Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
102. Kerasukan Roh Jahat


__ADS_3

Viona duduk menatap telepon diatas meja itu dengan diam, ia bingung untuk memulai kata. Ia tidak tau siapa orang dibalik telepon itu.


"Mbak, apa orangnya kenal saya?" Tanya Viona kepada penjaga kasir, lalu menoleh kearah ibunya, "Mam, Vio deg-degan" lanjutnya.


"Tinggal sapa saja, assalamualaikum atau halo gitu" Usul ibu Heti.


Viona kembali bertanya kepada penjaga kasir, "muslim atau nonis?"


"Beri salam aja mbak Viona pasti dijawab" Ujarnya memberi tahu.


"Ok" Jawab Viona lalu memperbaiki posisi duduknya lagi.


"Siapa sih ini orang?, Bikin takut aja" Batinnya.


Viona menarik napas panjang dengan perlahan ia hembuskan, lalu ia membuka mulut untuk menyapa orang dalam telepon tersebut.


"***..." Kalimat Viona tidak lanjutkan setelah mendengar suara dalam telepon itu.


"Apa kabar Viona?" Ucap seseorang diseberang telepon.


Viona terdiam dengan pelan menyebut namanya, "Ahmad."


Meskipun suara Viona pelan saat menyebut namanya, tapi Ahmad masih bisa mendengarnya walaupun itu samar-samar.


"Iya aku, apa kabar?" Ulang Ahmad lagi.


"Alhamdulillah baik, kamu?" Tanya balik Viona.


"Alhamdulillah sehat" Jawab Ahmad dalam telepon lagi.


"Ok" Respon Viona lalu diam, begitupun dengan Ahmad. Sama-sama diam.


"Mad, apa ganti nomor? Kok gak ada kabar semenjak pergi?" Viona kembali bersuara.


Ahmad yang mendengar itu langsung menyunggingkan senyum.


"Rindu ya?" Tanya Ahmad dalam telepon. Harapan Ahmad ingin dirindukan oleh Viona.


"Enggak, nanya aja. Kan sahabat."


"Ohh, tapi sejak kapan aku anggap kamu sahabat? Kayaknya gak pernah."


Viona mendengar kalimat Ahmad sedikit kecewa. Ia dengan bangga mengatakannya ternyata Ahmad tidak menganggapnya sahabat.


"Oh, pantas aku gak diberi kabar ternyata kita tidak sahabatan. Ya udah kalau gitu, gak masalah bagi aku." Tutur Viona dalam telepon.


"Ahmad, sepertinya aku harus pulang. Assalamualaikum" Pamit Viona.


"Apa kabar hubunganmu dengan Ray?"


Ahmad bukan menjawab salam melainkan kembali bertanya, karena Viona sudah malas dan kecewa dengan omongan Ahmad, ia pun balasnya dengan cuek.


"Aku rasa tidak wajib kasih tau kamu, kamu bukan sahabat aku. Aku hanya berbagi dengan sahabat aku sendiri" Jelas Viona.


"Oh" jawab Ahmad singkat, "Aku doakan bahagia bersama Ray, orang yang kamu suka. Wa'alaikumussalam" Lanjutnya lalu mematikan sambungan telepon.


"Mati ternyata, ya udah aku pulang kalau gitu" Gumam Viona lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri ibunya. Sebelum pulang ia pamit kepada penjaga kasir.


"Terima kasih mbak, setidaknya tadi sudah mendengar suara sahabat saya, meskipun bikin aku kesal" Ucap Viona dengan diakhiri dengan tawa.

__ADS_1


Viona dan Ibu Heti meninggalkan restoran Ahmad. Viona membawa mobil dengan diam. Ibu Heti yang menyadari itu langsung bertanya kepada putrinya. Ia takut Viona sakit hanya tidak mau cerita ke ibunya.


"Kok diam, sakit?" Tanya ibu Heti lalu menempelkan telapak tangannya didahi Viona.


"Mam, lagi nyetir" Viona mengingatkan ibunya.


"Iya mama tau, gak demam kok. Sehat" Ujar ibu Heti bingung dan menarik tangannya didahi Viona.


