
Pagi ini Viona dipercayakan untuk mencari pekerjaan dengan membawa motor sendiri, motor yang diberikan yaitu motor bekas dari kakaknya Rifal.
"Vio, pagi ini pakai saja motor Rifal agar enak cari pekerjaan" Ucap ibu Heti.
Viona ya yang masih menikmati rotinya langsung berhenti mengunyah, "motor.. mobil aja bun" tawar Viona.
"Agar tidak manja" jawab ibunya singkat lalu minum tanda mengakhiri sarapan paginya.
Viona pun mengangguk mendengar jawaban ibunya itu. Setelah selesai sarapan ia pamit untuk kembali cari kerja menggunakan motor kakaknya. Dari satu perusahaan ke perusahaan lain ia masukkan berkas membuatnya capek dan gerah dengan sinar matahari yang semakin panas.
"Tut tut tut" bunyi motor Viona dengan sedikit tersendat sendat.
"Waduh mogok ini" gumam Viona dan benar saja seketika langsung berhenti, "hhmmm, gini nih disuruh bawa motor butut" Sambungnya sambil turun dari motor dan menuntun motornya menyusuri jalan raya dengan harapan disekitaran itu ada bengkel.
Viona dengan penuh keringat dan sesekali berhenti sejenak untuk mengumpulkan tenaga mendorong motornya itu. Sudah sekitar 500meter namun belum mendapatkan bengkel juga, menoleh kiri kanan dengan harapan ada orang yang lewat untuk sekedar bertanya, tapi hasilnya nihil.
"Kenapa tidak ada yang lewat biar satu orang yaa, ini tanda baik atau buruk.. ahhh sudahlah, berpikir tanpa melangkah tidak ada gunanya" gumam Viona lalu ia kembali menghela napas dan membuangnya dengan cepat lalu kembali mendorong motornya.
"Semangat semangat semangat" Viona menyemangati dirinya sendiri.
"Pip pip pip" klakson motor dari arah belakang.
"Hmmmm.. gak mau lewat aja gitu" lirih Viona.
"Pip pip pip" klakson kedua kalinya.
"Iiih" kesal Viona lalu ia menoleh dengan sedikit memicingkan matanya karena silau kena sinar matahari.
"Ray" Ucap Viona dengan sedikit kaget, "eehh" sambungnya lagi.
"Motornya kenapa?" Tanya Ray.
"Mogok" Jawab Viona singkat.
"Ohh, mau aku bantu?" Tawar Ray.
Viona dengan senyum terpaksa karena tidak enak hati "terima kasih, tapi gak usah masih sanggup mendorong".
Jawaban polos itu membuat Ray senyum seketika, "gak masalah, tapi mungkin ini rezeki saya juga" Jawab Ray.
"Maksudnya?" Tanya Viona tidak paham.
"Aku ada bengkel sekitaran sini" ujarnya lagi.
"Ohh ya" respon Viona cepat mendengar kata bengkel itu, ditelinga Viona ibarat segelas air untuk orang yang lagi kehausan.
"Iya, atau aku telepon mobil derek?" tawar Ray lagi.
"Ehhh.. Jangan" larang Viona dengan sedikit melambaikan tangannya cepat.
"Sudah" ucap Ray singkat membuat Viona mengerutkan keningnya.
"Maksudnya?" Tanya balik Viona yang sudah tidak paham.
"Itu mobil derek, simpan motornya nanti mereka yang bawa dan kamu ikut saya"
"Ikut" ulang Viona, "gak apa, kan memang saat ini aku lagi butuh bantuan" sambungnya membatin lalu ia dengan hati-hati naik diatas motor Ray itu.
Perjalanan yang ditempuh lumayan jauh dari yang Ray ucapkan, diatas motor tidak ada yang memulai bicara.
Ray sibuk dengan pikirannya begitupun dengan Viona, apalagi saat ini pertama kali Ray membonceng Viona menggunakan motor.
