
Ting... (Bunyi bel rumah)
"Nek, bel bunyi" Ujar Ainun memberi tahu ibu Heti.
"Iya, lanjut main saja nanti nenek panggil bibi Viona buka gerbang rumah" Jawabnya.
Heti menuju dapur dimana Yesi dan Viona lagi bertempur dengan peralatan dapur.
"Ada apa mam?" Tanya Yesi, ia yakin tidak mungkin ibunya datang tanpa ada sesuatu.
"Ada tamu, tapi masih diluar" Ujar Ibu Heti.
"Suruh aja masuk mam" Timpal Viona sambil goreng ikan, "awas mam, meletup-letup nih nanti kena minyak panas" Lanjutnya tanpa menoleh.
"Buka dulu gerbang dek" Ujar Yesi karena Viona tidak mengerti maksud dari ibunya.
"Oh iya, lupa mam. hehe" Jawab Viona dengan cengengesan sambil mematikan kompor gasnya lalu jalan menuju gerbang rumah.
"Siapa yang bertamu jam segini, tidak tau waktu nih namanya" Gumam Viona dengan nada kesal, "mana bau bawang lagi, pingsan deh kayaknya ini tamu ketemu aku, hehehe" Lanjutnya sembari mendorong gerbang sedikit untuk mengintip.
"Ray" Batinnya sambil membulatkan mata.
Viona kembali mengintip dengan posisi Ray membelakangi gerbang, "Benar Ray, ngapain kesini?" Batinnya penasaran tapi mau bertanya tidak berani.
"Untung gak dengar bunyi gerbang" Gumamnya sambil mengusap dada dan lari kembali dalam rumah langsung menuju dapur.
"Lho, mana tamunya?" Tanya Yesi.
"Iya, sudah pulang?" Tanya ibu Heti.
"Belum tapi Viona gak sempat ajak masuk, sakit perut" Kilahnya lari menuju kamar mandi.
"Astaghfirullah, itu anak" Ujar ibu Heti setelah mendengar penuturan anaknya dan dengan buru-buru keluar rumah dan membuka gerbang rumahnya dengan pelan.
Saat itu Ray dengar bunyi gerbang tersebut sehingga ia tunggu sembari senyum.
"Oh Ray, masuk" Ujar ibu Heti.
Dengan senang hati Ray masuk mengikuti ibu Heti. Ibu Heti mempersilahkan Ray duduk dan ia pamit ke dapur.
"Sebentar ya" Pamitnya lalu pergi dan Ray membalasnya dengan anggukan sopan.
"Siapa mam?" Tanya Yesi setelah ibunya masuk dapur.
"Ray"
"Mau ketemu Lea?"
"Gak tau juga, belum tanya"
"Oh"
"Ehh, Vio bawa minumannya didepan" perintah ibu Heti.
Saat itu Viona pura-pura baru keluar dari kamar mandi, "Aduh mam, Vio sakit perut mam" ujarnya sambil memegang perut.
"Sudah minum obat?" Tanya Yesi, "Alhamdulillah sudah selesai masak-masaknya" lanjutnya sambil mengumpulkan peralatan dapur yang kotor.
"Hari pertama haid memang suka gitu, tapi gak tau hari ini sakit banget, tangan aku aja sampai dingin" Kilah Viona lagi, "iya kan?" Tanyanya sambil memegang tangan ibunya dan Yesi.
"Istrahat dikamar" Ucap ibu Heti.
Yesi geleng kepala melihat adiknya, "ya Allah dek" Ujarnya, "bohong lagi itu anak" sambungnya membatin.
Viona ke kamarnya dengan hati senang. Yesi membersihkan dapur sedangkan ibu Heti ke ruang tamu menemani Ray disana bersama Ainun.
"Maaf Ray, kalau mau ketemu Lea, mereka belum balik" Ujar ibu Heti.
"Tidak kok tante, ingin bertemu dengan keluarga Viona sebenarnya" Ucapnya dengan sedikit gugup.
"Oh iya, memang ada apa?"
Ray memperbaiki posisi duduknya, "Sebelumnya saya minta maaf, kedatangan saya ingin menyampaikan niat saya untuk menjalin hubungan serius dengan anak tante yaitu Viona"
"Mau ajak Vio pancaran?, Maaf ya nak Ray, saya sebagai ibu gak izinin anak saya pacaran" jelasnya.
"Bukan begitu tan, Viona sudah memberitahu saya tentang itu" Jelas Ray dengan cepat, ia mengeluarkan kotak cincin, "sebagai tanda keseriusan saya, saya ingin Viona memakai cincin ini sampai orang tua saya kembali disini"
"Kapan orang tua Ray datang di Indonesia?"
