
Pagi ini Viona ada janji bertemu dengan teman-teman kampusnya. Karena Viona sudah berhijab maka rempongnya memilih gamis itu membuat Yesi dan Heti turun tangan untuk membantu.
"Masyaallah dek, coba dari dulu kayak gini. Tenang aku" Ujar Rifal sembari gambung sarapan pagi ini.
"Emang kenapa kak?" Tanya Viona penasaran.
Viona merasa selama ini kakaknya tidak pernah mengatakan kekhawatiran atas dirinya. Lagian kalau dipikir sudah besar bukan anak kecil lagi untuk selalu dikhawatirkan.
"Banyak. Tanggung jawabku berat" Jawab Rifal.
"Banyak, maksudnya?" Tanya Viona tidak mengerti, "hmmm, sepertinya aku harus pergi sekarang. Assalamualaikum" Pamit Viona kepada keluarga besarnya.
"Wa'alaikumussalam" Jawab mereka.
"Viona mau kemana sepagi ini mam?" Tanya Rifal kepada ibu Heti.
"Katanya ketemu teman sekampusnya" Jelas ibu Heti sembari melanjutkan makan.
"Mam, lain kali kalau Viona izin ketemu dengan teman-temannya tanya dulu siapa. Takutnya nanti kembali ke jalan yang salah" Ujar Rifal lalu minum mengakhiri sarapannya pagi ini.
"Teman-temannya tidak baik?" Tanya Ibu Heti dan dalam hatinya mulai cemas.
"Bukan begitu mam, kita tau sendiri kan Viona itu baru saja memutuskan untuk berhijab kalau terpengaruh sama teman-temannya yang tidak memakai kerudung gimana?" Jawab Rifal menyampaikan kekhawatirannya kepada Viona.
"Itu gak usah khawatir, dia sudah janji dengan dirinya sendiri akan sebisanya untuk Istiqomah" Yesi menjawab kegundahan hati Rifal.
"Tetap terpengaruh kak, kalau berada di lingkungan yang salah" Jujur Rifal yang belum bisa meyakinkan diri dengan jawaban kakaknya itu.
Sejenak Yesi berpikir, "siapa tau dengan Viona berhijab maka teman-temannya ikut berkerudung juga"
"Semoga kak, sepertinya aku harus ke kantor" Ucapnya lalu mengambil tas kantornya dan Marcelea pun mengantar suaminya sampai depan pintu utama.
"Hati-hati ya bang" Ucap Marcelea sembari senyum kepada suaminya itu.
Rifal menatap lama wajah istrinya, "Iya, kamu kalau ada apa-apa kasih tau kak Yesi, mama atau telepon langsung Abang. Ok!"
"Iya bang" Jawab Marcelea dengan senyum yang tidak luntur di bibirnya.
"Ok, Assalamualaikum"
"Wa'alaikumussalam" Jawab Marcelea lalu mencium tangan suaminya.
Marcelea kembali ke meja makan disana Yesi dan ibu Heti sudah selesai makan.
"Duduk dulu nak" Ujar ibu Heti kepada mantunya itu.
Marcelea pun duduk, "iya ma"
"Acara tujuh bulanan bulan ini, rencana acaranya dimana nak?" Tanya ibu Heti lagi.
"Iya supaya kita persiapkan dari sekarang" Timpal Yesi.
Marcelea terharu mendengar ibu mertua dan kakak iparnya tidak sadar air matanya menetes.
"Lho dek" Yesi kaget dan langsung menghampiri adik iparnya itu.
"Iya nak, kenapa?" Tanya Ibu Heti panik.
__ADS_1
"Terharu kak, mam" Jawabnya dengan mata yang masih berkaca-kaca.
"Ya Allah nak, mama kira kamu kenapa" Ujar Ibu Heti dengan napas lega.
Yesi memeluk adik iparnya itu, "ibu hamil gak boleh menangis, hehe" Ucapnya sembari menepuk lembut penggung Marcelea.
"Sudah ah, nanti jelek" Ujar Yesi bercanda.
"Hehehe" Marcelea tertawa begitupun ibu Heti dan Yesi.
🌺
Viona baru sampai tempat dimana mereka janjian. Viona sampai langsung menelpon salah satu teman di grup WhatsAppnya.
Viona menelfon berkali-kali tapi tidak diangkat, ia pun bunyi di grup seketika teman-temannya menjawab. Ada yang mengatakan kalau dirinya mendadak tidak ikut karena keluarga sakit, ada yang masih mengantuk ingin lanjut tidur dan yang paling menyakitkan hanya menyimak.
Viona kesal udah buru-buru tapi tidak ada yang datang.
"Kalau aku tau begini tidak akan aku buru-buru, kasih repot satu rumah.. huh" Ucapnya seorang diri sambil menghentakkan kakinya karena kesal.
"Gak mau lagi kumpul-kumpul kalau gini jadinya" Gumamnya lalu masuk dalam cafe yang viona sendiri belum pernah kesini sebelumnya.
Cafe yang nuansa klasik itu membuat Viona betah berlama-lama disitu meskipun seorang diri.
"Ini tempat bersembunyi dimana selama ini, kenapa aku baru tau" Batin Viona sambil menikmati iced tiramisu latte ditemani dengan kue bolu lemon madeleine.
"Nikmatnya, kapan-kapan aku kesini lagi" Gumamnya dan tidak lupa ia mengabadikan momen itu lewat gambar.