"Kamu yang pernah menunggu di depan mesjid?" Tanyanya hanya untuk memecah keheningan.
"Iya" jawab Viona singkat.
"Pertanyaan itu, masa ia sudah lupa.. perasaan dari kemarin-kemarin bertemu sekarang malah tanya tentang itu" monolog Viona.
Sedangkan Ray mendengar jawab Viona singkat hanya manggut-manggut. Ia bingung bertanya apa lagi hanya untuk mencairkan suasana, seketika kata-kata dalam otak kosong.
Selama perjalanan menuju bengkel bahkan sampai depan bengkel pun tidak ada yang memulai pembicaraan. Hening!!.. itu yang terjadi diantara keduanya.
"Lhoo" tunjuk Viona spontan
"Sedang sakit, makanya diperiksa" Jawab Ray lalu ia jalan menuju bengkelnya itu diikuti Viona dari belakang.
Sesampainya, Ray menyuruh Viona duduk, "Silahkan duduk" Ucap Ray dengan sopan dan Viona pun mengangguk sembari senyum lalu ia duduk.
"Terima kasih" Ucap Viona.
Orang bengkel seketika menoleh melihat Ray dan Viona bergantian, baru kali ini sang bos membawa seorang perempuan yang dibonceng langsung.
"Siapa?" Tanya salah satu diantara mereka.
"Gak tau" Jawab salah satu diantara mereka.
"Pacar mungkin"
__ADS_1
"Oohhh"
Mereka masih membahas sang bos tiba-tiba datang seseorang perempuan yang berpakaian cukup sopan dan lembut perangainya.
"Hai semua" tuturnya dengan ramah.
"Hai juga" Jawab mereka kecuali Ray.
"Ray sudah makan siang?" Tanyanya meskipun diabaikan oleh Ray.
Ray seketika menoleh ditempat lain dengan senyum malas. Viona yang melihat yang terjadi didepan matanya saat ini bingung
"Eehh silahkan duduk" ujar Viona dengan lembut kepada perempuan itu.
"Terima kasih" ucapnya lalu ia duduk.
Setelah ia duduk terjadi keheningan lebih dari sebelumnya. Ray menyuruh semua orang kerja di bengkelnya untuk membeli makan siang.
"Makan siang diluar dan ini uang" Ucapnya sambil mengeluarkan uang merah beberapa lembar.
Karyawan senyum bahagia lalu menerima uang tersebut, "rezeki apa hari ini, oohh mungkin kedatangan sang mantan" batin karyawan tersebut.
Semua karyawan bengkel itu kenal mantan sang bos, hanya saja semenjak putus dengan Ray sudah mulai merubah penampilannya dari yang kekurangan bahan sudah mulai tertutup dan bahasanya pun sudah mulai sopan.
Seketika bengkel Ray sunyi dari bunyi alat-alat memperbaiki mobil maupun motor. Viona mulai kebingungan dengan melihat motornya belum selesai diperbaiki dan disimpan begitu saja.
Viona menoleh melihat Ray dan memberanikan diri untuk bertanya.
"Kapan ya motor saya selesai diperbaiki?" Tanyanya dengan sopan.
"Setelah makan siang" Jawab Ray dan kembali diam.
Saat itu mantan Ray hanya duduk diam diantara Ray dan Viona.
"Ra makan siang yu!" Ajaknya dan Ray dengan cepat menggeleng.
"Ra, kenapa selalu menyembunyikan perasaanmu, dulu memang aku salah tidak menganggapmu ada" batin Gladis.
*Flashback*
Gladis dan Ray pacaran sejak SMA, namun setelah kuliah Gladis berubah dan tidak menganggap Ray lagi sebagai pacarnya.
Gladis malah mengatakan kalau dia tidak akan pernah kembali pada Ray sampai kapanpun. Gladis malah memilih selingkuhannya yang selalu menjemputnya setiap hari ke kampus.
