
Ray berada di ruang tamu ditemani oleh sepupunya Marcelea dan Viona.
Marcelea pamit untuk mengambil air minum untuk Ray.
"Mau ambil air minum dulu" Pamitnya.
"Iya kak, hati-hati kak" Jawab Viona.
"Aku tuh kasian lihat kak Lea seperti itu, setengah mati biar jalan" Sambungnya sembari melihat iparnya yang berlalu pergi.
"Itu hanya menurut mu saja, kak Marcel pasti biasa saja" Ujar Ray.
"Benar juga sih, mungkin karena aku lihat kali ya" Jawab Viona membenarkan ucapan Ray itu. "Ehh ngomong-ngomong, gimana kabar Mami?" Tanya Viona.
"Baik" Jawab Ray seadanya.
"Kalau kamu?" Tanya balik Ray.
"Seperti yang kamu lihat saat ini, tapi alhamdulillah sudah bisa jalan pelan" Ungkapnya.
"Alhamdulillah, tidak berdosa lagi sama dokter" Timpal Marcelea sembari menaruh nampannya diatas meja.
Viona seketika cemberut, "itu darurat" kilahnya.
"Benar juga kak" Ray mendukung sepupunya.
"Itu strategi supaya cepat keluar dari RS" Viona mencoba menjelaskan yang melatar belakangi kebohongannya itu.
"Tapi nyatanya, dua minggu di rumah sakit" Jelas Marcelea lagi.
"Hehehe, berarti gak mempan" Timpal Ray setelah tertawa.
Ditengah keasyikan mereka, Yesi dan Ainun pulang.
"Assalamualaikum, bibi" Ucap Ainun dengan ceria.
"Wa'alaikumussalam, sini deh" Jawab Viona sembari melambaikan tangan kepada sang ponakan.
"Duduk disini" Ajak Viona lagi sembari menepuk tempat duduk disampaikannya.
"Gak ah, nanti eskrim Ainun habis dimakan bibi" Jawab Ainun membuat Viona melongo kaget.
Yesi mendengar itu langsung menggoda adiknya, "kebaca duluan sih niatnya" ucapnya lalu ia masuk dalam rumah membawa tas anaknya.
"Kok punya ponakan, nyebelin yaa.. aku tahu tu, dari segi tempatnya itu dari restoran tempat Ahmad kerja" Jelas Viona lagi.
"Tapi kenapa Ahmad bilang lagi kosong" Sambungnya bingung sambil menggaruk kepalanya yang dilapisi jilbab.
"Aku belikan ditempat lain, mau rasa apa?" Tanya Ray dengan semangat.
Marcelea melihat Ray dan Viona silih berganti. Ia melihat tatapan sepupunya kepada adik iparnya itu begitu tulus.
"Ya Allah, mereka saling mencintai tapi mereka memiliki perbedaan yang engkau pun melarang itu. Beri keduanya petunjuk" Batin Marcelea.
"Hmmm, vanilla, coklat, stroberi, rasa mangga. Di mix" Ucap Viona, "Ehh, maaf Ray, itu yang ada hanya di restoran tempat Ahmad kerja" sambungnya lagi.
"Nomor Ahmad, nanti saya telepon?" Tanyanya sembari mengeluarkan ponselnya dalam saku jaket, "Coba sebutkan nomor kontaknya" Minta Ray.
"Kosong disana, aku sudah tanya Ahmad tadi"
"Berarti bisa dong beli eskrim tempat lain, atau belinya satu-satu saja gak usah di mix" Saran Marcelea.
"Udah coba, tapi tetap beda rasanya. Gak tau kenapa restoran itu menyediakan eskrim favorit aku banget. Hmm, mana kosong lagi" Ucapnya dengan nada lesu.
__ADS_1
"Aku kira pakai orang dalam lancar dan mudah dapat eskrim, ternyata sama gak ada bedanya" Lanjut Viona lagi.
"Pemilih sih" Jawab Ray seadanya dan singkat.
