Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
13. Benteng yang Tinggi


__ADS_3

Pagi ini Alan lebih awal bangun dari biasanya, pukul 7 pagi sudah rapi. Alan tinggal seorang diri di apartemen jadi ia bebas kemana saja ia pergi. Sesuka hatinya.


Sambil bersiul mengambil kunci mobil dan tidak lupa memakai jaket. Alan mengendari mobilnya menuju rumah Viona. Ia sedikit ngebut agar tidak terlambat, tapi setelah sampai di depan rumah Viona sudah tidak melihat orang malah gerbang rumahnya tertutup rapat.


Alan kembali mengarahkan mobilnya ke sekolah Ainun. Dan ternyata Ainun baru saja turun dari motor dan Viona mengantar ponakannya itu sampai depan kelas.


Alan menunggu Viona di mobil, ia sengaja berhenti tidak jauh dari gerbang sekolah.


Dari jauh Alan melihat Viona keluar dari gerbang sekolah menggunakan motor. Ia dengan cepat mengikuti Viona dari belakang.


Viona tidak menyadari itu, ia terus mengendarai motornya menuju salah satu perusahaan yang kebetulan dipanggil untuk interview. Dan Alan membututi Viona kemanapun dia pergi.


Sekitar setengah jam Viona keluar dari gedung itu dengan wajah kurang semangat. Alan terus memantau.


Viona kembali membawa motornya ke restoran yang pernah Ray ajak makan bersama ponakannya. Viona masuk didalam dan memesan makanan yang sama dengan tempo hari.


Tidak menunggu waktu lama makanannya pun datang. Viona pertama menghirup aroma dari masakan itu sangat menggugah seleranya.


"Sesuai selera, makasih Ray" gumam Viona lalu ia makan. Rasa lapar hari ini seperti berkali-kali lipat dari biasanya, entah selera makan bertambah atau stres karena lagi-lagi penolakan yang ia terima, makanya ia lampiaskan lewat makanan.


Alan melihat Viona sudah makan, ia pun pura-pura duduk dikursi depan Viona. Dan Alan seakan kaget melihat Viona yang sedang makan.


"Viona" Ucap Alan dengan ekspresi kaget.


"Disini juga?" Tanya Viona dan berhenti makan.


"Seperti yang dilihat saat ini" Ucap Alan dan mengangkat tangannya tanda memanggil waiters.


Waiters datang dengan membawa buku daftar menu restoran tersebut. Alan pun memilih dan memesan makanan disitu dan tidak lupa memesan makanan penutup.


"Sendiri?" Tanya Alan setelah waiters pergi.


"Iya, kamu?" Tanya balik Viona.


"Sama, aku juga sendiri. Bisa gabung satu meja?" Tanya Alan.


"Iya. Silahkan" Ucap Viona dan Alan dengan senang hati langsung pindah meja.


Viona berhenti makan, ia memutuskan untuk makan setelah makanan Alan datang.


"Kenapa gak lanjut makan?".


"Makan sama-sama saja" Jawab Viona dan diangguki oleh Alan.


Momen inilah Alan menggali sedikit kebiasaan Viona melalui pertanyaan.


"Suka makanan di resto ini juga?" Tanya Alan.


"Iya, sepertinya kamu juga suka makanan di resto ini" tebak Viona asal.


"Kalau aku, tergantung. Maksud aku di restoran mana saja yang penting makanan enak, aku oke saja" Jelas Alan.


"Menerima semua ya. Kalau aku susah, gak semua makanan cocok dengan lidah aku" Jawab Viona lagi dengan santai.


Saat mereka cerita pesanan Alan pun datang, waiters kebingungan karena meja tadi sudah kosong.


"Mbak pesanan di meja itu bawa saja disini" Ucap Alan.


"Baik pak" Jawab waiters itu dan menaruh makanan itu diatas meja, "selamat menikmati" sambungnya dengan sedikit membungkuk tanda hormat.


"Terima kasih mbak" Ucap Viona dan waiters itu senyum lalu pergi.


Mereka makan dengan penuh hikmat tidak ada yang mengeluarkan suara sedikit pun.


Dan makanan mereka diakhiri dengan makanan penutup.


"Salah satu favorit aku nih" Ucap Viona sembari menyuapkan makanan itu dalam mulutnya.


"Oh ya" Jawab Alan lagi, ia senang karena salah satu makanan favorit Viona ia tau.


"Iya, ternyata makan ini favorit Ray juga" Jawab Viona yang membuat Alan seketika luntur senyum diwajahnya.


"Ini namanya luka tak berdarah" Batin Alan.


"Oh ya, saya sahabatnya tapi tidak tau kalau itu salah satu favoritnya" Ucap Alan lagi.


"Masa sih?" Tanya Viona tidak percaya.


