Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
86. Kepanikan Viona


__ADS_3

Tepat sudah seminggu kejadian direstoran, Viona terlihat biasa dan tidak menampilkan hal aneh. Bercanda ria bersama Tiara, makan bersama seperti biasa. Setiap hari minggu Tiara berada di rumah Viona dan karena minggu ini sibuk dibutik, maka Tiara pun disana.


Viona menata gamis-gamisnya dan merapikan yang sedikit berantakan dibantu oleh Ina.


"Na, kamu pernah jatuh cinta gak?" Tanya Viona dengan melihat hasil pajangannya itu.


"Hmmm, pernah. Emang kenapa?" Tanya balik Ina.


"Tanya aja sih" Respon Viona, "Ehh Na, masih ada yang kurang gak dipajangan ini?" Lanjutnya.


Ina memperhatikan dengan teliti, meskipun ia bukan orang yang pintar padu-padankan warna tapi Viona selalu bertanya kepadanya.


"Cukup" Jawab Ina.


"Ok"


Keduanya duduk sambil cerita selagi sepi pembeli, berbagi cerita semakin seru setelah pembasahan keduanya masuk ranah perasaan.


"Na, emang ada ya cowok itu suka sama sahabatnya?" tanya Viona dengan serius.


"Iya ada, emang salah kalau cowok jatuh cinta sama sahabatnya.. eits sahabat cewek apa cowok ni?" Tanya balik Ina.


Viona menghela napas kasar dan memutar bola matanya, "Maksudnya, dikira tadi sahabat cowok. Makin aneh aku rasa."


"Hehehe, bercanda. Ujian dihari minggu" Ganggu Ina sembari menaikkan turunkan alisnya.


"Ehh, Tiara mana, Na?" Viona baru menyadari kalau dibutik tidak ada Tiara.


"Toilet mungkin" Jawaban santai Ina membuat Viona yang mulai panik kembali tenang.


"Panikan amat, sama persis dengan Ahmad" Tutur Ina.


"Iya nih. Sejak teror itu hari, aku orangnya jadi panikan" Jelas Viona.


Semenjak Viona terima Ina sebagai karyawannya, ia merasa tidak kesepian lagi. Hari-hari Viona lewati dengan curhat kepada Ina, Ina baginya bukan hanya seorang pekerja tapi sahabat juga. Jadi tidak sungkan-sungkan memanggil Ina memanggil Viona dengan panggilan sahabat pada umumnya.


"Vio, kamu sering refreshing gak?" Tanya Ina sambil main ponsel.


"Udah lama, emang kenapa?" Tanya balik Viona, ia saat ini sedang melihat kerudung apa saja yang kosong warnanya.


"Pengen aja jalan-jalan" Kode Ina.


Viona langsung menoleh melihat Ina yang sedang duduk santai, "baru satu bulan kerja, udah mau jalan-jalan, ini."


Viona memberikan buku dan pulpen kepada Ina, "Ambil, Na."


"Untuk?"


"Aku punya butik, kok aku juga yang list warna kerudung yang kosong" Protes Viona kepada Ina.


Ina menatap Viona dengan tatapan kosong.


"Kesamben baru tau rasa" Ujar Viona sambil meninggalkan Ina.


"Pokoknya tulis sekarang, aku mau minta sekarang listnya" Pinta Viona setelah duduk di kursi kasir.


"Ada gak kertas diatas meja?" Tanya Ina sedikit teriak karena agak jauh dari kursi Viona.


"Ada"


"Dibaca Vio" Ujar Ina.


"Ok"


Viona penasaran dengan kertas diatas meja yang dimaksud oleh Ina, ia buka perlahan dengan perasaan deg-degan. Setelah ia baca, antara kesal dan ingin menertawai dirinya. Ia menghampiri Ina.


"Ini kertas yang dimaksud?" Tanya Viona tanpa ekspresi.


Ina melihat itu langsung ketawa, "Iya, dikira surat cinta?"


"Gak juga, tapi aku berharap surat dari Ray gitu menjelaskan kejadian di restoran" Ujar Viona lalu kembali di mejanya seperti biasa.


Ina melihat itu hanya geleng kepala heran, ia berharap suatu saat nanti sadar kalau cintanya pada Ray itu hanya sia-sia belaka.


