
Pagi buta Ray bermalas-malasan diatas tempat tidur. Menutup diri dengan selimut tebal membuat Ray terbuai dan masuk ke alam mimpi lagi.
Getaran ponselnya diatas nakas tidak membuat Ray terusik, si penelepon pun tidak pantang menyerah dan terus menelfon.
Tepat pukul 9 pagi, Ray baru bangun. Merenggangkan otot-ototnya sebagai aktivitas awalnya. Setelah nyawanya terkumpul dan merasa badannya enakan ia turun dari tempat tidur.
Manusia pada umumnya bangun pagi, apalagi anak muda pertama yang dilihat adalah ponselnya.
"Mami menelepon, tumben telepon pagi" Gumam Ray lalu menghubungi balik Maminya.
Telepon kedua kalinya diangkat oleh Ray dengan pembahasan yang santai seperti biasa, sebelum Maminya kembali menanyakan Viona.
"Lex, Viona itu ibadahnya dimana?"
Ray mendengar pertanyaan seperti itu dari Maminya awalnya bingung tapi biar bagaimanapun cepat atau lambat akan mengatakan yang sebenarnya.
"Dia gak ibadah Mi"
"Maksudnya gak ibadah gimana?, Mami gak ngerti"
"Dia muslim Mi" Jawaban Ray membuat Maminya terdengar jelas dalam telepon kaget.
"Jadi?.. sudah Lex putuskan"
"Mi, tapi aku cinta Viona"
"Memang tidak ada wanita lain, selain Viona?" Tanya Maminya lagi.
"Banyak tapi Viona beda dengan yang lain Mi"
"Mami gak mau tau" Ucapan Maminya dalam telepon itu final dan mematikan sambungan telepon.
Ray memutuskan untuk duduk dibibir ranjang terlebih dahulu, bikin mumet yang ia alami. Mencari solusi terbaik itu pilihan Ray.
Ia kembali mengotak-atik ponselnya mencari sebuah kontak dan berhenti di nomor ponsel sepupunya. Ia telepon tersambung tapi dijawab.
"Kak Marcel, super sibuk amat" Gumamnya dan kembali menelepon tapi hasilnya tetap sama.
Ray beralih ke kontak Alan, sebagai sahabat Alan berharap bisa memberinya solusi.
"Halo, Lan dimana?" Tanya Ray.
"Biasa di resto, datang disini bawa dengan Viona" Ujar Alan dalam telepon itu.
"Gak bisa sekarang, aku punya masalah Lan"
"Tunggu.. tunggu, kamu punya masalah, masalah apa? Jangan bilang bermasalah dengan keluarga Viona. Aduh Ra, belum jadi mantu sudah di black list duluan. Bisa-bisa aku yang maju nih, hehehe" Canda Alan dalam telepon.
"Sudah?, Bisa sekarang aku yang bicara?" Tanya Ray kepada Alan.
Alan langsung bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri jendela ruangannya itu.
"Ra, ini serius?" Tanya Alan tidak percaya kalau Ray serius dalam ucapannya.
"Serius, kamu aja suka bercanda. Aku pusing nih Mami udah tau kalau Viona muslim"
"Bagus dong, terus?" Tanya Alan penasaran.
"Terus gimana?" Tanya balik Ray yang gagal paham.
"Gimana respon Mami mu pas tau Viona muslim, gitu loh maksud aku Ra" Ucap Alan dengan menekan setiap kalimatnya.
"Gak tau lah Lan, Mami tadi langsung matiin telpon" Ujar Ray dengan nada lemah.
"Semangat bro, pejuang cinta" Alan menyemangati Ray, namun tidak berpengaruh baginya.
"Sudah dulu ya Lan, sepupu aku menelepon" Pamit Ray lalu memutuskan sambungan telepon.
Ujian cinta Ray dimulai dan baru awal ia sudah dibuat pusing. Ray kembali menelfon sepupunya Marcellea.
"Halo kak" sebagai ucapan awal Ray dalam telepon.
"Halo juga, Kenapa Lex?" Tanya Marcellea.
"Aku bingung kak, Mami sudah tau kalau Viona seorang muslim"
"Terus Mami gimana pas tau dek?" Tanya Marcellea khawatir akan membenci Ray setelah mengetahui Viona muslim.
"Jadi Mami gimana Lex, apa Mami tau kalau kamu serius dengan Viona?" Tanya Marcellea penasaran.