"Mam, aku tuh jengkel sama Ahmad. Masa iya, tidak anggap Vio sahabatnya" Adu Viona kepada ibu Heti.


"Oh jadi itu masalahnya. Kamu sendiri yang bilang, kalau Ahmad itu sibuk ngembangin usahanya, mungkin saja tadi sedang sibuk" Ibu Heti masih berpikir positif. Kebingungan ibu Heti terjawab.


Ditempat yang berbeda, diwaktu yang sama. Alan lagi memapah tubuh Ray keluar dari club.


"Angkat kakimu baru melangkah, Ra" ujar Alan kepada Ray.


"Aku mau tidur" Jawab Ray dengan pelan dan lemah.


"Iya, itu nanti sampai rumah" Jawab Alan, "badanmu berat, ini yang berat dosa" Sambungnya.


Ray langsung tertawa dengan mata tertutup, "aku ke apartemen kamu aja" Ujarnya.


Sementara Gladis masih dalam mode curhat, telinga Gebi fokus mendengar cerita Gladis sedangkan matanya, tertuju pada dua sosok manusia yang sedang meninggalkan mini bar.


"Jadi aku harus gimana, Geb?" Tanya Gladis bingung.


"Kamu harus pulang, Alan dan Ra ternyata disini juga" Ujar Gebi dengan mata masih memantau kepergian Alan dan Ray.


"Apa, mana mereka?" Tanya Gladis dengan panik.


"Tenang aja dulu, mereka sudah pulang."


"Tenang dulu, mobil kamu parkir dimana?, takutnya Alan melihat mobilmu" Ujar Gebi lagi.


"Parkir di depan, dimana lagi?" Jawaban kesal Gladis.


Gladis merogoh ponselnya dalam tas, lalu menelepon suruhnya.


"Halo, apa kerjaan kalian, ha?, Jaga suami saya saja kalian tidak bisa. Bereskan suami saya bagaimanapun caranya, saya ingin pulang sekarang" Ujar Gladis dengan nada marah dan pelan lalu ia matikan sambungan telepon.


"Manusia tidak punya otak, tidak becus kerja" Hardik Gladis kepada suruhnya.


"Gimana?" Tanya Gebi.


"Kita tunggu beberapa menit lagi, biarkan suruhanku bereskan semuanya."


Gladis kembali duduk dengan tenang dan santai sambil memantau jarum jam yang tertempel dilengan kirinya dan kadang-kadang mengatukkan jari dimeja depannya.


Sudah beberapa menit, tapi anak buahnya belum memberi kabar. Gladis kembali berdiri, dengan perasaan tidak tenang.


"Mungkin mereka tidak mengerti apa yang kamu perintahkan, Dis" Ujar Gebi, ia sekarang ikut panik melihat Gladis panik.


"Yang aku telepon itu manusia punya otak bukan binatang" Jawab Gladis, "terpaksa aku harus bertindak sendiri" lanjutnya sembari berpikir mencari cara.


"Gimana kalau Ra tau kamu disini dan makin benci kamu, Dis?"


Gladis menempelkan jari telunjuknya dibibir, "Sssttt, bisa diam gak?, aku lagi berpikir sekarang."


Gebi seketika diam dan memilih duduk sambil menunggu arahan dari Gladis.

__ADS_1


Dari arah pintu masuk club tersebut masuk seorang laki-laki berpakaian santai pakai topi hitam. Berbadan besar tinggi. Gladis melihat langkah laki-laki tersebut langsung mengetik di ponselnya lalu ia kirim. Seketika ponsel Gladis bunyi. Laki-laki tersebut melihat Gladis sejenak lalu menoleh kearah samping kanan. Gladis mengangguk lalu menarik tangan Gebi.


"Kemana?" Tanya Gebi bingung.


"Pulang" Jawabnya dengan memegang lengan Gebi.


"Tapi, ini bukan.." ujar Gebi lagi dengan menunjuk tempat lewat mereka sedangkan laki-laki tersebut sudah jalan didepan tanpa menunggu keduanya.


