
"Tidak" Jawab Ray singkat lalu melihat Mami dan Papinya, "to the point aja Mi Pi" sambungnya.
"Gak bisa, itu yang lakukan hanya kamu" Jawab Maminya, "iya kan pi?" Sambungnya dengan bertanya kepada suaminya.
"Iya" Jawab Papi Ray.
Ray mendengar itu dan mengerti otomatis salah tingkah sedangkan Viona biasa saja malah melihat orang tua Ray senyum, dia pun ikut senyum. Simpel hidup Viona.
"Sayang.." panggil Mami Ray kepada Viona.
Ray seketika membulatkan matanya kepada Maminya.
"Hmmm, baru gitu aja sudah marah" Goda Maminya.
Ray menoleh ketempat lain menarik napas sekilas dan membuangnya dengan cepat.
"Mi, kalau sudah sampai Korea kabarin ya" Ray mengalihkan pembicaraan.
"Iya, bu Pak. Kayak aku tuh, kalau bunda pergi dan terlambat pulang. Ketar ketir aku dirumah, takutnya kenapa-napa dijalan" Tutur Viona dan itu mendapat tatapan lembut dari Mami Ray.
"Terima kasih" Ucap Mami Ray dan meriah tangan Viona.
Viona awalnya kaget karena tiba-tiba tangannya digenggam oleh Mami Ray, tapi setelah melihat senyum yang terukir disudut bibir Mami Ray itu, ia pun ikut senyum.
"Kenapa bu?" Tanya Viona dengan segan.
"Mami senang bertemu dengan mu, semoga kita bisa bercerita lagi dilain waktu" Ucap Mami Ray dan Viona senyum terlebih dahulu sebelum menjawab.
"Ada ponsel untuk video call kalau udah di Korea"
"Benar juga. Hehehe, kenapa Mami baru kepikiran yaaa.." jawabnya sambil melirik Ray.
"Mami mau tanya nih, supaya Mami juga tenang di Korea nanti" Ujarnya lagi.
Ucapan Maminya itu membuat Ray deg degkan.
"Mi, gimana kalau aku bayar dulu" Ucap Ray memotong.
"Iya" Jawab Mami Ray dan kembali fokus kepada Viona.
Ray melihat itu semakin gelisah, terasa hawa restoran itu panas seketika.
Kegelisahan Ray disadari oleh Papinya.
"Kenapa Ray?" Tanyanya.
"Tidak Pi, hanya ruangan ini panas. Padahal ini termasuk privat" kilah Ray.
"Tidak, Papi rasa seperti ini sejak masuk diruangan ini" Jawab Papinya santai.
"Papi gak ngerti bangat" Monolog Ray dan bangkit dari kursi menuju kasir untuk bayar.
Papi Ray melihat anaknya bertingkah seperti itu heran.
"Anak muda sekarang aneh" Gumamnya sedangkan istrinya masih asyik dengan Viona.
Viona kadang dibuat bingung dengan pertanyaan Mami Ray, namun ia berusaha untuk jawab sebisa mungkin kalau ia mengerti.
"Kalau pria idaman Viona itu seperti apa?" Tanya Mami Ray.
Viona hanya senyum mendengar itu, mau menjawab tapi tidak memungkinkan.
"Kok malah senyum?" Tanya Mami Ray heran.
"Bingung bu" Jawab Viona pelan.
"Gak usah bingung, santai saja" Ucap Mami Ray lagi mencoba untuk mencairkan suasana.
"Seperti suami saya nanti bu" Jawab Viona sembari memajukan badannya kedepan lalu ia ketawa.
"Benar, mami setuju" Respon Mami Ray dengan cepat dengan wajah serius.
"Kalau Alex?" Tanyanya lagi.
"Alex atau Ray bu?" Tanya Viona. Ia kadang masih bingung dengan nama itu. Karena ia biasa dengan sebutan Ray.
"Alex itu panggilan dalam keluarga, tapi kalau Ray panggilan dari teman-temannya" Jelas Mami Ray. "Tapi kalau cewek Alex dulu panggilnya Ra. Kadang Mami tidak mengerti dengan anak muda sekarang" Sambungnya.
"Ibu, ada-ada saja. Yang terpenting orang yang sama bu" Respon Viona lagi.
"Benar juga, kok banyak samaan dengan Mami yaa... Hmm ada tanda-tanda sepertinya" Ucap Mami Ray lagi yang membuat Viona seketika bingung.
"Tanda-tanda apa itu bu?"
"Tanda-tanda kalau kita berdua tidak bisa jauh-jauhan, tidak lupa kan kalau di Video call pernah bilang pengen punya anak perempuan?" Tanyanya.
"Masih ingat, hehehe" Jawab Viona lagi.
