
Tepat satu minggu yang lalu Ray ke rumah Viona dan sampai saat ini tidak ada kabar, seperti biasa Viona tidak ambil pusing hal itu karena ia sudah biasa dengan keadaan tanpa saling memberi kabar. Kalau dipikir tidak ada kewajiban untuk saling memberi kabar karena mereka bukan sepasang ke kasih.
Viona mengeluarkan cincin itu dari dalam laci mejanya. Ia tatap begitu lama.
"Apa aku harus mengembalikanmu lagi?" Tanyanya seorang diri.
"Benar, aku harus mengembalikannya karena bagaimanapun ini tidak pantas untukku" Gumamnya lalu mengambil ponsel dan menelfon Ray.
"Kok gak aktif" Ujar Viona lagi dan kembali menelfon, "ke kantornya aja kalau gitu" Lanjutnya.
Viona siap-siap dengan menggunakan make-up tipis lalu jalan dan kali ini izin membawa mobil ibunya.
Dalam perjalanan Viona mengirim pesan namun tidak dibalas oleh Ray. Lewat WhatsApp pun centang satu.
20 menit kemudian Viona sampai bengkel Ray, seperti biasanya karyawan Ray sudah mengenal Viona.
"Mau ketemu bos ya?" Tanyanya salah satu karyawan disitu.
"Benar, ada dia kan?" Tanya balik Viona sambil menunjuk arah jalan menuju ruangan Ray.
"Gak ada mbak Viona, minggu lalu pak bos ke Korea katanya ada urusan" Jelasnya lagi.
"Apa lama di korea?"
"Kurang tau mbak, kayaknya kali ini akan lama soalnya bawa beberapa berkas dari sini juga"
"Oh gitu, gak titip pesan gitu?"
Viona berharap ada pesan untuknya sebelum Ray pergi.
"Maaf Viona kalau aku lancang, tapi sebagai sahabat saya harus memberi tahu hal ini padamu" Tiba-tiba Gebi datang entah kapan sampai di bengkel itu.
Viona dan karyawan bengkel itu seketika menoleh ke sumber suara tepat dari belakang.
"Apa itu Geb?" Tanya Viona penasaran.
"Ray pergi di Korea itu untuk menggelarkan acara pernikahan disana"
Seketika Viona lemas seakan sendi-sendi tulangnya ngilu seketika.
"Kamu.. kamu dengar sama siapa Geb?" Tanya Viona penasaran dan dimatanya tersorot kesedihan.
"Aku punya tetangga dan kebetulan tetanggku itu satu sekolahnya Ray waktu SMA, mungkin dapat informasi dari grup"
"Oh gitu ya" Jawaban Viona melemah.
"Kapan acaranya?" Lanjutnya dengan pertanyaan.
"Sepertinya sudah dekat, soalnya aku lihat Ray di bandara begitu buru-buru" Jelas Gebi lagi.
"Begitukah?"
"Iya, masa aku lupa. Seharusnya ini Ray sendiri yang jelaskan bukan malah dengar dari orang lain" Ungkap Gebi lagi seakan iba pada Viona.
"Yaahh, gak apa-apa. Aku dan Ray memang gak ada hubungan, jadi wajar kalau tidak memberi tahu aku ke Korea" Jelas Viona.
"Maaf ya aku duluan pergi, assalamualaikum" pamitnya dengan jalan terburu-buru.
Karyawan bengkel terdiam mendengar kalau bosnya itu pergi untuk menikah ke Korea.
"Maaf, mbak ini keluarga bos kami?" Tanyanya penasaran.
"Hee, urus saja pekerjaan mu" Jawab Gebi dengan sedikit bentakan.
Karyawan tersebut langsung pergi sembari mengusap dada dan geleng kepala.
"Amit-amit orang seperti itu" Ujarnya sembari kembali kerja.
__ADS_1
Temannya yang penasaran langsung bertanya, "Kenapa, apa mbak Viona sudah pergi?"
"Iya, tapi ada ular baru yang datang" Jawabnya.
"Ular piton?
"Bukan, ular kobra. Hahaha"
"Emang perempuan sekarang, rada-rada aneh"
"Apa bos ke Korea pergi menikah?"
"Tanya kepercayaannya"
"Iya juga"
Mereka berdua lanjut kerja tanpa ada pembicaraan lagi.
🌺
Gebi ke restoran bertemu dengan Gladis.
"Gimana?" Tanya Gladis dengan wajah bahagia.
"Percaya, dia percaya. Upload fotomu sekarang" Ujar Gebi.
"Untuk?"
"Seakan-akan kamu berada di Korea juga, gimana sih" Gebi udah mulai ngegas pada Gladis.
"Santai saja, nanti aku mainkan" Jawaban santai Gladis, "Gimana kita klub?" Lanjutnya.
"Mabuk lagi?, Aku gak mau urus orang mabuk"
"Merayakan" Rayu Gladis lagi.
Gebi setuju dan mereka pun pulang dikediaman masing-masing.
Berbeda jauh dengan Viona, ia sekarang duduk seorang diri di Taman dekat bengkel Ray. Memori lama seakan terputar kembali di Taman itu.
"Kenapa aku harus seperti ini, saat kamu pergi Ray. Seharusnya aku senang mendengarmu akan segera menikah, setidaknya kamu menikah dengan orang yang seiman" Batinnya.
