
1 bulan di Negeri Ginseng
Sudah satu bulan orang tua Ray kembali ke negeri ginseng. Dan sudah beberapa kali Mami Ray membahas Viona dalam pembicaraan dengan suaminya.
"Pi, sudah telepon Alex?"
"Belum, gak sempat" Jawabnya yang masih sementara periksa berkas-berkas diatas mejanya.
"Alex gak telepon juga?" Tanya Mami Ray lagi.
"Tidak, Papi fokus kerja dulu" Ucapnya dan Mami Ray kembali memainkan ponselnya.
"Mami mau pulang ke Indonesia Pi, bosan disini" Ujarnya lagi, ia sengaja mengancam suaminya seperti itu dan ia yakin pasti suaminya melarangnya.
"Nanti Papi pesankan tiket"
"Heee, bercanda Pi" ucapnya membuat Papi Ray geleng kepala.
"Ok" Jawabnya singkat membuat Mami Ray malas berlama-lama dikantor.
"Pi, Mami duluan pulang ya" Pamitnya lalu pergi.
"Iya, hati-hati"
Mami Ray pulang dari kantor dan terlebih dahulu singgah belanja dimini market dekat kantor suaminya. Berbelanja salah satu kesukaan sebagian besar perempuan.
Mami Ray kadang lupa diri melihat makanan siap saji yang tertera di etalase mini market. Inilah salah satu alasan Mami Ray tinggal di negeri ginseng tidak terlalu ribet dengan makanan.
"Tinggal dipanaskan langsung jadi" Ucapnya sembari senyum.
Dari jejeran tempat mengambil beberapa makanan instan itu, tiba-tiba ada yang memanggilnya.
"Tante.." Panggilnya membuat Mami Ray menoleh ke samping.
"Gladis disini juga, kapan sampai?" Tanya Mami Ray senang bertemu dengan satu negaranya.
"Baru seminggu tan" Jawab Gladis dan melihat kiri kanan seperti mencari seseorang, "Om mana tan?" Tanyanya lagi karena tidak melihat Papi Ray.
"Masih dikantor, datang jalan-jalan dirumah" Ajak Mami Ray.
Gladis seketika senyuman, "kesempatan ambil hati" Batinnya.
"Alamat tante dimana?" Tanya Gladis lagi.
"Ini nomor kontak tante, nanti kalau mau datang tinggal telepon" Ucapnya, "Tante lanjut belanja dulu ya" Sambungnya.
"Aku temanin Tante" Gladis menawarkan diri dan Mami Ray setuju.
"Yes, kesempatan emas tidak boleh disia-siakan" Batinnya sembari senyum.
Mereka belanja bersama sambil berbagi cerita, karena Gladis tujuan ambil hati maka bertindak serba hati-hati.
__ADS_1
"Tan, saya disini hanya satu minggu dan aku juga belum banyak tau tempat, kalau tempat ibadah ada gak dekat rumah Tante?" Tanya Gladis.
"Berhadapan malah, ke rumah Tante saja. Nanti pergi sama-sama" Ucap Mami Ray senang. "Andaikan yang menemani Mami itu Alex dan Viona, mungkin hatiku bahagia sekali" batinnya dan ia diam.
Gladis melihat itu sempat bingung dan takut karena Mami Ray tiba-tiba diam.
"Maaf nih Tan, Tante kenapa?" Tanya Gladis dengan hati-hati.
"Tante ingat Alex dan Viona" jawabnya jujur membuat Gladis sedikit geram.
"Dimana-mana Viona.. Viona dan Viona. Kenapa sih dunia mereka dipenuhi dengan Viona" Batinnya kesal.
"Maaf nih Tan, sepertinya aku harus pulang sepupu aku kirim pesan minta ditemani belanja, by Tan" Ucap Gladis melambaikan tangan dan senyum terpaksa.
🌺
Alan dan Ray berada di bengkel, memantau kinerja anak buahnya. Alan yang akhir-akhir ini tidak melihat lagi Gladis, meskipun tidak suka dengan kelakuannya yang suka memaksa tapi aneh saja jika beberapa hari ini tidak muncul.
"Ra, tumben Gladis gak kesini?" Tanya Alan penasaran.
"Baguslah" Jawab Ray singkat sambil mainkan ponselnya.
"Gak kangen gitu?" Pancing Alan.
Ray langsung menyimpan ponselnya diatas meja dan melihat Alan.
"Aku cukup memikirkan satu perempuan saja"
"Iya, apa?" Tanya Ray penasaran.
"Gimana dengan keyakinan kalian?" Tanya Alan dan Ray seketika menarik napas lalu bangkit dari duduknya jalan menuju jendela ruangannya itu.
