
Dengan penuh air mata Gladis masuk dalam rumah, dituntun oleh Gebi. Orang tua Ray melihat Gladis masuk dalam rumah langsung berdiri dari duduknya, keduanya menunggu diruang tengah sejak tau kalau dalam rumah tidak ada Ray dan Gladis.
Mami Ray langsung menghampiri Gladis dan Gebi, "Kenapa ini?" Tanya Mami Ray dengan dengan panik dan mengambil alih Gladis dari Gebi.
"Itu lho Mi, Ra" Adu Gladis.
"Hati-hati kalau jalan, kamu sedang hamil" Mami Ray mengingatkan Gladis lalu mereka duduk berdampingan.
"Cerita ke Mami, kenapa Alex?" Lanjutnya dengan penasaran.
Gladis menggenggam kedua tangan ibu mertuanya sembari menatap matanya, "Mami, gak marah kan kalau aku terlambat pulang?" Tanyanya memastikan.
Mami Ray menganggukkan kepala sembari senyum, "Gak, tapi jangan diulangi" Jawabnya.
"Jadi kenapa Alex?" Tanya Mami Ray.
"Ra, pergi tanpa pamit. Aku cari tapi gak ketemu" Adu Gladis kepada ibu mertuanya.
Papi Ray langsung menelepon Ray, ponselnya ia tempelkan ditelinga tapi yang terdengar suara operator.
"Tidak aktif" Ujarnya lalu kembali menatap layar ponselnya, entah apa yang ia cari dalam ponselnya lalu kembali dia tempelkan ditelinganya, tapi lagi-lagi hanya suara operator yang terdengar.
"Gak aktif juga" Papi Ray memberitahu istri dan mantunya.
"Emang siapa yang ditelepon, Pi?" Tanya istirnya.
"Alan, teman Alex tapi tidak aktif juga. Apa mereka lagi direstoran?" Papi Ray bertanya-tanya.
"Mungkin, Alex selalu sama-sama Alan. Kemungkinan, Alex di apartemen Alan" Jelas Mami Ray.
Gebi duduk diam sambil menyimak pembicaraan keluarga Manullang, mau pamit tapi canggung sebelum pembicaraan mereka selesai.
Papi Ray kembali duduk sambil bersandar di sofa. Berpikir mencari cara untuk menemukan putranya.
"Mami, deg-degan gak?" Tanya Papi Ray, ia sengaja bertanya seperti itu karena biasanya firasat seorang ibu tidak akan meleset dari keadaan anaknya.
"Sedikit, tapi gak mungkin terjadi hal membahayakan. Coba saja sentuh Alex, aku bakal cari dia biar masuk dilubang semut" Nada Mami Ray begitu tegas, membuat Gladis susah menelan ludah.
"Besok pagi, nanti kita jemput di apartemen Alan" Ujar Mami Ray, "masuk kamar ini udah tengah malam," lanjutnya lalu berdiri menoleh kearah Gebi, "Disana ada kamar tamu, bermalam saja disini tidak baik perempuan keluyuran tengah malam."
Gebi menanggapi itu dengan senyum terpaksa, ingin hatinya ikhlas mengatakan terima kasih tapi setelah mendengar kata keluyuran Gebi jadi malas.
"Ringan sekali Mami Ra bilang kayak gitu, saya kesini karena mantunya" Gebi ngedumel dalam hati.
Mereka pun ke kamar masing-masing. Papi Ray masih kepikiran dengan anaknya. Gladis pikirannya tidak karuan antara memikirkan Ray dan bahasa mertuanya. Sedangkan Gebi masuk dalam kamar dengan mulut komat-kamit tidak jelas.
"Mati aku, kalau Mami tau penyebab Ra tidak pulang malam ini" Batin Gladis sembari menutup pintu kamarnya.
Berbeda dengan Gebi, ia merebahkan badannya diatas tempat tidur.
"Iihh kenapa Mami Ra ngomong kayak gitu coba, pakai bahasa keluyuran lagi, aku kalau bukan mantunya malas aku kesini" Kesal Gebi masih terngiang-ngiang bahasa Mami Ray.
🌺
Pagi yang cerah, Viona dengan sengaja membuat jendela kamarnya agar angin pagi masuk dalam kamar. Angin pagi terasa sejuk dan segar, ia hirup dalam-dalam.
"Memang angin pagi itu bikin hati tenang, mungkin karena belum terkontaminasi dengan angin kemunafikan manusia kali yaa" Gumam Viona, lalu ia ketawa lucu menertawakan dirinya sendiri.
