
Ray membeli gulali untuk Ainun agar ia bisa duduk anteng di kursi tanpa pengawasan lebih ekstra.
"Suka?" Tanya Ray.
"Iya" Jawan Ainun sambil mengangguk dan mencubit gulali yang ia pegang dan memasukkan dalam mulut.
"Aaaaa" Viona membuka mulut, "bibi juga dong" sambungnya.
"Bibi udah besar" jawab Ainun sambil menjauhkan gulainya dari Viona.
"Dasar pelit" Ucap Viona lagi.
Ray yang melihat itu hanya senyum lucu. Menyenangkan, lucu dan gemesin, itu yang dirasakan oleh Ray saat ini.
"Suka juga?" Tanya Ray kepada Viona.
"Tidak, hanya ganggu Ainun saja" Jawab Viona, "ehh mau bicara apa tadi?" Sambungnya setelah mengingat awal mereka ke taman.
Ray pertama memperbaiki posisi duduk dan memasang wajah serius.
"Viona, apa kita bisa berteman?" Tanya Ray.
"Berteman, memang kita ini teman kan?" Tanya viona lagi.
"Teman dalam hal lain, maksud aku, seperti orang pacaran" Ucap Ray lagi.
"Kalau pacaran, aku gak kepikiran Ray, maaf ya" Jawab Viona dengan hati-hati.
"Ohh gitu ya" Respon Ray lalu ia diam.
"Bibi, gulali Ainun habis" Lapor Ainun kepada Viona.
"Mmm, beli kue aja gimana?" Tanya viona lagi dan diangguki oleh Ainun.
Viona langsung membuka tas kecilnya untuk mengambil uang, namun lebih dulu Ray memberikan Ainun uang.
"Nih, beli apa yang Ainun suka" Ucap Ray dan Ainun kegirangan, "mas kesini" Sambung Ray sambil melambaikan tangan kepada penjual balon-balon itu.
"Untuk apa balon-balon itu?" Tanya viona heran kepada Ray.
"Untuk Ainun bukan untukmu Viona" Jawab Ray tanpa melihat Viona. Kali ini Ray lebih berani menyelipkan nama Viona dalam ucapannya.
"Semua warna ya mas" Ucap Ray lagi.
"Itu terlalu banyak" Larang Viona dan Ray langsung mengangkat jari telunjuk dan ia tempelkan di bibirnya.
"Hehehe, sabar ya mbak. Kadang laki-laki itu pusing hadapin istri yang tidak diam" Ucap penjual balon tersebut yang membuat Viona urungkan niat untuk bersuara kembali.
Viona kembali duduk di kursi membiarkan Ainun dan Ray memilih balon-balon itu untuk mainan Ainun.
Sementara Ray, melihat Viona sekilas lalu membayar balon itu dengan uang merah.
"Tidak ada uang kembalian mas" Ucap penjual balon sambil mencari-cari uang kembalian dalam tas kecil tempat uangnya.
"Gak usah mas, ucapan terima kasih sudah membuat dia diam sejenak, meskipun nanti mungkin lanjut lagi" Ucap Ray dan penjual balon langsung ketawa.
"Mas.. mas, ada-ada saja, tapi yang sabar ya mas, sudah seperti itu perempuan. Ibarat rumus matematika mas, perempuan itu rumus turunan yang tidak ada akhirnya. Hehe, permisi ya mas" Ucapnya lalu pergi dan Ray mengingat ucapan bapak itu membuatnya sedikit tersenyum.
"Benar juga tuh bapak" monolognya.
"Sayang, mau balon warna apa?" Tanya Ray, ia seketika lupa dengan keberadaan Viona disekitar mereka.
"Merah" jawab Ainun.
"Habis tu warna apa lagi?" Tanya Ray.
"Biru, kuning, hijau semuanya Om" ucap Ainun lagi.
"Boleh, ini" Ray memberikan balon-balon itu kepada Ainun.
Viona hanya diam dan melihat keakraban. Ray dan Ainun.
"Maafkan aku Ray, untuk pacaran aku tidak mau" Batin Viona dan berdiri menghampiri ponakan dan Ray.
"Boleh gabung?" Tanya Viona sembari senyum.
"Boleh" Jawab Ray, "iyakan sayang?" Sambungnya dengan pertanyaan kepada Ainun.