"Aku juga bingung Lan"
Alan pun menghampiri sahabatnya itu lalu ia menepuk pundaknya, "Serius gak dengan dia?" Tanya Alan lagi.
"Kalau itu jangan ditanya, aku mencintai dia Lan. Bahkan sekarang dia.." Ucapan Ray berhenti setelah sadar kalau ia hampir memuji kecantikan Viona didepan Alan. Ia tidak mau karena bagaimanapun Alan menyukai Viona.
"Kenapa dia?"
"Tidak, aku dan Viona jarang komunikasi" Kilahnya meskipun kenyataannya seperti itu.
"Komunikasi itu yang utama" Alan mengingatkan sahabatnya.
"Benar, tapi Viona bukan perempuan yang suka ditelepon jadi aku hargai itu" Ujar Ray lagi.
"Iya, tapi bukan berarti gak sama sekali. Ingat dikait orang baru gak bisa tidur nanti, hehehe bercanda bro" Ujar Alan dan kembali duduk di kursinya.
"Aku sebagai sahabat menginginkan yang terbaik untuk sahabatnya" jelas Alan lagi.
"Terima kasih" Jawab Ray.
__ADS_1
Lama berdiam diri keduanya. Sibuk dengan benda pipih mereka masing-masing.
Keheningan itu pecah ketika ponsel Ray bunyi tanda ada panggilan masuk dari sang Mami.
"Hallo Mi" Ucap Ray ditelepon itu.
Dan diseberang telepon terdengar jelas bunyi buka tutup kulkas.
"Mi, bikin apa?" Tanya Ray lagi penasaran.
Dari seberang telepon menjawab, "habis belanja bulanan. Ini lho Mami tanya bagaimana kabar Viona?" Tanyanya.
"Baik Mi" jawab Ray seadanya.
"Kasih tau Viona, telepon Mami. Mau telepon tapi gak tau kontaknya" Jelas Mami Ray sengaja agar anaknya lebih usaha lagi mendekati Viona.
Mami Ray kira kalau anaknya kurang gercep untuk melangkah ke jenjang pernikahan, makanya ia memutuskan untuk bertindak sendiri.
"Nanti aku kasih tau Mi" jawab Ray lagi, "Mi udah dulu yaa ada tamu" kilah Ray.
"Ok..by sayang" Ucap Mami Ray diseberang telepon lalu mematikan sambungan telepon.
"Kenapa?" Tanya Alan karena tidak biasanya Ray seperti itu.
"Biasalah Mami, minta nomor Viona" Jawabnya santai dan duduk disamping Alan, "minta pendapat lu nih!"
"Pasti tentang Viona" Tebak Alan, "Apa?" Sambungnya dengan pertanyaan.
"Mami minta kontak Viona, menurutmu aku kasih gak?" Tanya Ray sedikit ragu.
"Kasih aja, Mami kamu yang minta. Proses pendekatan" respon Alan dengan santai tanpa tau bagaimana Mami sahabatnya itu.
"Kamu gak tau gimana Mami aku Lan, kadang bertindak diluar dugaan" Jelas Ray.
"Kalau hal baik, oke oke saja sih menurut aku. Gak ada masalah" Alan masih belum mengerti maksud Ray.
"Mami pasti kaget kalau Video Call dengan Viona saat ini Lan" Ujar Ray dengan mata tertuju diponselnya, "tuh Mami kirim pesan. Gak sabaran" sambungnya dan tanpa berpikir panjang langsung mengirim kontak Viona kepada Maminya.
"Sudah aku kirim" Ucap Ray memberitahu sahabatnya lalu bangkit dari tempat duduk mengambil jaketnya.
"Kamu masih mau disini?" Tanya Ray lagi.
Alan hanya melihat Ray sekilas lalu membaringkan badannya di kursi panjang itu berbantalkan lengan sembari menutup mata.
"Mau ikut kamu nanti dikira pacaran" Jawab asal Alan lalu tertawa, ia tidak bisa bayangkan ekspresi Ray mendengar ucapannya itu.
"Terserah lu Lan" Ujar Ray lalu keluar dari ruangan itu yang menyisakan suara Alan yang tiba-tiba menggelegar dalam ruangan itu.
Alan bangkit dari kursi menyusul keluar tapi bukan ikut Ray melainkan langsung menuju dimana ia parkir.
Alan membawa mobilnya keluar dari halaman bengkel itu sempat lewat disamping Ray.
__ADS_1
"Bro, duluan" Ujar Alan lalu menutup kaca mobilnya setelah Ray menjawab 'iya'.