Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
101. Suara Viona membahagiakan


__ADS_3

Malam menjelang, ibu Heti sudah tidak sabar ingin pulang. Ia baru ingat kalau siaran yang ia ikuti segera mulai.


"Viona, jam berapa kita pulang?"


"Mungkin jam 9, mam."


"Lama, udah mulai ceramah di tv, kita pulang saja sekarang" Ajaknya sudah tidak sabar.


Ibu Heti mengambil kunci mobil dan tasnya, "cepat Vio" ujarnya lagi setelah sampai halaman butik.


"Bentar mam, ini lagi mau tutup butik dulu" Jawabnya dengan sedikit bersuara keras agar ibunya bisa dengar dari luar.


"Jam berapa sih ceramah itu mulai?" Lanjut Viona bertanya-tanya seorang diri sambil mengambil tas selempangnya dan mengunci pintu utama butiknya. Ia pulang lebih awal dari biasanya.


Dalam mobil Viona agar tidak suntuk memilih putar musik.


"Tilawah saja Vio" Ujar ibu Heti lalu mengganti lagu tersebut dengan tilawah.


"Itu kan lagu religi juga mam."


"Pengen aja dengar tilawah dalam mobil" Jawabnya lagi.


Kembali mobil mereka membelah jalan, suasana dijalan raya begitu ramai. Mata ibu Heti dibuat betah melihat pemandangan kotanya dimalam hari.


"Vio, kapan-kapan ajak mama keliling kota tapi malam bukan siang" Ujarnya lagi.


"Makan dipinggir jalan, kayaknya enak deh" Lanjutnya sambil membayangkan keseruan suasana makan malam dipinggir jalan.


"Insyaallah, mam" Jawab Viona dengan pandangan fokus didepan.


"Mama tunggu lho ini, coba ada Ahmad mungkin langsung diajak" Ujar ibu Heti tiba-tiba menyebutkan nama Ahmad dalam pembicaraan mereka.


Viona menoleh melihat ibunya sekilas lalu menjawab.


"Ahmad itu lagi sibuk mengembangkan usahanya."


"Perasaan mama gak masuk akal, atau jangan-jangan Ahmad batalkan perjodohan gara kamu, Vio?" Tanya Ibu Heti.


Selama ini ibu Heti tidak pernah bertanya kepada Viona penyebab Ahmad tiba-tiba membatalkan perjodohan yang sudah disetujui oleh Ahmad sendiri.


Viona memilih diam dari pada menjawab, karena perkataan Ibunya benar adanya.


"Vio" panggil Ibu Heti.


"Iya, mama bahasnya dirumah saja ya. Masih fokus nyetir ini" Ujar Viona dan ibu Heti langsung diam.


🌺


Berbeda jauh dengan Ray, ia sedang membujuk Alan untuk menemaninya di club malam ini. Sementara Alan masih sibuk dengan restorannya, ia tidak pernah meninggalkan restoran kecuali hal penting yang tidak bisa diwakilkan.


"Lan, sampai jam berapa disini?"


"Aku biasa pulang jam 10 atau 11 malam."


"Buset, setiap malam?" Tanya Ray tidak percaya.


"Iya, lagian sekarang ada ibu jadi aku pulangnya agak cepat. Sekitar jam 10an." Jelas Alan kepada Ray.


"Itu sama aja. Ehh kalau gitu kita pulang saja diapartemen, minta pendapat sama ibumu tentang masalahku ini" Ujar Ray tidak sabar ingin menemui ibu Alan.


Ray sudah bangkit dari duduknya dan memegang kunci motornya.


"Ayo" Ucap Ray lagi.


Alan mendongak melihat sahabatnya itu sembari mengerutkan keningnya.


"Kemana?" Tanya Alan bingung.


"Ke apartemen kamu lah, kemana lagi. Cepat" Desak Ray.


"Ibu aku itu sudah tidur jam begini, mending temui pagi atau siang daripada malam" saran Alan.

__ADS_1


Ray seketika duduk dengan lemas mendengar kalimat sahabatnya, padahal sekarang butuh sekali saran dari orang yang lebih pengalaman dalam urusan rumah tangga. Ia ingin ada yang mendengarkan dan memberikan solusi.


"Besok ya?" Tanya ulang Ray dan Alan mengangguk.


"Kalau gitu ke club aja dulu temani aku," Pinta Ray dengan memohon kepada Alan. Ia bingung siapa yang bisa diajak untuk menemaninya ke club malam.


"Aku tuh mau insyaf Ra, dukung aku Ra"


Alan mencoba untuk membenahi diri, karena dari penolakan Viona mampu menyadarkan dirinya kalau orang baik-baik untuk yang baik-baik pula, begitupun sebaliknya. Alan sudah bertekad untuk berubah mulai dari sekarang.


