
Waktu yang ditunggu orang tua Ray terutama Maminya telah tiba, bahagia itu yang dirasakan Mami Ray begitupun dengan Ray. Hari ini yang selalu ia minta kepada Viona tapi Viona selalu menolak dan akhirnya terwujud.
Sedangkan Viona, malah deg degan dengan hari ini. Bingung bagaimana cara menjawab jika orang tua Ray bertanya padanya tentang hubungan mereka. Sekali-kali Viona menghela napas sembari menggigit ujung kuku sambil mondar-mandir dalam kamar.
Rifal yang tidak sengaja lewat.
Tok tok
Viona terlonjak kaget "Astaghfirullah" Ucapnya sambil mengusap dada.
"Gitu aja kaget, kenapa?" Tanya Rifal.
"Memang aku kenapa?" Tanya balik Viona.
"Seperti kebingungan gitu, ada apa?" Tanya lagi Rifal kepada adiknya itu.
"Gak ada apa-apa" Kilah Viona lalu ia membanting bokongnya diatas tempat tidur.
"Sudah lah, mau ikut? Aku dan Lea mau berkunjung ke rumah keluarganya" Ajak Rifal.
Viona hanya bengong tanpa merespon ucapan kakaknya itu.
Rifal menggoyangkan bahu Viona dengan memegang kedua pundaknya.
"Dek kamu kesambet?" Tanyanya lagi.
"Heee, enak aja kesambet. Aku lagi mikir nih" Ujar Viona dengan malas.
"Mikir apa?, Ditanya malah jawab gak ada apa-apa, tapi mikir. Hhmm" Ucap Rifal lagi.
Viona mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sebenarnya kepada kakaknya itu tapi hatinya masih sedikit ragu dan takut. Ragu jika ia sudah cerita banyak kepada kakaknya ternyata Ray hanya main-main, apalagi mereka memiliki keyakinan yang berbeda. Dan rasa takut muncul jika kakaknya menentang itu semua, walaupun hati kecilnya berkata demikian dan penolakan membuat dari kakaknya itu membuatnya takut. Namun, disisi lain ia nyaman dan suka dengan perhatian Ray padanya sehingga membuatnya takut kehilangan.
"Malah bengong lagi" Ucap Rifal melihat adiknya yang tak kunjung bicara.
"Kak, salah kalau kita memiliki amin yang sama tapi kiblat berbeda?" Tanya Viona sembari menunduk membuat Rifal berpikir dan mencerna kata demi kata dari ucapan adiknya itu.
Dalam masa itu, Marcelea datang karena mendengar samar-samar suara suaminya dikamar adiknya.
"Assalamualaikum, bisa masuk?" Tanya Marcela diambang pintu yang terbuka itu.
Salam Marcelea memecah keheningan antara Viona dan Rifal.
"Ya ampun kakak masuk aja kali" Ucap Viona dan menghampiri kakak iparnya itu.
"Wa'alaikumussalam" Timpal Rifal. "Jam berapa dek kita berangkat?" Sambung Rifal.
"Lanjut cerita aja dulu, masih tunggu telepon. Kalau sudah ditelepon langsung otw" Jawab Marcela senang. Iya sangat merindui keluarga itu, Mami Ray sangat sayang kepadanya tapi semenjak memutuskan untuk mualaf maka disitu orang tua Ray berubah padanya.
Mereka sangat menentang adanya pindah keyakinan di dalam keluarga. Orang tua mereka atau Kakek Ray dan Marcelea seorang pendeta, jadi anak-anaknya dituntut aktif dalam berbagai organisasi keagamaan. Sehingga bagi mereka sangat malu atau bahkan sebuah aib jika ada salah satu dalam keluarga tiba-tiba ada keluar agama mereka.
Marcelea mengingat kejadian itu perih hatinya saat Mami Ray yang ia anggap sudah seperti orang tua sendiri mengatakan kalau ia tidak akan peduli lagi padanya.
Marcelea menghela napas, "doakan ya semoga mereka gak marah dan menerimaku seperti dulu lagi sebagai ponakan"
Rifal mendengar itu langsung merangkul istrinya, "Sabar dek, Allah mengujimu karena dia tau kalau kamu mampu" ucapnya dengan lembut dan seketika Viona tersadar karena kalimat itu menurutnya sangat tepat juga untuk dirinya.
