
"Kamu keterlaluan Ra" Ucapnya lagi.
Ray bingung dengan ucapan Alan. Ray dan Gladis masih posisi yang sama yaitu sedang berdiri, dibuat bingung dengan ucapan Alan sejak datang.
"Aku gak paham Lan, maksudnya gimana?" Tanya Ray dan melepas tangan Gladis dari lengannya.
"Aku pergi menenangkan pikiran dan berusaha ikhlas karena kamu sahabatku tapi ternyata aku salah" Ucap Alan lagi.
Ray berusaha mencerna kata-kata Alan itu.
"Tunggu, jangan bilang kamu salah paham karena lihat aku dengan Gladis seperti tadi" tebak Ray, "Duduk dulu, datang-datang langsung marah-marah gak jelas, kayak perempuan saja" sambungnya lalu kembali melihat Gladis, "saya harap kamu keluar dari ruangan ini."
"Belum dijawab" Ucap Gladis.
"Keluar sebelum aku mengusir mu Gladis" Tegas Ray menatap tajam Gladis.
"Hisss, oke. Ingat aku akan kembali lagi" Ucapnya lalu keluar dari ruangan Ray itu dengan kaki ia sentak karena kesal.
"Dasar laki-laki gak tau diuntung, awas kamu Ra" Ucap Gladis sambil keluar dari bengkel itu, "taksinya juga mana? Lama banget" sambungnya sembari melihat kearah jalan.
Berbeda dengan Ray dan Alan. Alan sangat tidak bersahabat ekspresinya, senyum yang biasanya tiba-tiba hilang begitu saja.
"Lan, ada masalah?, Gak biasanya" Ucap Ray sembari senyum.
"To the point saja Ra, aku sibuk" Jawabnya dengan arah mata ditempat lain. Ia malas melihat wajah sahabatnya itu, jika melihat wajahnya maka yang terlintas di kepalanya adalah tangan Gladis yang memegang lengan bawah Ray.
"Ok, tadi itu aku mau jelasin ke Gladis tentang Viona, makanya aku menuju kursi" Jelas Ray dan Alan hanya menaikkan satu alisnya seakan tidak percaya.
"Itu saja?" Tanya Alan lagi.
"Iya, ngapain bohong. Lagian kamu kemana, saya pergi di apartemen mu kata satpam disana kamu itu gak ke apartemen akhir-akhir ini"
"Kesuatu tempat" Jawabnya asal dan bangkit dari kursinya itu, "aku pulang, by" sambungnya lalu pergi.
Ray dibuat bingung dengan perubahan sikap Alan yang tiba-tiba.
"Kenapa sih itu anak, gak jelas banget" Ucap Ray sembari geleng kepala lalu kembali ke kursi kebesarannya dan tidak lupa menelfon salah satu karyawan kepercayaannya yang sering belanja keperluan bengkel.
"Ke ruangan saya sekarang" Ucapnya melalui saluran telepon bengkel lalu ia matikan sambungan telepon.
"Tok tok" Suara ketukan pintu dan Ray tahu kalau itu karyawannya yang ia telepon tadi.
"Masuk" perintah Ray.
Pintu terbuka dan nampak seorang laki-laki dengan map ditangannya lalu map tersebut ia berikan kepada bosnya itu.
"Ok.. Aman, setiap minggu meningkat" Ucap Ray sambil menutup map itu, "boleh kamu keluar" Sambungnya.
"Iya pak" Jawabnya lalu pergi.
🌺
Alan membawa mobilnya menuju rumah Viona. Berharap disana ada Viona dan menceritakan semua apa yang ia lihat dibengkel siang ini. Awalnya ikhlas Viona dengan Ray tapi melihat kejadian tadi tanpa protes Ray membiarkan tangan Gladis memegang lengannya membuatnya kecewa pada sahabatnya itu.
"Maafkan aku Ra, aku sahabat mu tapi aku tidak mau membiarkan orang yang aku cintai dikhianati dibelakangnya" Ucap Alan seorang diri.
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil Alan pun sampai. Seperti biasa pagar rumah Viona tertutup rapat.
"Tertutup, apa Viona keluar?" Alan bertanya dalam hati.
Ia mencoba keluar dari mobilnya dan mendekat kearah pagar.
