Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
85. Club lagi


__ADS_3

"Alex, apa-apaan?" Tanya Mami Ray dengan nada penuh penekanan setelah ia berada disamping anaknya itu.


Ray bukan menjawab malah balik tanya, "Mami ngapain kesini?"


"Khawatir sama kamu, apa benar gara-gara Viona?" Tanya Mami Ray dengan ekspresi wajah sudah tidak bersahabat lagi.


"Gak" Ray mengelak.


Sementara Ahmad, tiba-tiba ingat Viona dan adiknya. Ia langsung berbalik badan hendak pergi, ia ingat dirinya belum memberi peringatan kepada Ray untuk kesekian kalinya. Ahmad menepuk pundak Ray dengan pelan.


"Kita akan selalu bertemu jika masih belum memiliki pendirian, perjuangkan yang perlu diperjuangin" tutur Ahmad lalu pergi meninggalkan Mami Ray dan Ray serta kerumunan para ibu-ibu yang sedang menggosip.


Gladis menghampiri Mami Ray dan Ray.


"Kita ke meja Tan, gak enak dilihat orang" Ujar Gladis.


"Benar juga, makasih lho udah ingatkan" Mami Ray membenarkan dengan tatapan penuh kasih.


"Sama-sama Tan" Respon Gladis sembari senyum.


"Selangkah lagi" Batinnya.


Mereka kembali berempat, sedangkan para bapak-bapak malah asyik cerita, tidak tau kejadian tadi.


"Lho, kalian dari mana?" Tanya Papi Ray dengan jari telunjuk menunjuk orang di depannya.


"Tidak kemana-mana" Jawab asal Mami Ray, "kita lanjut makan dulu, lalu kita bahas inti pertemuan ini" Sambungnya dengan pelan.


"Emang ada apa Mi?" Tanya Ray sembari berbisik kepada Maminya itu.


"Tunggu saja, aku harap jangan kecewakan Mami dan Papi apalagi mempermalukan" Jawab Mami Ray.


Ray mendadak perasaannya tidak enak mendengar penuturan Maminya. Ada apa dengan kata kecewa dan mempermalukan?, Ia mulai gelisah seperti duduk dikursi panas.


Suapan demi suapan Ray masukkan makanan dalam mulutnya.


"Enak makanan resto ini" Puji Mami Ray lagi.


"Pilihan mama emang gak pernah salah" Gladis menimpali.


Mama Gladis langsung tersenyum malu-malu mendengar pujian dari calon besan dan putrinya.


"Bisa aja, media sosial banyak yang rekomendasikan restoran ini" Tutur Mama Gladis.


Beberapa menit kemudian, acara makan-makan sore mereka sudah selesai. Rencana ini Mami Ray dan Mama Gladis rancang saat makan siang, tapi terealisasi setelah sore, ditambah mode tunggu menunggu dan kacau sebelumnya membuat acaranya makin ke sorean.


Mejanya sudah bersih dari piring kotor dan saat mereka membahas inti dari pertemuan mereka. Yang mengawali pembicaraan Papi Ray.


"Melihat waktu sudah mau menjelang malam, maka saya selalu Papi Alex ingin sesegera mungkin Alex dan Gladis menikah" Tuturnya.


Ia tidak inginkan nama keluarga Manulang rusak gara-gara putranya menghamili anak orang. Meskipun bertanggung jawab tapi bahasa hamil diluar nikah pasti ada.


Ray memiringkan badannya kearah Papinya, "Pi, kenapa gak diomongin dulu sama Alex sebelumnya?"


Mami Ray langsung mengelus pundak putranya, "Demi kebaikan kita semua."


Ray menghela napas untuk mengontrol hatinya yang hampir meledak saat ini. Ia mengepalkan tangannya dibawah meja.


"Kenapa aku baru dikasih tau?, aku seakan-akan tidak penting dalam hal ini, padahal nanti aku yang menjalaninya" Tutur Ray tidak terima.


"Maaf jika saya kurang sopan, saya pamit" Lanjut Ray lalu pergi meninggalkan restoran.


"Alex, dengar Mami dulu" Ujarnya.


