
Hari-hari berlangsung seperti biasa, seperti hidupnya lempeng-lempeng saja. Bosan!, kadang Iya.
Itulah yang sering terjadi sama Viona, meskipun ada baby Hamzah dirumahnya tapi sesekali rasa bosan menghampiri.
Ingin kembali mencari kerja tapi kemana lagi dan dimana, seakan luasnya kota yang ia tempati tidak ada perkejaan untuknya.
"Kalau begini, mending nikah saja" Gumam Viona sembari menatap langit-langit kamarnya.
Suasana hari ini dirumah sunyi, karena Ainun masih disekolah sementara baby Hamzah lagi berkunjung ke rumah neneknya, orang tua Marcelea.
Viona menghela napas kasar sembari bangkit dari pembaringannya, "pokoknya kalau nada yang datang serius, terima aja lah" Ucapnya lagi.
Viona memutuskan untuk cuci muka lalu ganti pakaian. Ia ingin keluar mencari udara segar untuk menenangkan pikirannya yang mumet.
"Mam, Vio keluar bentar ya" Pamit Viona kepada ibu Heti.
"Kemana?" Tanya Ibu Heti.
Seketika pikiran Viona berpikir cepat. Ia tidak ingin terulang kembali seperti dulu, ingin jalan-jalan malah disuruh belanja.
"Depan itu mam" Jawab Viona.
"Kok pegang kunci" Ujar Ibu Heti lagi setelah mengarahkan matanya ke tangan Viona.
"Mau keluar cari makanan mam" Jujur Viona dengan harapan ibunya tidak minta aneh-aneh diluaran sana untuk dibawa pulang.
"Oh, tunggu bentar" Ucap Ibu Heti dan menuntun Viona duduk terlebih dahulu dikursi dan ia dengan cepat jalan menuju kamarnya.
"Bentar dikit" Ucapnya sedikit teriak pada anaknya itu.
"Iya" Jawab Viona lagi.
"Mama ada-ada saja, aku kira aman ternyata belum juga" Gumam Viona seorang diri.
Menunggu beberapa menit, ibu Heti belum datang jua. Viona memutuskan menelfon Ahmad.
"Assalamualaikum Mad" Ucap Viona ditelepon setelah Ahmad menjawab teleponnya.
"Wa'alaikumussalam" Jawab Ahmad diseberang telepon.
"Minta tolong dong, cekkan eskrim direstoran tempat kamu kerja" Ucap Viona lagi.
"Iya, emang kenapa?" Tanya Ahmad, karena menurutnya kalau hanya cek eskrim tidak ada untungnya.
"Aku mau ke sana, jadi kalau ada otw sekarang" Jelas Viona lagi.
Ahmad diseberang telepon manggut-manggut paham, "oh gitu, datang aja, ada kok" Ujarnya.
"Ok, assalamualaikum" Ucap Viona kepada Ahmad lalu mematikan sambungan telepon setelah Ahmad menjawab salamnya.
Ahmad langsung memberi tahu karyawan yang sering layani Viona seperti biasa.
"Viona sebentar lagi akan datang, jadi layani seperti biasa. Kalau dia tanyakan saya bilang saja saya masih dijalan atau dimana
Ok?"
"Iya pak" jawab waiter dan Ahmad pun pergi.
🌺
Viona dan Ibu Heti pun sampai direstoran tersebut, seperti biasa Viona tidak pernah ganti meja.
Waiter pun datang dengan eskrim dan minuman kali ini.
"Selamat menikmati mbak viona" Ucap waiter tersebut sembari senyum.
Viona pun membalas senyum waiter itu, "terima kasih ya" Ucap Viona.
"Mam, mau pesan apa?" Tanya Viona kepada ibu Heti.
"Eskrim seperti kamu, soalnya saat itu katanya eskrimnya habis" Jawab ibu Heti.
"Ok, mbak eskrimnya satu lagi ya" Ujar Viona.
"Baik ditunggu ya" Jawab waiter itu dan pergi mengambil eskrim.
Seperti biasa, kalau Viona yang datang waiter yang melayani Viona tanpa minta izin untuk mengambil eskrim.
Tidak menunggu lama waiter kembali dimeja Viona dengan eskrimnya.
"Terima kasih" Ucap Viona dengan ramah, "Perkenalkan ini mama Viona" sambung Viona memperkenalkan ibunya pada waiter tersebut.
__ADS_1
"Oh, semoga eskrimnya suka ya bu, saya waiter yang melayani Viona setiap ke restoran ini" Jelasnya membuat Ibu Heti sedikit curiga.