Tidak terasa sudah sore, Viona sudah siap dengan tas nya tapi ia merasa ada yang kurang.


"Astaghfirullah, Tiara" Viona baru teringat lagi kepada Tiara.

__ADS_1


Dengan langkah cepat menghampiri Ina, "Na, Tiara tidak ada sampai jam segini."


"Gimana kalau diculik" Lanjutnya dengan panik.


"Tenang, tau nomor ponsel Tiara?" Tanya Ina.


"Tidak"


"Tunggu, aku telepon Ahmad" Tutur Ina, "Kamu duduk disana, aku yang urus semuanya."


Ina menjauh meninggalkan Viona yang duduk dikursi panjang. Ia sebenarnya panik jika Tiara benar-benar hilang seperti yang ada dipikiran Viona.


"Assalamualaikum, Tiara ada disitu gak?" Tanya Ina dalam telepon.


"Wa'alaikumussalam, Iya. Aku juga kaget tiba-tiba sudah di resto. Emang kenapa?" Tanya Ahmad diseberang telepon.


"Tiara pamit pulang, Viona sampai panik cari Tiara" Lapor Ina ditelepon.


Terdengar diseberang telepon, Ahmad langsung menasehati adiknya.


"Tiara kalau keluar kasih tau Viona supaya dia gak panik cariin kamu" Ujar Ahmad terhadap adiknya.


"Maaf, kelamaan kak Vio pesan makanan" Jawabnya dengan jujur.


"Tapi setidaknya telepon kakak, nanti dibawakan makanan dari sini, lain kali jangan seperti itu kalau masih mau main ke butik Viona" Tegas Ahmad.


"Iya, maaf"


"Maafnya bukan ke kakak tapi ke Viona" Ujar Ahmad lagi.


"Iya, aku telepon kak Viona" Ujar Tiara lagi sembari mengulurkan tangannya didepan.


"Apa?" Tanya Ahmad bingung.


"Ponselnya, mau telepon kak Viona" Ujar Tiara lagi, "gimana sih" Lanjutnya dengan kesal karena dimarahi.


"Tunggu" Ucap Ahmad.


Ahmad kembali lanjutkan telepon dengan Ina beberapa menit lalu ia matikan sambungan telepon. Ponsel Ahmad sudah berpindah tangan.


"Gimana, Na?"


"Kita tunggu beberapa menit lagi" Ujar Ina dengan tenang.


Viona melihat Ina yang santai tidak seperti dirinya panikan sampai duduk pun tidak tenang.


"Na, kok kamu santai sekali?" Tanya Viona, ia tidak bisa tahan untuk tidak bertanya.


"Aku yakin Tiara gak kenapa-napa, makanya aku tenang" Jawaban Ina.


Jawaban yang membuat Viona tambah bingung, bagaimana bisa tenang, kabar keberadaan Tiara saja belum tau.


"Memang sahabat aku yang paling aneh."


Viona tidak habis pikir dengan Ina, ia pun sampai bingung kata yang cocok melambangkan ketenangan hidup Ina saat ini.


"Ehh, Na. Ahmad telepon, gimana kalau dia tanyakan Tiara" Ujar Viona sambil perlihatkan Ina layar ponselnya.


"Gimana?" Tanya Viona lagi.


"Angkat" Jawab Ina bersamaan dengan jarinya menggeser layar ponsel Viona sehingga menjawab telepon dari Ahmad.


Viona tidak sempat menjauhkan ponselnya dari Ina, karena dia sendiri yang mendekatkan ponsel tersebut.


"Na" Panggilnya dengan sedikit berbisik dan perlahan menempelkan ponselnya ditelinga.


"Ahh, Tiara" Kalimat yang keluar dari bibir Viona dan seketika matanya berkaca-kaca.


Ina awalnya senyum mendengar kata-kata Viona dan dibuat panik seketika setelah melihat Viona menangis.


"Kenapa Vio?" Tanya Ina.


Pertanyaan itu terdengar diseberang telepon, yaitu Tiara dan Ahmad.


"Sini ponselnya" Minta Ahmad kepada Tiara.