"Gak juga, itu stoknya ada tiap hari, tapi kenapa hari ini kosong?" Viona bertanya-tanya.
Sedangkan Ray dan Marcelea hanya saling menatap satu sama lain.
"Belikan aja Lex, perempuan itu suka kode tapi giliran dikode tidak mengerti" Ujar Marcelea dengan nada sedikit berbisik agar Viona tidak dengar.
Ray mengangkat tangannya dan membentuk jarinya huruf O lalu pergi diam-diam membeli eskrim.
Ray keluar berpapasan dengan ibu Heti yang baru turun dari mobil teman-temannya.
"Ehh nak Ray, sudah mau pulang?" Tanya ibu Heti.
"Tidak tante, pergi beli eskrim" Jawab Ray lagi.
"Untuk siapa?" Tanya Ibu Heti penasaran.
"Viona tante" Jawabnya, "saya pergi dulu tan, soalnya buru-buru" sambungnya lalu sedikit membungkukkan badan tanda hormat.
"Hati-hati ya" Ujar ibu Heti.
"Iya, terima kasih" Jawab Ray.
Ibu Heti masuk dalam rumah dan duduk diruang tamu, langsung menceritakan tentang restoran gratis eskrim.
"Gimana mam, enak eskrimnya kan?" Tanya Viona memastikan.
"Eskrimnya habis, setelah dibagi sama anak-anak teman mama" Jawab Ibu Heti, "dan Ahmad gak ada" Sambungnya.
"Kan masuk kerja shift mam, mungkin Ahmad masuk malam" Jelas Viona lagi.
"Benar juga sih, tapi masa waiter tidak tau tentang eskrim gratis. Pas mama tanya, mbaknya bengong aja dan saya tanyakan Ahmad, dia juga gak tau. Sepengetahuan dia nama Ahmad itu bos mereka atau pemilik restoran itu" Jelas Ibu Heti lagi. Ia menceritakan semua kebingungannya di restoran tadi siang.
"Mam, itu sudah jelas nama pemiliknya Ahmad, itu dia sematkan di nama restonya" Jelas Viona lagi.
"Oh gitu, soalnya mama gak perhatikan nama restonya tadi langsung masuk aja didalam" Ungkap Ibu Heti.
"Mama percaya diri 100%, gimana kalau salah restoran?" Tanya Viona lagi.
"Gampang tinggal cari" Jawabnya santai. "Itu Ray keluar beli eskrim katanya untuk kamu Viona, kamu suruh Ray?" Sambungnya dengan pertanyaan.
Viona mengerutkan keningnya sembari menggelengkan kepala, "gak kok mam"
"Terus..." Ucap ibu Heti berhenti setelah mendengar orang yang beri salam.
Karena suaranya sudah tau kalau itu suara Ray, jadi tinggal dipersilahkan masuk tanpa ada sesi buka pintu rumah dulu.
"Masuk Lex" Ucap Marcelea.
Ray pun masuk dengan membawa eskrim. Ia menaruhnya diatas meja.
"Coba dilihat dulu" Ujar Ray.
Viona memajukan badannya pelan dan menarik kantung plastik yang berisikan eskrim tersebut.
Seketika Viona tersenyum, "enak nih"
"Hmmm, kalau dasarnya suka eskrim, pasti semua eskrim suka" Ujar Ibu Heti lalu bangkit dari duduknya, "Mama kedalam dulu ya istrahat" sambungnya lalu pergi.
"Kok mama buka kartu anaknya sendiri" Gumamnya, "makasih ya Ray" Sambungnya kepada Ray sembari senyum.
__ADS_1
"Sama-sama" Jawab Ray.
Viona langsung makan eskrim yang Ray beli, ia menawarkan kepada Ray tapi tidak mau dan kakak iparnya pun demikian.
"Aku makan ya, kakak dan Ray mau cerita. Silahkan saja, aku diam saja disini" Jelas Viona sembari menikmati eskrimnya.
Marcelea dan Ray cerita, mulai dari keluarga sampai Marcelea menikah dengan kakak Viona.
