Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
39. Ujian Cinta


__ADS_3

Ibu Heti kembali menutup pintu ruang rawat inap Viona, dan tidak lama pintu kembali terbuka dan disana muncul Rifal, Marcelea dan Ray.


"Bagiamana keadaan Viona mam?" Tanya Rifal.


"Viona bohong sama dokter, ditanya masih sakit?, ehh malah jawabnya tidak tapi sambil meringis" Jelas Ibu Heti membuat yang dengar tertawa.


"Apa dokter tau dia bohong mam?" Tanya Rifal lagi sengaja menggoda adiknya itu.


"Dokter tau, makanya mama dan Ahmad hanya diam mendengar sandiwara Viona yang ingin cepat keluar dari RS" Jelas ibu Heti lagi.


Ray hanya diam mendengar nama Ahmad disebut oleh ibu Heti. Ia melirik Marcelea sekilas dan tanpa sadar ternyata sepupunya sudah melihatnya lebih dulu.


"Ini tante" Ucap Ray dengan memberikan parcel buah kepada ibu Heti.


Ibu Heti menaruh buah tersebut diatas meja dan lanjut cerita. Ibu Heti baru kali ini terlihat senyum dan sekali-kali ia tertawa.


Ada rasa lega dalam hati anak-anak ibu Heti melihat ibu tercinta mereka sudah tidak sedih seperti beberapa hari yang lalu.


"Apa kalian sudah makan siang?" Tanya Ibu Heti.


"Iya mam, sebelum kesini aku dan abang makan dulu" Jawab Marcelea.


"Kalau mama mau makan diluar, nanti Rifal antar kemana mama mau, kan ada Lea dan Ray juga yang jaga Viona. Aku juga akan telepon kak Yesi untuk teman mereka" Jelas Rifal.


"Bukan kak Yesi jemput Ainun disekolah?" Tanya Lea, "gak apa aku dan Alex aja yang jaga Viona" Sambungnya sembari senyum kepada ibu Heti dan suaminya.


"Oke, jaga diri juga yaa" Pesan ibu Heti lalu mengambil tasnya.


Rifal dan Ibu Heti keluar mencari makanan diluar rumah sakit. Dan di rumah sakit tinggal berdua yang menjaga Viona. Keadaan Viona masih seperti biasa dan saat ini sedang tidur.


Marcelea kembali bertanya kepada sepupunya.


"Lex, emang benar serius dengan Viona?" Tanya Marcelea lagi.


"Iya kak Marcel, masa mau bercandain anaknya orang" Jawab Ray dengan santai bersandar dikursi dalam ruangan itu.


"Gimana dengan Gladis?" Tanya Marcelea lagi.


"Gak ada apa-apa dengan Gladis" Jelas Ray.


"Yakin, itu foto di instagramnya dengan Mami, apa dia dari sana?" Tanya Marcelea lagi.


"Iya kak, Mami memberitahu ku saat Gladis disana" Jawab Ray lagi.


"Oh" Respon Marcelea, "apa Mami udah tau kalau kalian beda keyakinan?" Tanya Marcelea lagi.


Ray geleng kepala dan Marcelea paham dengan gelengan itu.


"Tapi kamu serius Lex?" Tanya ulang Marcelea lagi.


Hati Marcelea ragu mendengar jawaban adik sepupunya itu, tapi yang membuatnya ragu dan tidak yakin dengan hubungan keduanya untuk berlanjut sampai jenjang lebih serius yaitu perbedaan keyakinan mereka berdua.


"Ujian cinta yang lebih tinggi itu berbedaan keyakinan Lex, apa kamu yakin meninggalkan Mami dan Papi seperti aku dan orangtuaku?" Tanya Marcelea.


Mendengar itu Ray seketika membayangkan wajah kedua orangtuanya, ia tidak sanggup melihat wajah orang yang mencintainya tanpa mengharapkan balasan sedih dan kecewa atas dirinya.


"Gak bisa, gak tega sama Mami dan Papi" Batinnya sembari menggelengkan kepala.


"Alex akan cari cara lain kak" Jawabnya penuh yakin setelah ia diam sejenak.


"Cara apa Lex?" Tanya Marcelea lagi, ia tidak yakin kalau sepupunya punya cara lain kecuali menikah di negara yang melegalkan berbeda keyakinan.