Ainun mengangguk, "iya bibi".
Mereka main bertiga, suasana di taman siang ini seakan milik mereka bertiga. Viona merupakan anak bungsu jadi momen sederhana seperti ini merupakan hal yang membuatnya senang, sementara Ray merupakan anak tunggal, jadi ada orang yang akrab dengannya sangat membahagiakan dalam hidupnya dan itu impiannya selama ini. Berbeda dengan si kecil Ainun, ia sangat senang ada teman bermainnya.
"Bibi, Om. Ainun senang banget hari ini" Ucapnya dengan senyum yang tidak luntur di wajahnya.
"Oh ya, bibi juga" Timpal Viona.
"Kalau om?" Tanya Ainun sembari melihat Ray.
"Hmmm, om juga bahagia" jawabnya pelan sembari melihat Viona.
"Horee, semua senang" ucap Ainun senang dengan memegang balonnya, "om terima kasih balonnya" sambungnya sembari senyum kepada Ray.
__ADS_1
"Kalau om sedih, telepon aja Ainun" ucapnya lagi lalu ia pergi main balon yang Ray belikan.
"Viona, busa kita lanjutkan omongan tadi?" Tanya Ray.
"Maaf Ray, untuk pacaran aku gak bisa dan pasti juga tau kan dalam islam dilarang pacaran. Jadi sekali lagi, saya minta maaf" Jawab Viona menolak, karena baginya percuma dijawab nanti dan sekarang tetap jawabannya sama.
Ray penasaran dan tidak mengerti maksud dari ucapan Viona, kenapa dilarang pacaran?, kenapa aku baru dengar kalimat itu? Alan seorang muslim tapi dia pacaran, apakah itu hanya berlaku untuk perempuan saja.
Dalam kepala Ray pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk, seakan pertanyaan dalam otaknya itu harus membutuhkan jawaban, tapi bertanya kepada siapa? Apakah Viona bisa membantu.
Ray diam, ia mencerna kalimat yang viona ucapkan tadi.
"Kenapa gak boleh pacaran?" Tanya Ray dengan hati-hati.
Viona menoleh kearah Ray, dan saat itu ia kira kalau Ray seorang muslim seperti dirinya.
"Tanyalah pada gurumu" Jawab Viona.
"Guru" ulang Ray, "siapa?" Sambungnya.
"Kita udah dewasa, gak mungkin kan gak pernah dengar kalimat itu. Anak kecil saja sudah tau" Jelas Viona.
"Eemmm, ta...pi jujur aku gak tau. Soalnya aku gak pernah dengar juga" Ucapnya dengan pelan.
"Belajarlah Ray, maaf aku mengatakan ini karena aku sudah menganggap mu sahabat ku" Ucap Viona sembari senyum tulus kepada Ray.
Ray langsung mengangkat tangannya, "Jangan, dalam kamus perempuan kalau sudah sahabat maka sulit bagi laki-laki ke tahap yang lebih serius"
Viona tertawa mendengar ucapan Ray itu, "hahaha, jodoh gak ada yang tau kan?" Tanyanya setelah ia ketawa.
"Benar, tapi kalau ke jenjang yang lebih serius?" Tanya Ray lagi kembali ke pokok pembahasan sebagaimana tujuan awal Ray mengajak Viona dan Ainun kesini.
"Silahkan datang ke rumah" Jawab Viona dan itu merupakan salah satu lampu hijau bagi Ray.
Tapi kenapa hati Ray ragu dengan jawaban seperti itu, karena menurutnya tidak semudah itu seorang perempuan menyuruh laki-laki datang dirumahnya.
Dan Ray seorang laki-laki pun tidak akan segampang itu pergi dirumah seorang perempuan tanpa ada persiapan terlebih dahulu. Terutama persiapan mental menghadapi keluarga perempuan.
"Viona bisa minta nomor ponsel mu?" Tanya Ray lagi.
"Untuk?" Tanya balik Viona.
"Aku benar-benar serius Viona, ingat itu!!" Ucap Ray dengan serius.
"Iya, aku tau itu Ray" jawab Viona dengan santai. Ia pikir ucapan Ray itu adalah maksud minta nomor hp bukan serius dalam hal menjalin hubungan.
"Tapi sepertinya kamu tidak serius, apa sudah ada yang lain?. Jika memang ada, maka aku mundur" Ucap Ray dengan mata terus memantau Ainun bermain balon.