"Bisa diam nggak!" Tegas Gladis lalu kembali melangkah.


Gebi kembali diam dan mengikuti langkah Gladis. Sesampainya diluar gedung tersebut Gladis langsung melepas pergelangan tangan Gebi dan mendekati orang yang memberi mereka petunjuk jalan.


"Mana anak buahmu yang bodoh itu?, haaa" Tanyakan Gladis sembari bertolak pinggang.


"Aku sudah bayar kalian mahal-mahal, hanya jaga suami saya kalian tidak becus. Aku hampir ketahuan tadi disini"


"Awas saja kalau aku ketauan sama suamiku" Ancam Gladis penuh emosi sambil menunjuk orang yang didepannya.


Laki-laki tersebut adalah bos suruhan Gladis. Ia terpaksa turun tangan sendiri karena anak buahnya mengikuti Ray dan Alan.


"Tenang bu Gladis, ibu tidak akan ketahuan. Anak buah saya mengikuti suami ibu menggunakan motor" Ucapnya.


"Seperti ibu minta tadi, suaminya dibereskan jadi tinggal tunggu berita dari anak buah saya" lanjutnya.


"Maksudnya?, Berita apa yang kamu maksud?" Tanya Gladis.


Gebi melihat Gladis tidak bisa mengontrol emosinya langsung mengingatkan sahabatnya itu.


"Tenang Dis, kontrol emosi. Kamu lagi hamil."


"Bisa diam gak" Ujar Gladis sambil menunjuk Gebi.


"Ihh.. kenapa sih anak edwan harus berada dalam kandungan wanita seperti Gladis, bikin muak lama-lama liat tingkahnya" Batin Gebi dengan jengkel.


Bos suruhan Gladis hanya diam menunduk tanpa kata, seketika ponselnya bunyi mengirim sebuah foto kalau Ray dan Alan ditengah jalan yang sunyi tanpa kendaraan. Kemudian masuk lagi pesan.


✉️ "Maaf bos, kami tidak tega membunuh jadi kami simpan mereka ditengah jalan, mobilnya kami bawa ditempat lain"


Gladis membaca pesan itu seketika matanya terbelalak, ia tidak menyangka akan terjadi seperti ini.


"Siapa yang menyuruh kalian siksa suami saya seperti ini, haa?"


"Aku bilang dibereskan bukan dibunuh, siapa yang berani terlantarkan saumi saya tengah malam seperti ini, siapa?" Teriak Gladis.


"Suruh anak buahmu itu bawa pulang suami saya dirumah dengan selamat, sekarang. Cepat!" Tegas Gladis.


"Sabar kenapa sih, Dis" Gebi ikut jengkel dengan sikap Gladis malam ini. Seperti kerasukan roh jahat.


"Baik, saya pergi dulu" pamit laki-laki berbadan tinggi besar itu.


Gebi menghampiri Gladis, "kita pulang sekarang, sebelum Ra sampai rumah kamu harus duluan sampai, ok?" Tanya Gebi dan Gladis mengangguk nurut.


"Nah kan ini enak, kerasukan malaikat" Gebi kembali bersuara membuat Gladis memukul lengan Gebi.


"Ngomong apa tadi?, Aku kayak gitu karena liat Ra ditengah jalan sunyi tidak ada kendaraan sama sekali, tidak ada yang nolongin" Jelas Gladis sembari mereka jalan menuju mobil.


"Salah sendiri suruh orang bereskan. Orang yang sudah biasa membunuh kalau pakai kata bereskan itu berarti lenyapkan" Kali ini giliran Gebi yang menjelaskan.


"Iya, aku sadar pilihan kata yang aku gunakan salah" Gladis mengalah dan sadar kesalahannya, "buruan bawa mobilnya, jangan hanya bengong" lanjutnya.

__ADS_1


"Iya, masih ada ternyata sisa roh jahat dalam dirimu" Gumam Gebi lalu ia tertawa. Gladis pun ikut tertawa, ia merasa lega sekarang. Tidak ketahuan ke club dan suaminya akan pulang rumah dengan selamat.


__ADS_2