"Sepertinya ini bel" Gumam Alan melihat tombol itu dan ia langsung tekan. Seketika dalam rumah bunyi suara bel dan saat itu Alan dari luar pun bisa dengar meskipun suaranya kecil.
"Bang, ada tamu tu" Teriak Marcelea dari arah dapur.
"Iya bentar" Rifal menyahuti ucapan istrinya dari ruangan tengah.
"Ainun main dalam kamar saja yaa" Ucap Rifal kepada ponakannya itu.
"Iya om, Ainun bawa mainannya dalam kamar saja" Jawab Ainun sambil mengumpulkan mainannya dan memasukkan dalam keranjang khusus tempat mainan tersebut.
"Berat Om" Ainun mencoba mengangkat keranjang mainannya itu, "berat" ulangnya lagi.
"Keruang mainan aja kalau gitu, ini disimpan aja dulu disini" Ucap Rifal dengan lembut, "Kasian lho tamunya lama nunggu didepan" sambungnya.
"Tamunya duduk didepan bukan disini" Ucap Ainun mampu menyadarkan Rifal.
"Oh iya..hehehe" Jawab Rifal sembari ketawa dan pergi menuju pagar rumahnya itu dan ia buka.
Alan membelakangi pagar sehingga tidak tau kalau pagar rumah itu sudah dibuka. Sementara Rifal mencoba memperhatikan orang yang ada didepannya saat ini, menunggu untuk menoleh tapi sepertinya ia tidak sadar dengan kedatangan dirinya.
"Ekhem" Rifal berdehem dan Alan langsung menoleh.
Alan terlebih dahulu senyum.
"Maaf, apa benar ini rumah Viona?" Tanya Alan dengan sopan.
"Benar, tapi Viona lagi keluar" Jawab Rifal.
"Oh gitu" Ucap Alan lagi, ia bingung mau ngomong apalagi, "makasih kalau gitu" sambungnya.
__ADS_1
"Temannya Viona? Nanti aku sampaikan kepada adikku kalau ada temannya yang datang" Ucap Rifal lagi.
"Iya, terima kasih. Kalau begitu saya pamit dulu. Assalamualaikum" Pamit Alan lalu ia kembali masuk dalam mobilnya.
"Wa'alaikumussalam, anak sekarang salam belum dijawab sudah hilang duluan" Gumam Rifal lalu kembali menutup pagar dan masuk dalam rumah.
"Siapa dan mana tamunya bang?" Tanya Marcelea.
"Teman Viona. Udah pergi" Jawab Rifal kembali duduk di ruang tengah, "Ainun, yuk kita lanjut main lagi" sambungnya kepada ponakannya itu.
"Ajak Ainun makan jangan hanya main, ehh bang, cewek apa cowok teman Viona?" Tanya Marcelea penasaran.
"Cowok"
"Teman atau pacar.. ehh salah, Viona gak mau pacaran berarti calon" Tanya Marcelea lagi sambil menaik turunkan alisnya dengan sudut bibir tersenyum.
"Calon suami kayak gitu, abang udah blacklist" tuturnya sambil menatap mainan Ainun.
"Kenapa?" Tanya Marcelea makin penasaran.
Masa ia dengan mudah mengambil keputusan seperti itu tanpa ada sebab.
"Yeehh, Ainun paling cepat" Ucap Ainun senang karena Rifal masih menata rapi mainan balok itu, "Om buat rumah jadi lama, lihat Ainun buat pagar, cepat kan?" Tanya Ainun.
"Pagarnya hanya depan rumah, maling bisa masuk dari belakang, coba tambah lagi, buat rumah Om ini dikelilingi pagar" Respon Rifal.
"Baik Om" Ucap Viona cepat dan mengambil balok mainannya dalam keranjang tersebut dan Ia mengeluarkan semuanya.
"Itu terlalu banyak sayang" Ucap Marcelea karena ia susah untuk memungut mainan tersebut dan memasukkannya dalam keranjang nanti.
"Bang jawab, kenapa di blacklist?" Tanya Marcelea lagi.
"Kurang sopan istriku, belum salamnya dijawab orangnya sudah dalam mobil" Jawabnya tapi masih fokus menemani ponakannya main.
"Ohh gitu, Lea ke kamar dulu ya. Jangan lupa, mainannya dirapikan dan makan" Ucap Lea lalu ia pergi ke kamar.