"Waiter yang melayani Viona, dimana-mana tidak ada waiter khusus pengunjung di restoran" Batin Ibu Heti.
"Kalau Viona datang pasti mbak yang layani?" Tanya Ibu Heti.
"Iya bu" jawabnya dengan ramah.
"Oh iya, aku hampir lupa. Salah satu waiter yang layani saya saat makan disini pernah bilang kalau bosnya itu namanya Ahmad. Boleh saya bertemu dengannya?" Tanya Ibu Heti.
Viona mendengar itu langsung memanggil ibunya dengan pelan.
"Mam, itu udah dibahas di rumah" Ujar Viona.
"Ssttt" Ibu Heti menyuruh Viona untuk diam.
"Benar, namanya pak Ahmad tapi pak Ahmadnya tidak ada disini, lagi keluar" Jelas waiter tersebut lagi.
"Kira-kira kapan kembali ya bosnya?, bukan apa, saya hanya ingin ucapkan terima kasih sudah menyediakan anaknya saya pelayan ramah seperti mbak ini" Puji Ibu Heti lagi.
Waiter tersebut tersenyum ramah kepada ibu Heti.
"Terima kasih atas pujiannya bu, nanti saya sampaikan kalau pak Ahmad sudah kembali direstoran" Ujarnya.
"Sama-sama, lanjut kerja saja takutnya nanti yang lain..." Ucap Ibu Heti dan Viona hanya diam menyaksikan itu semua.
"Saya hanya ditugaskan untuk melayani mbak Viona" Jawabnya lagi.
Ibu Heti seketika menatap anaknya yang berada disampingnya.
"Aku gak tau mam" Ujar Viona seakan tau maksud tatapan Ibunya yang sekilas itu.
"Kalau tidak ada yang dibutuhkan saya pamit ya mbak, bu" Ucap waiter tersebut yang diangguki oleh ibu Heti dan Viona.
Ibu Heti kembali menatap anaknya itu.
"Vio, jelaskan ke mama. Kamu kenal pemilik resto ini?"
"Gak, yang aku tau itu hanya Ahmad, waiter juga disini"
"Kalau gak kenal tidak mungkin ada kalimat seperti itu yang keluar dari waiter tadi nak" Ujar Ibu Heti lagi dengan lembut.
Viona menggeserkan eskrimnya ke samping dan memperbaiki posisinya menghadap penuh kearah ibunya.
"Oke, tapi jujur hati mama itu ada yang mengganjal" Ujarnya lagi.
"Dibuka dong ganjalannya" Jawab Viona dengan bercanda.
"Aku ingin tau, kalau Ray itu gimana?" tanya ibu Heti sambil menaikkan alisnya sebelah.
Viona kembali menarik eskrimnya, ia makan eskrimnya tanpa menjawab.
"Vio, jujur sama mama. Apa dia hanya jenguk sepupunya tanpa ada niat lain?" Tanya Ibu Heti lagi.
Deg deg
Viona mendengar itu jantungnya tidak karuan, ia bingung cara menjelaskan kepada ibunya.
"Mungkin mam" Jawab Viona singkat dengan tatapan kosong kedepan, tapi masih menyuapkan eskrim dalam mulutnya.
"Mama butuh jawaban pasti Vio" Ujar Ibu Heti lagi.
Viona kali ini menundukkan kepalanya, ia kali ini mengaduk pelan eskrimnya.
"Kok bengong Vio?" Tanya Ibu Heti makin penasaran.
"Hehehe, lagi menikmati eskrim mam" Kilahnya dengan senyum seramah mungkin.
Ibu Heti hanya menatap anaknya sekilas lalu membuat napas dengan kasar.
"Padahal mama suka dengan kejujuran" Gumamnya lalu ia lanjut makan eskrim.
Meskipun ibu Heti menggunakan nada kecil saat bicara, tapi ia masih mampu dengar.
Viona tertunduk diam setelah mendengar itu, tapi saat ini ia juga belum bisa jujur sepenuhnya tentang Ray.
"Maafkan Vio mam" Batin Viona.
🌺
Ahmad yang memantau dari jauh, ia tidak tahu apa yang dibahas antara anak dan ibu yang ia bisa tangkap Viona yang seketika diam.
__ADS_1
"Ada apa sebenarnya" Batin Ahmad.
Ahmad memanggil waiter yang melayani Viona kebetulan saat itu sedang duduk tidak jauh darinya.
"Mbak, sini sebentar" Ujar Ahmad sembari melambaikan tangan.
