
Di pagi buta Gladis sudah berada di rumah Ray, bukan tanpa alasan ia berada disana tapi semua itu atas permintaan orang tua Ray.
Minum teh bersama sambil berbagi cerita, memenuhi pagi mereka bertiga. Terkecuali Ray, lebih memilih untuk tetap berdiam diri dalam kamar ke timbang keluar dan bertemu Gladis.
"Tan, apa Ra gak ikut ngeteh bareng kita disini?" Tanya Gladis.
"Biasalah dia, kadang-kadang minum teh. Apalagi pagi seperti ini" Jelas Mami Ray, "Gak usah dipikirin" Lanjutnya lagi.
Gladis mengangguk paham dengan senyum terpaksa dan hambar.
"Maaf nih Tan, Om. Gladis dipanggil sepagi ini, ada apa ya?"
"Mami hanya ingin temanin Alex ke bengkel" Ujar Mami Ray membuat Gladis menghadap penuh kearah orang tua Ray.
"Benarkah tan?"
Gladis bertanya kembali hanya untuk memastikan kalau yang ia dengar tidak salah. Wajah Gladis bahagia berseri-seri mendengar kalimat itu.
Orang tua Ray seketika mengangguk sembari senyum.
Gladis langsung memeluk Mami Ray saking senangnya. Dalam pelukan itu Gladis mengucapkan, "Terima kasih Tan"
"Iya, bangunin Alex lalu ajak ke bengkel" Ujar Mami Ray lagi.
"Siap Tan" Jawaban Gladis, membuat kedua tetua ini seketika tertawa.
Gladis berlalu masuk dalam rumah dan menuju langsung kamar Ray. Kalau Gladis, soal Ray tidak bisa ditunda. Semangat empat lima memenuhi hatinya.
Berbeda dengan orang tua Ray, keduanya kembali menyesap teh sambil makan kue.
"Mi, apa ini gak berlebihan?" Tanya Papi Ray, ia sedikit ragu dengan keputusan istrinya.
"Aku yakin, setelah ini Alex lama kelamaan terbiasa dan kembali seperti dulu lagi" Harapan Mami Ray dipagi ini, dengan senyum diwajahnya membayangkan itu semua.
"Tapi dia yang tinggalkan Alex dulu" Ujar Papi Ray lagi.
Mami Ray menautkan dua tangannya didepan, "Pi, semua orang bisa berubah dan yang aku lihat dari Gladis sekarang ini, cukup jadi mantu kita."
"Ok, kalau gitu"
Papi Ray menyerahkan semua kepada istrinya. Meskipun, ada rasa khawatir tapi Papi Ray mencoba mencoba yakin dengan ide istrinya itu.
Sedangkan Gladis yang disuruh untuk membangun Ray, tanpa mengetuk pintu langsung masuk begitu saja yang kebetulan pintu kamar Ray tidak dikunci.
Gladis melihat kamar Ray begitu rapi membuatnya insecure mengingat kamarnya yang berantakan.
"Cowok tapi kamarnya rapi" Gumam Gladis sembari melihat semua sudut kamar, pandangannya tertuju pada gambar yang ditempel di dinding kamar.
"Ra dari kecil kamu sudah ganteng" Pujinya dan kembali keliling dalam kamar tersebut.
"Oh lagi mandi!" Ujar Gladis lagi seorang diri setelah mendengar suara Ray dalam kamar mandi yang bersenandung.
Sementara Ray, bersenandung hanya untuk sekedar menghibur diri. Setelah selesai mandi keluar dari kamar mandi dengan santai sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.
Ray tidak menyadari kalau dalam kamarnya ada Gladis yang matanya terus menatap Ray.
Ray bersiul sembari sambil melihat pantulan wajahnya lewat cermin. Ia menatap mata dan seketika senyum depan cermin.
"Nasib cintamu begitu malang Ray" Batinnya.
Ia kembali mengeringkan rambutnya, dan gerakannya melambat setelah melihat pantulan seseorang lewat cermin, ia balikkan badan dan saat itu tidak disia-siakan oleh Gladis.
Gladis langsung memeluk Ray, "Ra!" Panggilnya dalam pelukan itu.
Ray yang hanya memakai handuk langsung mendorong pelan badan Gladis dengan tatapan dingin.
"Apaan sih, main peluk-peluk" Ujar Ray dengan ketus.