"Maksud Ray ini apa sih sebenarnya?, Ahh bodoh amat, belum lama kenal juga kok. Namanya laki-laki kan buang umpan sembarang tempat yang penting ada air dan ikan jadi tuh, mau dimakan atau tidak umpannya itu tergantung ikannya" Monolog Viona.
"Viona, are you ok?" Tanya Ray berhasil membuyarkan lamunannya.
"Aaa.. ekhem, oke kok.. oke" Jawab Viona agak sedikit kaget
"Kita pulang, sepertinya sudah siang" Ucap Viona lagi yang tiba-tiba memutuskan sepihak. Ia pun bangkit dari tempat duduknya menghampiri Ainun.
"Nanti lagi mainnya ya, sudah siang. Saatnya kita makan siang" Ucap Viona sembari senyum kepada ponakannya itu.
Ainun menoleh karena posisinya membelakangi Viona, "bibi 5 menit lagi" tawarnya.
"Nanti sakit perut, sore kita main lagi dengan bibi Lea" bujuk Viona.
"Bibi Lea, suka janji tapi gak tepati" Ucap Ainun membuat Viona tertawa.
"Hahaha, nanti bibi kasih tau bibi Lea, supaya gak janji Ainun lagi, gimana?" Tanya viona.
"Setuju" Jawab Ainun.
"Jawabannya seperti orang besar saja. Kita pulang kan?" Tanya Viona memastikan.
"Iya" lalu Ainun lari menghampiri Ray yang tengah duduk.
Ray selalu dibuat kagum dengan kelembutan Viona terhadap ponakannya. Ray menyambut Ainun dengan senyum.
"Om kata bibi kita makan siang" Ucap Ainun.
"Bertiga?" Tanya Ray memastikan dengan senyum sumringahnya.
"Yes, pertanda baik" Monolog Ray
"Iya, bibi yang bilang" jelas Ainun yang membuat Viona geleng kepala.
"Oke" Jawab Ray lalu melirik Viona sembari senyum, "kita jalan" sambungnya.
"Yee, aku mau makan es krim" Ucap Ainun senang.
"Sesuka Ainun, mau makan apa saja hari ini. Om yang traktir" Ucap Ray lagi.
Mereka jalan menuju parkiran dimana mobil Ray berada, lalu mencari restoran terdekat sebelum Ainun merengek minta makan.
Sementara disisi lain, Alan baru keluar dari ruangan Ray. Ia betah didalam bukan karena tidak ada kegiatan, tapi ia sibuk stalking media sosial Viona.
__ADS_1
Alan sebelum melakukan pendekatan terlebih dahulu mencari tau kesukaan Viona dan tempat favoritnya.
Alan keluar dari ruangan itu sembari menggerakkan lehernya kiri kanan karena merasa pegal akibat lama menatap layar ponselnya.
"Ray mana?" Tanya Alan setelah sampai tempat dimana para karyawannya memperbaiki motor dan mobil rusak.
"Kelaur pak" jawab salah satu dari mereka.
"Kemana?" Tanya Alan lagi.
"Gak tau itu pak, yang jelas perginya dengan perempuan dan anak kecil" Jawabnya lagi.
"Perempuan dan anak kecil" ulang Alan sembari berpikir.
"Siapa perempuan itu? Apa Gladis? Tapi gak mungkin perempuan itu suka anak kecil, mau melihat wajahnya saja pada kabur tuh anak kecil" monolog Alan dan bergidik ngeri membayangkannya.
"Terima kasih" Ucap Alan lalu kembali merogoh dalam kantung celananya mengambil HP.
Alan berkali-kali menelfon, aktif tapi tidak dijawab. Ia tidak putus semangat untuk terus menghubungi Ray.
Sedangkan Ray melihat ponselnya bergetar dan nama Alan yang menelepon, sengaja tidak ia hiraukan. Bukan tanpa alasan, tapi Alan hanya akan menghambat pendekatannya kepada Viona.
"Angkat saja siapa tau penting" Ucap Viona karena sudah berkali-kali ponsel itu bergetar yang tidak ada henti.
"Nanti sampai restoran baru aku telepon balik, bahaya angkat telepon sedang mengemudi" Alasan Ray sangat masuk akal meskipun itu bukan alasan utamanya sehingga Viona percaya.
