
1 bulan kemudian
Semua berjalan seperti biasa, tanpa ada yang mengganggu Viona. Usaha butiknya pun kembali ramai seperti biasa. Butik yang pernah jadi saingan Viona kini dikabarkan pindah tangan dan sampai saat ini ia belum tau siapa pemilik awalnya.
Semenjak Ray menikah, ia fokuskan dirinya jaga butik. Orang asing yang sering mengganggunya seketika hilang bagai ditelan bumi. Begitu tenang hidup Viona saat ini. Namun tidak dengan hatinya, ia kadang kala murung jika sepintas mengingat Ray.
Helaan napas Viona begitu berat, sudah sebulan penuh Ray menikah tapi ia belum bisa melupakan Ray sepenuhnya. Kadang kala ia ingin bersikap egois ingin merebut Ray dari Gladis.
Jahat?, Iya memang jahat, merebut apa yang bukan miliknya. Tapi bukankah Gladis yang merebut Ray darinya, meskipun mereka tidak memiliki status yang jelas tapi Ray selalu mengatakan kalau suatu saat nanti akan kembali melamarnya, sampai diterima oleh keluarga.
Pikirannya selalu berputar kepada Ray dan Ray, ia sengaja ke butik dari pagi sampai malam untuk menyibukkan diri.
"Aahhaa" Viona membuang napas frustasi, "Susah juga ternyata" Gumamnya.
Para pelanggannya kembali berdatangan, ada yang datang hanya ambil pesanan, kadang juga menggunakan kurir. Semenjak Viona jualan online, pesanan semakin meningkat.
Kewalahan melayani pembeli sehingga membuat dirinya membuka lowongan pekerjaan di butiknya.
"Mbak saya datang ambil pesanan atas nama ibu Ati" Ujar kurir tersebut.
"Bua Ati, tunggu yaa. saya cekkan dulu" Viona lalu melihat satu persatu paket yang sudah terbungkus dan nama yang tertera dipembungkus paket tersebut.
"Gamis dua, kerudung tiga yaa. Atas nama ibu Ati" Viona membaca pesanan ibu Ati tersebut.
"Iya mbak" balasnya dan Viona memberikan paket tersebut, lalu Viona menginformasikan ke ibu Ati kalau paketnya sudah dijemput.
Paket bu Ati merupakan paket terakhir untuk hari ini. Ia sengaja membatasi waktu pengambilan barang hanya sampai jam 4 sore.
"Ini emang gak ada yang butuh kerja sekarang, posting butuh karyawan gak ada yang komen biar satu orang" Ujar Viona seorang diri dalam butiknya sambil melihat layar ponselnya.
Loker di butiknya bukan hanya ia tempel di luar butik tapi dimedia sosial juga, dengan tujuan secepatnya dapat karyawan untuk membantunya bagian packing barang.
Postingan itu sampai di halaman Instagram, Ahmad dan Ray.
"Viona ngapain butuh karyawan" Batin Ahmad setelah membaca pengumuman itu.
Berbeda dengan Ray, setelah melihat info loker tersebut langsung mengambil jaket dan kunci motornya. Gladis yang melihat itu langsung bertanya.
"Ra, mau kemana?"
"Keluar" Jawab Ray lalu pergi.
"Iihh" Gladis kesal dengan respon Ray, "awas saja kalau ketemu Viona" Sambungnya dengan nada lirih.
Untuk menenangkan diri Gladis memilih untuk duduk di balkon sambil melihat pemandangan diluar rumah dari atas.
Perasaannya tidak tenang, ia selalu kepikiran Ray. Mondar-mandir di balkon sambil memikirkan cara untuk mengetahui kemana Ray pergi tanpa dirinya keluar dari rumah.
"Main cantik kan bisa" batinnya sembari mengotak atik ponselnya.
"Halo, kalian taukan suamiku, ikuti dia" Ucapnya dalam telepon
"Bos kirimkan fotonya, takutnya kami salah orang" Minta orang dalam telepon itu.
"Bodoh, iya saya kirim sekarang" maki Gladis lalu mematikan sambungan telepon dan mengirim selembar foto Ray kepada anak buahnya.