"Gak boleh, kan aku hanya ingin meluk bentar aja"
Jawaban santai dari Gladis membuat Ray tidak nyaman berada dalam kamar saat ini.
"Keluar dari kamar aku, sekarang" Ujar Ray pelan dengan penuh penekanan sambil menunjuk arah pintu.
__ADS_1
"Gak dengar?" Tanyanya lagi.
"Pakai baju dulu kali" Respon Gladis lagi.
Kalimat Gladis itu bertepatan dengan Mami Ray ingin memanggil putranya sarapan sebelum kerja.
"Apa yang Alex lakukan, sehingga Gladis berkata seperti itu" Gumam Mami Ray lalu pergi menemui suaminya dengan buru-buru.
Papi Ray yang sudah berada dimeja makan, dikagetkan dengan wajah syok istrinya.
"Pi, kita harus secepatnya menikahkan Alex dan Gladis" Ujarnya memberitahu suaminya.
"Lho, memangnya kenapa?"
Papi Ray ikut kaget mendengar penuturan istrinya. Bagiamana bisa pagi-pagi sudah membahas tentang pernikahan.
"Pokoknya Pi, secepatnya mereka menikah sebelum Gladis hamil" Ujar Mami Ray lagi.
"Hamil" Ulang Papi Ray dengan nada gemetar. Ia tidak menyangka jika anaknya melakukan hal lebih jauh sedang sebelumnya ia menolak mentah-mentah Gladis.
Papi Ray geleng kepala, "Gak mungkin Mi, Alex tidak suka Gladis."
"Tidak suka gimana Pi, sementara tadi Mami dengar Gladis menyuruh Alex pakai baju, menurut Papi itu apa coba?" Pertanyaan istrinya membuat Papi Ray berpikir keras soal ini.
"Jadi Mi?"
"Nanti selesai makan baru kita bahas. Mereka udah datang"
Percakapan keduanya langsung berhenti, menyisakan senyum disudut bibir para tetua untuk menyambut anaknya agar tidak curiga.
"Tumben udah dimeja makan Mi, Pi?" Tanya Ray sambil menarik kursi dan duduk.
Mami Ray spontan menunjuk kursi disamping putranya itu.
Ray mengerutkan keningnya, "apa Mi?"
"Tarikkan kursi untuk Gladis dong, kasian dia"
"Dia udah besar dan punya tangan untuk tarik kursi" Jawab Ray dengan nada dingin lalu mengoles selai kacang di rotinya.
"Menikah, Pi.." Kalian itu dipotong langsung oleh Mami Ray dengan mengangkat satu tangannya.
"Gimana kita sarapan dulu"
Mereka pun sarapan diakhiri dengan segelas jus.
"Tumben ada jus pagi ini" Ray heran dengan sarapan kali ini, banyak keanehan yang terjadi.
"Menyegarkan, biar kita segar dipagi hari" Jelas Mami Ray.
"Terserah Mami lah" Ray menyerah dan memutuskan untuk minum tanda sarapan paginya berakhir, lebih cepat ke bengkel lebih bagus.
"Mi, Pi, aku ke bengkel dulu ya" Pamit Ray.
"Bisa Papi minta waktunya sebentar sebelum kalian pergi?" Tanya Papi Ray.
"Kalian, kalian siapa?" Batin Ray, "Papi makin aneh juga pagi ini" Sambungnya dalam hati.
Ray diam fokus dengan isi kepalanya sendiri sampai ia tidak dengar apa yang dikatakan Papinya.
"Apa kabar Viona ya, sudah lama gak ketemu dia" Batinnya lagi. Pikiran Ray melalang buana sampai ke Viona.
"Gimana Alex?" Tanya Papinya.
"Gimana apanya Pi?" Tanya balik Ray setelah sadar dari lamunannya.
"Melamunkan apa sih Ra, sampai Papi kamu bicara gak dengar?" Tanya Gladis dengan lembut sambil mengusap bahu Ray.
Ray menoleh kearah Gladis dengan tatapan dingin, "Jauhkan tanganmu dari bahuku!"
"Sepertinya aku harus ke bengkel sekarang, by" Pamit Ray lalu pergi.
"Lex, Gladis ingin ikut" Teriak Maminya.
__ADS_1
"Alex buru-buru Mi" Tolaknya dengan halus tanpa berhenti jalan.