"Iya, kami kan jarang makan bersama" jawab Alan. "Emang tau dari mana?" Sambung Alan lagi penasaran.


"Pernah makan bertiga dengan Ainun disini, makanya aku kembali disini soalnya makanannya enak" puji Viona.


"Hmmm" respon Alan. Ia malas jika Viona terus menyebut nama Ray di pembicaraan mereka.


"Habis ini pulang?" Tanya Alan.


"Tunggu..., Bentar ya ada telepon masuk" Ucap Viona dan mengambil ponselnya dalam tas yang terus bergetar.


"Halo" Ucap Viona ditelepon dan diseberang telepon terdengar suara kendaraan, "Ray kamu dijalan?" Tanya Viona.


Alan mendengar itu hanya menatap Viona lalu menunduk melihat makanannya sambil ia aduk.


"Iya, kamu dimana?" Tanya Ray diseberang telepon itu sambil mengendarai mobilnya.


"Di restoran" Jawab Viona dan mengarahkan matanya ke Alan, "disini ada Alan juga" sambung Viona sembari senyum.


Ray tiba-tiba rem mendadak dan seketika mobil yang berada dibelakang meneriaki Ray, "wooii, jangan main rem mendadak dong, ingat kendaraan dibelakang mu" teriaknya dan Viona mendengar itu.


"Ray, itu kenapa?" Tanya Viona dan Alan penasaran dan akhirnya bertanya.

__ADS_1


"Ray kenapa?" Tanyanya kepada Viona.


"Aku juga gak tau" Jawab Viona, dan kembali bertanya, "Ray ada apa?" Tanya Viona ditelepon lagi.


"Restoran mana?" Tanya balik Ray yang membuat Viona mengerutkan kening bingung.


"Ditempat itu hari" Jawab Viona.


"Oke" Ucap Ray dan mematikan sambungan telepon sepihak.


"Dimatiin" Ucap Viona sambil melihat layar ponselnya, "gak waras nih Ray" Sambung Viona lalu melihat Alan.


Alan melihat itu tersenyum getir. Harapan tinggallah harapan semata, karena salah satu tanda keakraban seseorang yaitu sudah berani mengatakan hal-hal aneh kepadanya, dimana jika dilakukan pada orang lain akan tersinggung bahkan marah.


"Sudah lama berteman dengan Ray?" Tanya Alan lagi pada Viona.


"Baru.." Jawab Viona dan menoleh ke sumber suara karena ada seseorang yang memanggilnya.


"Viona" panggil Ray dengan napas sedikit ngos-ngosan.


Ray menghampiri Viona dan Alan. Ray langsung duduk di kursi samping Viona.


"Kenapa kayak napas mau putus?" Tanya Viona lagi kepada Ray.


Ray melihat Alan sekilas lalu menoleh ke Viona yang tepat disampingnya itu.


"Karena kamu" Jawabnya singkat.


Alan melihat Ray dan Viona silih berganti, tatapannya begitu nanar.


"Kalian seperti sudah lama saling kenal" Ucap Alan lalu ia diam.


"Baru kok, iyakan Ray?" Jawabannya dan lanjut bertanya kepada Ray.


"Iya" Jawab Ray singkat dan dingin.


"Lepaskan untukku Ray, aku pamit pulang" Ucap Alan lalu pergi.


Viona hanya menatap kepergian Alan lalu kembali melihat Ray.


Ray menunduk setelah kepergian sahabatnya itu, "maafkan aku Lan, bukan mencoba merebut Viona dari mu tapi aku memang benar-benar suka padanya" monolog Ray.


"Apa maksudnya, siapa yang mau dilepaskan?" Tanya Viona penasaran.


Ray seketika membangunkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Viona.


"Biasa dia seperti itu, jangan dipikirkan" jawab Ray, "ternyata kamu diam-diam datang disini" Sambungnya sembari senyum.


Viona seperti ketangkap basah sehingga mukanya merah karena malu.


"Santai saja, kapan-kapan kesini lagi bersama Ainun" Ray mengalihkan pembicaraan agar Viona tidak canggung.


"Iya, aku pulang" pamit Viona.


"Maaf Ray, aku buru-buru menjemput Ainun" Tolak Viona dengan sopan.


"Viona, belum jam pulang sekolah Ainun sekarang" Ucap Ray mengingatkan Viona.


"Hehehe benar" Jawab Viona dengan cengir kudanya dan Ray pun melakukan hal yang sama


"Mau menghindar dari aku? Bukan seperti itu caranya"


"Gimana caranya?" Tanya Viona spontan.


"Viona, aku minta satu hal. Jangan ragu pada saya, aku ingin mengajakmu ke rumah nanti" Ucap Ray dengan serius.


"Ngapain?"


