Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
47. Belanja di pasar


__ADS_3

Ting ting ting (alarm dari ponsel Ray).


Ray meraih ponselnya lalu ia matikan alarm tersebut dan lanjut tidur. Waktu tidak terasa sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, dimana orang-orang sudah beraktivitas kembali.


Ray memperbaiki posisi tidurnya dengan satu tangan meraba diatas nakas mencari ponselnya.


"Kok gak ada" Batin Ray.


Dengan terpaksa ia kembali menggerakkan tangannya meraba tempat tidurnya. Ia menemukan benda pipih tersebut. Membuka mata sembari menyesuaikan dengan cahaya layar ponsel.


"Jam 9" Ucapnya kaget dan langsung bangun seketika.


"Oh Tuhan mana masih lemas lagi" Sambil mengacak rambutnya.


Ia lempar sembarang sisi selimut lalu turun dari atas tempat tidur menuju kamar mandi dan tidak lupa membawa handuk mandi.


Berbeda dengan Viona, pagi ini sudah dihebohkan dengan acara mendadak dirumahnya. Viona sudah tidak karuan modelnya disuruh ini itu. Pagi ini ia hanya mengandalkan air wudhu shalat subuh, tanpa polesan makeup langsung ke pasar belanja.


"Kak harus beli ikan di pasar nih?" Tanya Viona kepada Yesi.


"Iya" Jawab Yesi sembari melihat list yang akan dibeli.


"Sampai pasar, kita bagi ya supaya cepat" Ujar Yesi sambil membagi dua kertas tersebut.


"Aku bagian apa?" Tanya Viona sembari mencari tempat parkir motor.


Mereka pun masuk dalam pasar dengan kertas masing-masing. Berpencar itu cara cepat yang mereka ambil.


Viona memperhatikan list yang akan dibeli, seketika membulat matanya.


"Bumbu dapur, mana aku tau" Batinnya.


Ia harus putar otak gimana caranya supaya dapat bumbu-bumbu dapur dilist ini dengan cepat dan benar.


"Ahmad, punya restoran tidak tau bumbu dapur kan aneh" Batin Viona sembari mengambil ponselnya dalam tas kecil.


Dengan santai agak sedikit menjauh dari kerumunan orang di pasar langsung menelpon Ahmad.


"Assalamualaikum Mad, sibuk gak?" Tanya Viona ditelepon.


"Wa'alaikumussalam, sedikit. Ada apa?" Tanya balik Ahmad.


"Kamu dimana? Kok aku dengar suara banyak orang" Ucap Ahmad lagi.


"Gini Mad, aku punya tugas disuruh belanja bumbu dapur di pasar tapi aku gak tau" Jelas Viona ditelepon itu.


"Terus?" Tanya Ahmad.


"Gak peka banget sih jadi orang, minta bantu" Viona bermonolog dalam hatinya.


"Terus, saya minta tolong kepada anda, apakah bisa anda meluangkan waktunya sebentar?" Tanya Viona dengan sopan membuat Ahmad tertawa dalam telepon itu.


"Ok, Video Call saja. Mana listnya?" Tanya Ahmad dan Viona memperlihatkan list tersebut setelah telepon beralih ke video call.


"Ok, cari tempat yang lengkap menjual bumbu dapur" Perintah Ahmad dan Viona pun menuju tempat jual bumbu dapur.


"Mad, ini pasar bukan Hypermart" Ujar Viona sembari jalan.


"Nurut aja, kenapa sih" Jawab Ahmad ditelepon itu.


"Iya" Jawab Viona nurut.


Viona berhenti tepat dipenjual tolo bumbu dapur. Ia mengarahkan kamera ponselnya dijualan tersebut.


"Izin ya bu, mama aku mau pilih sendiri katanya" Ujar Viona membuat Ahmad yang dengar diseberang telepon ketawa tanpa suara.


"Kecilkan suaramu" Bisik Viona lewat telepon.


"Iya, cepat!" jawab Ahmad.


Viona mulai mengarahkan kameranya semua jualan tersebut dan jika Ahmad bilang ambil maka Viona langsung mengambilnya tanpa tanya karena list bumbu dapur tersebut sudah ada dalam ponsel Ahmad.


"Aduh" Gumam Viona yang masih didengar oleh Ahmad.


"Kenapa?" Tanya Ahmad.


"Tidak, lanjut Mad" Jawab Viona dan kembali ke list tersebut.


"Sisa lengkuas, daun salam dan daun pandan" Ucap Ahmad lagi.


"Alhamdulillah ya Allah, kalau sisa itu" Ujar Viona senang, karena sebentar lagi akan istrahat.


"Mad, susah ini. Selama ini yang aku lihat pandan itu pewarna makanan yang ada dibotol, daun salam sudah ada dalam panci dan mungkin ada lengkuasnya juga, aku gak tau" Ujar Viona sembari mencari penjual yang ada dilist tersebut.


