
Semua beraktifitas seperti biasa dan kali ini Viona rencana ke kampung ayahnya. Karena ibu Heti tidak bisa ikut, maka Viona memutuskan untuk pergi seorang diri.
Koper sudah siap tinggal dimasukkan dalam mobil.
"Vio, hati-hati bawa mobil jangan ngebut dijalan" Pesan Ibu Heti.
Ibu Heti ingin menemani Viona tapi melihat mantunya hamil besar, maka ia urungkan niatnya.
"Iya mam, tenang saja" Jawab Viona dengan santai.
"Rifal, mobil yang akan dikendarai Viona ini sudah diperiksa apa belum?" Tanya Ibu Heti lagi.
"Astaghfirullah, lupa mam" Jawab Rifal sembari ikut gabung.
"Mama, udah bilang periksa jangan sampai ada yang rusak, masalahnya ini perjalanan jauh nak" Ungkap Ibu Heti sedikit panik.
"Tunda dulu ke kampung. Besok saja" Larangan Ibu Heti kepada Viona.
"Lagian pergi seorang diri tidak ditemani mahrom" Timpal Yesi.
Viona mendengar itu hanya menghela napas pasrah, "tau begini gak siap-siap aku" Ujar Viona dengan malas.
"Besok aja, hari libur nanti kakak antar ke sana" Tawar Rifal.
"Berarti baliknya dijemput?" Tanya Viona.
"Iya" Jawab ibu Heti dan Rifal.
"Gimana kalau kak Lea tiba-tiba melahirkan dalam waktu dekat ini?" Tanya Viona lagi.
Ia memang akan ke kampung, tapi kalau pengen pulang langsung otw tidak mesti tunggu jemputan lagi.
"Emang lama disana?" Tanya Rifal.
"Tergantung kak. Kalau betah disana, yaa disana dulu tapi kalau pengen pulang langsung pulang. Itulah alasannya bawa mobil sendiri" Jelas Viona kepada keluarganya.
Ibu, kakak dan iparnya paham maksud Viona itu.
"Tapi gak baik dek pergi seorang diri tanpa mahrom, perjalanan jauh lagi" Ujar Marcelea yang sejak tadi hanya menyimak.
"Kakak ipar, ini hanya untuk mempermudah kakak dan ibu saja. Soalnya Viona khawatir juga gimana kalau kak Lea tiba-tiba melahirkan gitu sementara mama dikampung" Viona menjelaskan alasannya kenapa dirinya memutuskan untuk ke kampung seorang diri tanpa kakak dan Ibunya.
"Gimana ke kampungnya nanti selesai melahirkan?, Jadi mama bisa ikut" Ujar Marcelea lagi.
"Mana bisa, nanti kak Lea baby blues" Jawab Viona membuat Yesi, Rifal dan Ibu Heti melihat Viona.
"Kenapa?" Tanya Viona heran, "ada yang salah dengan ucapan Viona?"
"Gak dek" Jawab Yesi sembari geleng kepala, "gak nyangka aja, adik aku yang sering aku gendong dulu sekarang sudah dewasa" Sambungnya.
"Kami belum memikirkan itu dek" Ujar Rifal yang tidak kala heran dengan ibu dan kakaknya.
"Apalagi kakak" Timpal Marcelea.
"Ya Allah, jangan bilang hanya aku yang pikir hal itu, iya?" Tanya Viona memastikan.
Ke empat mereka hanya mengangguk mendengar itu, seketika Viona pecah suara tawanya.
"Hahaha, kok bisa, hahaha" Ujar Viona disela tawanya, ia tidak bisa menahan tawa.
"Hahaha.. Sudah, aku mau berangkat sekarang" Ucap Viona lagi.
"Apa gak apa-apa, tapi mama khawatir lho Vio" Ibu Heti mengungkapkan ke khawatirannya pada anak bungsunya itu.
"Mama jangan kayak gitu dong, doakan Vio selamat sampai tujuan" Ujar Viona lagi.
Viona pindah tempat duduk di samping ibunya, "mam doakan Viona, nanti aku foto pemandangan sepanjang jalan"
"Heee, jangan main ponsel sambil nyetir, bahaya. Ini lho yang membuat kita khawatir Vio" Ucap Yesi tiba-tiba.
"Hehehe, bercanda. Mata aku itu hanya dua mana bisa lihat ponsel dan jalanan bersamaan" Ujar Viona berusaha meyakinkan orang rumah.