Kembali anak buah Gladis beraksi, anak buah suruhan Gladis berpencar untuk mencari keberadaan Ray.
__ADS_1
10 menit kemudian, ponsel Gladis kembali bunyi. Ia melihat ada pesan masuk dari anak buahnya, ia langsung membukanya. Seketika nafasnya memburu menahan emosi dan melempar ponselnya dilantai.
Bunyi lemparan itu terdengar dikamar orang tua Ray. Mereka kaget, sampai keluar kamar.
"Pi, tadi bunyi apa?"
"Kita cek, suaranya dari atas" Jawab Papi Ray.
Keduanya menuju lantai dua, baru sampai diatas sudah mendengar suara tangis Gladis.
"Pi, Gladis menangis" Ujar Mami Ray lalu jalan dengan cepat menuju kamar putranya.
"Gladis buka pintunya, kamu kenapa?" Tanya Mami Ray dibalik pintu.
Tidak ada jawaban dari Gladis, membuat Mami Ray panik.
"Pi, dobrak pintunya" Pinta Mami Ray. Ia sekarang sudah panik.
"Buka dulu, kalau dikunci baru di dobrak" Jelas Papi Ray.
Mami Ray langsung memegang gagang pintu lalu mendorong pintu tersebut dan ternyata pintunya tidak terkunci. Masuk kamar dan tidak menemukan Gladis tapi isak tangisnya terdengar jelas ditelinga mertuanya.
"Balkon, Pi" Ujar Mami Ray dan melangkah menuju balkon. Dan benar saja Gladis menangis dengan posisi terduduk dilantai.
Mami Ray langsung melangkah cepat menghampiri Gladis.
"Kamu kenapa?, coba cerita ke Mami" Tanyanya sambil mengelus punggung Gladis.
"Mi, ajak dulu masuk kamar biar enak" Timpal Papi Ray.
"Mi, Ra" Ucap Gladis membuat mertuanya bingung.
"Ra ketemu Viona" kalimat itu lolos dari Gladis membuat kedua orang tua Ray marah.
"Aku sudah menentang ayahku agar aku bersama Ra, tapi Ra malah bertemu dengan Viona lagi. Aku takut, Mi" Adu Gladis.
"Kapan itu?" Tanya Mami Ray dengan emosi, "Mami akan pergi cari sekarang" Sambungnya.
"Mi, kita tidak tau Alex dimana sekarang, kota ini luas" Papi Ray mengingatkan istrinya itu.
"Justru itu, Mami cari. Selalu perempuan itu masalahnya."
Mendengar kalimat itu, Gladis tersenyum dalam hati. Bahagia bukan main. Gladis bangkit dari duduknya dan mengambil ponselnya yang retak disudut balkon rumah bagian kamar mereka.
"Jaga diri baik-baik, Mami dan Papi cari Alex" Ucap orang tua Ray kepada Gladis.
"Hapus air matamu" Lanjutnya tanpa ekspresi.
Mertua Gladis berbalik badan hendak pergi meninggalkan balkon.
"Bisa gak Gladis ikut?" Tanyanya dengan hati-hati.
"Boleh tapi hanya sebatas dalam mobil, ini sudah sore menjelang malam" Jelas Mami Ray.
"Iya, Mi" Jawab Gladis.
Mertuanya pergi dari balkon dan Gladis membersihkan wajahnya dengan cuci muka lalu menaruhkan sedikit lipstik dan bedak agar tidak terlihat pucat.
__ADS_1
🌺
Mobil orang tua Ray sudah parkir dibutik Viona, setelah melakukan pencarian lama. Gladis sengaja menyuruh mertuanya untuk singgah di bengkel Ray. Karena dari situ mereka pasti lewat dibutik Viona.
"Benar motor Alex ada disini, Mami gak salah liat tadi" Ujar Mami Ray setelah turun dari mobil yang disusul oleh Papi Ray.
Gladis tersenyum menang dalam mobil, sambil mengusap perutnya yang sudah mulai kentara.