Seketika waiter itu berdiri dan menghampiri Ahmad.
"Iya pak"
"Apa ada masalah tadi sebelum pergi meninggalkan meja Viona?"
"Tidak pak, malah mbak Viona memperkenalkan ibunya kepada saya"
"Oh, Ok" Respon Ahmad
"Iya pak, saya pergi dulu" pamitnya lalu ia pergi.
Ahmad mencoba mengirim pesan kepada Viona, ia berharap Viona bisa cerita.
"Dimana?" Tanya Ahmad lewat pesan.
"Di restoran, tapi sepertinya aku dan mama udah mau pulang. Kamu sih, udah aku beritahu tadi mau datang tapi hidung mu saja aku tidak lihat. Hehehe, bercanda Mad" Pesan dari Viona.
Ahmad hanya senyum membaca pesan itu, ia bisa lihat kalau Viona masih banyak diam tapi pesannya masih sempat juga bercanda.
"Memang ya perempuan suka membohongi perasaannya sendiri" Batin Ahmad sembari membalas pesan Viona.
"Tunggu aku kesana" Balas Ahmad.
Viona yang melihat pesan dari Ahmad langsung memberi tahu ibunya.
"Mam, Ahmad mau kesini, kita tunggu dulu bentar ya" Ujar Viona memberitahu ibunya.
"Iya, mama ke kamar mandi sebentar" Ucap ibu Heti lalu pergi.
Viona tinggal seorang diri.
Ahmad sebelum menemui Viona, terlebih dahulu ganti baju kaos biasa seperti pengunjung restoran pada umumnya. Dari ruangannya ia berpapasan dengan pelayanan direstorannya dan seketika membungkuk hormat dan menggeserkan badannya membiarkan Ahmad lewat.
Saat itu ibu Heti dari kamar kecil melihat itu semua.
"Itu Ahmad kok pelayanan itu membungkuk hormat" Batin Ibu Heti.
Karena ibu Heti penasaran, maka ia menghampiri salah satu pelayan yang baru saja menyajikan makanan diatas meja.
"Mbak mau tanya, itu siapa ya?" Tanya Ibu Heti sambil menunjuk Ahmad yang sudah berlalu itu.
"Yang mana bu?" Tanya waiter itu.
"Itu, punggung baju putih itu" Tunjuk Ibu Heti lagi.
"Saya tidak tau bu kecuali lihat wajahnya" Ungkapnya lagi.
"Ih gitu, makasih ya mbak" Ucapnya Ibu Heti lalu pergi.
"Siapa sih Ahmad ini?" Ibu Heti bertanya-tanya dalam hati sembari mengiringi langkahnya ke mejanya.
Ibu Heti duduk disamping Viona dan Ahmad duduk depan Viona tepat seberang meja.
Ibu Heti, jiwa penasarannya menggebu-gebu ingin tau sebenarnya Ahmad ini siapa direstoran ini.
"Nak Ahmad boleh ibu bertanya?" Tanya Ibu Heti.
Sebelum menjawab Ahmad senyum terlebih dahulu. Ini yang membuat ibu Heti suka sama Ahmad, sopan kepada orang tua.
"Boleh tan, silahkan"
"Tadi ibu lihat waiter disini hormat pas ketemu kamu dan memberimu jalan" Ujar ibu Heti.
"Apa kamu hanya sebatas pelayan sama seperti yang lain atau nama Ahmad direstoran ini memang nama kamu?"
Ahmad awalnya kaget mendengar pertanyaan dari ibu Heti, kok bisa tau tentang pelayan tadi padahal jauh dari meja Viona.
"Mama salah orang kali" Ujar Viona kepada ibunya itu.
"Tidak, mama dari kamar kecil langsung lihat itu tadi dan mama yakin itu nak Ahamd, iyakan nak Ahmad?" Jawabnya, tapi diakhiri dengan kembali bertanya kepada Ahmad.
Apapun ucapan ibu Heti selalu kena Ahmad. Ahmad bingung antara jujur atau diam, kalau diam itu akan tanda membenarkan ucapan ibu Heti dan jika jujur itu kemungkinan Viona akan kecewa karena selama ini dibohongi.
Ahmad diam sejenak dan tidak lupa mengucapkan basalamah dalam hati.
__ADS_1
"Itu memang benar adanya, jadi saya minta maaf" Ucap Ahmad dengan cepat, ia ucapan sekali helaan napas.
"Jadi.." Ucap Viona kaget dan tidak melanjutkan kalimatnya, ia bingung mau bicara apa pada Ahmad.