"Mau ajak Viona pindah negara?" Tanya Marcelea lagi.


"Kalau Viona mau" Jawab Ray singkat dan seketika Marcelea gelengkan kepala.


Marcelea tidak menyangka jika sepupunya berpikir sampai sejauh itu. Namun, jujur dalam hatinya tidak rela jika adik iparnya menikah dengan orang yang tidak seiman meskipun itu sepupunya sendiri.


Keduanya sama-sama diam, entah apa yang mereka pikirkan. Tiba-tiba dibuyarkan oleh suara anak kecil dari luar meraih hendel pintu dan berusaha buka pintu.


"Susah ibu" Adu Ainun sembari mendorong pintu.


"Ibu bantu, dorong lagi" Ucap Yesi sembari menyuruh anaknya itu.


Ainun dan Yesi mendorong pintu dan terlihat disana Ainun sedikit berkeringat.


"Kok berkeringat sayang?" Tanya Marcelea setelah masuk ruang rawat Viona.


"Lari-lari bibi" Jawab Yesi meniru suara anak kecil.


"Bibi Viona masih tidur?" Tanya Ainun dan diangguki dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Bibiiii" Panggil Ainun membuat Viona seketika buka mata.


Yesi langsung menutup mulut anaknya, "astaghfirullah, nanti terganggu yang lain. Ini rumah sakit bukan dirumah sayang" Tegurnya kepada anaknya itu dengan lembut.


"Ainun ada disini?" Tanya Viona setelah menoleh, ia belum bisa menggerakkan tangan dan kakinya bagian kanan sehingga ia hanya mampu menolehkan kepala kiri kanan. Dan jika ingin bersandar maka biasanya sang ibu yang membantunya.


"Iya bibi, bibi dapat salam dari teman Ainun" Ujarnya lagi sembari mendekat kearah bibinya.


"Sakit?" Tanyanya lagi penasaran.


"Iya, banget" Jawab Viona lagi.


"Cepat sembuh bibi. Kata teman Ainun RINDU" Ujar Ainun lagi membuat Viona tertawa mendengar itu.


"Siapa namanya sayang? Salam rindu buat teman Ainun" Jawab Viona, "masih kecil udah tau rindu-rindu juga" Sambungnya.


"Hihi" Ainun tertawa sambil menutup mulutnya malu dan kembali duduk dipangkuan Yesi.


"Gemas banget sih dek" Ujar Ray sambil sedikit mencubit pipi Ainun, ia gemas melihat tingkah Ainun. Karena mereka duduk bersampingan sehingga mudah bagi Ray mencubit pipi Ainun yang berada dipangkuan ibunya.


"Bibi besar pipinya" Ujar Ainun lagi.


Seketika Viona memegang pipinya, "Gak kok, seperti Ainun lapar makanya gak bisa lihat bibi dengan jelas"


"Udah makan eskrim" Jawab Ainun membuat Viona mengerucutkan bibirnya kesal karena sekarang masih belum bisa makan eskrim.


Waktu kebersamaan mereka siang ini begitu cepat berlalu dan sekarang sudah sore. Karena Marcelea hamil tua jadi dilarang untuk menginap di rumah sakit.


Marcelea pulang bersama Yesi dan Ainun, sedangkan Ray pulang ke rumahnya. Dan Rifal dan Ibu Heti, baru balik ke rumah sakit setelah sore.


🌺


Berbeda di restoran Ahmad, salah satu waiternya menanyakan Viona yang sudah tidak datang lagi.


"Pak, pelanggan atas nama Viona dan Ainun kenapa sudah tidak datang lagi?, Apakah pelayanan kami mengecewakan?" Tanyanya dengan penuh keberanian yang ia kumpulkan selama Viona tidak datang.


Waiter yang selalu melayani Viona setiap makan di restoran itu berusaha mengoreksi dirinya sendiri meskipun sampai sekarang belum dapat teguran dari bosnya. Ia selalu mengingat pesan bosnya, kalau Viona dilayani sebaik mungkin karena temannya.


"Tidak, Viona kena musibah makanya tidak datang" Jelas Ahmad.


"Musibah apa pak?" Tanyanya dengan wajah penasaran.


"Kecelakaan kendaraan, menabrak pohon saat pulang dikampung halaman ayahnya" Jelas Ahmad.


