
Deheman dari seseorang yang berada dibelakang Viona membuat sang empu membalikkan badan.
"Lho" Tunjuk Viona sedikit terkejut.
"Mau pulang kan?" Tanyanya.
"Iya, tapi pesanan aku sudah dibayar seorang cowok jaket hitam" Jelas Viona lalu kembali melihat penjaga kasir, "Iya kan mbak?" Tanya Viona.
"Iya, dan orangnya itu.." Ucapnya terhenti setelah melihat Ray menempelkan jari didepan bibirnya.
Viona masih menunggu, "Siapa orangnya?, Setidaknya aku mau berterima kasih padanya" Ujar Viona lagi.
"Eemmm.." Penjaga kasir itu bingung mau menjelaskan pada Viona.
Sementara Ray mengangkat telepon dari Alan.
"Sebentar, masih toilet ini" Ujar Ray dengan nada kecil yang hanya bisa didengar oleh Alan, itupun diseberang telepon suaranya seperti sedang berbisik.
"Dasar, dalam toilet angkat telepon" Alan mengomel diseberang telepon dan langsung ia matikan sepihak.
Ray kembali ke Viona dan penjaga kasir.
"Mbak mau bayar makanan meja no 23" Ujar Ray melangkah maju depan dan seketika Viona menggeserkan badannya kesamping agar Ray bisa lewat.
Viona masih terngiang di telinganya tentang cowok yang membayar makanannya. Ia belum sadar jaket yang sedang berdiri didepannya saat ini.
"Jaket hitam" Gumamnya.
"Lah ini warna hitam" Ucap Viona sambil menunjuk jaket Ray, "Kamu yang bayar makanan aku?" Sambungnya dengan pertanyaan.
Ray mengabaikan pertanyaan Viona.
"Mbak berapa semuanya?" Tanya Ray.
"Total keseluruhan 1.000.000" Jelas pegawai sambil memperlihatkan bill meja 23 tersebut.
"Mahal juga makanan Alan ini" Batinnya lalu mengeluarkan kartunya untuk bayar.
Viona belum beranjak dari tempatnya, ia sengaja menunggu Ray. Ray yang baru saja selesai dari kasir rencana langsung balik ke meja Alan.
"Ray.. kamu jaket hitam. Apa kamu yang bayar?" Tanya Viona hati-hati.
Ray melihat Viona sedikit canggung dan bicara pun tidak melihat orang yang diajaknya bicara jika itu lawan jenis.
Ray menyadari itu, "Bisa kita bicara disana sebentar?" Tanya Ray sambil menunjuk kursi yang tidak jauh dari mereka saat ini.
Viona mengangguk kepala tanda setuju. Mereka pun jalan bukan beriringan melainkan Ray di depan diikuti Viona dari arah belakang.
"Duduk Viona" Ray mempersilahkan Viona untuk duduk setelah dirinya duduk.
"Kenapa Viona berubah drastis seperti ini?" Monolog Ray dengan melihat Viona yang terus menunduk.
"Ada apa Ray?" Tanya Viona setelah lama diam.
"Tidak!.. Kenapa berubah?" Pertanyaan balik Ray membuat Viona mendongak dengan mengerutkan keningnya.
"Haaa, aku?" Tanyanya sembari menunjuk dirinya sendiri.
"Disini hanya kita berdua Viona, jadi siapa lagi?" Tanya balik Ray sembari senyum, ia merasa lucu melihat cara Viona bertanya kepadanya, menurutnya lucu dan menggemaskan.
__ADS_1
"Viona, tidak ada wanita lain yang membuatku takut kehilangan selain kamu" Ungkapnya dengan wajah serius.
Viona terlebih dahulu menghela napas, "Tapi kita berbeda Ray" Ucapnya dengan pelan, tapi bisa di dengar oleh Ray.
"Perbedaan itu bukan penghalang Viona" Ujar Ray lagi.
"Jadi penghalang kita apa kalau seperti itu?" Tanya Viona penasaran.
"Restu orang tua" Jawabnya singkat namun mampu membuat Viona geleng kepala.
"Keyakinan?" Tanya Viona lagi.
Ray senyum terlebih dahulu sebelum menjawab dan Viona pun ikut senyum seadanya.
"Selagi kita masih memiliki Tuhan, pasti Tuhan memberi jalan" Jawab Ray begitu yakin.
"Begitupun dengan aku. Aku yakin rencana Allah lebih indah dari rencana ku sendiri. Sepertinya aku harus pergi Ray, gak enak berlama-lama disini" Ucap Viona bangkit dari duduknya.
Ray mengangkat tangan menahan Viona, "tunggu!"
"Memangnya kenapa kalau dilihat orang, dari tadi juga dilihat" Ujar Ray lagi.
"Kamu lihat penampilan ku saat ini?" Tanya Viona membuat Ray mengangguk tapi sebenarnya masih penasaran.
"Lain kali bawa Ainun kesini, pasti suka" Ujar Ray dan melihat jam dilengannya, "Waduh Alan sudah mengamuk nih"
"Ada Alan disini?" Tanya Viona.
"Iya, kamu pulang saja dan aku ke meja Alan dulu"
"Ohh.. Apa Alan yang menyebut nama aku tadi?, Soalnya aku dengar atau jangan-jangan cafe ini ada yang aneh, iihh" Ucapnya sembari bergidik ngeri.
"Belum, tapi yang jadi permasalahan siapa yang bayar makanan saya diam-diam ya.. Ehh, aku harus pulang Ray" Pamitnya.
"Tunggu!"
Viona berhenti dan membalikkan badan, "apalagi Ray?" Tanyanya dengan kesal.