Papi Ray melihat itu senang dan tenang karena melihat istrinya begitu dekat dengan gadis yang nantinya akan menjadi mantunya.
"Serunya!" Ucap Papi Ray.
Viona dan Mami Ray menoleh bersamaan, "ajak Alex cerita dong pi" jawab Mami Ray.
"Ray ke kasir tapi belum balik sampai sekarang" jawabnya.
"Masa sih pak, sudah pulang mungkin" timpal Viona tidak percaya kalau Ray hanya bayar harga makanan mereka belum balik sampai sekarang.
"Kebiasaan sudah seperti itu, main pergi saja" ujar Papi Ray lagi.
"Gak mungkin dong pi" Jawab Ray seketika sudah kembali duduk.
"Eehh, ini anak bikin kaget, dari mana?" tanyanya.
"Toilet Pi" Jawab Ray dan diangguki oleh Papinya.
"Pembahasan belum selesai?" Tanya Ray lagi.
"Belum, mendapatkan yang cocok dengan hati itu susah, setelah dapat ingin tidak mau jauh-jauh" Ujar Mami Ray sembari senyum kepada Viona, "lanjut Viona" Sambungnya.
__ADS_1
"Iya bu, jadi..." Ucap Viona terpotong oleh teriakan seorang perempuan dari jauh.
"Tante, kapan ke Indonesia?" Tanyanya setelah menghampiri mereka bertiga.
Ray melihat itu langsung bangkit dari duduknya, "percuma" Gumamnya.
Viona pun menarik pelan tangannya menjauh dari genggaman tangan Mami Ray.
"Gladis, kesini juga?" Tanya Mami Ray.
"Iya Tante, tadi ketemu Ray didepan" jawabnya sembari melirik Ray dan senyum.
"Oh iya, kenal kan ini Viona" Ucap Mami Ray.
"Oh ini Viona, yang perbaiki motornya di bengkelmu kan Ra?" Ucapnya berujung dengan bertanya kepada Ray.
"Iya" jawab Ray dan kembali duduk seperti semula.
Viona hanya diam menyaksikan keakraban Gladis dan Mami Ray.
"Ternyata Mami Ray memang baik semua orang.... Akhh, mikirin apa sih kamu Viona" monolog Viona.
"Duduk dulu" Ujar Mami Ray lagi pada Gladis.
"Baik Tan.. oh iya Tan, aku itu tau tempat butik lengkap dan bagus. Mau gak Tan, kita kesana?" Tanyanya.
"Sepertinya gak bisa, karena sekarang udah sore" Tolak halus Mami Ray.
"Gitu ya Tan, kapan-kapan kita belanja bareng" Ucap Gladis lagi menunjukkan kedekatannya dengan Mami Ray.
"Boleh" Jawabnya singkat dan Gladis mengangguk sembari senyum seramah mungkin kepada Mami Ray.
Gladis pun menoleh kearah Viona, "sudah lama datang?" Tanyanya.
"Mmmm,. lumayan" jawab Viona.
"Oh gitu seru kan disini?" Tanyanya dengan nada tidak suka tapi lembut.
"Iya, seru dari tadi kami cerita" Jawaban polos dari Viona. Karena memang itu yang terjadi meskipun Papi Ray tidak terlibat dalam diskusi mereka.
"Memang banyak cewek yang nyaman didekat Ra" Ucap Gladis lagi.
Ucapan itu bukan hanya Viona yang tersinggung tapi Ray dan orang tuanya pun ikut tersinggung.
Mami Ray langsung memberi kode dengan kedipan mata pada anaknya itu dengan sedikit mencubit pinggang suaminya.
"Pulang" Gumamnya.
Papi Ray pun bangkit dari kursinya, "sepertinya Papi dan Mami harus pulang sekarang, mau siapkan barang untuk dibawa dikorea" Kilahnya.
"Mami hampir lupa, ya udah Pi kalau gitu" Ucap Mami Ray pura-pura.
"Mami dan Papi duluan pulang yaa. Lex, jangan lupa antar sampai rumah dengan selamat" Ucap Maminya lalu pergi.
Ray pun langsung berdiri sedangkan Viona hanya mendongak melihat orang disekitarnya yaitu Ray yang berdiri dan Gladis yang ikut bangkit dari kursinya juga.
Viona mengerutkan keningnya, "ini sudah selesai kan?" Tanyanya membuat Ray menatapnya lama dengan memelas.
Ekspresi biasa Viona terlihat jelas di wajahnya, "oke" jawabnya sembari mengambil tasnya dan kunci mobil dalam tasnya.
"Aku antar" tawar Ray.
"Hayoo" Jawab Gladis dengan cepat dan mendekat kearah Ray dan mengaitkan tangannya dilengan Ray.