Ray terdiam, karena ia sendiri belum tau kapan orang tuanya ke Indonesia ditambah orang tuanya menolak dengan alasan tidak seiman.
__ADS_1
Ibu Heti menghela napas, "Jujur, anak ibu sudah jodoh dengan orang lain"
Ray seketika menunduk, baru siang tadi membayangkan hidup bahagia bersama Viona sekarang seperti ditampar keras dengan kabar kalau Viona dijodohkan dengan orang lain.
Dengan nada sedikit gemetar Ray memberanikan diri untuk bertanya, "Apa Viona tau tante tentang perjodohan itu?"
Ray berharap kalau itu baru rencana ibunya dan Viona belum tau.
"Iya, tau. Viona belum cerita?"
Ray menggeleng pelan, dengan memantapkan hati untuk tegar depan orang tua Viona, ia mencoba untuk tegar menyembunyikan rasa sedih itu dengan sebuah senyuman.
Ray menyimpan kotak cincin itu diatas meja sembari berkata, "Tolong sampaikan salam ku kepada Viona dan cincin ini anggap saja cincin persahabatan kami, permisi Tan. Saya harus pergi"
Ray berjalan dengan membawa luka di hatinya dan kecewa kepada Viona.
Sedangkan ibu Heti tidak enak kepada Ray, tapi bagiamana lagi lambat laun tentang perjodohan itu akan Ray dengar.
Ibu Heti menyusul Ray, dengan cepat Heti memanggilnya.
"Nak Ray tunggu"
Ray membalikkan badan sembari senyum terpaksa, "Iya Tan"
"Tante minta maaf ya, Tante tidak tau kalau kamu suka Vio" Ucap Ibu Heti merasa bersalah.
"Gak apa-apa kok Tan, mungkin Tuhan menakdirkan hanya untuk saling mengenal sebagai teman"
"Sekali lagi minta maaf ya" Ujar Ibu Heti lagi, "Udah adzan magrib, apa gak shalat dulu baru pulang?"
Ray seketika mengangkat tangannya, "Gak Tan. Pamit pulang ya tan" Pamit keduanya.
Ray langsung mengendarai motornya pulang dirumahnya dan ibu Heti kembali masuk dalam rumah.
🌺
Makan malam kali ini begitu hikmat, tidak ada obrolan disela-sela makan. Ibu Heti yang biasa pembuka cerita kali ini hanya diam. Sebagai anak yang sudah besar, tentu tau perubahan ibu mereka.
Viona menyenggol lengan Yesi.
"Napa?"
"Mama kenapa?
"Oh" jawaban singkat dari Viona.
Viona selalu memperhatikan ibunya, ia ingin bertanya tapi segan melihat keadaan saat ini. Ainun si kecil berada diantara mereka, langsung Viona manfaatkan itu. Viona memanggil Ainun untuk mendekat.
"Tanya nenek, kenapa diam" Bisik Viona ke telinga Ainun dan Ainun mengangguk paham.
Ainun menghampiri ibu Heti, "kok nenek diam, nenek sakit?"
Ibu heti langsung mengusap lembut kepala cucu pertamanya itu.
"Tidak kok, kata siapa nenek diam?. Nenek hanya menikmati makan malam kali ini"
"Gitu ya nek?" Tanyanya lagi dan ibu Heti mengangguk sembari senyum.
Ainun kembali ke kursinya, "nenek gak diam hanya menikmati masakan ibu" Ujarnya seakan memberitahu ibu dan bibinya.
"Mam, tadi Ray datang kenapa cepat pulang?" Tanya Yesi tiba-tiba ingat Ray.
"Mungkin mau ketemu kak Lea, tapi kak Lea belum kembali disini" Timpal Viona.
"Mungkin" Jawab ibu Heti singkat, ia tidak mau kedua anaknya itu mengetahui maksud kedatangan Ray tadi.
"Kamu Vio gak sopan, Ray datang malah pura-pura sakit perut" Ujar Yesi lagi.
Seketika Viona membulatkan matanya, bagaimana bisa dengan akting ala-ala artis yang sudah profesional masih busa juga diketahui oleh sang kakak.
Viona menarik napas.
"Kenapa Vio?" Tanya Yesi dengan lembut penuh penekanan.
"Narik napas dulu kali kak, baru Vio jawab" kilahnya, tapi dari lubuk hatinya ia juga tidak tau kenapa bisa menghindari Ray begitu saja.
