Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
100. Gladis Kesal


__ADS_3

Pulang dari restoran, Viona dan ibu Heti langsung ke butik. Ibu Heti ingin melihat perkembangan butik anaknya. Dalam mobil banyak cerita awal pertemanan mereka dengan Nisa, Viona hanya merespon seadanya.


"Vio, menurut kamu Alan itu kayak gimana?" Tanya ibu Heti.


Viona menoleh sekilas melihat ibunya dan kembali pandangannya fokus didepan.


"Menurut Vio, Alan itu orang mam."


"Mama serius ini, jangan bercanda dong" Pinta ibu Heti.


Viona tertawa terlebih dahulu sebelum menjawab, "Mama sih nanyanya kayak gitu."


"Mama gak maksa, hanya minta pendapat kamu saja."


"Gak tau sih mam. Dia itu sahabat Ray, berarti Ray yang tau kepribadiannya" jelas Viona.


"Oh ok, kalau gitu" Respon ibu Heti sebagai penutup pembahasan mereka dalam mobil.


Berbeda dengan ibu Nisa dan Alan. Alan membawa mobil dengan diam tanpa ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Ibunya nampak geram dengan Alan, seakan tidak tertarik dengan rencananya.


"Alan, ibu lihat kamu ini tidak tertarik sama perempuan. Apa kamu suka laki-laki?" Tanya ibu Nisa.


Alan seketika rem mendadak mendengar pertanyaan ibunya.


"Astaghfirullah, Alan hati-hati bawa mobil" Tegur ibu Nisa sambil memegang safety belt. Ia kaget.


"Pertanyaannya ibu aneh" Jawab Alan setelah kembali melajukan mobilnya.


"Ibu hanya tanya, ibu liat tidak ada minat sama sekali bahas Viona."


"Untuk apa bu?, Alan tu sudah tau, pasti gak akan diterima" Jelas Alan.


"Berusaha dulu dong, masa menyerah sebelum bertarung."


Alan tidak menanggapi lagi ucapan ibunya, ia rasa percuma ibunya ngotot dengan keinginannya.


"Pokoknya, dalam waktu dekat ibu telepon lagi ibu Heti" Ujarnya lagi.


"Terserah ibu lah." Alan pasrah, meskipun ia menyukai Viona tapi terlihat jelas Viona menolak meskipun tidak mengatakannya secara gamblang.


Mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang, membawa ibunya ke apartemen lalu Alan lanjut ke restoran.


🌺


Kediaman Manullang, orang tua Ray heboh dengan ngidam Gladis. Makanan sudah penuh diatas meja tapi Gladis pengen makan buah. Ray dengan keadaan terpaksa cari buah nangka, karena Gladis tidak akan berhenti menangis kalau tidak makan buah nangka. Air mata Gladis ancaman bagi Ray, orang tuanya akan marah besar kalau Gladis menangis.


Ray sampai toko buah langsung mencari nangka, lebih tepatnya langsung bertanya kepenjaganya.


"Mas buah nangka ada dibagian mana?" Tanya Ray.


"Sini saya antar mas" Jawabnya lalu mengambilkan satu potong buah nangka.


"Kalau satu buah ada mas?" Tanya Ray lagi. Ia lebih memilih untuk beli satu buah supaya tidak capek mencari kalau Gladis tiba-tiba pengen buah nangka.


"Ada mas, disebelah sana" Tunjuk penjaga toko buah tersebut.


"Terima kasih mas" Ucap Ray, lalu pergi mengambil satu buah nangka, membawanya di kasir, bayar lalu pulang.


Setengah jam Ray sampai rumah, disana Gladis sudah menunggu dihalaman rumah dengan senyum merekah. Ray melihat Gladis memilih untuk menunduk, semakin melihat wajah Gladis maka ia semakin bersalah kepada Viona.

__ADS_1


"Maafkan aku Viona, mungkin sekarang aku laki-laki pengecut tapi aku akan buktikan kalau itu bukan anakku" Batin Ray sembari melangkah masuk dalam rumah melewati Gladis.


Senyum Gladis luntur seketika melihat Ray lewat begitu saja. Ia masuk dalam rumah sambil menghentakkan kakinya dilantai karena kesal.


"Ra, aku mau makan sekarang" pintanya seperti bos dalam rumah.


Ray menoleh sekilas lalu meminta parang untuk membelah nangka tersebut.


"Pembantu rumah datang dengan parangnya, "saya bantu potong" Ujarnya.


"Aku mau Ra yang belah itu nangka" Ujar Gladis sambil mengelus perutnya.


Ray mengambil parang tersebut ditangan pembantunya lalu ia belah dan buka isinya disimpan dalam piring. Ia dekatkan piring tersebut kepada Gladis tanpa bicara sedikit pun.


Gladis dengan kesal makan buah itu satu biji dan seketika menggigit bibirnya. Ia berhenti mengunyah sejenak, ia rasa bibirnya perih.


"Sepertinya luka" Gumamnya.


Gladis menaruh biji nangka tersebut dalam piring lalu ia bangkit dari duduknya.


"Aku mau tidur, Ra antar ke kamar" pintanya dengan manja.


Rasa sabar Ray benar-benar diuji semenjak menikah. Ray menaruh buah nangka tersebut diatas talang-talang kecil.


"Cukup menguji kesabaranku, ingat ini bukan anak saya, jadi mau bermanja-manja cari ayah anakmu" Ray menunjuk perut Gladis lalu pergi.


Gladis menarik napas dengan sesak, kalimat Ray lembut tapi menusuk. Ia meremas dasternya.