Meskipun Viona pelanggan dan ia sebagai waiter tapi ia tau kalau yang ia layani selama ini orangnya baik. Ia bisa lihat saat menghadapi tingkah ponakannya yang kadang ngambek jika tidak diturutin kemauannya, tapi Viona dengan lembut menasehatinya.


"Iya, terima kasih" Jawab Ahmad dan waiter itu pun mengangguk dan iya pamit pergi untuk melanjutkan kerjaannya.


"Saya pamit pak" Pamitnya lalu pergi.


"Silahkan" Jawab singkat Ahmad lagi.


Ahmad sengaja duduk disalah satu kursi restorannya untuk memantau kinerja karyawannya.


Masih duduk memantau tiba-tiba ponselnya bunyi tanda ada pesan masuk.


"Viona minta bawain eskrim" Gumamnya.


Ahmad membalasnya dengan cepat, "Emang sudah bisa makan eskrim?" Tanyanya lewat pesan itu.


"Mama aku yang larang, dokter gak pernah bahas soal eskrim" Pesan Viona dengan mengetik menggunakan tangan kirinya.


"Harus tanya dong, jangan beranggapan dokter gak bilang berarti boleh" Balas Ahmad lagi kepada Viona.


"Mad, aku ngetik tangan kiri ini lho dan itupun aku chat kamu ini karena mama aku di kamar mandi dan kak Rifal lagi pulang ambil baju ganti" Jelas Viona lewat pesan singkatnya.


"Aku telepon dulu pihak rumah sakit kalau begitu, pastikan" Balas Ahmad.


"Gak usah Mad, nanti aku kena omel" balasnya lagi.


Viona takut jika tiba-tiba suster atau dokter datang memeriksanya akan membahas soal eskrim, bukan hanya mendapatkan omelan melainkan ponselnya pun pasti disita.


"Oke" Jawab Ahmad.


Viona yang baca pesan Ahmad yang begitu singkat, "Gak nanya, hanya oke saja. Untung kamu temanku" Viona ngedumel seorang diri sambil melihat layar ponselnya.


Ibu Heti dari kamar mandi langsung menarik kursi dan duduk disamping ranjang Viona.


"Vio, jangan pikir yang macam-macam dulu" Ujarnya membuat Viona mengerutkan keningnya.


"Maksudnya mam?" Tanya Viona.

__ADS_1


"Fokus dulu di kesehatan kamu" Jelasnya lagi.


"Iya aku tau mam, emang menurut mama saya lagi mikirin apa?" Tanya balik Viona.


"Mudah-mudahan bukan eskrim ya Allah" Viona berdoa dalam hati.


"Menikah" Jawab ibu Heti dengan cepat.


"Haaa.." Respon Viona lalu ia tertawa, "hahaha, kirain eskrim bikin deg degan saja" Ucapnya dan seketika menutup mulutnya.


"Udah ditahan agar tidak keceplosan, ini bibir suka tuannya dimarahi" Viona menggerutu dalam hati.


Ibu Heti menyipitkan matanya, "Oh pikirannya eskrim dari tadi?, nanti sembuh total baru makan eskrim Vio. Jangan aneh-aneh deh" Jelas Ibu Heti.


"Gak kok mam, aneh gimana?, Mama yang pikirannya kejauhan" Jawab Viona tidak mau kalah.


"Aow mam, sakit" Ucap Viona setelah mendapat jeweran dari ibunya.


"Makanya jangan jawab kalau mama bilang, mama bilang seperti itu karena aku lihat Ahmad dan Ray datang bergantian" Jelas Ibu Heti lagi.


"Ah.." Ucap Viona terhenti karena ada yang ketuk pintu kamarnya lalu ia beri salam.


"Bentar" ujar Ibu Heti dan pergi membuka pintu.


"Eh nak Ahmad, kok tumben datang malam-malam kerumah sakit?" Tanya Ibu Heti setelah mereka duduk dikursi yang tidak jauh dari tempat tidur Viona.


"Mad, bawa eskrim gak?" Tanya Viona dengan wajah ceria melihat kedatangan temannya itu.


"Gak bawa, lagian ini malam, masa makan eskrim. Benar gak tante?" Tanya Ahmad.


Viona langsung menatap Ahmad dengan malas, "Aku tau kompromi dengan mama" ujarnya lalu menoleh kearah lain. Ia malas melihat ibunya dan Ahmad malam ini.