"Ajak Ainun kesini" Ulang Ray.
"Iya, nanti aku ajak. Itu saja?"
"Sebenarnya, masih ada" Ujar Ray lagi.
Viona menghela napas dengan kasar, "Apa lagi?" Tanya mencoba untuk sabar meskipun dalam hati sudah kesal.
"Ada yang saya bicarakan di cafe ini tempatnya, tapi nanti. Ajak Ainun sebagai temanmu" Ray mengutarakan maksud Viona mengajak Ainun.
"Bukan ini sudah ketemu?" Tanya Viona masih bingung.
Viona bingung sebenarnya apalagi yang mau dibicarakan sedangkan saat ini bertemu dan duduk di meja yang sama.
"Jangan buat aku bingung, jelaskan sekarang saja" Minta Viona
"Gak bisa, aku sudah ditunggu Alan" Ujar Ray dan Viona pun hanya mengangguk paham.
Ponsel keduanya tiba-tiba bunyi bersamaan. Ray telepon dari Alan sedangkan Viona telepon dari kakaknya Rifal.
Terpaksa keduanya berpisah untuk mengangkat telepon.
__ADS_1
"Aku udah kesitu, habis bayar makanan dikasir" Ucap Ray ditelepon itu membuat Alan diseberang telepon menghela napas pasrah.
"Ya udah, makasih" Jawab Alan capek menunggu Ray dari toilet yang tidak muncul-muncul.
Sedangkan Viona, mengangkat telepon sekaligus jalan menuju parkiran motor.
"Wa'alaikumussalam kak, kakak kenapa menelfon?" Tanya Viona kepada Rifal karena tidak biasanya.
Terdengar diseberang telepon itu bersuara, "kakak hanya cek, sudah selesai kumpul-kumpulnya dengan teman kampus?" Tanya Rifal.
Viona yang awalnya sudah lupa jadi teringat dan tiba-tiba kesal, "boro-boro kak kumpul datang aja gak, tapi aku nikmati minuman dan makanan cafe ini.. Pokoknya mantep deh, nanti akhir pekan kita kesini kak" Ajaknya.
"Nanti dilihat ya dek, soalnya tau sendiri kakak sibuk kerja" jawabnya diseberang telepon lagi.
"Maksud aku waktu libur kak, bukan hari kerja. Ingat lho kak, ibu hamil itu perlu refreshing gak boleh stres" Ucap Viona asal, benar dan tidaknya urusan belakang.
"Lea gak pernah bilang dek" Ucap Rifal lagi.
"Kak Lea itu gak enak, karena kakak sibuk kerja, peka dong jadi suami" Ucap Viona dan dengan cepat menjauhkan ponselnya lalu ia tertawa "hixhixhix".
Terdengar diseberang telepon merespon dengan serius "gitu ya dek, ya udah pekan depan kita ke cafe itu, kamu yang urus semua tapi minta pendapat Lea dimana tempat ternyamannya"
"Ok kakakku, Assalamualaikum" Ucap Viona lalu mematikan sambungan telepon sepihak.
Viona langsung mengendarai motornya pulang, sedangkan Ray kembali ke meja Alan. Ekspresi Alan sudah tidak bersahabat melihat Ray.
"Maaf Lan, ada teman tadi makanya lama" Jelas Ray sembari duduk.
Alan mengangkat gelas minumannya, "lihat nih, udah pesan lagi minuman dan hampir mau habis baru kamu datang."
"Iya, maaf bro. Gimana jadi gak nih?" Tanya Ray.
"Aku suka sudah tanya pegawai sini masih proses pembangunan jadi belum bisa masuk didalam" Jelas Alan dan Ray menatap sahabatnya dengan malas.
"Terus ngapain panggil aku disini?, Lain kali pastikan dulu baru panggil Lan" Jelas Ray kepada Alan
Alan bukan merespon ucapan sahabatnya itu malah mengalihkan pembicaraan.
"Mentang-mentang ketemu dengan cewek. Ingat Viona"
"Lihat dari mana?" Tanya Ray dengan sedikit kaget, "Mudah-mudahan dia tidak tau kalau itu Viona, ehh kenapa kayak gini?" Sambungnya membatin.
"Napa diam?, Siapa cewek tadi Ra, kenalkan ke aku" Ujar Alan sembari senyum dan menaik turunkan alisnya dan Ray malah melihat ketempat lain.
"Jangan seperti itu bro, kamu sudah punya Viona" Ulang Alan lagi.
"Viona itu masih milik orang tuanya. Sudah, aku mau pulang, disini buang-buang waktu saja" Ray pura-pura jengkel kepada sahabatnya Alan agar terhindar dari pertanyaan seputar perempuan yang ia temui tadi.
"Aku cari tau nanti cewek tadi" Ujarnya lalu jalan meninggalkan Ray.
"Mbak tadi sahabat aku itu" Ucap Alan kepada penjaga kasir sambil menunjuk Ray.
"Oh itu, jaket hitam itu yang bayar minuman dan makanan mbak Viona" Jelasnya membuat Alan sedikit bingung.
"Viona?, Apa dia sudah pakai jilbab, tapi Ra gak bilang apa-apa" Batin Alan.
"Oh, makasih ya mbak" Ujar Alan lalu kembali dimeja dimana Ray juga hendak melangkah meninggalkan meja itu.
"Kirain kamu sudah pulang, ayo bro pulang dan istrahat" Ucap Ray lalu menghampiri Alan dan menepuk pundak sahabatnya itu lalu pergi.
__ADS_1
Alan langsung mengikuti Ray keluar dari cafe dan pulang meskipun menggunakan kendaraan masing-masing.