"Ternyata begini rasanya kehilangan orang yang kita cintai Ray. Sakit rasanya, tapi setidaknya kamu pamit bukan pergi begitu saja, katanya kita sahabat tapi kenapa tiba-tiba lupa pada sahabat sendiri" Viona bicara seorang diri di taman. Ia meluahkan semua unek-uneknya.
"Kamu sahabat curang Ray, aku marah sama kamu"
"Kamu tidak menganggapku sahabat Ray" Lanjutnya lagi dan kali ini ia menangis menumpahkan segala kekesalannya pada Ray.
Dengan menunduk sembari memaki-maki Ray "Kamu jahat Ray, kamu bukan sahabat yang baik, kamu tidak cinta..." Kalimatnya terhenti seketika setelah melihat sepatu pantofel didepannya.
"Lap ingusmu yang kemana-mana itu" Ujarnya sembari menyodorkan selembar tisu.
Viona mengangkat kepalanya dan seketika lap air matanya.
"Ka.. kam.. kamu kapan kesini?"
"Sejam yang lalu" Jawabnya asal.
Mata Viona terbuka lebar, "Berarti..." Ucapnya sambil bangkit dari duduknya, "Lupakan" lanjutnya dan kembali duduk.
"Secinta itu sama sahabat aku?"
Viona mengerutkan keningnya sambil menatap Alan.
"Sok tau"
"Hmmm, mata udah bengkak kayak gitu masih bilang sok tau" Ujar Alan sembari duduk disamping Viona.
__ADS_1
"Geser dikit, jangan dekat-dekat"
"Iya.. iya" Alan menggeserkan tubuhnya sampai ujung kursi taman.
"Ceritakan padaku siapa tau aku bisa bantu" Lanjut Alan.
"Salam ku untuk Ray, semoga bahagia" Ujar Viona membuat Alan tidak mengerti.
"Maksudnya gimana, aku sebagai sahabat Ray tidak tau apa-apa. Apa ada masalah?" Tanya Alan lagi.
Viona tersenyum kecut pada Alan, "Mana ada sahabat membela orang lain kalau bukan membela sahabatnya sendiri"
"Soalnya kalau aku tanya Ray, Ray sedang sibuk-sibuknya saat ini"
"Kamu gak ikut sebagai satu-satunya sahabatnya saat ini?" Tanya Viona lagi.
"Aku juga punya urusan disini, tau sendiri kan aku punya restoran dan tidak bisa aku tinggalkan begitu saja" Jelas Alan.
"Oh gitu, seharusnya pergi dong dihari bahagianya Ray"
"Nanti aku ucapkan disini saja kalau sudah kembali"
"Berarti benar kalau Ray menikah" Batin Viona.
"Oh iya, benar juga tuh. Aku juga, nanti ucapan selamatnya di indo saja. Secara langsung lebih bagus, iya kan?" Tanya Viona namun lagi-lagi sorot mata Viona tidak bisa bohong yang sudah membendung air mata.
"Yap" Jawaban Alan begitu semangat menurut Viona.
"Aku hampir lupa, kamu ngapain ke sini?" Tanya Viona, "gak mungkin kan datang disini hanya untuk jalan-jalan, secara jauh dengan restoran kamu"
"Aku sering disini. Disini tuh ada kenangan indah yang pernah ada dalam hidup aku, tapi kalau menurut dia mungkin itu hal biasa" Jelas Alan dengan mata menatap jauh.
"Kalau kamu?" Tanya balik Alan.
"Aku suka suasananya" Kilah Viona sembari menghela napas, "kita memiliki alasan yang sama Lan" Sambungnya dalam hati.
Alan mengangguk pelan, paham dengan kalimat Viona.
"Memang ada kenangan yang menurut kita itu sangat berharga tapi satu pihak kenangan itu menurutnya biasa saja dan bahkan mungkin gak penting untuk diingat. Miris ya seperti itu?" Tanya Alan lagi.
"Kalau menurut aku, kenangan itu berharga dan tidaknya tergantung kenangan bersama siapa. Kalau kenangan itu bersama orang yang kita cintai sudah pasti semua itu sangat berharga..." Ujar Viona dan seketika diam merenungi semua kata-katanya yang keluar karena kalimat itu salah satu perwakilan hatinya.
"Ada tisu gak, aku kelilipan, hehehe" ujar Viona lagi sambil mengipas wajahnya pakai tangan.
Alan hanya menatap Viona sekilas lalu mengambilkan tisu.
"Tak perlu bohong, mana ada keliling tapi mengipas" Jawab Alan dalam hati.
"Aku paham maksudmu" Alan menjawab seadanya.
"Iya, aku tau. Kamu cerdas jadi bahasa seperti itu kamu mudah mengerti" Jawab Viona lagi setelah lap air matanya.
"Aku sebenarnya tidak mengerti Vio hanya mencoba untuk memahami kamu" Jawaban Alan kali ini membuat Viona menatap Alan lama.
"Maksudnya?"
"Gak ada maksud, tunggu kejutan dari Ray, tapi harus sabar menunggu"
"Haaa.. maksudnya?"
"Aku pergi, restoran membutuhkan aku" Pamit Alan lalu pergi.
"Biarkan cinta ini ku bawa seorang diri" Batin Alan.
"Wa'alaikumussalam" Jawab Viona dengan nada besar agar Alan dengar.
Alan membalikkan badan yang sudah jauh dari Viona, mengangkat tangannya sambil ia lambaikan sembari senyum dan Viona membalas dengan cara yang sama.
__ADS_1