Tiara mengembalikan ponsel kakaknya masih dalam keadaan tersambung dengan ponsel Viona.

__ADS_1


"Halo Viona, jangan panik Tiara ada disini. Maaf ya gak ngabarin kamu dari tadi siang" Ucap Ahmad dalam telepon, ia merasa bersalah sama Viona.


"Iya, tidak masalah kok" Jawab Viona dalam telepon itu.


Ahmad masih panik, "Benar?" Ahmad belum percaya dengan apa yang dia dengar.


"Aku kesana ya" Ucap Ahmad lagi dalam telepon, ia minta izin kepada Viona.


Viona mendengar itu langsung melarangnya, "jangan Mad, aku udah mau pulang. Assalamualaikum."


Viona langsung memutuskan sambungan sepihak, tanpa menunggu jawaban salam dari Ahmad.


"Kenapa lagi?" Tanya Ina.


"Hmm, enggak. Aku pulang duluan yaa. Assalamualaikum" Pamit Viona.


🌺


Berbeda dengan Ray, selama seminggu ini dibuat stres oleh orang tuanya dan Gladis. Tingkah Gladis makin menjadi, apalagi didukung oleh orang tuanya. Sore ini, Ray dan Maminya ke Mall belanja. Namanya laki-laki, biasa betah hanya 20 menit diawal, sisanya suntuk.


"Mi, sebenarnya mau belanja apa?" Tanya Ray.


"Cari-cari dulu, Lex" Jawaban Maminya itu membuat Ray seketika mengambil keputusan untuk menunggu di mobil.


"Bukan sudah di list, Mi?" Tanya Ray sebelum meninggalkan Maminya.


"Iya, tapi yang Mami cari diluar list" Jawabnya dengan mata mencari barang yang ia inginkan itu, "nurut aja sama Mami, kalau udah nikah kan pasti fokusnya ke istri" Lanjutnya.


Ray seketika merangkul bahu Maminya.


"Mami tetap Alex ingat, gak mungkin lupa. Tapi kali ini Alex tunggu aja di mobil ya Mi, By" Ujarnya dengan melangkah menjauh dengan Maminya menuju parkiran.


Ray pergi, maminya tambah asyik sendiri karena sudah tidak ada orang yang merengek seperti anak kecil.


Mami Ray belanja sendiri sampai pegawai toko yang bantu dibawakan di mobil.


"Makasih ya pak" Ujar Mami Ray.


"Sama-sama bu" Jawabnya lalu pergi.


Mami Ray mengetuk kaca mobil agar Ray bisa membuka pintu mobil bagian belakang untuk menyimpan barang belanjaannya.


"Lex"


"Alex, buka pintunya"


"Ini anak, benar-benar" Ujar Mama Ray setelah beberapa kali memanggil anaknya itu.


Ia memutuskan untuk telepon, karena percuma diketuk kaca mobil sampai jari patah, Ray tidak terusik sama sekali.


Seketika ponsel Ray berdering, ia membuka mata perlahan sambil mencari keberadaan ponselnya. Ia dapat melihat layar ponselnya.


"Mami" Gumamnya seorang diri dan spontan melihat kearah luar.


"Mami" Tuturnya sambil membuka pintu mobil dan keluar.


"Sudah lama mi?, Kenapa gak bangunin Alex."


"Buka mobil bagian belakang, Mami mau simpan belanjaan" Ucapnya tanpa menjawab pertanyaan anaknya.


"Iya, Mi" Jawab Ray dengan buru-buru membuka pintu mobil bagian penumpang.


"Bantuin Lex" Pinta maminya lagi.


"Sebanyak apa Mi.." Ucapnya seketika terhenti setelah melihat paper bag yang disusun rapi.


"Mi, serius mi?" Tanyanya tidak percaya. Awalnya ia tidak memperhatikan belanjaan Maminya itu.


"Serius, hati-hati nanti rusak barang belanjaan Mami."


Maminya mengingatkan putranya itu.


"Belanja apa sebanyak ini, Mi?" Tanya Ray penasaran sambil memasukkan paper bag tersebut dalam mobil.


"Ini perlengkapan Gladis" Ujar Maminya mampu menghentikan aktivitas Ray.


"Haaa"

__ADS_1


__ADS_2