"Natal nanti semua keluarga kumpul. Jadi, saat itu aku ingin kamu ada disana juga" Ucap Ray lagi.


"Tapi Ray, aku gak bisa rayain Natal. Taukan aku muslim?" Tanya Viona.


"Aku tau kok, tapi hanya ikut meramaikan gak masuk di agama aku" Jelas Ray lagi.


"Justru itu, aku tidak bisa. Maaf Ray aku bertoleransi tapi untuk urusan akidah gak bisa" tegas Viona.


"Itu hanya sebatas ucapan untuk saling menghargai" Bujuk Ray lagi.


"Benar, tapi dengan ucapan saya bisa masuk Islam dan dengan ucapan juga aku bisa keluar dari islam dan halalnya hubungan suami-istri karena ucapan juga kan?" Terakhir Viona bertanya.


Ray diam dan menunduk mendengar ucapan Viona. Beberapa menit menghabiskan waktu dalam diam, ia kembali menatap Viona.


"Dengan cara apa aku membuktikan kalau aku benar-benar tulus?, Untuk memperkenalkanmu saja kepada keluargaku saat natal kamu gak mau" Ucap Ray dengan sedikit melemah suaranya.


"Tidak mesti natal aku ke rumahmu Ray, bisa hari lain. Lagian orang tua kamu sekarang di Korea" Jawab Viona.


"Karena itu, kebetulan mereka akan ke Indonesia serta keluarga mami dan papi aku ngumpul semua di rumah. Aku ingin memperkenalkan kamu kepada mereka" Jelas Ray, "Cobalah untuk mengerti Viona" sambungnya dengan sedikit memohon.


"Aku mau mengerti bagaimana Ray?. Yang kita perjuangkan saat ini sia-sia" Viona mencoba menyadarkan Ray tentang perasaannya.


"Perasaan kita itu salah Ray" Gumam Viona lalu menunduk. Ia tidak sanggup melihat wajah Ray saat ini. Perasaan bersalah muncul jika melihat Ray yang tertunduk diam.


Sekian lama Viona komitmen dengan prinsipnya untuk tidak pacaran, tapi kenapa saat ini Allah menghadirkan sosok laki-laki yang mengajaknya untuk serius tapi malah berbeda keyakinan dengan dirinya.


"Ya Allah, ujian cintaku kali ini membuat hatiku bimbang diatas prinsip ku sendiri. Berikan aku petunjuk Mu" Monolog Viona.


Viona bingung, mungkin saat ini sudah jatuh cinta pada Ray. Selama ini, ia tidak pernah memiliki rasa seperti ini kepada lawan jenis.


"Sakit dan kecewa aku rasa bersamaan Viona" Ucap Ray dengan lirih. Ia sangat berharap kalau Viona datang di perayaan Natal di rumahnya, tapi Viona tanpa berpikir panjang langsung menolak ajakannya.

__ADS_1


"Maaf Ray, sekuat apapun kita berjuang penghalang kita itu benteng yang tinggi dan kokoh, ini bukan masalah sepele" Ucap Viona dan menyeka air matanya.


Viona begitu sedih dengan kisah cintanya. Setelah memutuskan untuk tidak pacaran, tapi saat ada yang sesuai harapan malah yang datang sangat bertentangan dengan agamanya. Sungguh kali ini, cinta Viona diuji oleh Allah.


"Aku juga sakit Ray" Gumam Viona lalu mengangkat tasnya pergi tanpa pamit pada Ray.


Ray menatap kepergian Viona. Ray takut untuk dikecewakan kedua kalinya. Perasaan khawatir selalu muncul dibenak Ray jika mengingat Viona.


"Apa yang aku harus lakukan Viona?" Ray membatin sambil menyeka air matanya.


Baru kali ini, seorang Ray menangis karena perempuan. Perasaan takut kehilangan pun selalu menghantuinya.


Ray diam dalam restoran itu, ia bingung keputusan apa yang akan ia lakukan sekarang. Memaksa viona untuk mengikuti keinginannya sangat tidak memungkinkan, itu malah membuat Viona akan menjauh darinya.


Menunduk diam, itu yang Ray lakukan. Seakan di restoran itu hanya seorang diri tanpa ada pengunjung lain.


Ray terbangun ketika ada yang menepuk bahunya sembari memanggil namanya "Alex".


"Kak Marcel" Ucap Ray kaget.


Marcelea melihat sepupunya begitu kurang semangat hari ini, ia memutuskan untuk duduk disampingnya dan bertanya, "ada apa?"


Ray mencoba untuk menyembunyikan semuanya, "biasalah capek"


Marcelea senyum lucu kepada sepupunya itu, lalu melambaikan tangan kepada suaminya karena sekarang ia telah pindah meja setelah melihat Ray seorang diri.