"Mi, sudah biarkan dia menenangkan pikiran mungkin dia kaget" Papi Ray menenangkan istrinya.

__ADS_1


Ia merasa tidak dihargai, seakan pendapatnya tidak penting lagi dan keputusan terbaik dari kedua orang tuanya. Apa gunanya dia berada ditempat jika hanya dijadikan penyimak belaka.


Ray dengan langkah lebar menuju parkiran mobil, membawa mobilnya menuju apartemen Alan. Dalam perjalanan tidak henti-henti Maminya menelfon.


"Maaf Mi" Gumamnya lalu menonaktifkan ponselnya.


Sedangkan direstoran, terpaksa kedua kepala keluarga pulang dengan tidak membawa hasil yang seperti disepakati diawal.


"Tenang saja, kami akan membujuk Alex untuk segera menikahi Gladis" Ujar Papi Ray.


"Terima kasih pak" Jawab mama Gladis.


Keduanya sudah sampai parkiran mobil, masuk dalam mobil balik dikediaman masing-masing. Gladis ikut orang tuanya.


Ia duduk dibagian penumpang sembari senyum-senyum sembari melihat gaun-gaun pengantin hasil searching di google.


"Ma, berarti bisa dong cari gaun dari sekarang?"


"Rencananya memang kayak gitu" Jelas Mamanya.


Ia senyum dan melihat kearah belakang, "Emang mau model yang seperti apa gaunnya nanti?" Sambungnya.


Gladis sambil memainkan jarinya di dagu sembari berpikir.


"Mikirnya kok lama" Ayah Gladis setelah menunggu jawaban dari sang putri yang begitu lama.


"Nanti salah pilih ayah" Jawab Gladis sambil mengerucutkan bibirnya.


"Hehehe, ok ok" Ayahnya menyerah.


"Sepertinya harus cari-cari dulu mam" Ujar Gladis setelah lama berpikir.


"Ya udah, nanti mama bantu."


Kembali hening, Gladis memilih untuk menikmati pemandangan kota lewat jendela mobil. Matanya tertuju pada gambar rawon disebuah warung makan pinggir jalan.


Gladis turun dari mobil setelah ayahnya berhasil meminggirkan mobilnya.


"Ayah tunggu disini" Ujar Gladis lalu ia menyebrang jalan hanya untuk beli rawon.


Ibu satu anak itu hanya memperhatikan anaknya dari dalam mobil. Ia sempat heran, kenapa bisa Gladis tiba-tiba suka dengan rawon, sejak kapan?.


"Benar Gladis beli rawon?" Tanyanya seakan tidak percaya.


"Mungkin yang lain, dia tidak doyan rawon" Jawab sang suami.


Sementara Gladis sudah kembali di mobil dengan kantung berisi rawon daging sapi.


"Beli apa dis?" Tanya sang Mama.


"Rawon daging sapi ma, ini pasti enak" Ungkap Gladis sudah tidak sabar ingin menikmati rawon tersebut.


"Bukan gak suka rawon?" Tanya ayahnya.


"Bukan gak suka yah, hanya gak doyan" Jelas Gladis membuat ayahnya mengangguk.


Mobil orang tua Gladis kembali melaju membela jalanan kota.


Sedangkan disisi lain, orang tua Ray malah dipusingkan oleh Ray yang tidak aktif nomornya.


"Pi, gimana nih?" Tanya Mami Ray lagi dengan ponsel yang masih ia genggam.


"Tenang, mungkin Alex sudah dirumah" suaminya menenangkan istirnya itu dengan sekali-kali mengusap lengan sang istri.


Dari restoran ditempuh 30 menit. Sekarang mereka udah sampai rumah, disambut sama ART.

__ADS_1


"Apa Alex sudah pulang?"


"Belum nyonya" Jawabnya.


"Gak telepon?" Tanya Mami Ray lagi.


"Itu kan Pi, apa itu anak marah?"


"Mungkin, tapi nanti kita pikirkan. Yang terpenting sekarang istrahat. Alex udah besar mungkin dia di apartemen Alan" Tuturnya membuat hati sang istri tenang.