"Aku rindu kampung ayah, jadi izinkan Vio ya" Bujuk Viona kepada ibunya itu.
Dengan berat hati ibu Heti mengizinkan, "iya hati-hati, keluarga disana udah telepon?" Tanya Ibu Heti lagi.
"Jangan dong, surprise" Jawab Viona lagi.
"Jangan kayak gitu dek, harus beritahu bibi dan sepupu disana. Nanti mereka kaget kamu tiba-tiba muncul" Larang Rifal.
"Ingat dek, kalau mau ke rumah keluarga atau rumah ibu sekalipun alangkah bagusnya memberi kabar terlebih dahulu, agar mereka siap-siap mungkin rumahnya berantakan jadi mereka langsung bersihkan dengan cepat atau mungkin mereka gak ada dirumah, jadi mereka secepatnya pulang untuk menunggu kamu. Jadi kamu datang enak dan mereka menyambut mu dengan senang hati juga" Jelas Rifal lagi.
"Itu gak surprise dong namanya" Ujar Viona lagi.
"Dek, kita disunnahkan untuk memberi kabar, coba dengar ulang kisah imam Syafi'i saat ia pulang ke Mekkah, apakah beliau langsung pulang dan mengetuk pintu rumah ibunya atau ada yang menyampaikan kabar terlebih dahulu kepada ibunya?" Tanya Rifal lagi.
"Menyuruh santrinya yang ikut dengannya saat pulang kak, untuk memberi kabar kepada ibunya kalau imam Syafi'i sudah dekat" Jawab Viona dengan jelas.
"Itu tau, berarti jangan lupa kirim pesan atau telepon keluarga disana" Ujar Rifal lagi.
__ADS_1
Ibu Heti melihat cara Rifal menasehati adiknya merasa terharu, ia kembali teringat kepada mendiang suaminya.
"Didikan mu kepada anak-anakmu tidak sia-sia tapi kenapa kamu pergi begitu cepat, sehingga kamu tidak bisa melihat anak-anak tumbuh dewasa. Rifal yang dulu kamu amanahkan untuk selalu menjaga saudara perempuannya, ia tunaikan dengan baik. Andaikan kamu disini saat ini, pasti kamu bangga dan senang melihatnya" Batin Ibu Heti sembari menatap putra dan putrinya itu silih berganti, seketika ia menjatuhkan air mata.
Viona yang duduk disamping ibunya tentu sangat kaget melihat itu, "mama kok nangis?" Tanya Viona, "Jangan nangis dong, aku tau tanpa ada aku untuk beberapa hari dirumah ini pasti sunyi" Sambungnya sengaja ia bercanda agar ibunya senyum.
"Kalau aku sih paling ingat sayur tumis manis" Timpal Yesi.
"Sama aku juga, paling ingat sayur tumis tanpa garam dan sambal asin" Ujar Rifal sembari senyum.
"Kalau kak Lea, ingat apa tentang Viona?" Tanya Viona dengan cepat kepada kakak iparnya itu, "yang bagus ya kak, jangan seperti yang dua orang itu" Sambungnya.
"Kalau kakak sih ngikut aja" Jawab Marcelea.
Seketika Viona membulatkan matanya, "bahaya mudah terpengaruh" Ujar Viona.
Marcelea seketika tertawa mendengar respon dari Viona.
"Hahaha, kakak maklumi kalau salah karena itu baru belajar masak kan?" Tanya Marcela.
"Iya, itu pengalaman pertama. Hanya kak Rifal dan kak Yesi itu maunya langsung pas rasanya, aneh emang"
"Padahal ya, kalau belajar masak dan keasinan atau manis itu hal biasa namanya belajar, tapi kalau enak itu suatu keajaiban menurut ku" Tutur Viona membuat orang rumah ketawa terus.
"Keajaiban atau memang gak ada niat, soalnya pengalaman pribadi kadang rasa makanan kita itu tergantung mood. Kalau mood bangus masakannya enak, tapi kalau malas yakin deh hancur rasanya, asal masak aja" Ungkap Yesi.
Seketika Rifal menunjuk kearah Viona sembari tertawa, "hahaha kentara masaknya keadaan terpaksa makanya tidak bisa bedakan garam dan gula" Ujar Rifal.
"Bagus kok mood aku, bukan keberuntungan aku aja" Jawab Viona dengan santai.