"Angin kemunafikan, aduh Viona kamu makin aneh" Lanjutnya lagi sembari geleng kepala heran dengan ucapannya sendiri.
Sementara di dapur seperti biasa, ibu Heti lagi bertempur dengan peralatan dapur. Sarapan yang ia bikin pun jadi. Ia bawa dimeja makan lalu memanggil Viona untuk sarapan pagi.
Ketukan pintu terdengar dari balik pintu sembari memanggil nama Viona.
__ADS_1
"Viona, sarapan dulu. Mama tunggu ya" ujar ibu Heti lalu pergi meninggalkan kamar putrinya.
Viona yang berdiri dekat jendela segera keluar dari kamar menuju meja makan untuk sarapan bersama. Selesai makan Viona siap-siap ke butik sedangkan ibu Heti seperti biasa di rumah, adapun keluar rumah berarti lagi ngumpul-ngumpul dengan teman-temannya.
Sesampainya dibutik, Viona lakukan pertama adalah membersihkan lantai butiknya. Ia sebenarnya capek, semua ia kerjakan sendiri tapi mau bagaimana lagi sampai sekarang tidak ada satu orang pun yang datang untuk melamar pekerjaan padahal didepan terpampang jelas.
Ia istrahat sejenak sambil minum, tenggorokan terasa kering.
"Apa aku kembali panggil Ina saja, nanti gajinya aku naikkan" Pikir Viona sambil menimbang-nimbang.
"Fix, Ina saja" Lanjutnya setelah mantap dengan pilihannya.
Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Ina, panggilan pertama tidak terjawab dan Viona tidak menyerah begitu saja, karena harapan satu-satunya hanya Ina. Kembali menelepon dan disana terdengar suara yang baru bangun.
"Assalamualaikum" Ucap Ina diseberang telepon sambil menutup mulutnya karena menguap.
"Wa'alaikumussalam, baru bangun?" Tanya Viona dalam telepon.
"Iya, tumben telepon. Ada apa?" Tanya balik Ina dalam telepon sembari mengibaskan selimutnya lalu ia bangun dari pembaringannya. Viona seketika ketawa cengengesan
"Viona, ngeledek nih?" Tanya Ina lagi dalam telepon.
"Iih, siapa yang ngeledek, aku hanya ketawa" Jawab Viona.
"Iya.. iya" Ina malas berdebat dengan Viona, "ada apa, butuh bantuan?"
"Tepatnya, saya ingin panggil kamu kembali kerja dibutik. Gimana?" Tanya Viona dengan penuh harapan Ina setuju.
"Nanti dilihat" Jawab Ina.
Seketika bibir Viona mengerucut maju depan melewati hidungnya. Ia menghela napas panjang, tidak sesuai harapan.
"Ya udah, aku mau mandi dulu. Ada pekerjaan mendadak, assalamualaikum" Ujar Ina lagi lalu matikan sambungan telepon sepihak.
Viona menjauhkan ponsel dari telinga lalu menatap layarnya, "memang Ina agak lain."
Sedangkan di daratan yang sama ditempat yang berbeda, Mami Ray dan Gladis sudah siap-siap ke apartemen Alan ingin menjemput Ray. Ada rasa ragu dalam hati Gladis, ia takut kalau Ray tidak ada di apartemen Alan dan sudah dipastikan Maminya akan bertanya-tanya.
"Gimana ya?" Batin Gladis gelisah ditempat duduknya.
"Temanmu mana?" Tanya Mami Ray.
Gladis tidak mendengar pertanyaan mertuanya, ia sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Gladis, teman kamu mana?, Apa dia belum bangun?" Tanya Mami Ray lagi.
"Aa..aa.. Siapa Mi?" Tanya balik Gladis.
"Temanmu. Mikirin apa?, Alex?. Dia itu paling di apartemen Alan, tenang saja" Mami Ray menenangkan hati Gladis.
Gladis lalu memegang tangan ibu mertuanya, "makasih ya, Mi" Ucapnya dalam keraguan. Ia sangat takut jika ucapan ibu mertuanya tadi malam terjadi dan orang yang akan dicari adalah dirinya.
"Kalau teman Gladis, dia sudah pulang pagi tadi, katanya buru-buru mau pamit tapi pintu kamar Mami dengan Papi masih tertutup" Karang Gladis.
Gladis yang membangunkan Gebi dari subuh dan menyuruhnya untuk pulang cepat. Ia tidak ingin Ray pulang dan menemukan Gebi dirumah, bisa kacau nantinya.
Keduanya berangkat menggunakan supir, dalam perjalanan menuju apartemen Alan, Mami Ray selalu menelfon Ray dan Alan tapi nomor telepon keduanya diluar jangkauan.