"Stop Vio" Ucap Ahmad dan Viona seketika berhenti.

__ADS_1


"Apa liat daun salam, pandan atau lengkuas?" Tanya Viona.


"Bukan itu, minta tolong belikan aku sekeping cinta" Canda Ahmad.


"Mad, aku serius lho ini. Kekurangan cinta ya? Kasian anda" Jawab Viona. "Aku kelebihan cinta Mad nanti aku kasi sebagian ke kamu" Lanjut asal Viona.


"Oke" Jawab Ahmad.


Viona pun sekarang berhenti didepan penjual perdaunan.


"Mad lihat mana nih?" Tanya Viona.


"Itu daun yang digulung dan satu lagi daun yang panjang, ambil dua-duanya lalu tanyakan juga penjual lengkuas" Ucap Ahmad lagi.


Viona pun nurut, mengambil daun salam dan daun pandan tersebut dan tidak lupa menanyakan tentang penjual lengkuas.


"Terima kasih mas" Ucap Viona kepada penjual setelah membayar harga duan salam dan pandan.


"Sama-sama neng, lurus aja yaa disana jual kunyit dan biasa ada lengkuas juga" Jelasnya lagi.


"Iya pak" Jawab Viona lalu pergi.


"Kunyit.. kunyit.. kunyit" ulang Viona sembari jalan sementara Ahmad dibalik telepon itu hanya memperhatikan layar ponselnya dan mendengar apa yang diucapkan Viona.


Ketukan pintu diruangan Ahmad.


"Masuk" Ucap Ahmad membersihkan masuk orang tersebut.


"Ada yang ingin bertemu bapak" Ucap salah satu karyawannya.


"Siapa?" Tanya Ahmad penasaran.


"Ibu-ibu" Jawab karyawannya lagi.


"Oke, sebentar lagi saya temui. Beri pelayanan yang baik selama dia menunggu karena sekarang saya lagi ada kerja" Ujar Ahmad kepada karyawannya itu.


"Baik pak, assalamualaikum" Pamitnya lalu pergi.


"Wa'alaikumussalam" Ucap Ahmad dan kembali kelayar ponselnya.


"Vio, udan dapat yang jual lengkuas?" Tanya Ahmad.


"Kunyit yang disuruh cari Mad, fokus dong. Aku pengen istrahat nih" Ucap Viona lagi.


"Ok, arahkan kameranya lagi seperti tadi" Ujar Ahmad.


"Itu terlalu banyak Vio" Ucap Ahmad dalam telepon. Dengan santai Viona menjawab "Sudah ditimbang Mad" Viona memberi tahu Ahmad.


"Sudah semua Mad, terima kasih" Ujar Viona lagi setelah membayar harga lengkuas setengah kilo tersebut.


"Terima kasih Mad, kamu membantu ku lagi hari ini. Terima kasih nanti sekeping cinta itu aku bantu carikan" Ucap Viona kepada Ahmad setelah kembali ke parkiran motor.


"Iya, sudah dulu ada tamu didepan. Assalamualaikum" Ucapnya Ahmad dan Viona langsung menjawab salam dari sahabatnya itu dan mematikan sambungan telepon.


🌺


Siang menjelang sore, tamu ibu Heti sudah kumpul. Sebelum mereka ke inti acara makan-makan terlebih dahulu menikmati yang disajikan oleh Viona serta dengan minumannya.


Lima orang yang sempat datang dirumah ibu Heti.


"Yang belum menikah tinggal bungsu ya?" Tanya salah satu teman ibu Heti.


"Iya, sudah punya dua cucu sekarang" Ucap ibu Heti kepada teman-temannya itu.


"Ada disini?" Tanya teman ibu Heti satunya lagi.


"Ke rumah neneknya. Kangen cucu kata besan, hehehe" Ujar Ibu Heti dengan diakhiri suara tawa.


"Siapa sih yang tidak kangen cucu" Jawab ibu yang merupakan sahabat paling dekat dengan ibu Heti, "Eeh, ada ponakan aku ganteng terus punya resto sendiri, cari istri karena dia tidak mau pacaran" Lanjutnya.


"Sekarang gak pacaran, dapat dimana calon istri" Timpal salah satu diantara mereka.


"Ta'aruf bu, jangan biarkan anak kita pacaran, dunia pacaran sekarang menyeramkan" timpal salah satu diantara mereka lagi.


"Benar tu, eehh kira-kira Viona mau?" Tanyanya kembali.


"In syaa Allah, saya sudah beri tahu" jawab ibu Heti sembari senyum.


"Sama, ponakan saya sudah saya temui juga. Awalnya kaget tapi setelah itu dia diam" ujar Ibu tersebut.


Viona yang mendengar itu langsung duduk dikursi yang tidak jauh dengan tempat main ponakannya.


"Kok mama tega jodohkan aku" Batin Viona.


Viona hanya diam sembari melihat ponakannya main seorang diri.