"Jadi benar nih gak mau temanin aku?" Tanya Ray lagi.


Alan menghela napas panjang lalu menatap wajah Ray seketika. Ia tidak enak melihat wajah sahabatnya seakan masalahnya berat kali ini.


"Apa gak bisa ke taman atau pantai gitu, kecuali ke club malam?"


"Hanya itu solusinya."


"Ke gereja?" Tanya Alan lagi.


"Aku itu udah lama gak ke gereja, Lan. Percuma kesana, aku kepikiran terus Viona. Gak fokus berdoa" Jujur Ray.


Alan diam sejenak, bagaimana jika Ray mendengar rencana ibunya menjodohkan dirinya dengan Viona.


"Lan, gimana?"


"Gimana apanya?"


"Ke club" jawabnya dengan kesal.


Alan dengan berat hati menutup mapnya dan menemani Ray ke club yang biasa Ray datangin. Karena Ray menggunakan motor ke restoran Alan dan sekarang Ray malas membawa kendaraan jadi terpaksa Alan membawa mobil.


Sampai club Ray dan Alan masuk dan langsung duduk di minibar, alasan Ray kesini ingin mabuk karena dengan mabuk bisa melupakan masalahnya sejenak.


"Aku mau segelas vodka" Ujar Ray.


Alan langsung mencegahnya, "eehh jangan, itu kadar alkoholnya tinggi bro."


"Aku nggak" jawab Alan sambil angkat tangan.


Ray mulai minum dan baru satu gelas sudah mabuk, matanya susah ia buka.


"Lan, aku tidur sejenak" Ujarnya dengan tangan melemah memukul lengan Alan. Dan benar saja Ray tidur dimini bar berbantalkan lengannya.


"Ra, Ra.. stress larinya ke minuman, makin hari gak dewasa kelakuanmu" Alan heran tapi mau gimana lagi hanya sebatas menemani dan memberikan solusi untuk masalah sahabatnya itu.


Alan hanya diam menemani Ray tidur dan berharap cepat bangun lalu mereka pulang. Banyak wanita yang menghampiri keduanya, dan menawarkan kesenangan semalam.


"Mas butuh kehangatan gak?" Tanyanya dengan tangan memegang manja pundak Alan.


"Nggak" jawabnya dengan pelan menyingkirkan tangan wanita tersebut.


"Mungkin ditemani minum?" Tanyanya lagi dengan nada sensual.


"Tidak" Jawab Alan dengan cuek. Namun, dalam hatinya ingin sekali meneguk minuman itu, ia jadi ingat masa mabuknya dulu.


"Aahhaaa" Alan membuang napas, "cobaan-cobaan" ujarnya sambil usap dada.


"Lama-lama goyah juga iman disini" Gumamnya lalu memukul lengan Ray dengan keras agar dia bangun.


"Bangun, aku mau pulang sebelum ibu aku menelepon" Kilah Alan.


Ray membuka mata dengan susah, "katanya ibumu sudah tidur jam segini" jawab Ray.


"Kamu masih sadar rupanya, ayo pulang gak ingat anak istri dirumah" Ucap Alan dengan tujuan menyadarkan Ray. Namun, diluar dugaan, Ray seketika marah kepada Alan.


"Pulang saja kalau begitu, tinggalkan aku disini. Jika kamu terus mengingatkanku pada wanita itu dan anak dalam kandungannya bukan anak aku" Jelas Ray membuat Alan langsung diam.


"Terus anak siapa?, Masa iya, Gladis hamil dengan laki-laki lain. Iih aku gak nyangka " Batin Alan sembari bergidik ngeri. Penilaian Alan kepada Gladis sudah tidak benar lagi.


Dengan terpaksa Alan memilih menunggu sampai Ray mau pulang. Ia lebih baik menunggu daripada meninggalkan sahabatnya ditempat yang tidak aman seperti ini.

__ADS_1


Sedangkan suruhan Gladis, malah ketiduran dalam mobil saking lamanya menunggu dan yang mengikuti Ray di restoran Alan, lagi menikmati minumannya. Ia sesantai itu karena sebelum Alan dan Ray pergi sudah mengirim pesan kepada teman-temannya yang ada diluar untuk mengikuti Ray.


Sementara Gladis masuk club yang sudah janjian dengan Gebi, dengan santai Gladis masuk dan mencari meja dimana Gebi duduk. Setelah ia temukan, ia menyuruh Gebi untuk pesan minuman.


