Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
69. Tetap Tersenyum


__ADS_3

Dalam mobil Viona menumpahkan semua rasa sakit dalam hatinya lewat air mata, ia menangis sembari membawa mobil. Tatapan fokus didepan, tapi pikirannya kacau.


"Kenapa Allah menguji ku seperti ini?, Saat aku jatuh cinta, kenapa harus kepada Ray, laki-laki yang tidak bisa hidup bersama. Allah tidak adil padaku, hiks hiks hiks".


Viona menangis sejadi-jadinya, dengan membawa mobil pelan. Sedangkan Ina yang memantau mobil Viona melaju dengan lambat membuatnya bertanya-tanya dalam hati.


"Apa aku telepon aja kali ya" Ina menimbang-nimbang untuk menelpon Viona.


"Ikuti aja dulu, mungkin pengen menikmati perjalanannya" Lanjutnya.


"Lho" Ujar Ina setelah melihat lampu sen mobil Viona menyala.


"Apa di acara tadi hanya pura-pura senang?" Ina kembali bertanya kepada dirinya sendiri.


Ina berhenti tepat dibelakang mobil Viona lalu turun menghampiri mobil tersebut. Ia mengetuk pintu mobil Viona.


"Gak apa-apa kan?" Tanya Ina sedikit panik diluar.


"Buka dulu Vio" Pintanya lagi.


Pintu mobil sedikit bunyi tanda sang pemilik membuka kunci pintu mobilnya. Ia masuk dan begitu kaget melihat Viona yang sedang menangis.


"Kamu kenapa Vio?" Ina makin panik.


"Apa salah kalau jatuh cinta?" Tanyanya tiba-tiba.


Ia sedikit bingung dengan pertanyaan itu, tapi keadaan seperti ini harus dijawab karena Viona sedang bertanya.


"Gak salah, kita bebas mencintai siapa saja di dunia"


"Tapi kenapa sesakit ini?" Tanya Viona lagi dengan air mata yang terus menerus jatuh tanpa permisi.


"Kamu sebenarnya jatuh cinta sama siapa?" Tanya Ina dengan hati-hati, karena sepengetahuannya Viona adalah tunangan Ahmad, jadi sangat tidak mungkin Viona suka pada pria lain.


Viona seketika sadar kalau dirinya saat ini sedang berhenti dipinggir jalan. Ia tidak mudah untuk berbagi cerita dengan orang lain, apalagi Ina baru ia kenal beberapa hari setelah dari butiknya.


Dengan menghela napas menormalkan perasaannya dan itu tidak luput dari pantauan Ina.


"Gimana kita pulang, ngantuk nih" Ujar Viona sembari senyum.


Ina seketika menempelkan punggung tangannya di dahi Viona.


"Gak depresi kan?" Tanyanya membuat Viona membuka mulutnya karena kaget.


"Yeee, apaan sih.. Siapa yang depresi?" Tanya balik Viona sembari menurunkan tangan Ina dari dahinya.


"Soalnya tadi menangis sekarang tiba-tiba ketawa seakan tidak ada masalah" Jelas Ina lagi yang masih bingung dengan keadaan Viona.


Viona menatap Ina seketika lalu mengunci mobilnya.


"Mau ikut aku atau mau bawa mobil sendiri?" Tanya Viona mengalihkan pembicaraan.


"Eehhh, enak saja. Mobil aku diluar. Lagian kenapa tadi pakai acara nangis segala. Bikin panik tau"


"Sengaja, pengen liat. Sepanik apa sih?? Hehehehe" Respon Viona.

__ADS_1


Ina langsung turun dari mobil sambil mengomel kayak ibu-ibu.


"Sudah panik juga, ternyata bercanda" Gumamnya, masuk dalam mobil sambil menunggu Viona kembali menjalankan mobilnya.


Viona hanya tidak ingin ketahuan sama Ina, begitu rapuh hatinya saat ini. Dengan kecepatan sedang kembali mengemudi membelah jalan kota malam ini.


Viona kembali terlintas wajah Ahmad, "kenapa Ahmad mau dijodohkan dengan aku, padahal kami ini sahabat" Ujar Viona dalam mobil seorang diri.


🌺


Mobil Viona masuk gerbang rumah, dengan santai memasukkan mobil dalam garasi rumah. Dompet yang ia pegang lempar begitu saja setelah sampai dalam kamarnya dan membanting diri diatas tempat tidur.


"Aakkhh..." Teriak Viona sembari melempar kerudung disembarang tempat.


Ponselnya berdering tepat pukul 11 malam waktu setempat. Ia tidak ingin diganggu malam ini, ia memutuskan mengabaikan telepon itu begitu saja. Namun, nada dering ponselnya lama kelamaan mengganggu pendengarannya.


"Kurang kerjaan banget sih, menelfon tengah malam" Viona mengoceh seorang diri dalam kamar.


"Ohhh kamu" Ujar Viona setelah melihat nama Ahmad tertera dilayar ponselnya.


"Assalamualaikum, to the point" Ujar Viona dalam telepon itu.


"Wa'alaikumussalam, udah pulang?" Tanya Ahmad terdengar jelas ditelinga Viona.


"To the point Mad, aku ngantuk nih" Ujar Viona dengan sabar.


"Kamu kenapa sih?, gak bisa basa basi dulu"


"Mad, kalau gak penting jangan nelpon, tau waktu dong, ini sudah jam berapa?" Ujar Viona dengan nada kesal.