Ray saat itu terpuruk. Bagaimana tidak, ia sangat mencintai Gladis meskipun ia kadang berbicara kasar bahkan saking sayangnya dia rela pertahankan Gladis depan orang tuanya yang mentah mentah menolak kedatangan perempuan itu. Ray rela pergi dari rumah hanya untuk mempertahankannya, namun yang ia dapat bukan Gladis melakukan hal yang sama melainkan selingkuh dan pergi dengan selingkuhannya.
"Teman Rendra?" Tanya Gladis.
Viona seketika menoleh melihat wajah perempuan disampingnya itu, "aku?" Tanya balik Viona sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, teman Rendra?" Ulangnya lagi.
"Maaf, Rendra siapa?" Tanya balik Viona baru dengar nama itu.
"Ohh, kenalkan aku Gladis" ucapnya dengan senyum sambil mengulurkan tangannya kepada Viona.
"Viona" ujar Viona setelah menerima uluran tangan Gladis tersebut.
"Sudah lama disini?" Tanya Gladis lagi dengan ramah.
"Lumayan, motor aku tiba-tiba mogok dijalan" Jawab Viona sambil menunjuk motor bututnya itu.
"Kenapa pertahankan motor butut itu? Ehh maksudku kenapa tidak beli motor baru, itu kan motor antik" Gladis meralat dengan cepat lalu ia menoleh kesamping dimana Ray berada, dan benar saja Ray menatapnya dengan tajam.
"Masih belum berubah" batin Ray.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, semua karyawan kembali berkerja. Setelah selesai Viona menanyakan biaya perbaikan motornya.
"Maaf ini bayarnya dimana?" Tanya Viona dengan polos kepada orang yang perbaiki motornya
Karyawan itu hanya diam melihat Viona sejenak lalu ia tujukan tempat bayar. Viona mengikuti arah jari orang tersebut dan Viona langsung membuka mulutnya membentuk huruf O.
"Gak lihat tadi" ujar Viona lalu ia pergi dan orang yang dengar itu semua geleng kepala.
"Apa dia baru datang di bengkel ini?" Tanya salah satu dari mereka.
"Sepertinya, baru saya lihat perempuan itu" Jawab salah satu diantara mereka.
"Dari gelagatnya dia orang baru" timpal salah satu lagi.
"Benar" timpal seorang lagi membenarkan ucapan teman-temannya.
Viona setelah bayar ia langsung keluar dari bengkel itu, ia ingin sekali berterima kasih pada Ray tapi sejak motornya selesai diperbaiki Ray sudah tidak ada di kursinya bersamaan dengan Gladis.
Disisi lain, Ray dan Gladis lagi makan siang karena paksaan dari Gladis sendiri. Meskipun Ray sudah tidak ada cinta dihatinya untuk Gladis, tapi ia tidak bisa membuat Gladis yang terus-menerus meminta padanya hanya untuk makan siang bersamanya.
"Selesai, kita jalan-jalan yuk" ajak Gladis lagi.
__ADS_1
"Dimana?" Tanya Ray.
"Seperti biasa" Jawab Gladis dengan santai sembari senyum.
Ray melihat senyum itu terus terang hatinya sedikit demi sedikit kembali berbunga-bunga walaupun tidak seperti dulu saat mereka pacaran.
"Oke" jawab Ray.
Ray dan Gladis kembali keluar bersama setelah sekian lama mereka putus dan tidak bertemu. Ray membawa motor dengan diam tanpa membuka kata sedikit pun seperti biasa.
Gladis yang tidak suka diam-diaman dan berusaha untuk kembali pada Ray, maka diapun kembali mencairkan suasana.
"Maafkan aku Ra" ucapnya dan memeluk pinggang Ray itu diatas motor.
Ray hanya diam seribu bahasa.
"Rendra maafkan aku" ulangnya lagi.
"Iya" jawab Ray lalu kembali diam.
"Kok segitu aja, apa gak ada kalimat selanjutnya?" Tanya Gladis penuh harap.