"Abang kesini" Panggil Marcelea.


Rifal pun menuju meja dimana istri dan Ray duduk.


"Hmmm, panggil abang, apa gak ada panggilan gaul gitu?" Protes Ray kepada sepupunya itu.


"Itu kesukaan suami, menyenangkan hati suami dapat pahala lho" Jawab Marcela.


"Islam seperti itu?" Tanya Ray penasaran dan sedikit tertarik.


Marcelea pun mengangguk sembari senyum, "dan kalau suami membahagiakan istrinya nanti rezekinya lancar, jadi suami gak boleh pelit sama istri."


"Bahas apa nih?, kok serius bangat" tanya Rifal sembari duduk didepan Ray dan istrinya itu.


"Gini loh bang" Marcelea mencoba menjelaskan sembari pindah tempat duduk ke samping suaminya.


"Hati-hati dong dek" Ucap Rifa melihat istrinya yang saat ini tengah hamil besar.


"Hmmm, kayak pengantin baru aja" Ucap Ray lagi.


"Makanya nikah" Jawab Marcelea.


"Sudah punya pacar?" Tanya Rifal kepada Ray.


"Pacar gak ada sih tapi kalau teman ada" Jawab Ray lagi.


"Teman hidup itu bang" Goda Marcelea sambil menaik turunkan alisnya, "iyakan lex?" Sambungnya kepada sepupunya itu.


"Keinginanku seperti itu, tapi aku dan dia berbeda" Jawab Ray dengan sedikit perih dihatinya jika membahas itu dan kembali terngiang di telinganya apa yang ia ucapkan Viona di telepon dan di restoran tadi.


"Halah, kalau sama gak mungkin nikah kan, itu gay namanya" Ucap Marcelea lagi dan Rifal hanya diam mencoba mencerna apa yang dikatakan anak muda didepannya ini.


"Maksudnya tidak akan mungkin bersama?" Tanya Rifal tiba-tiba yang membuat Marcelea menatap wajah suaminya bingung.


"Maksudnya, bukan laki-laki pacarmu Lex?" Tanyanya.


"Gila kali kak, mau pacaran sama laki-laki. Aku laki-laki normal" jelas Ray.


"Aku hanya pastikan sih" Jawab Marcelea membuat Rifal menggeleng pelan dan Ray hanya diam.


Ray larut dalam masalahnya sampai makanan pasutri itu datang ia tidak tau.


Rifal dan Marcelea saling memandang dan kembali fokus ke arah Ray yang hanya diam dan sekali-kali dia menarik napas dengan kasar.


"Abang, apa sepupu aku punya masalah serius?" Tanya Marcelea begitu khawatir pada Ray.


"Sepertinya, coba tanya siapa tau mau cerita" Ucap Rifal.


Marcelea menatap adik sepupunya itu lama lalu memanggil namanya.


"Alex, Lex. makan yukk" Ajak Marcelea.


"Haaaa..." jawabnya singkat dan ajakan itu membuyarkan lamunannya.


"Kita makan" ulang Rifal.


"Ada apa?, Bisa sharing dengan kakak sepupu mu ini" Timpal Marcelea.


"Maaf kak tapi aku kenyang" Tolaknya dengan halus, "dan kalau mau sharing, mau sharing apa?" Tanya balik Ray membuat Marcelea mengangkat garpunya.


"Sok tegar, padahal dilihat dari wajah. Wajah-wajah penuh masalah" Ucap Marcelea kesal membuat Ray ingin sekali balas tapi ia bingung jawaban apa yang pas untuk kakak sepupunya kali ini sekaligus untuk menghibur hatinya.


"Hati-hati lho, lagi hamil. Gak mau kan punya anak kalau kesal sama orang langsung angkat garpu" balas Ray.


"Iihh amit-amit, itu gerakan refleks karena kesal" Jawabnya tidak mau kalah.


"Ekhem, kita makan dulu seperti sudah siang saatnya makan siang" Ucap Rifal memotong pertikaian dua insan itu tidak jauh beda umur itu.


"Sudah siang ya, maaf kak saya harus pergi" Ucap Ray lalu ia keluar dari restoran dengan sedikit lari kecil.


"Tumben dia seperti itu, gak biasanya" Ucap Marcelea lagi lalu ia makan.


"Lain kali tanya, kasian dia mungkin ada masalah yang ia sembunyikan. Biar bagaimanapun dia hanya punya satu keluarga dekatnya disini yaitu kamu" Ujar Rifal sambil menyendok makanan dalam piringnya.

__ADS_1


Marcelea mengunyah dan menelan makanan sambil mengangguk, "enak ya makanan disini" puji Marcelea.


"Iya, menunya juga lengkap" Timpal Rifal dan mereka lanjut makan.


__ADS_2