Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
38. Rumah Sakit


__ADS_3

"Viona kenapa mam?" Tanya Yesi to kalah panik mendengar nama adiknya itu disebut oleh ibunya sembari menangis.


"Mbak, aku keluar dulu sebentar, abang menelfon" Pamit Marcelea dan berlalu pergi keluar dari kamar ibu mertuanya.


"Assalamualaikum bang" Ucap Marcelea.


"Wa'alaikumussalam dek, kasih tau kak Yesi dan mama. Viona kecelakaan" Rifal memberitahu sang istri.


Marcelea seketika menangis sembari menutup mulutnya.


"Jadi gimana bang, kondisi Viona sekarang?" tanya Marcelea lagi.


"Abang juga belum tau, Abang sekarang mau ke Rumah Sakit Sejahtera. Sudah dulu ya. Assalamualaikum" Pamit Rifal dan sambungan telepon pun mati.


Marcelea kembali ke kamar ibu mertuanya dan disana ibu Heti sudah diatas tempat tidur ditemani oleh Yesi yang mengusap punggung tangan ibunya, sembari berkata.


"Mama tenangkan pikiran baru cerita" Ujar Yesi dengan lembut.


Ibu Heti menarik napas pelan untuk menormalkan perasaannya sembari memejamkan mata dalam tarikan napasnya.


"Viona kecelakaan Nak" Ucap Ibu Heti dan Yesi langsung menutup mulutnya pakai tangan seketika sambil menoleh kearah Marcelea dan Ray.


Marcelea mendengar itu sudah tidak kaget karena sudah diberi tahu oleh suaminya. Sementara Ray seketika kaget dan diam.


Ray memberanikan diri bertanya, "rumah sakit mana?"


"RS sejahtera" Jawab Marcelea.


"Lea udah tau?" Tanya Yesi dan Ibu Heti hanya menatap mantunya itu sembari menangis.


"Abang tadi menelfon, kembali mau beritahu tapi mama udah kasih tau duluan" Jelas Marcelea.


"Kita kesana sekarang" Ujar Ibu Heti.


"Iya mam" Jawab Yesi dan Marcelea.


Ibu Heti ganti kerudung, begitupun dengan Yesi dan Marcelea sedangkan Ray kembali ruang tamu menunggu disana.


5 menit kemudian mereka sudah diruang tamu.


"Kunci mobil Nak" Ujar Ibu Heti.


"Sebaiknya ikut saja saya, nanti aku yang bawa mobil" Ray menawarkan diri dan mereka mengangguk mau.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, tidak henti-hentinya ibu Heti menangis khawatir dengan keadaan putri bungsunya itu.


"Apa Rifal udah telepon lagi, bagaimana keadaan Viona?" Tanya Ibu Heti.


"Belum mam, karena abang tadi baru mau jalan ke RS sejahtera juga" Jawab Marcelea.


"Tanya nak, hati-hati bawa mobil nak Ray. Lea lagi hamil besar" Ujar Ibu Heti. Meskipun panik dengan keadaan anaknya tapi masih memikirkan mantunya yang hamil besar.


"Iya tante" Jawab Ray dengan mata fokus didepan.


20 menit kemudian, mereka sampai RS. Yesi langsung menuju resepsionis.


"Atas nama Ghaidah Viona Syafiyah diruangan mana ya?" Tanya Yesi.


"Dari sini lurus aja ya, ruang melati nomor 243" Jelas suster tersebut.


"Terima kasih sus" Ucap Yesi, "kita kesana" Sambungnya.

__ADS_1


Mereka langsung ke ruangan melati nomor 243, disana sudah ada Rifal yang baru keluar dari ruangan tersebut.


"Dek, gimana keadaan Viona?" Tanya Yesi dengan panik.


"Iya nak, gimana keadaan Viona?" Tanya Ibu Heti.


"Iya bang, gimana keadaan Viona. Kami khawatir lho kok hanya diam" Protes Marcelea baru sampai dengan Ray.


Karena dia hamil besar, otomatis tidak bisa berjalan cepat dan Ray tidak mungkin meninggalkan kakak sepupunya seorang diri dibelakang, jadi ia menyeimbangkan langkahnya dengan Marcelea.


"Coba tenang dulu, duduk tenangkan perasaan baru Rifal cerita" Ujarnya dan mereka pun tanpa protes sedikit pun langsung duduk dikursi tepat samping ruang Viona.


"Kami udah tenang, coba cerita" Minta Yesi lagi.


"Viona masih istrahat, kata dokter kita tunggu sampai dia bangun baru kita bisa jenguk" Jelas Rifal.


"Maksudnya Viona pingsan kak?" Tanya Ray membuat Ibu Heti kembali menangis.


"Benar begitu nak?" Tanya Ibu Heti.


"Hanya efek obat mam" Jawab Rifal dengan tenang.


"Bagaimana kata dokter tadi?" Tanya Marcelea lagi.


"Kita tunggu sampai ia sadar baru bisa kita jenguk" Jelas Rifal lagi sesuai apa yang diucapkan dokter.


"Ya Allah emang penyebabnya apa sehingga Viona kecelakaan bang?" Tanya Marcelea lagi.


"Dia tabrak pohon karena menghindari anak kecil yang sedang menyebrang" Jelas Rifal lagi.


Sedangkan Yesi masih menenangkan Ibunya yang masih menangis. Mereka berdua sedikit menjauh dengan ruang rawat Viona. Itu semua keinginan ibu Heti agar anaknya tidak terganggu katanya, padahal mereka berada di luar tapi namanya sang ibu sangat menjaga ketenangan anaknya.