Ibu Heti hanya menaikkan pundaknya, "gitulah nak Ahmad sudah besar tapi kayak anak kecil" Ujar ibu Heti lagi.


"Hahaha, mungkin karena bungsu tan" Jawab Ahmad setelah ia ketawa.


"Gak, anak bungsu teman mama gak kayak dia. Makanya saya suka mikir sekarang, kira-kira waktu ngidam makan apa gitu" ungkap Ibu Heti membuat Ahmad merasa lucu.


Sebenarnya bukan hanya Ahmad yang merasa lucu dengar ucapan ibu Heti tapi Viona juga, akan tetapi dirinya pura-pura marah jadi tidak mungkin mau ketawa seleluasa Ahmad.


"Kenal yang punya restoran tempat kerja mu nak Ahmad?" Tanya Ibu Heti, ia tiba-tiba ingat cerita Viona tentang eskrim yang enak.


"Sedikit tan" Jawab Ahmad, "memang ada perlu tante? mungkin saya bisa bantu"


"Pemiliknya sudah berkeluarga?" Tanya Ibu Heti kepada Ahmad


Ahmad sedikit ragu menjawab, ia takut salah jawab.


"Sebenarnya Viona cerita apa saja sama mamanya" batin Ahmad.


"Sepertinya belum tante" Jawab Ahmad lagi


"Masih muda atau tua tapi duda?" Tanya Ibu Heti lagi.


"Itu Ahmad tidak terlalu tau juga tan, emang kenapa tan kalau boleh tau?" Tanya Ahmad penasaran dengan pertanyaan ibu Heti ini.


"Ini Viona suka kesana makan eskrim, biasanya tu beda kalau punya eskrim sendiri dan beli. Takut nanti menikah uang suaminya habis gara-gara beli eskrim" Ungkap Ibu Heti lagi.


"Hahaha, aku mengerti tan, maksudnya supaya Viona makan eskrim sepuasnya tanpa bayar" Jelas Ahmad yang diangguki oleh ibu Heti.


Viona sebenarnya ingin menimpali ucapan Ibunya saat menanyakan pemilik restoran kepada Ahmad, tapi ia berusaha tahan ingin tau arah pembicaraannya sampai dimana.


"Mam aku disana tidak bayar dengan syarat bawa anak kecil, makanya aku yang selalu jemput Ainun di sekolah jadi pas pulang singgah dulu makan eskrim. Tanya Ahmad deh kalau mama tidak percaya" Ungkap Viona.


"Waduh kenapa Viona bilang kayak gitu, mau jawab apa aku" Batin Ahmad.


Ibu Heti melihat Ahmad seketika lalu kembali melihat kearah anaknya.


"Vio, selama ini mama belum pernah dengar makan gratis disebuah restoran dengan syarat bawa anak kecil" Ungkap Ibu Heti.


"Itu zaman mama, zaman Viona beda lagi. Kalau tidak percaya nanti mama kesana bawa Ainun tapi harus tiap hari dan tidak boleh ganti meja. Disana dikasih nomor juga nanti nomor tersebut diundi" Jelas Viona.


"Itu tidak masuk akal kalau mama pikir, dari zaman dulu makan di restoran pasti bayar. Terkecuali, restoran itu milik suami atau milik sendiri"


"Rezeki anak Sholehah mam. Ehh Mad itu diundi kapan, soalnya penasaran dengan hadiahnya" Ucap Viona lagi.


Ibu Heti tidak percaya dengan penjelasan Viona, ia berinisiatif untuk sendiri.


"Mama akan cek sendiri kebenarannya, kalau bawa anak kecil itu gampang. Anak gadis saja bisa bawa anak kecil, apalagi ibu-ibu" Tutur Ibu Heti yang membuat Ahmad kaget tidak percaya.


"Serius tan?" Tanya Ahmad.

__ADS_1


"Iya, nanti saya panggil teman-teman pengajian juga" Jawab Ibu Heti penuh yakin.


Ahmad sudah tidak bisa berkata-kata lagi, ia tidak kepikiran sampai ke ibu-ibu pengajian. Eskrim gratis berlaku hanya untuk Viona, tapi karena kecerdasan Viona menceritakan semuanya kepada ibunya membuat Ibu Heti penasaran dan ingin membuktikan ucapan anaknya.


__ADS_2