"Masih tidur kayaknya ini" Gumam Mami Raya lagi dalam mobil, "Pelan saja bawa mobilnya ya pak, mantu saja tengah mengandung" lanjut Mami Ray memberitahu pak supir.
Supir mengangguk iya, lalu membawa mobil dengan pelan sesuai arahan majikan.
Kalau Ray dan Alan, jangan ditanya. Keduanya sedang tidur disebuah penginapan yang tidak jauh dengan tempat kejadian. Keduanya sampai dipenginapan jam 2 dini hari. Badan keduanya terasa remuk seperti baru melakukan pekerjaan berat.
__ADS_1
Ray tidur terlentang diatas tempat tidur dan Alan ketiduran disofa. Badan keduanya jauh dari kata bersih, apalagi Ray habis minum alkohol. Bau alkohol masih tercium dari mulutnya.
Menggeliat dengan mata melihat disekitaran tempat tidur.
"Dimana ini, Lan?" Tanya Ray.
Alan yang belum membuka mata, menjawab dengan sangat singkat "Uumm"
"Oh" Ray pun merespon tidak kalah singkat lalu keduanya kembali tertidur. Rasa kantuk masih menguasai keduanya.
Jarum jam begitu cepat berputar, sudah menunjukkan pukul 10 pagi, tapi keduanya masih tidur. Alan dan Ray merasa baru beberapa jam yang lalu.
Sedangkan di apartemen Alan, Mami Ray dan Gladis sudah duduk didalam sambilan menunggu kabar dari ibu Alan, karena ibu Alan pun sedang menunggu anaknya.
"Maaf bu, apa mereka tidak balik dari semalam?" Tanya Mami Ray.
"Iya, ditelepon tapi tidak aktif. Saya telepon direstoran katanya tidak ada, tapi motor temannya ada disana" Jelas Nisa.
Gladis yang mendengar itu makin panik, diam-diam mengirim pesan kepada suruhannya.
"Kalian dimana?, Kenapa suamiku belum pulang sampai sekaran" pesan Gladis.
Bos preman itu menelfon, ia pamit untuk mengangkat telepon sejenak lalu ia pergi.
"Halo, aku tidak mau tau, cari suami saya sampai dapat" Perintah Gladis dengan penuh penekanan dan bernada rendah hampir tidak terdengar.
"Pokoknya, pagi ini aku harus sudah dapat informasi terbaru" Ujar Gladis lagi dalam telepon dan mematikan sambungan telepon. Ia tidak ingin berlama-lama meninggalkan mertuanya, nanti dicurigai.
Gladis kembali duduk dengan mencoba sesantai mungkin.
"Apa Alan biasa seperti ini?" Tanya Mami Ray kepada ibu Nisa.
"Setahuku tidak pernah, Alan selalu pulang rumah" jawab Nisa.
Ikut khawatir dengan keadaan putranya kali ini. Ia sebenarnya setelah bertemu dengan Heti temannya maka ia akan kembali ke kampung halamannya di Sulawesi.
Duduk diam sambil berpikir mencari solusi.
"Apa kita akan lapor polisi saja?" Usul ibu Nisa berhasil membuat Gladis kembali panik sampai merasa perutnya mules.
"Bisa juga. Kapan?" Tanya Mami Ray.
Gladis ikut berpendapat, "apa tidak sebaiknya kita cari dulu."
Ia memberanikan untuk mengeluarkan pendapat sembari menunggu pesan dari anak buahnya. Setidaknya ucapannya tadi bisa membuat kedua ibu-ibu itu berpikir.
Wajah kedua ibu didepan Gladis gelisah dan bolak-balik melihat layar ponsel dengan harapan Ray atau Alan menelfon.
"Kemana ya itu anak-anak" Gumam Nisa.
"Mi, aku sudah menemukan Ra dan Alan" Ujar Gladis dengan senang.
Nisa dan Mami Ray seketika menoleh kearah Gladis.
"Dimana?" Tanyanya bersamaan.
"Di penginapan Nusa, Mi. Kita kesana sekarang" Ujar Gladis dengan semangat.
"Ya Allah, terima kasih ya nak. Kita kesana sekarang."
Ibu Nisa lega setelah mendengar anaknya di penginapan, langsung merebut kesana menggunakan mobil Mami Ray.
"Aku makin disayang kali ini" batinnya sembari senyum bahagia.
__ADS_1
"Kerja yang bagus, aku transfer dengan bonusnya nanti" Pesan yang Gladis kirim kepada bos preman itu.