"Mam, izin ya" Pamit Viona lalu mencium tangan ibunya lalu, Yesi, Rifal dan terakhir Marcelea.
Mereka mengantar Viona sampai halat rumah dan Rifal memasukkan koper Viona dalam mobil.
"Bensinnya full gak?" Tanya Rifal memastikan.
"Nanti aku singgah isi sebentar" Jawab Viona, "Aku pergi dulu, assalamualaikum" Sambungnya sembari melambaikan tangan.
Lambaian itu dibalas lambaian oleh orang rumah.
🌺
Alan dan Ray berada di lokasi bangunan yang akan jadi restoran. Keduanya keliling melihat perkembangan bangunan.
"Aku tidak paham nih tentang bangunan Lan" Ujar Ray sambil melihat orang-orang kerja.
"Hmmm, dimana tuh desainnya? Penasaran aku" Ujar Ray.
"Ikut aku Ra" Ajak Alan, lalu mereka masuk disalah bangunan yang hampir selesai sekitar 90 persen.
"Terus bangun tadi itu untuk apa?" Tanya Ray bingung karena gedung yang mereka masuki saat ini lumayan besar.
"Itu untuk taman bermain anak-anak tapi dalam gedung, itu salah satu cara untuk menarik pelanggan juga menurutku. Jadi selain desain interiornya itu kekinian, ada taman untuk pelanggan kalau mereka membawa anak, bagus kan?" Tanya Alan setelah menjelaskan alasannya untuk membangun gedung tersebut.
"Dan disana sudah aku suruh bos pekerja disini untuk menaruh gambar apa gitu, supaya kalau mereka masih mau menikmati suasana restoran tinggal ke sana dan sambil foto-foto juga bagus" Jelas Alan lagi penuh percaya diri.
"Hebat lu bro" Puji Ray sambil bertepuk tangan untuk sahabatnya itu.
"Biasa saja, hehehe" Jawab Alan merendah.
"Apa ada lagi yang mau dilihat?" Tanya Ray lagi.
"Sepertinya sekian dulu, adapun perkembangan kedepannya nanti saya hubungi lewat via telepon" Jawab Alan ala-ala meeting di perusahaan.
"Geli aku dengar kembali di mobil, kita pulang" Ujar Ray diikuti oleh Alan dari belakang.
Masuk dalam mobil masing-masing dan membawa kendaraannya dengan jalur pulang yang berlawanan.
"Ray kenapa lampu sen nya ke kiri?" Tanya Alan heran, karena seharusnya searah dulu sampai di sebuah tugu baru belok kiri.
"Mau jenguk sepupu dulu" Jawab Ray.
"Ada sepupu kamu disini, kok aku baru tau Ra" Protes Alan.
"Gak tanya, kayaknya aku harus jalan Lan sepupu aku udah nunggu nih" Ujar Ray lagi lalu mengangkat tangan kepada Alan.
Alan pun membalasnya hal yang sama lalu melanjutkan mobi.
30 menit kemudian, Ray sampai depan rumah keluarga Viona itu, ia pencet bel dan tidak lama dibuka oleh Yesi.
Ray sudah dikenal selain teman sang adik, dia juga sepupu dari ipar mereka.
Masuk dalam rumah dan mempersilahkan Ray duduk di ruang tamu. Agar Ray tidak sendirian diruang tamu, ia memanggil anaknya Ainun.
"Ainun, sayang ada om baik nih" Panggil Yesi.
Ainun mendengar itu langsung lari menuju sumber suara.
"Om baik" Teriak Ainun sembari lari dan duduk disamping Ray.
__ADS_1
"Kok om baik datang gak bilang-bilang" Ucap Ainun lagi.
"Ray, tinggal dulu ya sebentar sekaligus saya panggilkan Lea" Ujar Yesi lagi.
"Kebetulan sudah lama ketemu kak Marcel" Ujar Ray.
Beberapa menit berlalu Yesi pergi, Marcelea datang.
"Hy Lex" Sapa Marcelea.
"Hy kak Marcel, apa kabar?" Tanya Ray tapi mata celingak-celinguk.
"Cari Viona?" Tanya Marcelea.
"Tidak" Jawab Ray dengan cepat, ia menyangkal dengan apa yang terbersit dalam kepalanya.
"Ok, kalau gak mau ngaku" Ujar Marcelea dengan malas pusing.