"Mungkin kak, tiba-tiba matiin sambungan telepon tadi" Jelas Ray membuat Marcellea paham kalau itu suatu penolakan.
"Sabar ya, doakan Mami semoga setuju nanti" Nasehat Marcellea untuk sepupunya.
"Gimana kalau tau Viona dijodohkan oleh mamanya, makin kacau ini anak" batin Marcellea.
"Terima kasih kak, by" Ucap Ray lalu mematikan sambungan telepon.
🌺
Siang ini Ray, seperti biasa dibengkel. Ia fokus dibengkel sebelum melanjutkan usaha Papinya. Pikiran Ray saat ini terbagi-bagi, tapi yang terpenting urusan Maminya.
Ray mencari cara agar Maminya bisa menerima Viona dengan baik, meskipun ia rasa sangat sulit.
"Tanyanya ke siapa, Alan malah banyak bercanda" Gumam Ray sembari berpikir.
"Pusing kalau gini" ujar Ray lagi.
Masih sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Seperti biasa kalau yang ketuk pintu berarti orang yang kerja dan biasanya kepercayaan Ray.
"Masuk" Ray mempersilahkan orang yang mengetuk pintu.
Pintu terbuka perlahan dan terlihat disana ada anak kecil pakai seragam sekolah.
"Siapa pak?" Tanya Ray karena ia bersembunyi dibelakang kepercayaan Ray.
"Yang sering dibawa mbak Viona pak" Jelas orang tersebut dan Ainun dengan perlahan memunculkan badannya.
__ADS_1
"Om baik" panggil Ainun sambil melambaikan tangan.
"Halo sayang" Jawab Ray sambil menghampiri Ainun yang berada di pintu. "Datang dengan siapa?" Sambungnya.
"Tu" Tunjuk Ainun.
Ray mengikuti arah telunjuk Ainun dan disana terlihat perempuan datang berlenggak lenggok dengan senyum disudut bibirnya yang tidak luntur. Cantik, memang perempuan yang antar Ainun itu cantik, tidak munafik mata laki-laki mengatakan kalau dia bagai bidadari bumi.
"Hy kenalkan aku Gebi teman Viona, bibi dari Ainun" Jelas Gebi sambil mengulurkan tangannya didepan.
"Aku Ray" Respon Ray setelah menyambut uluran tangan itu.
Dimasa berjabatan tangan, kamera pemantau ikut berjalan. Satu gambar telah berhasil diambil oleh seseorang.
"Silahkan masuk" Ray mempersilahkan mereka duduk dalam ruangannya.
Gebi tidak banyak bicara hanya melihat Ray dan Ainun begitu akrab.
"Kenapa sih laki-laki yang menyukai Viona semua pria mapan dan ganteng pula" batinnya sembari senyum.
Keakraban itu membuat jiwa Gebi yang tidak terlalu suka anak kecil tersentuh dengan perlakukan Ainun kepadanya.
"Bibi, bibi Viona kapan datang?" Tanya Ainun.
"Nanti bibi telepon ya" Jawab Gebi.
"Makasih bibi, Ainun lanjut main dengan om baik ya" Pamitnya dan Gebi hanya mengangguk iya.
Disisi lain, Viona panik disekolah ponakannya karena setelah sampai kata guru sekolahnya Ainun sudah dijemput.
"Bu, pernah jemput Ainun sebelumnya gak bu?"
"Itu juga kurang tau mbak, coba tanya satpam"
Viona langsung menuju tempat dimana satpam berada.
"Pak, lihat anak ini? Kata ibu gurunya ada yang jemput" Jelas Viona.
"Iya mbak, katanya teman mbak dan mbak yang suruh" Jelas satpam.
"Gak pernah pak, ya Allah" Viona makin panik ditambah kalau kakaknya tau.
Viona mau tidak mau menelfon Ahmad dan Ray untuk minta tolong mencari Ainun. Pikirannya saat ini buntu, yang ia pikirkan bagaimana Ainun ditemukan sebelum kakaknya menelfon.
"Halo Mad, aku minta tolong bantu carikan Ainun, kata satpam ada yang jemput Ainun di sekolahnya, assalamualaikum" Ucap Viona lalu mematikan sambungan telepon.
Kembali Viona mencari kontak Ray dalam ponselnya.
"Halo Ray bisa minta tolong gak?" Tanya Viona dengan panik.
"Iya, mina tolong apa?" Tanya balik Ray.
Terdengar jelas nada panik Viona, "bantu aku cari Ainun" Ujar Viona.
