Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
49. Gara-gara Cincin


__ADS_3

Viona kembali masuk dalam restoran, ia mencari Ahmad.


"Ahmad mana?, Apa dia juga ikut pergi seperti Ray" Batinnya lalu ia duduk menatap cincin tersebut.


Lama menatap cincin itu, sampai Viona melihat sebuah ukiran huruf. Ia perhatikan ternyata namanya dan Ray.


"Ini" Ucap Ahmad tiba-tiba dengan mendorong kotak eskrim depan Viona.


"Suka ya cincinnya?, Suruh aja orang yang dijodohkan dengan kamu membeli cincin yang sama atau lebih bagus dari itu" Lanjut Ahmad lagi sembari duduk dikursi depan Viona.


Viona tanpa mengeluarkan suara sedikitpun langsung memberikan cincin tersebut kepada Ahmad.


"Untuk aku?" Tanya Ahmad dengan sedikit bercanda, "nangis darah ni Ray cincinnya dikasih ke aku"


"Lihat ukirannya, bukan modelnya" Ujar Viona.


"Oh" Jawaban singkat dari Ahmad dan ia kembali memperhatikan cincin itu dengan teliti dan ternyata disana terdapat ukiran nama Viona dan Ray.


"Kayak gini doang, aku juga bisa" Ujar Ahmad lagi dengan nada sombong.


Viona menatap Ahmad dengan tajam, "Jangan pamer kesombongan disini, aku sekarang lagi pusing"


"Bukan sombong tapi begitulah" jawab Ahmad lagi dengan santai.


Viona yang sudah makan eskrim kembali ia tutup tempat eskrimnya dan memasang wajah serius.


"Mad, hati-hati lho iblis itu diusir dari surga bukan karena kurangnya ia ibadah tapi sifat sombong yang ada dalam hatinya. Lah kamu, bau surga aja kamu belum pernah cium tapi berani belajar sombong. Assalamualaikum" Ujar Viona diakhiri dengan salam dan pergi dari restoran Ahmad.


Ahmad hanya melongo mendengar dan melihat tingkah Viona barusan. Viona mengendarai motornya dengan kesal. Ia ingin cerita kepada Ahmad tapi selalu Ahmad menyinggung perjodohan, sedangkan ia sangat tidak suka.


"Dasar mahluk bumi paling aneh" Gumam Viona diatas motor.


"Ray ngambek, Ahmad bikin kesel dan gara-gara mereka aku stres. Ohh tidak-tidak ini bukan Viona yang sebenarnya" Gumamnya lagi sambil menggelengkan kepala diatas motor.


Viona mengendarai motornya menuju rumah. Berbeda dengan dua mahluk bumi Ray dan Ahmad.


Ray memutuskan untuk berdiam diri di rumah sembari memberi makan ikannya, sedangkan Ahmad menelfon Viona karena ada barangnya yang tertinggal di restoran.


"Gini nih mood perempuan, kalau suda kesal barang penting pun langsung lupa" Ujar Ahmad dan memasukkan kotak cincin itu dalam saku jaketnya.


Ahmad dengan cepat menyusul Viona menggunakan mobil.


"Mudah-mudahan belum jauh" gumam Ahmad seorang diri dalam mobil.


Ahmad membawa mobil dengan kecepatan sedang karena sedang macet bertepatan dengan jam pulang kantor.


"Mana macet lagi" Ujar Ahmad lagi.


Dalam mobil Ahmad menyempatkan untuk menelpon Viona.


"Assalamualaikum" Ucap Ahmad dalam telepon dan terdengar jelas Viona menjawab salam dengan terpaksa.


"Wa'alaikumussalam" Jawab Viona diseberang telepon.


"Belum selesai juga ngambeknya" Batin Ahmad.


"Vio, kamu dimana sekarang?"


"Dijalan menuju rumah, kenapa?" Tanya balik Viona.

__ADS_1


"Oh ok. Assalamualaikum" Ucap Ahmad lalu memutuskan sambungan telepon setelah Viona menjawab salamnya dari seberang telepon.


🌺


Viona sampai rumah dengan memarkirkan motornya dihalaman rumah dan masuk dalam rumah.


"Assalamualaikum" Viona memberi salam.


"Wa'alaikumussalam" Jawab Yesi yang sedang duduk sambil main ponsel.


Viona setelah salamnya dijawab tanpa bicara sedikit pun langsung jalan menuju kamarnya. Sementara Yesi hanya cuek saja, karena sudah biasa Viona jika malas langsung masuk kamar begitu saja.


Yesi masih main ponsel bel rumah bunyi tanda ada tamu diluar. Ia tanpa berpikir panjang langsung menuju gerbang rumah dan disana Ahmad sudah menunggu.


Ahmad langsung senyum setelah dibukakan gerbang rumah, mereka jalan beriringan menuju pintu utama rumah.


Ahmad bingung mau mulai darimana untuk mengembalikan cincin Ray untuk Viona. Ia sedikit gelisah dan itu terbaca oleh Yesi.


Yesi berinisiatif untuk bertanya duluan.