Viona pun jalan meninggalkan Ray dan Gladis menuju parkir mobil, sampai disana masuk dan membawa mobilnya dengan santai sampai rumah.
Sedangkan Ray terpaksa mengantar Gladis ke rumahnya. Dalam mobil Gladis berusaha untuk komunikasi dengan Ray seperti dulu.
"Ra, Viona itu teman kamu?" Tanyanya.
"Memangnya apa urusannya dengan kamu?" Tanya balik Ray.
"Santai dong, hanya tanya" jawab Gladis lagi dengan santai tapi dalam hatinya sudah berapi-api ingin marah.
Ray kemudian membawa mobil dengan diam dan pandangan ke depan.
Gladis yang tidak dilirik oleh Ray sedikit pun kembali membuka suara dengan nada kesal dan sedih.
"Ra, segitu jijikkah aku sehingga melihat wajahku saja tidak mau?" Tanyanya.
Ray diam, yang ronda dalam pikirannya saat ini adalah Viona.
"Gimana dengan Viona ya" Gumamnya pelan yang masih bisa ditangkap oleh alat pendengaran Gladis.
"Ternyata dalam pikiran mu perempuan tadi" Ucap Gladis dengan senyum kecut.
Ray lagi-lagi tidak menghiraukan ucapan Gladis itu.
"Depan Ra" Ucap Gladis dan seketika mobil Ray berhenti tepat depan sebuah rumah minimalis tapi elegan.
"Sejak kapan pindah?" Tanya Ray.
Meskipun sudah putus tapi rasa pedulinya pada Gladis itu masih ada, yang membuat Ray bad mood itu tingkah Gladis yang suka memaksa orang sesuai kehendaknya.
"Ini dekat dengan gereja" Jawab Gladis lalu turun dari mobil dan seketika Ray terdiam dalam mobil sebelum memutar balik mobilnya untuk kembali dirumah yang sudah ditunggui oleh orang tua dan para keluarga besar.
Kepergian Ray itu Gladis pantau lewat jendela rumahnya.
"Semoga Ra, kamu kembali padaku" monolognya lalu ia kembali dalam rumah itu untuk.
🌺
Malam menjelang, tidak biasanya Ainun dan Viona diam-diaman di meja makan. Bunda Heti membawa bakwan yang baru saja ia bawa dari dapur.
"Rifal, Lea mana? Gak ikut makan bersama?" Tanya ibunya.
"Gak enak badan Lea bun" jawab Rifal santai.
"Bawa di RS dong, udah berapa bulan?" Tanya Bunda Heti.
__ADS_1
"Sekitaran 6 bulan bun, masih lama itu hanya kecapekan"
"Sering-seringlah ke dokter" Ucap bundanya.
"Dua hari kontrolnya bun" jawab Rifal lagi dan tiba-tiba kepikiran dua orang yang suka ribut dimeja makan.
"Oh iya bun, Viona dan Ainun mana?" Tanyanya.
"Dari tadi gak dengar tuh suara teriakan Viona dan Ainun" Jawab Bunda Heti.
"Rifal cek dulu ke kamar Viona" pamit Rifal lalu jalan menuju kamar Viona.
Ketukan pertama tidak terusik, ketukan kedua hanya direspon dengan suara tidak karuan. Terpaksa Rifal memegang gagang pintu dan mendorong pintu tersebut.
" Gak di kunci" gumam Rifal dan masuk dalam kamar.
"Astaghfirullah" ucap Rifal.
Rifal kaget dengan model tidur Viona dan Ainun. Gaya yang tidak karuan mereka munculkan. Dimana Viona tidur terlentang dan kaki Ainun berada diatas lehernya.
Rifal memperbaiki posisi tidur Ainun dan membangunkan adiknya itu.
"Vio, Viona.. Ghaidah Viona Syafiyah, bangun" panggil Rifa.
Viona terlonjak kaget dengan memegang kepalanya.
"Akhh" Viona sakit kepalanya dan melirik jam bekernya di atas nakas.
"Haaa, ketiduran" Gumamnya dan jalan menuju kamar mandi untuk cuci muka terlebih dahulu agar terlihat cerah tidak lusut.
"Kak kalau bangunin itu pelan dong, jangan teriak. Mau gak kalau anak kakak diteriaki seperti tadi?" Viona sedikit kesal pada kakaknya itu.
Rifal cengengesan, "hehehe.. salah sendiri jam makan di malah diisi dengan tidur"
"Gak juga gitu kali" Viona tidak terima.
"Ayo, kita makan. Bunda sudah menunggu dimeja makan" Ucap Rifal lalu pergi.
Viona dengan cepat naik diatas tempat tidur dan melayangkan bantal tepat kearah Rifal.
"Bug"
"Sakit dek" Keluh Rifal.