"Benar kak, kita sabar saja" Timpal Viona. "Dan aku pun demikian" sambungnya dalam hati.
"Kenapa aku rasa perih" Gumam Viona.
Rifal dan Marcelea melihat Viona, "kenapa dek?" Tanyanya bersamaan.
"Kompak sedih ya" Goda Viona mengalihkan pembicaraan.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, kakak tau" Ucap Rifal lagi.
"Ihh kepo banget. Aku hanya bicara asal kok" Jawab Viona. "Ada pesan tu kak" Sambungnya sambil menunjuk layar ponsel kakak iparnya.
"Sudah ada di restoran kak, kita jalan sekarang" Ucap Marcelea setelah membaca pesan dan berlanjut ke Viona, "yakin gak mau ikut nih?"
"Kali ini tidak kak, pengen dikamar aja hari ini" Jawab Viona.
Bukan itu sebenarnya alasan Viona, ia hanya memikirkan kalimat apa pertama ia ucapkan bertemu dengan orang tua Ray. Pakaian apa yang cocok untuk kenakan.
__ADS_1
Kebingungan itu membuat Viona sakit kepala, ia merebahkan badan setelah kakak dan iparnya pergi. Guling-guling dalam kamar kayak ular itu yang dilakukan Viona membuat tempat tidurnya berantakan tidak karuan. Ia merentangkan tangan ditengah tempat tidur sambil melihat langit-langit kamarnya.
"Ya Allah apa yang harus saya lakukan" Ucapnya seorang diri dalam kamar.
🌺
Di restoran dimana Rifal dan Marcelea serta kedua orang tua Ray berada sedang makan bersama. Marcelea sangat bahagia, rasa syukur tidak henti-henti ia ucapkan dalam hati.
"Marcel, apa gak makan ini kesukaan mu lho. Mami sengaja pesan tadi" Ucap Mami Ray dengan senyum hangat kepada ponakan suaminya itu.
"Iya Marcel, Mami udah pesan tadi ini khusus buat kamu" Timpal Papi Ray juga.
Marcelea tidak enak menolak jika yang mengatakan itu dari orang yang ia anggap seperti orang tua sendiri, tapi masalahnya saat ini ia telah menjadi muslim.
"Mi, pi.. itu memang kesukaan Marcel tapi itu dulu sekarang Marcel sudah muslim jadi gak boleh" Ucap Marcelea dengan lembut.
"Gitu, jadi mau makan apa? Pesan saja Mami yang bayar" tawar Mami Ray lagi itu.
"Yang ini sudah cukup kok Mi, tapi ada yang paling membahagiakan buat Marcel" jawabnya dengan senyum yang tidak luntur diwajahnya.
"Apa itu?, Mami penasaran lho"
"Marcel, semenjak jadi muslim Papi lihat banyak senyum" Ucap Papi Ray lagi melihat sang ponakan itu berubah setelah masuk islam. Yang dulunya cuek, sekarang murah senyum dan ramah tergambar jelas diwajahnya.
"Islam mengajarkanku seperti ini Pi" Jawab Marcelea sengaja menyebut kata islam, agar kalimat itu tidak asing ditelinga om dan tantenya.
Selain itu, kalimat yang Marcelea ucapkan memang tidak salah, karena Islam memang mengajarkan umatnya untuk tidak memasang wajah masam saat bertemu dengan seseorang, ditambah Marcelea bertemu dengan orang spesial yaitu orang tua keduanya setelah orang tua kandungnya.
"Dan hari ini aku bahagia" Ucap Marcelea lagi, "karena Allah mengizinkan Marcel bertemu Mami dan Papi ditempat ini. Lebih membahagiakan lagi melihat Mami dan Papi sehat, itu Marcel bersyukur sama Allah" sambungnya dan Rifal melihat istrinya begitu bahagia dan senang ia menimpali dengan senyum.
"Iya, Lea terus menyebut nama om dan tante setiap aktivitasnya" Timpal Rifal membuat orang tua didepan mereka saat ini terharu.
