
Setelah kejadian aneh tentang orang yang menjemput Ainun, Viona dan Yesi langsung menghadap guru dan menemui satpam sekolah Ainun, untuk memberitahukan bahwa kalau bukan keluarga inti, jangan diizinkan.
Guru dan satpam pun paham dengan kekhawatiran keluarga Ainun dan mereka berjanji tidak akan terulang kedua kalinya seperti kejadian yang dialami Ainun.
Yesi menunggu Ainun didepan kelasnya, ia duduk di bangku yang disediakan pihak sekolah, bangku itu dikhususkan untuk orang tua murid atau pengasuh murid.
Sedangkan Viona, jangan ditanya kalau urusan menunggu sudah biasa, ia habiskan waktu baca novel untuk menghilangkan rasa bosan.
"Dek, ini sampai jam berapa?" Tanya Yesi.
"Baru juga nunggu, udah tanyakan jam. Apa kabar dengan aku yang tiap hari nunggu Ainun disini" keluh Viona membuat Yesi tertawa.
"Karena aku tidak terlalu percaya dengan orang baru dek. Gimana tiba-tiba orang itu datang lagi?"
"Bagus dong kak, tinggal tangkap dan lapor polisi.. selesai" Jawan Viona enteng.
"Benar juga sih"
Yesi membenarkan ucapan adiknya itu.
Diwaktu yang sama dengan tempat berbeda, Ray sedangkan telepon dengan Maminya. Seperti biasa mengawali pembicaraan dengan hangat namun tiba-tiba tegang setelah membahas Viona.
"Viona tidak seiman dengan kita, dia gak pantas jadi mantu Mami" Ucapan Mami Ray itu membuat dada Ray seketika sesak.
"Mi, tau dari mana Viona seorang muslim Mi?" Tanya Ray ditelepon itu dengan lembut.
Terdengar tarikan napas kasar dari seberang tepat, "Gak perlu kamu tau, yang jelas Viona berjilbab kan?, Benar kan?, Lagian kamu sendiri yang bilang sama Mami kalau Viona seorang muslim"
"Mi.." Panggil Ray langsung dipotong oleh Maminya lagi.
"Apa?, Kenapa tidak jujur dari awal Lex kalau Viona berbeda dengan kita, supaya Mami gak berharap"
"Mi, Alex minta maaf soal itu tapi jujur Mi, aku sangat mencintai Viona Mi"
"Mami gak restui sampai kapan pun. Cukup Marcel yang ninggalin Mami"
"Mi, Alex gak akan ninggalin Mami. Percaya pada Alex, sampai kapan pun Alex tetap berada disisi Mami. Alex janji gak akan ninggalin Mami"
"Ok, Mami percaya. Kalau begitu putuskan Viona"
"Mi, jangan buat Alex sedih. Alex sangat mencintainya Mi" Dengan nada memohon kepada Maminya.
"Cinta seiring berjalannya waktu bisa pudar kan?, katanya gak akan ninggalin Mami"
"Alex gak akan ninggalin Mami, tapi Alex punya hak mencintai seseorang dan itu mungkin bukan pilihan Mami"
"Renungkan lagi Lex" Permintaan Maminya.
"Alex ingin melamar Viona" Ucapan Ray itu membuat Maminya teriak diseberang telepon.
"Kamu sudah gila Lex, kalau kamu sayang Mami maka jangan lamar Viona, tapi kalau memang sudah siap kehilangan Mami dan Papi mu maka lakukan. Mami tidak akan menghalangimu"
"Mi.., tut tut tut" sambung telepon mati.
Mami Ray mematikan sambungan telepon sepihak dan Ray sudah pastikan jika Maminya kecewa dan marah padanya.
"Maafkan Ray, Mi. Aku tidak bermaksud membuat Mami kecewa, aku hanya mengeluarkan apa yang ada dalam hatiku" Gumamnya seorang diri sambil menatap langit-langit kamarnya.
Ia tidak masuk bengkel hari ini, karena ia sedang mempersiapkan mental ke rumah Viona dengan tujuan melamar Viona.
Berkali-kali Ray kembali menelfon Maminya tapi tidak tersambung sepertinya Mami Ray sengaja menonaktifkan gadgetnya.
Ray siap-siap sebelum ke rumah Viona, terlebih dahulu mampir ke toko perhiasan membeli cincin.
Dengan semangat empat lima, Ray membawa motornya membela jalan kota dengan hati penuh bahagia membayangkan hari ini akan melamar orang yang ia cintai.
Sampai di toko perhiasan langsung minta izin mengambil beberapa gambar cincin tersebut lalu ia kirim ke Viona.
"Sebentar ya mbak" Ujar Ray.
"Baik mas" Jawabnya tidak keberatan.
Setelah mengirim pesan Ray menunggu balasan pesan Viona sambil berdiri.
"Lama juga balasnya" Batinnya.