"Sudah-sudah lanjut makan, baru istrahat" Ibu Heti melerai.
"Mam, itu gak sopan yang datang ini temannya setidaknya ketemu biar sebentar habis itu bilang lagi tidak enak badan, kan selesai mam" Ungkap Yesi lagi.
"Mama paham, tapi posisi tadi lebih bagus Viona gak menemui Ray, sudah tepat kok tadi" Jawabnya keceplosan, "Maksud mama, gak masalah yang penting jangan keseringan" ia meralat dengan cepat.
__ADS_1
Viona seketika otaknya mulai bekerja mendengar ucapan Ibunya.
"Ada apa sebenarnya?" Batin Viona.
"Mam, Ray bilang apa tadi?" Tanya Yesi masih penasaran.
"Gak nanya, hanya ada titipan barang dari Ray untuk Viona"
"Titipan apa mam?" Tanya Viona ikut penasaran.
"Ada dikamar mama" Jawab ibu Heti.
Makan malam selesai, seperti yang ibu Heti katakan saat makan malam tadi, sekarang ibu Heti kembali diruang tengah dengan kotak cincinnya.
"Ini"
"Haa" mulut Viona terbuka. Ia tidak menyangka untuk kedua kalinya Ray memberikan cincin untuknya.
"Untuk..." Ucap Viona tidak percaya.
"Iya, mama tidak enak menolak cincin itu tadi" Ujar Ibu Heti.
"Makasih mam, tapi untuk apa Ray beli cincin lagi" Ucap Viona sembari membuka kotak cincin itu.
"Lagi" Ulang Yesi sembari menatap adiknya Viona.
"Maksudnya Ray pernah memberikan kamu cincin sebelumnya?" Tanya Ibu Heti memastikan.
"Baru kali ini" Kilah Viona tanpa melihat wajah ibu dan kakaknya.
"Viona jangan suka bohong, coba jujur sama kakak dan mama" Minta Yesi.
"Iya mam, kak" Jawab Viona, "tapi aku kembalikan kok" Lanjutnya.
"Terus kalau cincin itu?" Tunjuk Yesi.
"Kenapa cincin ini? Tanya balik Viona.
"Pantas tadi..." Ucapan ibu Heti itu seketika terhenti setelah mendengar nada dering ponselnya.
"Mama angkat telepon dulu" Pamitnya lalu pergi.
Viona dan Yesi kembali membahas Ray. Viona menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi dari kakaknya.
"Kamu cinta gak Ray?" Tanya Yesi.
"Gak tau kak, hanya aku merasa bahagia dekat Ray dan nyaman" Jawab Viona seketika melambat diakhir kalimatnya.
"Kakak gak tau ini benar atau tidak tapi menurut kakak, Ray mencintai mu"
"Benar, Ray pernah bilang seperti itu"
"Aow kak, gak perlu dijitak juga kali. Sakit!!" Ujar Viona sambil mengusap kepalanya.
"Makanya, terus Ray bilang apa lagi?"
"Minta waktu"
"Sudah Viona, jangan jawab lagi bisa-bisa kakak marah dengan jawabanmu"
"Kok bisa?" Tanya Viona.
Yesi tidak menjawab, Yesi kasihan pada Ray dan kesal pada adiknya yang tidak peka dengan perasaan Ray.
Sementara Viona kembali memperhatikan cincin tersebut.
"Masya Allah bagus banget" Gumam Viona sembari membuka cincin tersebut dan mencoba memasukkan cincin tersebut dijarinya.
"Kertas" Batin Viona.
Kertas itu Ray selipkan di kotak cincin tersebut.
Isi kertas itu "AKU MENCINTAIMU SEPENUH HATI, AKU BERJANJI AKAN MEMBUATMU BAHAGIA SELAMA SISA HIDUPKU"
"Ray kenapa kamu seperti ini, kita berbeda" Viona membatin.
"Kak, aku ke kamar. Bilang sama mama aku duluan istrahat" Pamit Viona tanpa menunggu jawaban dari kakaknya.
"Aneh, apa sih isi kertas itu" Gumam Yesi.
Sesampainya dikamar Viona kembali membaca isi kertas itu. Ia tahu perasaan Ray begitu tulus padanya, tapi penghalang mereka yang menjulang tinggi.
__ADS_1
Viona tidak sadar meneteskan air mata, "Maafkan aku Ray" Gumamnya sambil merebahkan badannya diatas tempat tidur.
Viona membawa kata-kata disecarik kertas itu bersama mimpi malamnya.