Mereka memilih untuk istrahat melepaskan beban pikiran sejenak. Semua penghuni bumi istrahat, berbeda dengan Ray. Ia memilih untuk ke club lagi dan ditemani oleh Alan.


Alan seperti bodyguard Ray, setiap gelas diangkat Alan dengan sigap menarik dan menaruhnya kembali di meja. Anehnya, Alan tidak kepikiran untuk membawa Ray pulang.


"Sudah cukup minum Ra, ada masalah apa lagi?" Tanya Alan. Ia sudah bisa tebak kalau sahabatnya ini memiliki masalah.


"Hahaha" Ray tertawa dan berakhir menangis.


"Kenapa?" Tanya Alan, baru kali ini melihat Ray yang menjatuhkan air matanya.


Disatu sisi Alan kasihan tapi disisi lain ia malu karena diperhatikan oleh orang-orang.


"Ehh bego, kita pulang" Ujar Alan sambil menepuk pundak Ray dan sekali-kali melirik kiri kanan.


"Mana banyak orang lagi" Batin Alan.


Ray sudah mabuk berat, angkat tangan saja sudah tidak mampu apalagi membawa badan.


"Ra, bangun aku bantu" Alan memapah Ray sampai mobil.


Sesampai mobil Alan membuka pintu mobil bagian penumpang dan melepas Ra begitu saja, ia buru-buru masuk dalam mobil dan menoleh kebelakang ternyata pintu sudah tertutup, tanpa berpikir panjang Alan menancap gas membawa Ray pulang ke apartemen.


Dalam mobil, Alan hanya fokus nyetir karena malam ia tidak mengajak Ray hanya sekedar cerita.


"Kok sunyi, apa Ra pingsan" Gumam Alan. Ia kembali melihat kebelakang lewat kaca spion tengah.


"Kok kosong" Ujarnya kaget. Ia meminggirkan mobilnya dan cek dibelakang dan Ray benar-benar tidak ada.


"Astaghfirullah, apa itu anak ketinggalan, tapi masa" Alan terpaksa putar kembali mobil menuju club.


Sedangkan Ray malah terlentang diparkiran tempat parkir mobil Alan. Saat Alan melepas Ray ternyata Ray langsung terjatuh dan belum sempat bangkit dari jatuhnya mobil Alan melaju begitu saja. Ray membuka mata pelan-pelan karena silau dan mencoba menyesuaikan dengan pantulan sinar itu.


"Bangun" Kata bouncer club tersebut.


"Iya, lagi tunggu teman" Jawab Ray masih terlentang diparkiran, sepertinya aman karena tegurannya hanya sebatas itu.


Mobil Alan kembali masuk parkiran dan disana Alan melihat orang berbadan tinggi besar berotot dan Ray yang masih terlentang di tanah berlapis paving blok. Seketika Alan turun dari mobil dan lari menghampiri Ray.


"Kamu gak kenapa-napa Ra?, Oh Tuhan babak belur kayaknya ini anak" Ujarnya sedangkan laki-laki tersebut langsung pergi begitu saja.


Alan salah paham dengan keberadaan orang tersebut, padahal bouncer club hanya untuk membangunkan Ray.


"Ra, bangun!, apa yang sakit?" Tanya Alan dengan panik, ia kembali memapah Ray dan kali ini ia pastikan sahabatnya itu sudah dalam mobil baru ia tinggalkan parkiran.


"Lan, kepalaku seakan mau pecah" Adu Ray.


"Salah sendiri, tapi gak diapa-apain sama bouncer club tadi?"


"Gak, tandanya aku aman-aman saja" Jawabnya dengan mata terpejam, "Mami aku suruh untuk segera menikah Lan" Sambungnya lalu ia tertidur.


"Hahaha, bagus tu supaya ada yang perhatikan kamu, kalau gini terus kan aku yang capek" Respon Alan sembari menyetir mobil.


"Loh kok gak direspon, Ra!"


"Ra"

__ADS_1


"Awas ya, kalau muntah dalam mobil" Ujarnya Alan lagi lalu melajukan mobilnya menuju apartemen tanpa bersuara lagi karena lawan bicaranya ternyata sudah tidur dalam mobil.


__ADS_2