jawab Viona tidak percaya.
"Tidak ada yang tidak mungkin Viona. Bagaimana aku bisa mengetahui seseorang itu seorang muslimah kalau tidak memakai kerudung, coba jelaskan ke kakak" minta Yesi.
Viona seketika berpikir, "kan ada KTP" Jawabnya penuh percaya diri.
"Apakah kamu yakin setiap mau ketemu dengan perempuan, misalnya masuk waktu shalat dan kamu minta dulu KTPnya memastikan kalau dia muslim atau bukan baru mengajaknya untuk shalat?" Tanya Yesi lagi membuat Viona seketika diam.
"Itu sangat tidak mungkin Viona" Ucap Yesi lagi.
"Mama mau istrahat" Pamitnya lalu pergi.
"Bagaimana kak, kalau belum dapat hidayah?" Tanya Viona lagi yang masih cari cara untuk tidak memakai kerudung saat ini.
"Hidayah itu dijemput bukan ditunggu dek, percaya tidak dari tadi itu kamu sudah diberi hidayah oleh Allah lewat kakak dan mama yaitu mengingatkan kamu untuk memakai kerudung" jelas Yesi lagi.
Viona kali ini hanya diam, apa yang dikatakan kakaknya itu benar. Tapi hatinya belum siap untuk memakai kerudung.
"Kak tapi hati saya belum siap" jujur Viona.
"Itu bukan kata hatimu tapi hasutan setan dek. Kakak mau istrahat" Pamit Yesi meninggalkan Viona yang masih merenungi apa yang ia dengar.
Marcelea memperhatikan dari tadi mencoba menghampiri adik iparnya itu. Ia tidak bermaksud mendengar pembicaraan keluarga suaminya itu tapi ia tidak sengaja lewat dan mendengar semuanya. Marcelea merasa bahagia dirinya dapat tambahan ilmu lewat kakak ipar dan ibu mertuanya.
"Dek" Ucap Marcelea sembari memegang pundak Viona.
"Ehh kak Lea" Viona kaget, "Ada yang bisa dibantu kak?" Tanya Viona khawatir kepada kakak iparnya.
Marcelea menggelengkan kepalanya lalu ia duduk disamping Viona.
"Maaf ya dek, tadi kakak tidak sengaja dengar pembicaraan kak Yesi, mama dan kamu. Tapi jujur kakak senang banget kayak dapat tambahan ilmu" Tutur Marcelea sembari senyum, "bersyukur dek kamu terlahir muslim, kakak dulu melakukan pencarian panjang sehingga sampai dititik sekarang ini" sambungnya dengan wajah serius.
Viana mengambil air minum, "kakak mau minum juga?" Tanya Viona lagi.
"Gak"
Viona setelah selesai minum, ia memperbaiki posisi duduknya dengan menghadap penuh kearah Marcelea.
"Kakak kapan memutuskan berhijab?" Tanya Viona penasaran.
"Sejak memutuskan jadi muslim" Jawab Marcelea dengan penuh percaya diri sembari senyum terukir jelas disudut bibirnya.
Seketika Viona merasa tertampar dengan jawaban kakak iparnya. Ia seorang muslim tapi tidak memakai yang seharusnya muslimah kenakan.
"Apa yang kakak rasakan?" Tanya Viona penasaran.
"Nyaman dek dan aman dari mata laki-laki ajnabi" Jawab Marcelea membuat Viona kaget dan pupil matanya melebar.
"Masyaallah kak Lea"
__ADS_1
Viona tidak menyangka kalau kalimat itu keluar dari Marcelea.
Mereka berbagi cerita dan ini pertama kalinya bercerita seintim itu. Ada rasa lega dalam diri Viona setelah mendengar ucapan kakak iparnya. Marcelea pamit ke kamar untuk istirahat dan Viona pun memutuskan untuk ke kamarnya juga istrahat.