"Iiih, awas kamu Viona" Ujar Gladis lalu ia duduk dikursi sofa.


Ray memilih untuk menelpon Alan, berlama-lama berada dirumah bisa-bisa kepalanya pecah.


Ray kembali lewat depan Gladis dengan jaket ditangannya. Gladis dengan cepat memegang tangan Ray.


"Menurutmu?" Tanya balik Ray.


Gladis menghela napas, terasa berat mengatakannya tapi jika ia tidak keluarkan maka ia tidak tenang.


"Apa mau bertemu dengan Viona?" Tanya dengan hati-hati.


"Itu bukan urusanmu" Jawab Ray cuek lalu pergi.


Gladis melihat punggung Ray yang berlalu tanpa menghiraukannya sedikit pun.


"Pasti ketemu Viona" Batin Gladis lalu masuk dalam kamar. Setibanya dalam kamar langsung kembali menyuruh anak buahnya untuk mengikuti Ray.


"Ingat, laporkan ke saya" Kalimat Gladis dalam telepon lalu ia matikan sambungan telepon.


Berbeda jauh dengan Viona, ia kembali buka butik ditemani ibunya saat ini. Ibu Heti melihat pakaian pajangan Viona.


"Siapa yang atur kayak gini?, Rapi dan perpaduan warnanya cocok" Puji ibu Heti.


"Aku dan Ina, mam" Jawab Viona sambil memantau postingannya di media sosial.


"Bagus, kemana dia sekarang?" Tanya ibu Heti lagi sambil memperhatikan rak tempat pajangan patung untuk kerudung.


"Berdebu ini, gak dibersihkan?" Tanya ibu Heti lagi sambil memperlihatkan jari telunjuknya kepada Viona.


Ibu Heti periksa kebersihan butik menggunakan jarinya, ia sapukan jari telunjuknya setiap rak yang ada dibutik.

__ADS_1


"Nanti mam" Jawab asal Viona sambil membalas customer dimedia sosialnya.


"Ini dibersihkan berapa kali seminggu?"


"Setiap pagi mam, dipel doang" Jelas Viona.


"Pantas. Lantai bersih tapi rak berdebu semua. Besok mama panggil orang untuk bersih-bersih" Ucap ibu Heti lalu ia duduk di kursi panjang butik tersebut setelah ia capek keliling.


🌺


"Halo bos, suami bos masuk disebuah restoran" Lapornya lewat telepon.


Terdengar dalam telepon suara Gladis mengecilkan suaranya, "Ok, pantau terus"


Telepon mati.


"Gimana bos?" tanya anak buah suruhan Gladis.


"Kita disuruh pantau" jawabnya.


Mobil mereka sengaja parkir tidak terlalu jauh dengan restoran agar mereka bisa liat apa saja yang Ray lakukan, bahkan satu anak buahnya disuruh untuk masuk dalam restoran mengikuti Ray.


Gladis sudah tidak sabar menunggu berita dari anak buahnya lagi. Rasa penasaran menggebu-gebu apa yang Ray lakukan diluar sana.


"Gak tenang aku kayak gini, Mi" ujar Gladis setelah Mami Ray pulang dari acara kumpul-kumpul sesama ibu-ibu.


"Emang Alex kemana?" Tanyanya.


"Pergi Mi, pasti ketemu Viona lagi. Aku gak bisa kayak gini Mi" ulangnya lagi.


Mami Ray capek baru tiba sudah disuguhkan dengan keresahan mantunya. Sambil memijit pelipisnya ia menghubungi anaknya. Ia tempelkan benda pipih itu ditelinganya, yang terdengar hanya suara operator telepon.


"Kemana sih ini anak" Gumam Mami Ray dan kembali menelfon lagi.


"Gimana Mi?" Tanya Gladis tidak sabar.


"Gak angkat, mungkin lagi sibuk. Mami ke kamar dulu, istrahat" Ujar Mami Ray lalu meninggalkan Gladis sendiri diruang tengah.


Gladis makin kesal, Ray mengabaikannya dan sekarang ibu mertuanya lagi.


"Awas kalian semua" Batinnya. Kekesalannya saat ini bukan hanya kepada Ray tapi ibu mertuanya juga.


Ia berusaha menormalkan perasaannya, ia tidak mau terbawa stress nanti berdampak pada janinnya.


Gladis memutuskan untuk ke kamarnya, ia harus menghirup udara segar diluar rumah. Ia memaki dress selutut.


"Mau kemana? Ini sudah sore" tanya Mami Ray yang sedang duduk santai diruang tengah sambil baca buku.


Gladis menoleh ke sumber suara," katanya istrahat tapi malah duduk disini, bilang saja malas dengar aduanku" Gladis membatin dengan kesal.


"Mau cari Ra, Mi" Jawabnya sembari senyum dibuat-buat.


"Telepon aja, kamu lagi hamil sekarang" Mami Ray mengingatkan mantunya.


"Mami gak mau bantu Gladis, jadi biarkan Gladis pergi cari sendiri" Ujarnya dengan lantang lalu pergi.


Mami Ray hanya melongo mendengar jawaban mantunya, ia tidak menyangka kalimat dan nada tinggi seperti itu keluar dari bibirnya.


"Astaga" ucapnya sambil memegang dadanya.

__ADS_1


Sementara Gladis pergi meninggalkan rumah sambil mengumpat. Semua orang dalam rumah heran.


"Memang dalam rumah ini orangnya tidak ada yang beres. Mementingkan diri sendiri tanpa memperdulikan perasaanku dan anakku" gumamnya lalu membanting pintu mobilnya.


__ADS_2