Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
87. Tingkah Viona


__ADS_3

Ray dan Maminya pulang dari Restoran langsung ke kamar masing-masing setelah barang belanjaan dimasukkan kedalam kamar sang nyonya rumah.


Ray tidak banyak tanya tentang barang apa saja maminya beli untuk Gladis. Baginya itu tidak penting.


Malam semakin larut, ia belum bisa juga memejamkan mata. Pikirannya melayang-layang dan hatinya tidak tenang. Ia berbalik badan menghadap dinding, tapi tetap saja masih melek.


"Ada apa sebenernya, aku tidak biasanya seperti ini?" Ray bertanya dengan dirinya sendiri.


Ia berbalik badan lagi dan terlentang sambil melihat langit-langit kamarnya. Gelisah yang tak menentu akhir-akhir ini sangat menyita pikirannya.


Berbeda dengan Viona, ia memilih untuk tidur dikamar ibunya dengan alasan kesepian tidur sendiri. Alasan itu membuat bumerang bagi dirinya sendiri.


"Vio, katanya tidur disini karena sendiri dikamar?" Tanya Ibu Heti.


"Iya" Jawab Viona sembari memeluk ibunya dari samping.


"Kenapa gak nikah saja."


Viona melonggarkan pelukannya, "lho kok mama bilang kayak gitu."


"Kan kesepian, itu solusi terbaik" Pancing ibu Heti lagi.


"Kan ada mama" Viona menjawabnya dengan santai lalu kembali memeluk ibunya dengan erat.


"Panas Vio"


"Gitu aja panas, iya deh" Viona melepas tangannya dari badan ibunya.


"Good night mam" Ucap Viona sambil menarik selimut sampai batas dada.


"Sok inggris" Ujar ibu Heti sambil menoleh kepala melihat anak bungsunya itu.


"Tidur mam, besok kita ke butik" Ajak Viona yang sudah memejamkan mata ingin otw tidur.


"Nanti diliat. Rencana besok mau ajak ibu Ahmad dan tantenya ke rumah, jadi cepat pulang ya."


Viona langsung bangkit dari tempat tidur dan duduk menghadap ibunya.


"Mam ada rencana apa lagi?" Tanya Viona to the point.


"Rencananya mau makan-makan."


"Itu aja?" Tanya Viona masih tidak percaya.


"Iya, kalau ada lebih-lebihnya kan itu nanti dilihat besok" Jawaban santai itu membuat Viona menarik napas dengan kasar.


"Kenapa?, mama yang atur jadi kamu santai saja."


"Bukan gitu mam, pasti ada apa-apa lagi nih" Tuduh Viona kepada ibunya.


"Pikiranmu terlalu jauh, tidur udah jam 10" Ujar Ibu Heti lalu menarik selimut dan berbaring sampai membelakangi Viona.


"Semoga besok ada titik terang perjodohan Viona dan Ahmad" Batin ibu Heti lalu memejamkan mata.


Viona ikut merebahkan badan lagi disamping ibunya dengan posisi berlawanan, sehingga mereka saling membelakangi. Deru napas ibu Heti terdengar teratur tanda sudah tidur sedangkan Viona, malah gak tenang setelah mendengar rencana ibunya besok.


Viona meraih ponselnya untuk melihat jam, "Udah jam 11 belum bisa tidur, bisa-bisa terlambat bangun nih."


"Apa ya rencana mama besok?"


"Gimana mau memperjelas perjodohan itu?"


"Kok aku jadi kepikiran dengan perjodohan itu lagi, padahal Ahmad sudah melupakan perjodohan itu."


Viona menenangkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Tapi gimana kalau mama ngotot?."


Viona menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kok makin runyam kayak gini" Batin Viona.


Viona berdebat dengan dirinya sendiri. Malam semakin larut tapi ia belum tenang juga, ia diam-diam keluar kamar dengan membawa gadgetnya. Dengan menutup pintu kamar perlahan lalu jalan dengan pelan kembali di kamarnya.


"Telepon Ahmad, bodoh amat mengganggu tengah malam" Gumam Viona sembari menempelkan ponsel ditelinganya.


Berdering tanda telepon Viona masuk, "Angkat Mad" Viona sudah tidak sabar.


Dengan perlahan diseberang telepon terdengar suaranya dengan nada parau tanda baru bangun tidur.


"Kenapa?" Tanya Ahmad diseberang telepon.


"Jam berapa besok acaranya?" Tanya balik Viona.


Ahmad diam sejenak mendengar pertanyaan Viona, ia mengusap wajahnya terlebih dahulu dan berdehem.


"Ini udah tengah malam, jadi ngomongnya serius" Ahmad terdengar serius kali ini.


Viona mengerutkan keningnya sehingga alisnya hampir berpaut dengan gadget ia jauh dari telinganya. Ingin sekali memaki malam ini tapi ia masih sadar kalau itu tidak boleh, apalagi kalau didengar oleh ibunya.


"Mad, aku ini serius. Mana ada orang mau telepon tengah malam kayak gini kalau gak penting" Jelas Viona panjang kebar dengan nada cepat seakan satu kali tarikkan napas.


"Jangan ngegas dong, aku hanya ngomong saja" Ahmad membela diri.


"Aku tau Mad, kamu ngomong. Ya ampun" Ucap Viona dalam telepon itu membuat Ahmad tertawa dan suara tawa itu terdengar langsung oleh Viona lewat telepon genggamnya.