"Bibi Viona kata nenek ke kampung kakek" Ujar Ainun karena mendengar nama bibinya disebut.
Ray seketika menoleh kesamping melihat Ainun.
"Kapan sayang?" Tanya Ray cepat membuat Marcelea mengejek saudara sepupunya itu.
"Ngaku gak mau" ledek Marcelea pada Ray.
Yesi datang dengan secangkir teh.
"Diminum ya" Ujarnya sembari menaruh gelas teh tersebut diatas meja, "Gak apa-apa kan kalau aku tinggal lagi?, Maaf ya" Sambungnya.
Saat Yesi pergi, saatnya Marcelea memanfaatkan kesempatan itu. Agar Ainun tidak dengar, Marcelea langsung suruh Ainun untuk lanjut main lagi"
Ainun pun nurut sama Marcelea.
"Kak, damai ya suasananya disini" Ujar Ray.
"Iya, tapi bukan itu yang ingin kakak bahas"
"Tapi?" Tanya Ray dengan wajah serius.
"Lex, kamu suka Viona?" Tanya Marcelea to the point, karena kalau pakai perantara keburu Yesi datang.
"Teman kok kak" Jawab Ray lagi.
"Serius Lex, kakak berhak tau. Kakak lihat kamu suka Viona. Kamu serius atau tidak?" Tanya Marcelea lagi pada adik sepupunya itu.
Ray menunduk diam.
"Lex, jawab. Viona itu anak yang terjaga, kakak senang jika kamu berjodoh dengan wanita yang baik, tapi masalahnya besar. Dan kakak yakin keluarga Viona tidak akan setuju. Pahamkan apa maksudnya?" Tanya Marcelea lagi dan Ray mengangguk tanpa mengeluarkan suara.
"Jawab dong, jangan mendadak bisu kayak gini" Ujar Marcelea lagi kepada Ray.
Ray melihat wajah sepupunya itu, "Kalau kak Marcel tanya saya cinta sama Viona?, Benar saya sangat mencintainya. Dan alex juga tau tentang masalah besar itu, tentang keyakinan kami berbeda"
"Apa gak bisa?" Tanya Ray kepada sepupunya itu.
"Bisa apa?" Tanya Marcelea penasaran.
Ray memajukan badannya kearah Marcelea agar bisa dengar, karena ia takut nanti ucapannya ini didengar oleh orang rumah yang lain.
"Menikah tapi diiman masing-masing" Ucapnya pelan.
"Lex, pernikahan itu bukan hanya tentang cinta sehingga menyampingkan keimanan. Kamu lihat bagaimana Viona sekarang?, Dia belajar istiqomah dalam hijrahnya. Maka saat seseorang berubah jadi lebih baik, maka kriterianya tidak akan jauh dengan apa yang kamu lihat saat ini" Jelas Marcelea, ia ingin membuka mata Ray lebar.
Kalimat itu bagaikan anak panah yang menancap tepat diulu hatinya.
"Kakak hanya tidak mau kamu kecewa untuk kedua kalinya" Marcelea mengeluarkan apa yang ia khawatirkan.
Ray menanggapi itu dengan seulas senyum. Senyum bukan berarti ia bahagia, ia hanya menutup kegundahan dalam hatinya.
"Viona lama gak dikampung?" Tanya Ray tiba-tiba.
"Katanya tergantung moodnya" Jawab Marcelea lagi.
Sementara dikamar terdengar suara teriakan, yaitu suara Yesi memanggil ibunya.
"Mama, kenapa?" Tanyanya dengan panik karena ibu Heti tidak bisa bicara hanya menangis dengan ponsel berada dilantai karena jatuh dari tangannya.
"Hiks hiks" Suara tangis ibu Heti dengan posisi masih melantai. Ia tidak bisa berdiri karena gemetar dan terlihat ditangannya.
"Lea kesini dek, minta tolong panggil dengan Ray" Teriak Yesi lagi.
Marcelea mendengar itu langsung mengajak sepupunya itu menuju kamar ibu mertuanya.
Setelah Marcelea dan Ray sampai pemandangan pertama mereka lihat, Yesi mengusap keringat didahi ibunya.
"Mama kenapa?, Hiks hiks" Tanya Yesi seketika tangisannya pecah sambil memeluk ibunya.
"Viona" Ucap Ibu Heti. Hanya itu yang keluar dari bibirnya lalu ia diam lagi dengan air mata yang terus jatuh.
__ADS_1