"Iya bibi Lea"
"Iya istriku" Jawab Rifal membuat Marcelea bahagia mendengar kalimat suaminya itu.
🌺
Viona dan ibu Heti kembali dijalan semua di persimpangan awal.
"Disini kan?" Tanya ibu Heti.
"Iya ma" Jawab Viona dengan mata sudah terpejam karena mengantuk.
"Terluka tapi tak berdarah"
"Ajarkan aku cara untuk melupakanmu"
ibu Heti mengikuti lagu yang ia putar.
Awalnya Viona berusaha untuk tidur tapi setelah mendengar ibunya menyanyi, dengan lagu yang ia tidak terlintas dibenaknya kalau ibunya suka.
"Lagu anak muda cuy" Ucap Viona mampu mengagetkan ibu Heti yang masih mencoba untuk mengikuti lagu tersebut.
"Astaghfirullah, mama kaget lho" Ucapnya lagi membuat Viona ketawa lucu.
"Hahahaha, mama gak cocok itu, lagu perdamaian, kasidah-kasidah gitu"
"Enak aja, mama juga harus tau lagu zaman sekarang, supaya gak ketinggalan" jawabnya.
"Ajarkan aku.." ibu Heti mencoba untuk mengulangi lagu tersebut.
"Jangan mam, gak enak didengar, hehehe" Ucap Viona diakhiri dengan tawa dan mencoba untuk kembali menutup mata.
"Vio, coba deh lihat maps lagi" Perintah ibu Heti yang lagi fokus melihat jalanan yang membuatnya bingung.
"Ikuti kata hati saja bun, jujur ma pinggang aku nih bukan hanya sakit sekarang tapi mau patah, mana ponsel aku dibuang dibelakang" Ucap Viona berujung mengeluh.
"Ambil sana, baru lihat maps nanti kesasar kayak tadi"
"Nanti mam, kalau sudah ada niat"
"Putar balik aja kalau gitu, gak usah mengurut, awas aja kalau ngeluh sakit pinggang"
ibu Heti kesal dengan Viona, melihat waktu semakin mepet ditambah alamat yang dituju belum dapat juga.
"Iya ma, aku bantu bun, bentar. Pelan-pelan bawa mobilnya mau ambil ponsel dulu yang tergeletak tak berdaya dibelakang" Ucapnya membuat ibu Heti ingin ketawa lucu namun ia tahan karena sepengetahuan Viona saat ini sedang marah.
Setelah mengambil ponselnya, Viona kembali memasukkan alamat yang dituju.
"Jalan merdeka lorong kubis" Ucap Viona sambil mengetik alamat tersebut.
"Jalan raya merdeka" ibu Heti membenarkan.
"Oh pakai kata raya, pantas salah ma.."
"Teliti dong nak" Ucap ibu Heti dengan lembut, "udah dapat?" Sambungnya dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Iya ma.. depan ada perempatan kita lurus, habis itu ada simpangan tiga belok kanan dan tinggal lurus gak belok-belok lagi lorong kubis itu berada di sebelah kanan" jelas Viona yang diangguki oleh ibu Heti.
Disisi lain, Alan kembali di apartemennya dari rumah Viona. Ia berusaha menghubungi Viona, aktif tapi tidak dijawab teleponnya.
"Sebenarnya Viona kemana?, Apa ketemuan dengan Ray?, Jika memang seperti itu, aku harus kasih tau Viona" Ucap Alan lagi.
Alan ke kamar untuk membersihkan badan dan memutuskan untuk lari sore. Sebenarnya ini bukan aktivitas rutin Alan, namun untuk menghilangkan rasa bosan maka ia lakukan. Karena biasanya, ia habiskan waktu dibengkel Ray sahabatnya.
Sementara Ray, ia kembali datang di apartemen Alan. Ia tahu Alan salah paham tapi bukan berarti mengambil keputusan sendiri, dijelaskan pun tidak mau dengar.
"Andaikan ini tidak berhubungan dengan Viona, aku tidak mau ladenin sifat kekanak-kanakan mu ini" Ucap Ray sambil membawa motor terus berjalan ke arah apartemen sahabatnya itu. Karena ia balap maka tidak membutuhkan waktu lama sampai di apartemen yang dituju.
Saat motor Ray berhenti bertepatan Alan keluar menuju motornya. Alan melihat Ray yang biasa langsung tegur itu hanya diam. Ray pun melihat itu hanya geleng kepala.