"Bukan ibu hamil dilarang minum alkohol?" Tanya Gebi terlebih dulu sebelum pergi.


"Aku lebih baik kehilangan anak ini daripada kehilangan Ra, Geb" Ujar Gladis, ada sorotan mata sedih disana mengatakannya.


"Dis, dia anakmu lho" Gebi mengingatkan.


"Tapi bukan anak Ra, Geb" Gladis mulai berkaca-kaca.


"Iya, aku paham. Anak Edwan kan?" Tanya Gebi. Ia mendengar langsung dari Edwan sendiri.


Edwan pernah curhat kepada Gebi, kalau Gladis hamil anaknya, ia ingin tanggung jawab tapi Gladis tidak mau. Ia sangat terobsesi dengan mantannya yaitu Ray.


Gladis menunduk, "aku gak tau Geb, ini anak Edwan atau Hendra."


Gebi dan Gladis pun diam. Gebi memulai kata sedikit ragu saat ini.


"Pesankan aku minuman Geb" pinta Gladis lagi.


"Terus kalau anakmu kenapa-napa, apa Ra mau menerimamu?" Tanya Gebi.


Gladis seketika menatap wajah Gebi, "Sampai saat ini Ra belum melupakan Viona."


"Apa perempuan itu meladeninya?" Tanya Gebi dengan amarah.


"Pastilah, Ra mencintai Viona."


"Tapi dia sudah memiliki istri yaitu kamu, harusnya Viona menjauh dari suamimu" Tegas Gebi. Ia tidak bisa menahan emosi kalau mendengar Gladis diperlakukan tidak baik oleh Ray.


"Tapi kenyataannya Viona pun masih welcome sama Ra. Makanya aku benci Viona, Geb" Adu Gladis kepada Gebi.


Ditempat yang sama, karena Alan duduk sambil main ponsel menunggu Ray bangun dari tidur, tiba-tiba telinganya terusik dengan suara meyebut nama Viona.


"Apa Viona suka ke club juga?" Batin Alan dan menoleh ke sumber suara, ia tidak menemukan Viona melainkan dua orang perempuan yang sedang cerita. Karena posisi Gladis dan Gebi membelakangi Alan, jadi Alan tidak mengenali keduanya.


"Ahh, perasaan aku saja mungkin" Alan kembali membatin dan fokus ke ponselnya.


Berbeda jauh dengan Viona saat ini, ibunya bukan pulang cepat untuk nonton siaran tv yang diikuti beberapa hari ini, ia malah mengajak Viona singgah di restoran Ahmad.


"Mama udah kenyangkan?" Tanya Viona sembari melihat jam dilenganya, seketika matanya membulat, "pantas aku sudah ngantuk, ini sudah jam 10 malam" Sambungnya.


"Ya udah kita pulang, kok agak sepi ya berbeda dengan dulu" Ujar ibu Heti sembari jalan menuju kasir.


"Ini udah jam 10 mam, wajar udah mulai sepi. Orang- orang pada tidur, kita aja nih masih diluar" Jawab Viona membuat pegawai kasir restoran itu tersenyum simpul.


"Mbaknya ada-ada saja, tapi memang akhir-akhir ini sepi" Ujar pegawai kasir.


"Kenapa bisa mbak?" Tanya Viona.


"Waduh pakai tanya lagi, kan makin lama kalau begini" Batin Viona sembari mendengar cerita pegawai kasir. Diakhir ceritanya ia bertanya kepada Viona.


"Apa mbak buru-buru?" Tanyanya.


"Sedikit, sudah jam 10 juga kan" Jawab Viona sembari senyum seandainya.


"Ada yang mau bicara dengan mbak, mbak Viona kan?" Tanyanya memastikan dan Viona menganggukkan kepala.


"Siapa?" Tanya Viona bingung.


"Nanti mbak Viona tau sendiri, kesini mbak" ujarnya sambil menyuruh Viona duduk dekat telepon restoran.


Viona mengerutkan keningnya, ia menunjuk kursi depan telepon itu, "duduk disini?"


"Iya, silahkan mbak Viona, saya sudah angkat teleponnya. Mbak tinggal bicara saja" ujarnya lagi.


"Haaa" Viona kaget dan bingung bersamaan, "terus aku mau bicara apa mbak?" Tanya Viona sambil menggaruk kepalanya yang dilapisi kerudung.


Orang dibalik telepon mendengar suara Viona hanya senyum-senyum tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Ia penasaran kalimat apa yang pertama Viona lontarkan. Rasa khawatirnya terobati mendengar suara kebingungan Viona.

__ADS_1


"Mendengar suaramu saja aku sebahagia ini, Vio" Batinnya.


__ADS_2