"Dulu Mami kira Marcel tidak akan mau menemui Mami dan Papi lagi setelah masuk Islam, makanya setelah dengar memutuskan masuk Islam" Ucap Mami Ray menjeda kalimatnya sambil menarik napas dan membuangnya kasar, "sangat... sangat marah saat itu" sambungnya.
"Apalagi Papi. Saat itu Papi rasa sudah gagal mendidik kamu. Hancur dan malu campur aduk jadi satu" Timpal Papi Ray, "saat itu keluarga malu sebenarnya mau menampakkan diri di depan orang-orang, apalagi tau sendiri kan bagaimana kakek mu" Sambung Mami Ray.
Marcelea hanya menunduk sedih mendengar apa yang disampaikan oleh om dan tantenya itu, tapi orang tuanya bahagia setelah masuk Islam.
"Seperti?" Tanya Mami Ray.
"Mengucapkan selamat Natal" Jawab Marcelea lagi.
"Iya, tidak maslaah" Jawab Papi Ray.
Seketika suasana yang awalnya asyik berbagi cerita jadi diam setelah mengeluarkan unek-unek selama ini yang tersimpan dihati keluarga Marcelea non muslim.
Rifal melihat keadaan saat ini tidak enak lagi untuk lanjut, ia mencoba mengalihkan pembahasan.
"Jadi besok kembali ke Korea, kapan lagi ke Indonesia?" Tanya Rifal.
"Belum ada lagi rencana, mungkin Alex menikah Mami ke Indonesia lagi kalau tidak Alex yang ke Korea" Jawabnya membuat Rifal hanya manggut-manggut paham.
"Mi, memang Alex sudah punya pacar lagi?, Bukan Gladis kan?" Tanya Marcelea seakan ia tidak terima kalau sepupunya menikah dengan perempuan itu.
"Bukan, sudah ada yang baru. Lebih sopan dari Gladis" Pujinya, "Sore ini Mami mau ketemu lho dengan dia, sebelum ke Korea" sambungnya.
"Kok Alex gak cerita ke aku ya" Batin Marcelea.
"Mi, namanya. Siapa namanya?" Tanya Marcelea antusias.
"Aaa.." Mami Ray mencoba ingat nama Viona tapi ia lupa, "siapa lagi Pi namanya?" Tanya balik kepada suaminya.
"Mami yang vidoe call kok malah tanya Papi" Jawabnya karena memang kenyataannya seperti itu.
"Ohh, sudah video call juga" Ucap Marcelea sambil menutup mulut kaget, "gercep juga tuh anak" sambungnya lagi.
"Aku ingat namanya itu, Viana.. iya Viana" Ulang Mami Ray dengan penuh yakin.
"Anak mana Mi, ada fotonya?" Tanya Marcelea penasaran.
"Marcel, Mami tau kalau sudah penasaran pasti di gali informasinya sampai akar. Tidak ada gambarnya sama Mami, coba tanya Alex" Jelas Mami Ray itu lagi.
Marcelea mengangguk iya.
__ADS_1
Mereka saat ini sedang duduk sambil Marcelea menikmati makanan penutupnya. Semenjak mereka makan Marcelea tidak berhenti makan sampai saat ini, bicara dengan orang tua Ray pun disela-sela bicara ia sempat memasukkan makanan dalam mulutnya, tapi itu semua tidak membuatnya gendut. Aneh, karena biasanya kuat makan identik dengan gemuk tapi badan Marcelea begitu-begitu saja. Memiliki tubuh yang ideal. Tapi karena saat ini hamil jadi terlihat chubby.
"Habis ini Mami dan Papi jalan-jalan sebelum kembali ke Korea?" Tanya Marcelea lagi.
"Tidak kayaknya, nanti capek karena disana langsung masuk kantor" jawab Papinya kali ini.
Rifal hanya banyak diam begitupun dengan Papi Ray, mereka membiarkan dua wanita kesayangan mereka asyik cerita sampai lupa kalau mereka bawa suami.
Mami Ray melambaikan tangan kepada waiters itu untuk menghitung harganya maka mereka.
"Berapa?" Tanya Mami Ray.
"Gak usah Mi"larang Marcelea.
"Iya, sebagai ucapan terima kasih saya dan Lea, jadi saya saja yang bayar" Timpal Rifal mendukung ucapan istrinya.