"Dasar, patah hati masuk club sekarang salah paham kayak perempuan" Monolog Ray.
"Hay Lan, mau kemana? Tumben" Tanya Ray karena tidak biasa Alan olahraga sore.
"Olahraga" jawabnya singkat dan dingin.
"Aku ingin bicara sedikit"
"Gak perlu Ra, jujur aku sudah ikhlas Viona untuk kamu tapi jika ingin mendapatkan keduanya aku tidak rela"
"Belajar dewasa Lan, seandainya ini tidak berhubungan dengan Viona aku malas mendatangi apartemen mu dua kali sehari kayak apartemen pacar saja" Kesal Ray.
Alan mendengar itu merasa lucu, "tegas dong sama Gladis itu"
"Aku sedang berusaha, kasih pendapat gimana caranya supaya Gladis tidak menggangu ku lagi?" Tanya Ray lagi.
"Segera menikah" Jawab Alan singkat membuat Ray susah menelan ludah.
"Gak ada cara lain gitu?" Tanya Ray lagi.
"Gak ada. Mau ikut aku olahraga atau pulang?" Tanya Alan.
"Aku pulang saja sudah sore juga" Jawab Ray.
"Ok, maaf ya Ra"
"Iya, aku jalan dulu" Pamit Ray dan Alan melanjutkan aktivitas sorenya yaitu lari sore.
🌺
Malam pun tiba, Viona dan ibu Heti terpaksa menginap dirumah keluarga bagian ayahnya. Berhubung tukang urutnya malam baru bisa datang. Sebenarnya ibu Heti dan Viona yang akan menghampiri rumah nenek tukang urut itu tapi karena kecapean dijalan dan sampainya magrib jadi keluarga disana melarang dan nanti mereka yang memanggil nenek tersebut.
Malam ini mereka kumpul keluarga, setelah mereka tau kalau Viona datang ke kampung halaman ayahnya yang berada dipinggiran kota.
"Sering-seringlah kesini nak, jenguk keluarga disini" Ucap bibinya yaitu saudara ayahnya.
"Iya bi. Nanti aku sering datang, pemandangannya bagus disini" Puji Viona.
"Anak kota begitu yaa.. hehehe" Ucap wanita tua yang merupakan saudara neneknya.
"Benar nek, bagus" Puji Viona lagi sembari senyum yang ditanggapi dengan ketawa keluar besar ayahnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, nenek itu datang dengan membawa minyak urutnya. Viona pun sudah siap untuk diurut.
Viona diurut ditemani oleh ibunya.
"Pelan ya nek, pinggang aku sakit" Ucap Viona.
"Ini kapan jatuh?" Tanyanya.
"Tadi pagi nek" jawab Viona lagi.
"Gak tau kenapa suka sekali jatuh diatas tempat tidur" Timpal ibu Heti.
Nenek tersebut hanya senyum mendengar ucapan ibu Viona.
"Ini sedikit bengkak, berarti jatuhnya udah lama hanya baru dirasa" Ucapnya lagi.
"Jadi nek gimana, harus berapa kali diurut?" Tanya ibu Heti.
"Tiga hari lagi sudah bisa diurut sampai benar-benar kembali seperti semula tulangnya"
"Haa, maksudnya tulang aku bergeser nek?" Tanya Viona panik.
"Tidak hanya agak masuk kedalam jadi harus diurut pelan tapi sering" jelasnya.
"Sebenarnya kamu ini viona jatuh dari atas tempat tidur atau banting diri, kok separah itu" Ucap ibu Heti.
Viona menahan tawa mendengar ucapan bundanya, "sakit mam, jangan buat viona ketawa disini.
"Ini lho bahunya bengkak" Ucap tukang urut lagi.
"Kasih yang terbaik saja nek" Ucap ibunya, "ini kain Viona kalau mau teriak" Sambungnya sambil memberikan selembar kain kepada Viona.
"Aku sudah besar bun" Tolak Viona.
"Baguslah" Jawabnya santai.
__ADS_1
Ritual mengurut Viona akhirnya selesai juga, sakit tapi ia rasa badannya ringan dan rasa sakit bagian punggung mereda dan bagian punggungnya kayak linu.Dengan keputusan tiga hari kemudian Viona kembali lagi.