__ADS_1


"Bibi." Panggil Ainun dengan boneka dikedua tangannya.


Viona gelagapan, "iya sayang"


"Daripada bibi bengong, mending temanin Ainun main" Ujar Ainun sembari memberikan satu bonekanya kepada Viona.


"Ayo" Viona mengajak ponakannya itu.


"Untuk menghibur diri" Batinnya.


Viona dan Ainun main berdua, baru kali ini.


"Bibi, kita ke bengkel om baik!" Ujarnya membuat Viona menautkan kedua alisnya.


"Bibi, om baik sudah lama gak kesini. Gimana kalau kita yang samperin?"


"Kan disini bisa main dengan bibi, masa harus dengan om baik. Bibi ngambek nih" Canda Viona dengan memasang wajah cemberut.


"Ihh bibi jelek" Ucap Ainun lalu ia tertawa.


"Hahaha" suara tawa Ainun.


Ainun lari menjauh dari Viona setelah mengatainya jelek. Viona pun mengejar ponakannya yang mengitari kursi.


"Bibi tangkap Ainun" Ucap Ainun lagi.


"Oh nantang bibi yaa, kalau bibi bisa tangkap gimana?" Tanya Viona.


"Hmmm" Ainun bingung, ia berpikir sejenak.


Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Viona dengan pelan menghampiri ponakannya itu dan ia langsung peluk.


"Bibi bisa tangkap kan"


"Bibi curang, tadi masih memikirkan kesepakatan" Ainun tidak terima karena seakan Viona menggunakan cara tidak baik.


"Tau dari mana tentang kesepakatan itu, hmm?" Tanya Viona. Ia tidak menyangka gadis kecil seperti Ainun bisa berkata seperti itu.


"Lepas dulu tangan bibi, baru Ainun bisik" Ujarnya dan seketika Viona melepaskan tangannya dipundak ponakannya itu.


Ainun mengambil kesempatan itu dengan menggunakan langkah cepat. Ia lari menjauh dari Viona.


"Haha, ayo tangkap lagi bi" Ujar Ainun.


"Hahaha, ternyata cerdas juga kamu ya" Ujar Viona setelah ia tertawa. Ia hendak melangkah kembali mengejar ponakannya tiba-tiba ibu-ibu memanggil nama Viona.


"Viona ya?" Tanyanya.


Viona membalikkan badan menghadap ke sumber suara.


"Benar bu, ada yang bisa dibantu?" Tanya Viona sembari senyum.


"Hanya mau tanya kamar kecil dibagian mana?" Tanya ibu tersebut.


"Mari saya antar bu" Viona mengantar ibu tersebut sedangkan Ainun masih berdiri tidak jauh dari Viona.


"Bibi, Ainun gimana?" Tanyanya.


"Tunggu disini nanti kita lanjut main lagi" Jawab Viona dan kembali senyum kepada ibu tersebut.


Viona setelah mengantar ibu tersebut dan kembali ketempat bermain ponakannya karena Ainun sudah menunggu.


Ibu tersebut kembali gabung dengan ibu Heti dan sekarang mereka lanjut ke meja makan untuk makan siang bersama.


Makan siang mereka saat ini hanya para ibu-ibu teman ibu Heti sedangkan Viona bermain dengan Ainun dan Yesi keluar beli barang yang diperlukan.


20 menit kemudian mereka selesai makan siang, untuk melanjutkan bincang-bincang kembali dikursi dimana tempat mereka awal duduk.


"Enak makanannya bu, belanjanya kapan?, Secara acara kita ini mendadak" Tanya salah satu ibu-ibu dan diangguki oleh yang lain.


"Ibu Ainun dan Viona yang belanja, anak bungsu saya" Jawab Ibu Heti.


"Wahh, cocok dengan ponakan saya tu" Ucap Ibu-ibu yang menjodohkan ponakannya dengan Viona.


"Semoga Allah mentakdirkan ya bu, supaya kita gak sia-sia usahanya" Timpal ibu Heti kepada ibu tersebut.


"Iya, aaamiiin" Ucapnya sembari menengadahkan tangannya keatas.


"Berharap sekali ibu satu ini" Ucap salah satunya lagi sambil mencolek lengan ibu Heti.


"Hehehe" Respon Ibu Heti.


Mereka lanjut cerita sedangkan Viona dan Ainun memutuskan untuk mandi lalu makan siang berdua.


Berbeda dengan Ray, ia makan siang di restoran pertama makan dengan Viona. Rindu masa-masa itu membuat Ray berada disitu.

__ADS_1


"Seperti biasa ya mbak" Ujar Ray. Meskipun sudah jarang ke restoran itu tapi pelayan disana sudah hafal menu favorit Ray.


5 menit kemudian makanan Ray sudah datang, ia terlebih dahulu mengambil gambar makanan diatas meja lalu ia kirim ke Viona.


__ADS_2