"Maksudnya apa?" Tanya balik Ray.
"Aku rindu yang dulu Ra" ungkap Gladis lagi.
Ray seketika senyum kecewa dan bahkan ia ketawa diatas motor menertawai dirinya sendiri yang dulu begitu bodoh memilih Gladis dibandingkan orang tuanya.
"Aku bodoh telah memilih mu dan menjauh dari orang tuaku" ucapnya yang membuat Gladis diam seketika.
"Rasa itu sedikit masih ada, tapi untuk kembali sudah tidak bisa. Apalagi orang tuaku sudah menolaknya mentah-mentah dulu" Batin Ray diatas motor
"Maafkan aku" ucap Gladis lagi. Entah sudah berapa kali Gladis mengatakan kata maaf sejak diatas motor.
"Lupakan" jawab Ray lagi lalu diam.
15 menit kemudian, Ray memarkirkan motornya ditempat parkir khusus di daerah di pantai itu. Sedangkan Gladis menunggu Ray.
Mereka jalan beriringan di bibir pantai sesekali bunyi ombak menerpa kaki telanjang keduanya. Ray jalan dengan Gladis namun pikirannya ditempat lain.
"Ra, kenapa berubah?" Tanya Gladis lagi.
"Maksudnya?" Tanya balik Ray.
"Jadi pendiam"
"Oh" jawab Ray malas pusing dan kembali jalan tanpa ada pembiaran khusus dari mereka berdua.
Gladis sengaja mengajak Ray agar leluasa bicara, tapi semua itu terhalang karena sikap dingin Ray.
"Ra berhenti di gazebo depan" tunjuk Gladis dan Ray pun hanya mengangguk.
Gladis sengaja memilih gazebo itu untuk menikmati terpaan angin meskipun berhawa panas. Mereka duduk diam dengan pandangan kearah laut.
Telepon Ray bunyi, ia pun menjawab telepon itu.
📞"Kenapa?.. berapa?.. lain kali kalau dia datang jangan bayar.. pelanggan tetap" ucap Ray diseberang telepon itu dengan sedikit menyunggingkan senyum.
"Siapa?" Tanya Gladis setelah melihat Ray mematikan sambungan telefon.
"Pelanggan" jawab Ray singkat.
"Pelanggan kok gratis" ujar Gladis lagi.
"Itu urusan saya dengan karyawan, bukan urusan kamu" jawab Ray itu membuat Gladis diam seketika.
"Oke, aku gak akan bertanya lagi tentang hal itu" Ujar Gladis dan sedikit menjeda kalimatnya dan menarik napas pelan sebelum melanjutkan ucapannya, "Apa sekarang bisa kita bicarakan masalah kita?" Sambungnya dengan pertanyaan.
"Masalah kita?, sejak kapan aku dan kamu punya masalah?" Tanya Ray dengan tatapan jauh ditengah laut.
"Ra, kita kembali seperti dulu lagi" pinta Gladis.
"Dulu dengan sekarang sudah berbeda" Jawab Ray lagi.
"Beri aku kesempatan Ra, aku sudah berubah Ra" Ucap Gladis lagi.
Ray tertawa kecewa, "jujur pada dirimu sendiri, hidup dalam kepura-puraan itu capek".
"Maksud kamu, aku tidak serius berubah jadi lebih baik?, Jahat kamu Ra" Ucap Gladis lalu ia diam tanpa berkata-kata lagi dan berharap dengan diamnya, Ray lah yang memulai kata.
Ray diam menatap ombak laut. Ia hampir lupa kalau besok pagi ia akan terbang ke Korea bertemu dengan kedua orangtuanya.
"Aku hampir lupa" Gumamnya lalu melangkahkan pergi.
Gladis melihat Ray pergi, ikut bangkit dari duduk dan mengejar Ray.
"Ray tunggu, sialan" Umpat Gladis kesal karena ditinggalkan begitu saja.
__ADS_1