Ray seketika melihat Gebi sekilas dan mengarahkan ponselnya ke Ainun.
Ainun langsung memanggil nama bibinya, "bibi, aku di om baik"
Viona mendengar suara ponakannya itu lega dan marah, kini Viona salah paham kepada Ray.
Gebi seakan bertingkah santai dan pamit ingin ke toilet sebentar.
"Bibi ke toilet dulu sebentar ya, saya titip ponakan teman saya" Ujar Gebi. Ia keluar dari ruangan itu dengan buru-buru.
Viona kembali menelfon Ahmad setelah mendengar Ainun ada di bengkel Ray.
"Assalamualaikum Mad, kamu dimana?" Tanya Viona karena ia takut Ahmad sekarang sudah mencari Ainun menggunakan selembar foto yang sengaja Viona kirim.
"Wa'alaikumussalam, aku sudah dijalan. Kamu dimana? Bawa motor atau mobil sekarang?" Tanya Ahmad bertubi-tubi, ia khawatir jika Viona mengendarai kendaraan dalam keadaan panik biasa membahayakan dirinya.
"Bawa motor Mad. Mad lanjut kerja saja, Ainun ternyata ada dibengkel Ray" Ujar Viona memberitahu Ahmad.
"Kok bisa?" Tanya Ahmad heran.
"Gak tau lah Mad, aku aja heran. Aku juga penasaran siapa yang bawa Ainun di bengkel Ray dan mengaku sebagai teman aku" Jelas Viona.
Ahmad merasa ada yang aneh dengan kejadian ini, "Vio, simpan aja dulu motor mu, aku jemput sekarang, Ok. Assalamualaikum"
Ahmad sengaja tidak menunggu Viona menjawab salamnya baru ia matikan sambungan telepon, karena ia sudah tau pasti Viona tidak mau.
Sedangkan Viona, hanya menghela napas pasrah mau menolak tidak mungkin itu terjadi karena sambungan telepon sudah mati.
"Ahmad nih, lama-lama suka ambil keputusan sendiri" Gumam Viona dan membawa motornya dan terlebih dahulu izin ke satpam sekolah Ainun.
"Pak, titip motor ya pak, mau jemput Ainun dulu" ujar Viona dengan sopan.
"Iya mbak, silahkan nanti saya jagain sampai mbak balik disini" Jawabnya sembari senyum.
"Terima kasih pak sebelumnya, saya pamit ya pak" Ujar Viona lalu pergi menuju jalan raya karena ia perkirakan Ahmad sudah dekat.
5 menit menunggu, mobil Ahmad sampai dan langsung klakson lalu menurunkan kaca mobil.
"Vio masuk" panggil Ahmad.
Viona menatap Ahmad baru masuk dalam mobil.
"Gak usah teriak juga kali, aku belum tuli" Balasan Viona membuat Ahmad ketawa.
"Hahaha, santai saja kali Vio. Kalau marah temannya setan"
"Iya, kamu setannya" Jawaban kesal dari Viona.
"Hahaha, berarti selama ini kamu makan eskrim buatan setan dong" Ahmad keceplosan.
"Itu eskrim buatanmu?" Tanya Viona tidak percaya.
"Kenapa?" Tanya balik Ahmad, "berharap itu buatan aku dan mama kamu langsung menikahkan kamu dengan aku, gitu?" Tanya balik Ahmad
__ADS_1
"Heeee, aku juga gak mau kali berjodoh dengan kamu. Ucapan mama aku itu karena kesal saja" Jawab Viona tidak mau kalah. Ia tiba-tiba kepikiran dengan perjodohan dirinya dan ponakan teman mamanya.
"Kalau bahas itu Mad, jadi ingat dijodohkan dengan orang yang aku sendiri tidak tau asal usulnya dan yang terbayang di kepalaku saat ini..." Ucap Viona dipotong cepat oleh Ahmad.
"Apa?"
"Udah beruban Mad. Mana ada laki-laki mau dijodohkan kalau masih muda, iya kan?"
"Gak menutup kemungkinan juga, banyak tuh yang masih muda di jodohkan lalu menikah dan bahagia" Jelas Ahmad seakan tidak terima apa yang viona ucapkan.
"Sekarang itu zaman modern bukan zaman Siti Nurbaya"
"Kalau ingin menjaga diri dari pacaran"
"Oh iya juga ya, kok aku gak kepikiran ya.. Mad bantu aku untuk menghilang sebelum perjodohan itu"
Ahmad geleng kepala tidak habis pikir dengan pemikiran Viona saat ini.