"Cepat, ikut Alex" pinta Mami Ray kepada Gladis.
"Baik Tan, by" Pamit Gladis sambil melambaikan tangan.
🌺
Viona pagi ini, entah kenapa badannya ia rasa kayak panas dan pegal-pegal. Bergerak saja malas. Ia memaksa diri bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi, cuci muka pilihan terakhirnya. Setelah siap-siap seperti biasa sarapan bersama ibunya lalu ke butik.
Sampai butik, ia duduk sambil menggerakkan bahunya, memijit lengangnya dan betisnya.
"Demam kayaknya nih" Gumamnya seorang diri, karena ia rasa matanya tiba-tiba panas dan bernapas pun sekarang mengeluarkan uap ditambah hidungnya tiba-tiba berair.
"Aduh, flu lagi" Menggerutu dalam diri.
"Tisu mana ya?"
Viona mencari tisu dalam laci mejanya tidak dapat, sisa plastiknya.
"Habis lagi" Ujarnya dan kembali duduk.
"Minya tolong ke siapa disini, Ray sibuk begitupun Ahmad. Gak boleh sama Ahmad" Ujarnya sambil geleng kepala.
"Gak boleh" Ulangnya sembari mencoba menanamkan kalimat itu dalam otaknya.
Berbeda dengan Ahmad yang berada direstoran, tapi pikirannya terus ingat Viona.
"Apa Viona ada bahaya ya, kok perasaan aku gak enak" Batin Ahmad.
Ia bangkit mengambil kunci mobil untuk cek keadaan Viona di butik, tapi seketika mengingat pertemuan terakhir mereka yang begitu membuatnya sedikit kecewa. Menghela napas kasar dan duduk kembali. Ia meraih benda pipihnya yang berada diatas meja dan menelepon.
"Ke butik Viona hari ini, temanin dia sampai pulang" Ucapnya dalam telepon.
"Iya, kalau ada apa-apa kabari saya" Ucap Ahmad lagi dalam telepon lalu ia matikan sambungan telepon tersebut.
"Vio, kenapa gak terima lamaran aku? Agar aku bisa jaga kamu 24 jam" Gumam Ahmad yang penuh khawatir dengan keadaan Viona.
Ahmad membuka galeri ponselnya, melihat foto-foto jadul mereka berdua. Seulas senyum terukir manis disudut bibir Ahmad.
"Sampai saat ini hatimu belum aku dapatkan" Batinnya.
Seketika Ahmad mengingat masa-masa SMAnya dengan Viona. Kala itu Ahmad dan Viona ke pantai pas pulang dimarahi oleh ibunya Viona karena mereka pergi tidak izin terlebih dahulu.
"Mad, maunya izin dulu, ibu negara marah kan!" Ujar Viona kesal kepada Ahmad saat ini.
"Iya, maaf tuan putri... duyung" Jawabannya saat itu.
"Putri duyung" Ujarnya. Kalimat itu kembali terngiang-ngiang ditelinga Ahmad.
Sementara di butik, Viona begitu senang dengan kedatangan Ina, girangnya bukan main sampai ia lari memeluk Ina.
"Ya ampun Na, kenapa baru datang sih?" Tanya Viona dengan wajah cemberut setelah melepas pelukannya.
"Duduk Na" Ajak Viona.
Ia ikut duduk disamping Ina dengan senyum lebarnya membuat Ina terheran-heran dengan tingkahnya.
"Kamu sakit?, tangan kamu ini hangat" Ujar Ina, ia bisa rasa karena tangan Viona diatas tangannya.
"Gak tau, mungkin cuaca" Balas Viona, "ehh, cerita dong selama ini kemana saja, gak muncul" Sambungnya antusias.
"Tunggu sebentar" Ujar Ina sambil bangkit dari duduknya.
"Kenapa lagi?" Tanya Viona ikut Ina berdiri.
"Duduk" Perintah Ina sambil menunjuk kursi tempat dimana mereka duduk.
"Bandel banget" lanjut ina sembari menjauh dari Viona dengan ponsel yang sudah menempel ditelinga.
"Halo, Viona flu dan demam" Lapornya.
"Ok, aku kirim obat dengan makanan" Jawab seseorang diseberang telepon.
__ADS_1
"Ok, Assalamualaikum" Ucap Ina lalu memutuskan sambungan telepon setelah salamnya dijawab.