Dari sekian banyak yang mereka bahas, Ray tertarik dengan kisah percintaan Marcelea dengan suaminya.
"Kak Marcel, memiliki niat pindah karena kenal kak Rifal atau ada niat memang sebelumnya?" Tanya Ray. Ia tidak membahas secara gamblang pindah yang ia maksud itu mualaf kepada sepupunya.
"Ada niat memang, hanya bingung cari ustadz saat itu. Setelah sebulan lebih belum dapat juga, aku memutuskan untuk langsung ke mesjid saat shalat ashar" Ujar Marcelea.
"Kakak kebingungan, aku tidak tau mana tempat perempuan dan laki-laki, dan saat itu ada yang arahkan saya ke bagian perempuan, dan kamu tau Lex itu adalah abang Rifal"
"Aku beritahu ustadzah tentang niat kedatanganku saat itu dan ustadzah memberitahu ustadz"
"Saya dijanji untuk datang kembali hari jum'at depan setelah shalat dzuhur. Jadi disitu aku, ibu dan ayah jadi muslim" Lanjutnya dan Ray hanya menyimak apa yang ia dengar dari kakak sepupunya itu.
"Yang membuat yakin kakak apa?" Tanya Ray lagi.
"Adzan shalat lima waktu Lex, gak tau kenapa setiap dengar adzan aku selalu merasa tenang" Jawab Marcelea lagi sembari senyum.
"Tapi kak, Mami dan Papi jadinya benci kak Marcel" Ujar Ray.
"Alhamdulillah sekarang sudah baikan, aku sudah ketemu Mami dan Papi sebelum ke Korea. Dulu mereka tidak suka karena mereka kira aku akan menjauh, padahal tidak seperti itu. Aku tetap hormati mereka seperti seorang anak pada orang tuanya, tapi ada sebagian yang aku tidak bisa lakukan" Jelas Marcelea lagi.
"Karena sudah jadi muslim ya kak?" Tanya Ray lagi dan Marcelea mengangguk lagi.
"Kakak gak takut sendirian saat itu?" Tanya Ray lagi, jiwa penasarannya semakin menjadi mendengar penuturan sang sepupu.
"Kakak tidak sendiri Lex, aku punya Allah" Jawab Marcelea.
"Allah, siapa Allah?" tanya Ray.
"Yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya" Jawaban singkat itu membuat Ray terdiam sejenak.
Kalimat kakak sepupunya seakan terputar dimemorinya seperti kaset.
"Allah, yang menciptakan langit dan bumi serta isinya, berarti aku juga" Ray sibuk dengan pikirannya.
Marcelea melihat sepupunya hanya bengong sejak bertanya tentang Allah. Ia menepuk pundak Ray dengan pelan.
"Lex, kenapa?" Tanya Marcelea.
"Astaghfirullah kak, bikin kaget" Ujar Ray sembari menormalkan perasaannya.
"Suka kagetan sih, kenapa?" Tanya Marcelea penasaran dengan perubahan sepupunya.
"Gak kak, sepertinya aku harus pulang" ujar Ray lagi.
"Oh iya, hati-hati ya" Ucap Marcelea lagi kepada Ray.
"Lex, benar gak apa-apa?" Tanya Marcelea masih menghawatirkan perubahan yang mendadak dari sepupunya itu.
"Benar kak.. Viona kemana?" Tanyanya.
"Didalam mungkin, kalau mau pulang nanti aku pangilkan" Ujar Marcelea lagi.
"Gak perlu kak, titip salam aja sama Viona" Ujar Ray sembari.
"Iya, hati-hati ya. Berkabar jika sudah sampai rumah" Ucap Marcelea.
__ADS_1
Marcelea mengantar Ray sampai depan pintu utama, sesampainya disana Ray kembali pamit untuk kedua kalinya sebelum mengendarai kendaraannyam. Setelah Ray menghilang dari pandangannya, ia kembali masuk dalam rumah dan langsung ke kamar untuk istirahat.