"Oh nertawain ya?" Tanya Viona lagi.


"To the point ya Mad, kenapa buat acara makan-makan di rumah gak bilang dulu sama aku, jelaskan Mad?" minta Viona lagi yang sekarang sudah duduk di tengah-tengah tempat tidur sembari memeluk bantal.


"Lhoo" Viona jadi heran, "bukan rencanamu?" Tanyanya.


Terdengar diseberang telepon menarik napas dengan pelan dan membuangnya dengan kasar.


"Bisa gak tabayyun dulu" Pinta Ahmad dengan lembut.


"Ini lah tujuan aku menelepon."


"Tadi itu nuduh bukan bertanya, tapi kata siapa makan-makan di rumahmu?" Ahmad kembali bertanya, seakan rasa penasarannya belum terjawab.


"Mama yang bilang tadi, makanya aku telepon ternyata kamu juga gak tau. Yaaah, sudahlah Mad, aku mau tidur. Percuma menelfon ternyata gak ada hasil."


"Ehh bibi tu kalau bicara dijaga, seharusnya aku marah ni ganggu jam tidur orang" Jelas Ahmad dengan becanda.


"Oh, maaf orang. Assalamualaikum orang" Ucap Viona lalu memutuskan panggilan.


Ia kembali merenungi kata-kata Ahmad tadi, "berarti mama yang kebelet anaknya cepat-cepat nikah, bukan Ahmad" Gumam Viona.


Sedangkan diseberang telepon, ia menatap layar ponselnya.


"Dasar perempuan aneh, main hajar saja" Gumam Ahmad lalu ia kembalikan ponselnya diatas meja.


🌺


Pagi buta, ibu Heti sudah menyiapkan berbagai bumbu dapur untuk dimasak. Viona masih dikamar mendengar bunyi alat masak dan bau harum yang sudah mulai menyeruak dalam rumah.


"Harum."


Viona hirup bau masakan itu membuat perutnya keroncongan.


"Sabar cacing-cacing dalam perut, sebentar lagi otw" Ujar Viona sembari mengusap perutnya.

__ADS_1


Ia keringkan rambutnya terlebih dahulu karena habis keramas. Salah satu kebiasaan baik Viona, ia selalu mandi subuh.


Keluar kamar dan menuju dapur, sesampainya langsung memanggil ibunya.


"Mama, Vio bisa bantu apa nih?" Tanyanya.


"Bantu iris bawang" Jawab Ibu Heti dari samping.


"Ok" Jawabnya lalu mengambil alat-alat dan bahannya.


"Eeh, tunggu bentar Mam" Viona langsung lari meninggalkan ibunya.


Ibu Heti sempat berpikir kalau Viona tidak mau membalasnya, sembari menggeleng kepala heran melihat tingkah Viona lari seperti anak kecil.


"Benar-benar Viona.. hmmm."


Ibu Heti pun memutuskan untuk mengupas sendiri bawangnya, dalam keadaan fokus mengupas bawang ia dikagetkan oleh kedatangan Viona.


"Mama" Panggilnya.


"Astaghfirullah."


Kalimat itu spontan keluar dari bibir ibu Heti. Menandakan kalau dirinya kaget. Bagaimana tidak, pas menoleh kearah Viona sudah disuguhkan dengan penampilan Viona dengan rambut yang dikucir asal dan memakai kacamata hitam.


"Bikin kaget. Kenapa pakai kaca mata?, Warna hitam lagi" Ujar Ibu Heti.


"Pengalaman dulu mam, ngupas bawang itu bikin mata perih jadi aku inisiatif pakai kacamata saja" Jelas Viona dengan santai sembari mendekat kearah ibunya.


Ibu Heti melihat Viona merasa lucu, "Mama gak bisa nahan tawa liat model kamu seperti itu, buka tu kacamata" Perintahnya.


"Goreng ikan saja kalau gitu" lanjutnya.


"Ok"


Viona langsung lari menuju kamar setelah menjawab ucapan ibunya.


"Viona.. Viona.. buat mama kaget saja" Gumamnya sambil mengupas bawang.


Viona kembali dengan perlengkapan barunya lagi. Kali ini langsung kearah kompor dan mengambil wajan dan menuangkan minyak goreng kedalam wajan tersebut.


"Sudah cukup ini mam?"


"Coba mama lihat" Pintanya dan hendak melihat minyak goreng tersebut, sekilas sudut matanya seperti ada yang aneh lagi dari Viona.


Pas menoleh tawa ibu Heti suaranya langsung pecah melihat Viona dengan pakaiannya saat ini. Pakia helm dan jaket. Ia langsung memukul pelan lengan anaknya itu.


"APD mam, jangan diketawain."


"Apa itu APD?" Tanyanya setelah ia berhenti terawat.


Viona mulai menunjuk satu persatu alat yang ia pakai.


"Alat pelindung diri, mam." Jelasnya.


"Ini fungsinya kalau ikan meletup-letup menyerang bagian muka, makanya pakai helm anti minyak."


"Dan jaket ini, mengantisipasi serangan dari lengan" Lanjutnya.


"Jadi amankan mam, berapa potong nih mau digoreng?"


"Semuanya saja."


"Oke"


Ritual masak memasak pagi ini, Viona bantu ibunya sampai selesai. Setelah itu membersihkan diri dan Viona terpaksa mandi untuk kedua kalinya sebelum ke butik.

__ADS_1


__ADS_2