"Ada yang mau dibicarakan atau mau ketemu Viona?" Tanya Yesi, ia sangat peka dengan kegelisahan sahabat adiknya itu.


"Iya kak sebenarnya, boleh saya ketemu dengan Viona sebentar?" Tanya Ahmad dengan hati-hati dan sopan.


"Ok, sebentar ya. Aku panggil dulu" Pamit Yesi dan pergi ke kamar Viona.


Sesampainya langsung mengetuk pintu sambil memanggil nama adiknya itu.


"Viona, ada temanmu. Keluar bentar"


Viona yang malas gerak karena masih rebahan diatas tempat tidurnya, ia hanya mengandalkan suaranya.


"Ahmad, cepat" Jawab Yesi lagi sambil menyuruh Viona untuk buru-buru.


Viona mendengar nama Ahmad langsung pura-pura tidak dengar.


"Tok tok"


"Dek" panggil Yesi dibalik pintu.


"Hargai tamu Vio, cepat. Ada hal penting kata Ahmad" Pancing Yesi lagi.


Viona mendengar itu terpaksa keluar dari kamar.


"Akal-akalan Ahmad itu kak" Ujar Viona dengan nada kecil sembari jalan menuju ruang tamu.


"Astaghfirullah, suudzon sama orang"


Viona dan Yesi duduk bersampingan menghadap Ahmad.


Ahmad hanya senyum melihat Viona dan Yesi datang, tidak lama ia mengeluarkan kotak cincin dalam saku jaketnya fan menaruhnya diatas meja.


Seketika Viona meraih kotak itu dan menyembunyikannya dalam kantung gamisnya.


Sementara Yesi yang melihat itu hanya geleng kepala melihat tingkah adiknya.


"Dek!" Tegur Yesi.


Viona membalasnya dengan senyum yang ia buat ramah karena berhadapan langsung dengan Ahmad.

__ADS_1


"Buka dulu kali dek, apa isinya kotak tadi" Ujar Yesi.


"Nanti kak" Jawab Viona cepat dan Ahmad pamit pulang karena sudah malam.


"Kalau begitu, saya pamit pulang. Assalamualaikum" Pamit Ahmad.


"Wa'alaikumussalam" jawab Yesi dan Viona bersamaan.


"Aku antar ya" lanjut Viona.


Dengan buru-buru Viona jalan mendahului Ahmad, ia mengantisipasi jika kakaknya akan bertanya tentang kotak tersebut.


"Mad, aku berterima kasih sudah membawa cincin itu tapi jangan juga depan kak Yesi" Ujarnya sambil jalan diikuti oleh Ahmad.


"Emang kenapa?"


Ahmad sedikit bingung dengan ucapan Viona.


"Pasti ditanya Mad, ya Allah"


"Tinggal jelaskan, selesai"


Viona membalikkan badan, "Itu tidak semudah yang kamu bayangkan, Mad"


"Bayangkan yang mudah, jangan yang sulit"


Viona tidak ingin menjawab lagi, semakin direspon ucapan Ahmad makin membuat hatinya kesal.


"Pulang Mad, nanti aku makin jengkel sama kamu" Ujar Viona setelah membukakan gerbang dan mempersilahkan Ahmad untuk lewat depannya.


Ahmad hanya berdiri dan berdiam diri sambil memeluk badannya


"Mad, pulang!"


Dengan santai Ahmad menjawab, "Ok"


Ahmad masuk dalam mobil dan Viona menutup gerbang dengan keras sehingga besi gerbang bunyi dan Ahmad dalam mobil kaget karena mobil dan gerbang sangat dekat.


Ahmad menurunkan kaca mobilnya.


"Viona, kamu bikin kaget. Astaghfirullah" Teriak Ahmad dalam mobil.


Viona membuka sedikit gerbang hanya mengeluarkan kepalanya untuk menjawab Ahmad.


"Masih muda suka kagetan, heran!!" jawab Viona lalu kembali menutup gerbang rumahnya dan pergi.


Sedangkan Ahmad hanya geleng kepala heran melihat tingkah Viona, mau mengomel pun percuma karena yang bikin ulah dipastikan sudah masuk dalam rumah.


Viona masuk dan menutup pintu, ia kira kakaknya sudah pergi ternyata masih duduk anteng ruang tamu.


"Sini dek" Panggil Yesi sambil menepuk sofa disampingnya. Ia sangat penasaran dengan kotak yang diberikan Ahmad untuk Viona itu.


"Aku haus" Kilah Viona sambil jalan lewat depan kakaknya.


"Alhamdulillah, selamat aku. Besok aku kembalikan cincin ini" Batin Viona sambil jalan menuju kamarnya.


Sore ini bagi Viona sangat melelahkan, ditambah Ahmad membawa cincin Ray dirumahnya membuat kakaknya Yesi penasaran. Ia bingung, cara menjelaskan tentang cincin tersebut kepada kakaknya dan sudah tentu ibunya pasti tahu juga.


"Saat badan lelah, disitulah kita rindu dengan pulau kapuk" Viona membatin sambil memejamkan mata menikmati empuknya tempat tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2