"Ya udah, tapi kali ini saja ya" Mami Ray mengalah yang diangguki cepat oleh Marcelea.
"Ini bill nya pak" Ucapnya dan langsung Rifal mengeluarkan kartunya dan waiters itu langsung mengarahkan Rifal ke arah kasir.
"Kesana langsung ya pak" Ucapnya dan Rifal langsung berdiri, "Terima kasih ya mbak".
"Saya ke sana dulu". Pamit Rifal lalu pergi.
Momen bertiga itu, Mami dan Papi Ray minta maaf pada Marcelea.
"Marcel maafkan Mami dan Papi ya. Saat itu kami takut karena tidak bisa lagi bertemu dengan mu selamanya" Ucap Mami Ray mengeluarkan apa yang ia pendam selama ini.
"Gak mungkin itu Mi, Mami dan Papi itu orang tua Marcel kedua, jadi sangat tidak mungkin" Jawab Marcela sambil menggenggam tangan yang ia sudah anggap ibunya itu.
"Dulu jujur Papi tidak terima, syok itu yang Papi rasa. Tapi semenjak melihat hari ini, ternyata kamu tidak sesuai yang kami pikirkan selama ini. Maafkan Papi juga ya" Ucapnya.
Seketika Marcelea mengeluarkan butiran bening dari matanya, "Maafkan Marcel juga karena sudah membuat Mami dan Papi marah" Ucapnya sembari melihat wajah didepannya silih berganti, "Mami dan Papi makin muda dimata Marcel" sambungnya dengan serius tapi itu mengundang tawa bagi mereka berdua.
"Hahaha" suara tawa orang tua Ray.
Setelah membayar itu mereka berpamitan pulang, yang awalnya ke rumah jadi ke restoran. Kebetulan mereka tidak jauh dari resetoran yang biasa mereka tempat makan bersama keluarga waktu Marcelea sekolah dan kuliah, saat itu dirinya masih Nasrani.
Tapi orang tua Ray memilih restoran yang mereka tempati saat ini bersama ponakannya itu.
Kepergian Mami dan Papi Ray itu membuat rasa rindu untuk selalu bertemu. Marcelea terus menatap kepergian yang ia sudah anggap pasang suami istri sebagai orang tuanya sampai hilang dari arah pandangnya.
"Kita pulang" ajak Rifa.
"Oh iya" Jawab Marcelea sedikit kaget, "ayo bang" Sambungnya yang sudah mengaitkan tangannya dilengan sang suami.
Rifal melirik sekilas tangan istrinya, lalu berpindah tatapan kewajah istrinya yang masih terlihat rindu pada orang yang baru ia temui.
"Pasti ketemu lagi, jangan sedih" Ucapnya lalu menepuk pelan tangan sang istri dilengannya itu, "kita pulang" sambungnya sambil menaikkan sebelah alisnya dan Marcelea menanggapinya dengan anggukan dan senyum.
"Salah kah bang kalau kita rindu?" Tanya Marcelea sembari jalan keluar dari restoran itu.
"Tidak salah, yang salah itu jika merindukan suami orang lain" Jawab Rifal.
"Serius malah dianggap bercanda" Jawab Marcelea kesal sembari memanyunkan bibirnya.
"Maaf, masuk dalam mobil" Ucap Rifal dan Marcelea melepaskan tangannya dari sang suami.
Mobil Rifal mulai bergerak dari arah parkiran, dengan kaca bagian Marcelea sengaja ia tidak naikkan.
Saat lewat, perasaan Marcelea seperti ada yang memperhatikannya tapi ia tidak tau siapa orangnya. Ia mencoba melihat dibagian luar, melihat seorang laki-laki tapi membelakanginya.
Marcelea mencoba untuk memperhatikan punggung itu dan saat itu ia tidak sadar menunjuknya, "punggung itu tidak asing" Ucapnya.
"Teman kamu mungkin" Jawab Rifal asal.
"Mungkin, karena tidak asing tuh punggung, tapi siapa gitu" Ucap Marcelea lagi sambil berpikir keras perihal punggung.
"Teman kampus?" Tanya Rifal.
"Hmmm, gak tau. Sudahlah gak penting. Gimana kalau singgah belanja bang" Ajak Marcelea lagi.
"Boleh" Respon Rifal.
__ADS_1