"Mama tidak usah khawatir" Sambungnya lagi.


"Gimana gak panik, Viona belum sadar" Ujar Ibu Heti khawatir.


"Itu hanya efek obat mam, contohnya sekarang diruangan melati tandanya dia baik-baik saja. Istighfar mam, ingat Allah" Jelas Yesi lalu ia ingatan ibunya.


"Bukan ibu dan ayah dulu selalu bilang, 'apapun yang terjadi itu semua kehendak Allah, tugas kita hanya bersabar dan bersyukur atas kehendak Allah. Allah tau mam, Viona mampu melewatinya makanya Allah memberikan cobaan seperti itu', iya kan?" Tanya Yesi.


Ibu Heti pun berhenti menangis dan menghapus air matanya, "Iya, benar"


"Astaghfirullah, ampuni hambamu ini" Batin Ibu Heti dengan memejamkan mata.


"Mama ke mushala dulu" Ucapnya lagi.


"Yesi temanin?" Tanyanya, takutnya tiba-tiba Ibunya membutuhkan bantuan.


"Temanin saja adik-adik mu disana, bilang sama mereka mama ke mushala sebentar" Jelas Ibu Heti yang diangguki oleh Yesi.


Ibu Heti menuju mushalla rumah sakit sedangkan Yesi kembali dikursi dimana adik, adik ipar dan Ray disana.


Rifal melihat Yesi datang seorang diri, langsung menanyakan keadaan ibunya.


"Kak, mama mana?" Tanya Rifal.


"Ke musholla" Jawab Yesi, "dek, kalau mau pulang sekarang gak apa-apa, terima kasih" Sambung Yesi kepada Ray.


Ray ingin menjawab masih mau disitu menunggu Viona sampai sadar dari efek obat, ia melihat sepupunya ingin minta bantuan.


Marcelea yang mengerti dengan maksud dengan tatapan Ray.

__ADS_1


"Kak, Alex sahabat Viona juga pasti tidak kalah khawatir dengan kita disini, jadi mungkin Alex pengen tau keadaan Viona juga, begitu kan dek?" Tanya Marcelea kepada Ray setelah mencoba menjawab ucapan kakak iparnya.


"Iya, Viona sahabat Ray juga" Ujarnya membenarkan ucapan sepupunya.


"Makasih ya" Ucap Yesi lagi untuk kedua kalinya.


Ray hanya mengangguk sembari senyum. Senang meskipun ia saat ini khawatir tentang keadaa Viona.


🌺


Sudah mau masuk satu minggu Viona dirumah sakit. Rasa bosan itu yang Viona rasakan ditambah makanan yang menurutnya hambar tidak ada rasanya sama sekali.


Suster membawa makan siang Viona, seketika Viona cemberut melihat makan itu.


"Ya Allah mam, apa gak bisa beli makan diluar?" Tanya Viona kepada ibunya.


"Mau cepat sembuh?" Tanya Ibu Heti.


"Mau lah mam, bosan baring terus disini" Jawab Viona sembari menarik napas kasar dengan terpaksa ia makan disuapin oleh ibunya.


Sementara makan, tiba-tiba ada yang ketuk pintu dan memberi salam.


"Assalamualaikum" Ucapnya dari balik pintu.


"Wa'alaikumussalam" Jawab Ibu Heti sambil menaruh makanan Viona diatas meja.


Ibu Heti membuka pintu, "Oh Ahmad, masuk"


Ahmad pun masuk dengan membawa buah-buahan.


"Maaf aku baru datang, gak tau kalau kamu masuk RS" Ujar Ahmad.


"Gak masalah, buah apa tu?" Tanya Viona kepada Ahmad.


"Apel, anggur dan pisang kayaknya" Jawab Ahmad, "emang sudah bisa makan buah-buahan itu?" Tanya Ahmad lagi.


"Jadi untuk apa bawa buah-buahan itu mad, kalau aku gak bisa makan" Ucap Viona lagi.


"Dengar sama siapa kalau aku masuk RS?" Tanya Viona lagi.


"Ke rumah kemarin, tapi kata tetangga gak ada orangnya semua ke rumah sakit. Aku tanya lagi siapa yang sakit, aku pikir mungkin istri kak Rifal melahirkan tapi kata tetangga Viona kecelakaan. Jadi aku datang siang ini" Jelas Ahmad dan Viona hanya mengangguk paham.


Mereka sedang cerita bertiga, tiba-tiba dokter masuk dan dua orang suster. Suster dengan pelan mengangkat kaki kanan dan tangan sebelah kanan Viona dengan perlahan


"Masih sakit?" Tanya dokter.


"Sedikit dok" Jawab Viona sembari meringis kesakitan.


"Sudah tidak betah disini?" Tanya dokter yang tangani Viona lagi.


"Iya sebenarnya dok, bosan gak kemana-mana" Ujar Viona lagi sedikit curhat.


"Semoga cepat sembuh"


"Terima kasih pak dokter"


"Iya, sama-sama. Kami pergi dulu, selamat istirahat" Ujar dokter lagi lalu mereka pergilah.


Ahmad dan Ibu Heti berbagi cerita sementara Viona izin ingin istirahat. Setengah jam Ahmad di rumah sakit ia pamit pun pamit pulang karena harus kembali ke restoran.


"Saya pulang bu, assalamualaikum" Pamit Ahmad dan ia pun diantar oleh ibu Heti sampai depan pintu ruangan Viona.

__ADS_1


__ADS_2