Penjaga toko perhiasan tersebut mengerti dengan Ray, melihat Ray yang berdiri sambil memantau ponselnya.
"Maaf mas, biasanya perempuan kalau disuruh milih lama"
"Jadi mbak?" Tanya Ray penasaran.
"Silahkan duduk dulu mas, sabar saja pasti balas kalau sudah menemukan yang dia suka" Jelasnya lagi.
Ray mengangguk dan duduk di kursi yang sudah disediakan. 15 menit pesannya belum dibalas juga.
"Gimana mas?" Tanya mbaknya lagi.
"Belum dibalas" Jawab Ray.
"Kenapa calonnya gak dibawa sekalian mas biar langsung pilih sendiri"
__ADS_1
"Emang seperti itu ya mbak?" Tanya Ray.
"Biasanya seperti itu mas dan bisa juga kami antar beberapa cincin di rumah mas atau rumah calon mas, supaya calonnya langsung pilih tanpa harus ke toko lagi"
"Oh" Jawab Ray sambil manggut-manggut mengerti.
"Cincin yang model baru yang mana mbak?" Tanya Ray.
"Cincin tunangan" lanjutnya.
"Tunggu ya mas" Jawabnya.
Penjaga toko perhiasan tersebut memilah cincin yang menurutnya bagus dan mewah.
"Mbak sederhana tapi terlihat elegan" Pesan Ray lagi. Ia tau Viona sangat tidak suka yang terlihat mewah, Viona lebih suka yang sederhana.
"Baik mas"
Beberapa menit Viona membalas pesan Ray.
"Semuanya bagus Ray" Balasan pesan itu Ray baca dengan sedikit bersuara membuat penjaga toko itu tersenyum lucu.
"Mas, nanti saya suruh satu orang untuk membawa cincin ini. Biasanya ucapan seperti itu karena dia bingung mau pilih yang mana" Jelasnya membuat Ray berpikir sejenak.
"Hmmm" Ray menimbang-nimbang perkataan pegawai toko perhiasan tersebut.
"Kalau gitu mbak, saya beli saja cincin yang saya foto tadi"
"Semuanya?" Tanyanya seakan tidak percaya.
"Iya mbak"
"Berapa ukuran jari calon mas?"
"Saya saja yang ukur mbak" Ucap Ray sambil memasukkan cincin tersebut dijari manisnya setengah, "sudah pas ini mbak" sambungnya.
"Baik"
Setelah itu melakukan transaksi dan Ray pulang.
🌺
Viona seperti biasa sepulang menjemput Ainun, mereka berdua terlebih dahulu singgah di restoran Ahmad.
Karena mobil yang bawa Yesi, maka Viona dan Ainun dengan bebas bercanda dalam mobil.
"Gimana kalau kita menyanyi?" Tanya Viona sembari senyum kepada sang ponakan, "Gimana, mau gak?" Sambungnya.
"Ibu suka dengar suara Ainun dan bibi Vio" Ujar Viona lagi.
"Ibu gak akan marah?" Tanya Ainun tidak percaya.
"Iya, ibu dan bibi Vio itu saudara jadi bisikan hati ibu Ainun, bibi Vio pasti tau. Dan mau tau bisikan hati ibu Ainun tadi?" Tanya Viona kepada Ainun.
Ainun yang begitu antusias mendengarkan ucapan bibinya langsung mengangguk cepat.
"Dek, Ainun masih kecil lho. Jangan bicara asal" Potong Yesi.
"Ainun pengen punya adik bu, supaya Ainun bisa tau bisikan hati adik Ainun" Ujar Ainun membuat Viona ketawa.
"Tuh kan, apa aku bilang. Ainun itu merekam apa yang kita ucapkan" Ujar Yesi lagi.
"Ekhem" Viona berdehem terlebih dahulu sebelum bicara.
"Pura-pura kering tu tenggorokan?" Tanya Yesi kepada Viona.
"Tidak kak hanya sedikit, hehehe" Respon Viona sedikit bercanda.
Viona menatap ponakannya, "Ainun cantik, bisikan hati itu hanya orang besar yang tau"
"Oh, Om Rifal dan Bibi Lea juga tau?" Tanya Ainun.
"Yes"
"Nenek?"
"Tau juga" Jawab Viona dengan cepat.
"Bisikan hati ibu tadi apa bibi?" Tanya Ainun lagi.
"Ibu suruh kita menyanyi sepuasnya"
"Ayo bibi" Ajak Ainun.
"Lagunya potong bebek angsa aja ya" Potong Yesi dalam pembicaraan Viona dan Ainun.
"Gak seru" Jawab Viona.
"Iya, Ainun bosan lagu itu" Respon Ainun.
"Naik-naik ke puncak gunung" Ujar Yesi.
__ADS_1
"Ibu, lagu naik ke puncak gunung tapi Ainun gak pernah ke puncak" Protes Viona.