"Senikmat ini, nanti aku ajak mama dan kak Yesi disini" Gumamnya lagi sambil main ponsel. Ia tidak merasa sunyi meskipun sendirian.
Disisi lain, Alan memutuskan untuk menyusuri kota sambil memperhatikan semua bangunan disekitarnya, dengan harapan bisa menjadikan inspirasi untuk usahanya nanti.
"Masuk ah, siapa tau nemu inspirasi didalam" batinnya dan masuk dalam cafe tersebut.
Pertama Alan dibuat kagum dengan pelayannya yang ramah-tamah.
"Fix, karyawanku nanti harus ramah kesemua pelanggan" Batin Alan.
Alan menuju kursi sengaja mengambil spot sudut dekat kaca. Ia ingin melihat cara karyawan di cafe ini melayani orang.
"Bagus" Pujinya dalam hati.
Alan kembali penasaran diluar cafe itu, karena ada kaca maka ia kembali dibuat kagum dengan kawasan diluarnya.
Sekitar 20 meter dari gedung cafe di tanamkan pohon setinggi pinggang orang dewasa dengan dililitan lampu hias kecil warna warni. Antara pohon satu dengan pohon yang lain terdapat kursi dan meja, sangat cocok dijadikan makan malam bersama pasangan.
"Waoow, amazing" batinnya.
Ia dibawakan daftar menu oleh pelayan dengan tutur kata lembut dan sopan ia bertanya kepada Alan. Alan malas melihat daftar menu.
"Minuman yang paling mahal dan cake yang paling mahal di cafe ini" Pesan Alan, memang terdengar sedikit sombong tapi Alan penasaran minuman dan kue di cafe ini.
"Baik" Jawab pelayan itu lalu pergi.
Alan kembali melihat pemandangan luar, ternyata dalam cafe dan luar cafe sama-sama bagus.
"Denah, untuk apa denah? Apa luas sampai kebelakang" Batin Alan.
__ADS_1
Alan baru ingat kalau Ray bisa menemukan jawaban atas pertanyaan yang baru terlintas dibenaknya.
Alan tidak menunggu waktu lama.
"Halo Ra, kamu dimana?" Tanya Alan ditelepon itu sambil menikmati pemandangan luar cafe.
"Di bengkel, kemana lagi?" Tanya balik Ray diseberang telepon.
"Ra, aku sudah menemukan ide usaha yang cocok" Ujar Alan lagi ditelepon.
"Usaha apa Lan?, Kalau butuh bantuan bilang saja, nanti aku bantu" Respon Ray kepada temannya yang sudah menemukan ide usahanya.
"Kesini cepat nanti aku kirim alamatnya" Ucap Alan ditelepon itu membuat Ray malas seketika.
Ray mengeluarkan napas lewat mulutnya, "Masih banyak kerjaan Lan" Kilah Ray.
Alan tau bagaimana keseharian Ray, jadi susah untuk di bohongin, tapi ia tidak mungkin juga memaksa sahabatnya itu untuk datang.
Alan putar otak untuk berpikir, ia tiba-tiba keringat Viona seketika ia senyum, "maaf Ra, terpaksa karena aku penasaran diluar cafe ini seperti apa" Batinnya.
"Viona.." Ucap Alan dengan sengaja membesarkan suaranya agar Ray bisa dengar dengan jelas.
Seketika sambungan telepon mati dan Alan hanya ketawa penuh kemenangan.
"Hmmm sebut Viona baru mau, maaf Viona harus gunakan namamu untuk memanggil Ray kesini" Batinnya sembari senyum setelah mengirimkan alamat cafe ke Ray.
Sementara Viona, diam memasang kuping baik-baik karena seperti ada yang panggil namanya.
"Apa perasaan aku saja" Batin Viona dan menoleh kiri kanan tapi yang ia lihat sibuk cerita dengan teman-teman mereka.
"Masa setan yang panggil nama aku, untung gak jawab" Gumam Viona dan bergidik ngeri.
Viona menghabiskan pesanannya dan memasukkan ponselnya dalam tas, lalu jalan menuju kasir untuk bayar.
"Berapa semua mbak?" Tanya Viona sembari mengeluarkan dompetnya untuk mengambil uang.
"Viona ya?" Tanya petugas kasir itu.
"Iiiiya, mbak kenal saya?" Tanya Viona sedikit bingung karena ia belum pernah ke cafe ini.
"Sudah dibayar mbak" Jelas pegawai kasir itu lagi.
"Haaaa.. Mmmm, kalau boleh tau siapa yang bayar mbak?" Viona penasaran dan bingung.
"Kalau aku gak tau namanya mbak, yang jelas jaket hitam" Jelasnya membuat Viona membalikkan badan dan melihat seluruh pengunjung yang jaket warna hitam.
"Gak ada yang muda, yang benar aja om om itu. Gak mungkin dong" Ucap Viona spontan membuat pegawai kasir menahan tawa.
"Tua atau muda mbak?" Tanya Viona memastikan.
"Muda mbak"
"Alhamdulillah" Spontan Viona mengucapkan hamdalah.
Pegawai karyawan geleng kepala, "Kenapa mbak Viona?"
"Mbak kalau tua bahaya, nanti dikira pelakor" Jawab Viona dengan nada berbisik.
__ADS_1
"Ekhem" Seseorang berdehem tepat dibelakang Viona.