"Kita akan menang baby" Gumam Gladis seorang diri dengan senyum jahatnya.
Gladis memantau lewat kaca mobi, penasaran dengan apa yang terjadi.
Sedangkan Mami Ray telah masuk dalam butik dan pandangan pertama yang ia lihat adalah Ray dan Viona duduk berhadapan sedang bercakap-cakap. Marah menguasai dirinya, melangkah dengan cepat menghampiri keduanya.
"Bagus ya, memanggil suami orang untuk datang disini" Ujarnya to the point dengan tatapan tajam.
Viona dan Ray langsung berdiri dari duduknya. Ray langsung menghampiri Maminya.
"Mi, kenapa tiba-tiba marah kayak gini?" Tanyanya.
"Diam" Jawabnya kepada putranya, lalu menunjuk Viona, "laki-laki keberapa anak saya?" Sambungnya dengan pertanyaan kepada Viona.
"Maksudnya?, aku tidak mengerti bu" jawab Viona.
"Kamu jangan pura-pura tidak mengerti, ternyata aku selama ini salah menilai kamu. Memang benar kata orang, kita tidak boleh tertipu dengan cover."
"Mami" Panggil Ray dengan pelan.
Mami Ray menoleh ke putranya, "Pulang. istrimu hamil, kamu malah menenumui perempuan ini."
Viona tidak bisa membendung air mata mendengar hinaan Mami Ray. Air matanya jatuh dan dengan cepat menghapusnya. Ia teringat kalimat Ahmad, jika orang sudah menjatuhkan harga dirimu maka lawan.
Viona maju selangkah agar lebih dekat dengan orang tua Ray dan Ray. Sebelum menjawab ia melirik Ray sejenak lalu menatap Mami Ray.
"Ibu kalau tidak tau apa-apa jangan asal tuduh saya, saya punya kuasa untuk mengusir ibu dari sini" Ujar Viona dengan tatapan dingin, lalu melihat Ray, "kalau mau keluar, izin sama orang tuamu dan istrimu dirumah agar mereka tidak asal fitnah saya seperti ini" sambungnya.
Ray melihat tatapan Viona seketika susah menelan ludah. Viona seperti harimau yang siap menerkam siapa saja kalau ia tidak kontrol.
"Maafkan Mami saya, Viona" Ucap Ray dengan pelan.
Viona tersenyum penuh arti, "Ingat yaa, aku tidak memintamu datang disini dan salam sama istrimu kalau mau mencari informasi datangi sumbernya."
"Iya, nanti aku ingatkan" Balas Ray lagi.
"Bagus, jadi suami yang bertanggung jawab. Masa hanya berani hamilin anaknya orang nasehatin tidak bisa" Ujar Viona membuat Ray diam seketika.
"Kamu mau mempermalukan keluarga saya, demi menutupi kesalahanmu" Ucap Mami Ray lalu bertepuk tangan, "hebat anda" lanjutnya.
Viona seketika beristighfar lalu senyum kepada Mami Ray. Senyumnya menggambarkan emosi dalam dirinya dan membuat Ray bergidik ngeri melihatnya, baru kali ini Ray melihat Viona seperti itu. Sisi lembut dari dalam diri Viona hilang seketika.
"Silahkan keluar dari butik saya" Usir Viona, lalu mengangkat jari telunjuknya kearah Ray, "Kamu, jangan pernah datang lagi disini" Sambungnya.
"Saya juga tidak sudi lama-lama disini, takut tertular apalagi tidak akan lama lagi punya cucu" Ucapnya dengan merendahkan, "makanya menikah agar laki-lakinya jelas" sambungnya.
Viona meremas gamisnya melampiaskan emosinya. Ia ingin sekali jawab bahasa terakhir Mami Ray tapi ia sadar jika meladeninya maka debat itu tidak akan selesai.
Karena orang tua Ray datang dibutik sudah gelap dan terjadi debat sehingga tidak terasa sudah beberapa menit masuk waktu shalat magrib.
__ADS_1
Ray dan kedua orang tuanya pulang dan Viona dengan buru-buru pergi ambil air wudhu sembari istighfar dalam hati.