"Ya Allah ponakan aku sekarang makin pintar" Puji Viona,
"Iya dong bibi"Jawab Ainun.
"Sudah sampai, yakin gak mau turun makan eskrim? Ibu sudah tanya Ahmad katanya ada eskrim tapi stoknya sedikit kalau terlambat bisa-bisa kita gak dapat" Jelas Yesi.
Viona langsung menurunkan kaca mobil, tidak percaya dengan apa yang kakaknya ucapkan.
"Benar, ini sudah di restoran, kok bisa.."
Baru Viona mau protes, Yesi kembali bersuara.
"Kalian dalam mobil aja, saya mau makan eskrim"
"Ainun dan bibi ikut kok"
Mereka bertiga masuk dalam restoran dan sudah disediakan oleh meja khusus di restoran itu beserta eskrim diatas meja.
"Mari mbak" Ujar waiter menunggu kedatangan Yesi, Viona dan Ainun lalu mengantar ke meja.
Viona sedikit aneh dengan pelayanan kali ini, tidak seperti biasanya.
"Kak, kakak tidak merasa aneh dengan pelayan tadi?" Tanya Viona sedikit curiga.
"Mungkin cara pelayanan baru, kakak biasa aja tuh" Jelas Yesi kepada Viona.
Viona percaya dan mereka makan eskrim yang sudah disiapkan diatas meja.
"Kak Yesi, apa ini sudah benar meja kita? Belum pesan udah ada eskrim, kan aneh!" Ujar Viona lagi.
"Ahmad sendiri yang kasih tau, baik kan dia?" Jawab Yesi berakhir dengan pertanyaan.
"Iya dong, siapa dulu kalau bukan sahabat Vio" Viona berbangga diri mendengar kakaknya memuji kebaikan sahabatnya.
Menikmati eskrim tersebut tidak membutuhkan waktu lama, tiba-tiba Ahmad datang menghampiri.
"Assalamualaikum, gimana eskrimnya?" Tanya Ahmad sembari senyum kepada Viona sekilas lalu menoleh kearah Ainun.
"Ainun suka gak eskrimnya?" Lanjutnya.
"Iya, enak banget" Jawab Ainun sembari senyum dan menganggukkan kepala.
Berbeda dengan Yesi, bukan seorang perempuan jika tidak menangkap arah mata Ahmad tadi menatap Viona.
"Ahmad gak ada niat menikah gitu?, supaya ada yang menyemangati kerja" Pancing Yesi sembari senyum melirik Viona.
Terlebih dahulu Ahmad tertawa sebelum menjawab pertanyaan Yesi tersebut.
"Sudah ada kak"
Viona seketika memperbaiki posisi duduknya dan menatap Ahmad sembari menunjuknya.
"Curang ya, gak bilang sama aku. Siapa orangnya?, Baik gak?, Apa nanti suka aku juga?" Pertanyaan Viona begitu bertubi-tubi membuat Yesi menghela napas mendengar pertanyaan adiknya.
"Mad, kok curang sih" sambung Viona lagi dengan memasang wajah malas.
"Jangan kayak anak kecil dong" tegur Yesi kepada adiknya.
"Kak, Ahmad itu salah satu sahabat Vio kok ada calonnya gak cerita sama aku"
Viona menjawab ucapan kakaknya dengan protes kepada Ahmad.
"Dia baik, pasti akrab dengan dia. Nge gas banget jadi orang, hehehe" Jawaban santai Ahmad membuat Viona membulatkan matanya.
"Sahabat seperti ini" Ujar Viona tidak mau kalah.
"Kok pada ribut sih, Ainun ngantuk" keluh Ainun.
"Sayang tahan dulu yaa, bibi lagi kesal nih sama teman bibi" Ujar Viona sambil mengusap kepala sang ponakan.
"Emang kamu cerita sama Ahmad kalau dijodohkan?" Tanya Yesi.
"Aku udah cerita, bahkan aku sudah bilang sama dia kemungkinan laki-laki yang dijodohkan dengan aku itu kakek tua udah beruban"
"Astaghfirullah dek, kok kamu seperti itu, gimana kalau yang dijodohkan itu cowok ganteng dan mapan?" Tanya Yesi.
"Mana ada cowok kayak gitu mau dijodohkan, pasti sudah punya cewek" Jawab Viona lagi dan kemudian melembut seketika, "kakak bujuk mama agar batalkan perjodohan itu" Lanjutnya.
Spontan Ahmad mengeluarkan suara, "Ehh"
"Napa lu eh eh?, pusing kayak gini" Ujar Viona lagi.
"Gak, maaf" Ujar Ahmad lagi.
"Ibu, Ainun mengantuk, mau pulang"
"Iya, kita pulang" Ujar Yesi.
Mereka bertiga langsung pamit pulang, pembicaraan langsung hilang seketika setelah mendengar Ainun mengatakan dirinya mengantuk untuk kedua kalinya.
__ADS_1