Ahmad mendengar itu langsung diam sejenak, dengan nada pelan, "maaf kalau ganggu, aku menelepon hanya khawatir dengan keadaan mu. Assalamualaikum" ucap Ahmad lalu ia matikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban salamnya dari Viona.


Sementara Ahmad berharap Viona akan meneleponnya hanya untuk sekedar minta maaf. Bolak balik Ahmad melihat layar ponselnya sambil melihat dokumen keuangan restorannya, namun nama Viona tidak muncul di layar ponselnya.


"Apa sudah tidur?" Ahmad bertanya-tanya.


"Sudahlah kalau gitu, pikirkan yang penting, tapi Viona juga penting" Gumam Ahmad lagi untuk menyemangati dirinya sendiri tapi berakhir bingung.


Ahmad kembali fokus dengan dokumennya, tiba-tiba dikagetkan dengan pintu terbuka lebar.


Ahmad menoleh, "ya Allah dek, bikin kaget saja. Ada apa?" Tanyanya.


"Kapan ketemu kakak Viona?"


"Viona sibuk dek"


"Aku dengar Viona punya butik, kita kesana aja" Usulnya lagi sembari senyum kepada kakaknya.


"Kelamaan mikir, aku yakin gak jadi nih" Ujar adiknya lagi, melihat kakaknya yang diam.


"Ok, tidur sana" Ahmad setuju lalu menyuruh adiknya untuk tidur.


Berbeda dengan keluarga Manulang, setelah Ray mengantar Gladis dirumahnya lalu kembali menyusuri jalan kota menuju kediaman Manulang.


Wajah Mami Ray sudah tidak bersahabat, apalagi menatap sang suami. Mami Ray masuk duluan dalam rumah dan masuk kamar.

__ADS_1


"Pi, Mami itu kenapa?" Tanya Ray heran.


Papinya tidak ingin membebani anaknya.


"Capek mungkin, biasa orang tua kan" ujarnya, lalu mendekat ke telinga putranya, "suka encok kalau lama duduk dalam mobil" Lanjutnya membuat Ray seketika menutup mulutnya menahan tawa.


"Kalau Mami dengar pasti kesal tu" Ujar Ray.


Papi Ray mengibas tangan diudara, "Perempuan seperti itu suka ngambek tiba-tiba, istrahat udah tengah malam"


"Iya Pi, selamat malam Pi"


Setelah masuk dalam kamar, ia terlebih dahulu membersihkan badan sebelum tidur. Merebahkan badan berbantalkan lengan sambil menatap langit-langit kamarnya, itu yang Ray biasa lakukan kalau lagi banyak masalah.


Ia kembali teringat kejadian di acara tadi. Seperti sudah tersusun rapi acara yang diselenggarakan, tapi siapa yang melakukan itu semua. Pikirannya diselimuti tentang acara tadi, sehingga membuat Ray bukan tidur malah hilang rasa kantuknya.


"Apa aku telepon Alan sekarang?" Batin Ray sambil menimbang-nimbang.


"Jam gini bukan waktunya Alan istrahat" Lanjutnya dengan sedikit lirih.


Ia meraih ponselnya diatas nakas dan menelepon sahabatnya itu. Berdering tapi tidak diangkat.


"Masa iya, Alan sudah tidur jam begini" Ray heran sambil melihat jam diatas nakas.


"Benar, baru jam 12" ujarnya lagi sambil terus menelfon Alan.


Sedangkan Alan, tidur terlentang diatas tempat tidur tanpa mengganti pakaian kantornya. Ia sampai rumah hanya ingin istirahat sejenak di kamarnya, ia rindu dengan suasana kamarnya, tapi malah kebablasan sampai sekarang. Ia samar-samar mendengar nada dering ponselnya.


"Siapa sihh" Gumam Alan dengan nada berat. Ia meraba-raba tempat tidurnya mencari benda pipih yang terus bersuara.


Tanpa melihat nama si penelepon, Alan langsung angkat telepon begitu saja lalu ia tempelkan ponsel tersebut ditelinganya tanpa mengeluarkan suara sedikit.


Lama berdiam diri, menunggu orang diseberang telepon itu bersuara, tapi tidak kunjung bersuara juga.


"Siap sih ini orang" Gumamnya.


"Halo, siapa?" Tanya Alan dalam telepon.


Diseberang telepon, Ray menunggu teleponnya diangkat ole Alan. Tiba-tiba, ia dikagetkan suara Alan didalam telepon genggam itu dengan sedikit keras karena ia sengaja speaker agar terdengar jika teleponnya direspon.


Sedangkan Alan, terpaksa kembali bersuara lagi untuk kedua kalinya.


"Assalamualaikum, kenapa menelepon baru tidak bersuara?" Tanya Alan dengan mata masih terpejam.


"Wa'alaikumussalam, maaf aku kira teleponku gak akan diangkat" Jujur Ray dalam telepon.


"Ra!" Ucap Alan setelah mendengar suara Alan, "napa?" Lanjutnya.


"Masalah Viona lagi?, urus dengan baik" Ujar Alan lagi, "nanti aku rebut Viona" Lanjutnya tanpa embel-embel sehingga terdengar serius ditelinga Ray.


"Lan.." panggil Ray.


"Apa lagi Ra?, Aku ngantuk nih. To the point saja" pinta Alan.


"Bisa ketemu gak?"

__ADS_1


"Gila lu ya, tengah malam gini ajak ketemu..by" Ucap Alan lalu mematikan sambungan telepon sepihak dan kembali tidur.


Ray menatap layar ponselnya, "dasar setengah perempuan" Ujarnya kepada layar ponselnya meskipun itu tujuannya untuk sahabatnya.


__ADS_2