"Apa gak bisa coba dulu, siapa tau memang jodoh"
"Mad, gak bisa. Aku belum siap" Ujar Viona lagi. "Bengkel depan Mad" Sambungnya.
"Ok" Jawab Ahmad lalu membawa mobilnya masuk di area halaman bengkel tersebut.
Viona turun dari mobil dan masuk dalam bengkel tersebut. Karyawan bengkel Ray langsung menyapa ramah Viona.
"Assalamualaikum mbak Viona"
"Wa'alaikumussalam mas, ada bos kalian?" Tanya Viona lagi dan Ahmad hanya nyimak dan ikut dimana Viona pergi.
"Mbak Viona makin cantik aja setelah berhijab" Timpal salah satu karyawan bengkel tersebut.
Viona hanya membalasnya dengan seulas senyum.
"Mbak Viona kenapa baru datang lagi?" Tanya salah satu diantara mereka lagi.
"Apa Viona sering disini?" Batin Ahmad.
"Langsung diatas saja mbak, sudah ditunggu" Ucap kepercayaan Ray menghampiri Viona.
"Oh, terima kasih" Jawab Viona, "Ayo Mad" Sambungnya mengajak Ahmad.
Tidak menunggu waktu lama, Viona dan Ahmad sudah depan ruangan Ray. Viona mengetuk pintu lalu masuk.
Ainun yang sedang main dengan Ray langsung lari memeluk Viona.
Viona menyambut pelukan Ainun, seketika Viona menangis.
"Jangan kayak gini dong sayang, bibi takut. Bibi kira kamu hilang tadi" Ucap Viona sambil menatap wajah ponakannya itu.
"Bibi mau bicara apa sama ibu kamu kalau tanya bibi" lanjut Viona.
"Siapa yang bawa Ainun disini?" Tanya Viona kepada Ray.
"Perempuan, katanya teman kamu" Jelas Ray.
"Siapa?" Tanya balik Viona.
"Aku gak tau, tiba-tiba ada yang ketuk pintu ternyata Ainun" Jelas Ray.
Viona mencoba mengingat-ingat teman-temannya satu persatu, ia rasa sangat tidak mungkin.
"Ray kamu foto orangnya?" Tanya Viona lagi.
"Untuk?, Dia sendiri mengaku seperti itu dan dia lagi toilet kok" Jawab Ray.
"Maaf nih, ciri-ciri orangnya tinggi, kulit sawo matang, berambut panjang lumayan cantik" Jelas Ahmad.
"Hahaha, kalau mau bilang cantik, bilang aja cantik jangan pakai embel-embel lumayan" Timpal Viona setelah menertawai Ahmad.
"Jaga perasaan jodoh, jadi tetap jodoh sendiri yang nomor satu" Jelas Ahmad.
"Basi lah tu" Jawab Viona tidak percaya, "Sayang pulang yuk nanti ke sorean dimarahi lagi kita sama ibu dan nenek" Ujar Viona kepada Ainun.
"Satu kali main lagi bibi, baru kita pulang" Respon Ainun.
Viona pasrah mendengar jawaban sang ponakan.
"Ok, lima menit aja ya"
Ainun mendengar itu langsung senyum kepada Viona.
"Inilah salah satu alasan aku belum siap menikah dan punya anak"
"Kenapa?" Tanya Ray dan Ahmad bersamaan.
"Kenapa sih ini orang? Kepo" Batin Ray.
"Belum siap repot"
"Kenapa sih pada kepo?" Tanya balik Viona, "ayo sayang pulang. Mad masih mau disini?" Tanya kepada Ahmad.
"Makasih Ray, gak tau deh kalau itu orang gak bawa Ainun disini" Ucapan tulus Viona pada Ray.
"Sama-sama Vio" Jawan Ray dengan lembut, "Viona aku cemburu" Sambungnya dengan lirih.
"Kenapa?" Tanya Viona ingin memastikan.
"Hehe, gak. Pulang sana nanti kalau ketahuan kak Marcel dimarahi pula"
Ray mengalihkan dengan candaan, Viona pun hanya senyum mendengar itu.
"Kami pamit" Ahmad memotong pembicaraan.
Ray melirik Ahmad sekilas dengan malas dan kembali fokus kepada Viona dan Ainun.
"Kalian hati-hati, ingat!!" Ray mewanti-wanti Viona dan Ainun.
__ADS_1
"Iya, by" Ujar Viona lalu mereka pergi.