"Benar juga" jawab Viona lalu kembali diam sehingga sunyi dalam mobil.
Sementara Alan sekarang mengirim pesan kepada Ray.
✉️ Alan : Ray, dimana?
"Ting" bunyi ponsel Ray lagi.
Dan Viona kembali bersuara, "sepertinya itu pesan"
"Biasanya bunyi seperti itu tanda baterainya habis" Kilah Ray lagi dan mengambil ponselnya sengaja ia matikan.
"Beda dengan ponsel aku ya" Ucap Viona lagi.
"Mungkin karena beda merk hp" Jawab Ray asal agar Viona percaya.
"Sepertinya" Jawab Viona dan Ray lega mendengar jawaban Viona.
"Ternyata tidak seribet Gladis yang suka ingin tau melebihi batas" monolog Ray sembari membawa mobilnya.
🌺
Alan kembali mengambil kunci mobil diruangan Ray dan mengendarai mobilnya menuju restoran terdekat. Alan tidak menunggu waktu lama untuk pesanannya karena restoran itu merupakan restoran langganannya.
Alan menikmati makanan sembari menunggu shalat dzuhur sebelum pulang.
20 menit Alan duduk di restoran itu hanya untuk menunggu shalat dzuhur. Sebenarnya begitu bosan rasanya menunggu seorang diri tapi kalau kembali bengkel lumayan jauh juga dan tidak akan dapat shalat berjamaah di mesjid.
Sementara di restoran dimana Ainun, Viona dan Ray berada lagi menikmati hidangan yang disajikan. Makanan sungguh menggugah selera penikmatnya sampai Ainun begitu lahap.
"Om makanan disini enak" puji Ainun.
"Iya dong, makanan favorit om lho ini" Ucap Ray.
"Oh ya, kok sama" Timpal Viona dan seketika diam. Bukan tanpa alasan, karena ia tidak sengaja mengatakan makanan kesukaannya pada orang yang belum lama ia kenal.
Viona ingin meralat ucapannya, tapi suara adzan di mushala terdengar jelas membuat Viona harus diam dan menunduk mendengar Adzan.
Ray yang notabenenya seorang non muslim maka ia tidak tau hal itu. Ia mengira kalau Viona hanya diam biasa. Penasaran, itu yang Ray alami. Menoleh melihat Ainun yang sedang makan, sepertinya tidak ada pilihan kecuali bertanya kepada bocil itu. Ia pun bertanya kepada Ainun.
"Kenapa bibi Viona diam?" tanya Ray penasaran.
"Adzan Om" Jawab Ainun.
"Kalau adzan harus diam ya tidak bisa bicara?" Tanya Ray pemasaran.
"Iya Om, kata nenek tidak boleh" Jawab Ainun dan Ray mengangguk paham.
Ray kembali memperhatikan Viona dan saat itu ia melihat Viona setelah adzan seperti sedang berdoa. Rasa penasaran itu Ray kembali bertanya.
"Apa harus berdoa setelah adzan?" Tanya Ray lagi.
"Iya, waktu yang paling mustajab itu berdoa antara adzan dan iqamah, saat hujan dan sepertiga malam terakhir" Jelas Viona, "kita ke mesjid udah masuk shalat dzuhur" Sambung Viona lagi dan Ray hanya mengangguk dan ke kasir tapi Viona melarang Ray.
"Jangan, aku saja. Sudah mengantar saya dan Ainun ke sini jadi giliran aku yang traktir" Jelas Viona tidak enak hati pada Ray.
"Ya sudah kamu yang bayar, ini kartunya" Ucap Ray dan mengeluarkan kartunya lalu menarik tangan Viona dan menaruh kartu itu di tangan Viona.
"Bayar sekarang" Ucap Ray.
"Tapi bukan gini juga caranya" Ucap Viona sedikit berbisik.
"Cepat aku tunggu, bukannya mau shalat?" Tanya Ray kepada Viona.
"Iya, Allah nomor satu" Ucap Viona membuat Ray tersenyum tapi tidak untuk hatinya.
__ADS_1
"Oohh Tuhan, apa ini benar?" Monolog Ray.
"Sudah" Ucap Viona setelah kembali dan Ray gelagapan, "Kenapa?" Sambung Viona heran dengan tingkah Ray hari ini.