"Salah sendiri" Ucap Viona lalu jalan lewat depan kakaknya.
Sedangkan dikediaman Ray tidak kalah jauh dengan keluarga Viona yaitu sedang makan malam.
Namun, bedanya orang tua Ray seakan memberi tanda kepada anak satu-satunya.
"Viona itu masih sekolah atau sudah selesai?" tanya Mami Ray.
"Sudah selesai. Itu sebenarnya lagi cari kerja tapi karena kakaknya lagi ikut suaminya, jadi fokus jaga ponakannya dulu" jelas Ray seperti apa yang ia tau.
"Jaga ponakan aja sampai fokus gitu ya pi, gimana jaga anak sendiri?" Tanya Mami Ray lagi.
"Pasti, lebih lagi dong.. iya kan Lex?" Tanya Papinya lagi.
"Iya lah, kan anak sendiri" Jawab asal Ray lagi. Ray tidak mengerti maksud dari orang tuanya itu.
"Lex, rencana nikah itu mau umur berapa?" Tanya Maminya lagi.
Ray mencoba mencerna ucapan Maminya. Ia mengerti maksud dari kalimat itu, bukan tidak mau membahas tentang nikah itu tapi masalahnya kali ini bukan tentang restu tapi keyakinan.
"Mi, Alan katanya mau mengantar juga di bandara" Ray membahas yang lain, mencoba untuk mengalihkan.
"Boleh, sekalian ajak Viona juga" Ucap Maminya lagi.
"Bisa saja kan Viona sibuk mi"
"Gak lama tuh ke bandara, lagian dia aktif organisasi keagamaan juga gak?" Tanya Maminya lagi.
"Tidak kayaknya mi, karena dia bilang fokus jaga ponakannya" Jawab Ray asal.
"Baik bangat anaknya, hmmm sekali-kali ajak ke Korea juga" Timpal Papi Ray.
Ray seakan pusing mendengar ucapan orang tuanya hanya Viona dan Viona. Sejujurnya ia senang, tapi ia masih cari jalan tengah tentang hubungan mereka sebelum Mami dan Papinya tau kalau dia seorang muslim.
"Mi, gimana kalau Ray memutuskan untuk menikahi gadis berbeda keyakinan?" Tanya Ray dengan hati-hati.
Papi Ray langsung berdiri, "Apa-apaan Lex, sudah ada Viona yang seiman dengan kita masih mau cari lagi yang lain. Ingat sampai kapan pun Papi tidak setuju kalau kamu menikah dengan yang tidak seiman" nada marah terdengar jelas disetiap kalimatnya.
Mami Ray pun, mendengar penuturan pertanyaan anaknya yang awalnya wajahnya cerah selalu dihiasi senyuman seketika berubah.
"Cukup Mami kehilangan Marcel, jangan dengan anak Mami satu-satunya" Ucapnya.
"Tuhan, kenapa semua menentang agamanya tapi menyukai kepribadian Viona" monolog Ray lagi.
Ray mencoba untuk menggali lagi bagaimana reaksi dan tanggapan orang tuanya.
"Gimana jika itu Viona?" Tanyanya lagi.
"Alex, kalau memang mau mengikuti Marcel bilang agar Papi dan Mami mu menghapus namamu dalam kartu keluarga dan membuat surat pernyataan bahwa kamu sudah meninggal" kali ini ucapan Papi Ray dengan nada gemetar menahan emosi.
"Sabar pi" Ucap Mami Ray sambil mengusap punggung suaminya dan melihat anaknya itu.
"Apa yang kamu maksud Alex, jika benar Viona itu berbeda dengan kita, kenapa kamu bawa dihadapan Mami dan Papimu?" tanya Mami Ray dengan mata sudah berkaca-kaca.
Ray menatap wajah Maminya sekilas dan senyum.
"Kenapa senyum-senyum seperti itu?" Tanya Maminya lagi.
"Bercanda, hehehe"
Ray mengakhiri ucapannya dengan tawa lalu ia lari meninggalkan orang tuanya, dari jauh Ray mendengar omelan orang tuanya terutama Maminya.
"Awas kamu Lex, baut Mami dan Papi marah. Pokoknya tidak akan Mami dan Papi maafkan sampai kamu membawa Viona mengantar kami ke bandara" Ucapan Maminya itu sangat jelas terdengar
Ray mendengar ucapan Maminya itu tersenyum getir. Ia duduk dikursi dekat kolam ikan dan memberi makanan pada ikan-ikannya itu.
__ADS_1
Pikiran Ray kacau. Jika ia membawa Viona ke bandara nanti maka ia sama saja membuat orang tuanya berharap penuh kepada Viona.
"Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan" Gumam Ray sembari membuang makanan ikan asal dalam kolam itu.