Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
29. Jatuh cinta yang rumit


__ADS_3

Pagi hari ini begitu gelap, mendung dan dentingan hujan berjatuhan dipermukaan bumi. Tanaman begitu bersuka cita menyambut rahmat tuhan agar selalu bertahan hidup diatas permukaan tanah yang kadangkala gersang.


Namun berbeda jauh dengan burung-burung yang berkicau ria dipagi hari, kini suara merdu mereka seakan kurang semangat untuk dikeluarkan dan biasa beterbangan mengelilingi penjuru alam kini masih berada di sarangnya.


Disitu lah kala maklum bumi jiwa malasnya semakin menyatu dengan jiwa seseorang, seperti Viona setelah shalat subuh karena melihat kearah jendela masih gelap dan hujan rintik-rintik mampu menghipnotisnya pagi ini. Bergelut dengan selimut hangat dan tebal itu, membuat sang empu enggan untuk bangun.


"Vionaaaa" Teriak Ibu Heti dibalik pintu.


Entah sudah berapa kali ibu Heti mengetuk pintu membangunkan anak gadisnya itu.


"Sudah berapa kali mama bilang, jangan suka tidur setelah shalat subuh. Bangun Viona, ini udah jam 8 pagi" Teriak Ibu Heti sembari mengetuk pintu lagi.


"Yesi... Bangunin Viona. Mama mau siap-siap" Ujar ibu Heti yang masih di berdiri dimuka pintu anaknya itu.


Yesi yang masih di dapur langsung mematikan kompor lalu jalan menghampiri ibunya.


"Ada apa mam?" Tanya Yesi setelah sampai disamping ibunya.


"Bangunin Viona, mama minta ditemanin belanja untuk dibawa diacara tujuh bulanan Lea" Ujarnya yang diangguki oleh Yesi.


Ibu Heti pergi untuk siap-siap dan digantikan oleh Yesi untuk membangunkan Viona.


"Viona bangun.. Dek ini sudah pagi" Teriak Yesi lagi diselingi dengan ketukan pintu.


Viona bukan bangun tapi malah memperbaiki posisi tidurnya dan menarik selimut sampai menutup kepalanya.


"Aku masih mau menikmati pagi ini. Pasti kak Yesi minta jagain Ainun, pura-pura ahh" Ucapnya seorang diri dalam kamar.


Sedangkan Yesi seakan jari-jarinya sudah sakit saking lamanya mengetuk pintu.


"Viona, mama tungguin kamu nih. Mama minta tolong ditemanin ke Mall" Teriak Yesi lagi.


Viona mendengar itu berpikir sejenak dulu mempertimbangkan apa yang ia dengar tadi.


"Ngapain Mama jam segini ke Mall, kirain Mall buka jam 9" Ujarnya seorang diri dan mencoba untuk memejamkan mata untuk lanjut tidur.


Mata Viona terbuka lebar, seketika mengingat ucapan Ray di cafe.


"Ambil hati dulu ah" Ucapnya.


Viona bangkit dari tempat tidurnya dengan rambut acak-acakan membuka pintu.


"Yah Allah dek, orang lain udah mengudara kamu masih tidur" Omel Yesi kepada sang adiknya.


"Sebelum mengudara kita harus mendunia dulu kak, hehehe bercanda kak" Jawab Viona setelah membuka pintu lalu lari mengambil handuk dan masuk dalam kamar mandi.

__ADS_1


Berbeda jauh dengan Ray, dirinya sekarang lagi menunggu hujan reda. Mau menerobos takut basah apalagi menggunakan motor ke bengkel.


Ray mendongak keatas berharap langit udah cerah, "gak berhenti hujan kalau gini ceritanya"


Ia merogoh tangannya ke dalam saku jaket mencari ponselnya. Setelah mendapatkan ponselnya, ia langsung mengerah ke salah satu kontak karyawan kepercayaannya.


"Hallo, pak tolong bengkel dijaga yaa. Saya tidak datang hari ini" Ucapnya lalu mematikan sambungan telepon.


Dan Ray lanjut menelepon Alan.


"Halo bro" Ucap Ray semangat dipagi hari.


"Hmmm" Respon Alan masih tiduran, "ada apa menelfon, ini masih pagi Ra" Ucapnya yang masih memejamkan mata.


"Jam segini belum bangun?, Kata orang tua zaman dulu rezeki mu udah di patok ayam" Ucap Ray ditelepon itu.


Alan bangun dan melihat jam ponselnya, "sudah jam 9" Ucapnya kaget.


Ray mendengar ucapan kaget dan panik dari sahabatnya itu.


"Makanya pagi itu cepat bangun Lan, mau buka usaha tapi bangun pagi aja susah" Ucap Ray lagi.


Alan bangkit dari tempat tidurnya melempar sembari tempat selimutnya dan mencari sendal dalam rumahnya.


"Rencana mengajak kamu ke rumahnya Viona sore ini, mau gak?" Tanya Ray sebelum melanjutkan kalimatnya ponselnya tiba-tiba mati.


"Lah, dimatiin segala lagi, gimana ceritanya mau pergi sendiri" Gumam Ray sambil mondar-mandir dalam kamar cari jalan alternatif jika Alan tidak menemaninya.


Ray masih memikirkan caranya selanjutnya, tiba-tiba ponselnya bunyi ada pesan masuk.


Ia membaca pesan dari Alan membuatnya lega dan sekarang yang ia pikirkan buah tangan untuk dibawah.


"Apa aku tanya Viona ya.. oh no, tidak bisa. Apa aku telepon Gladis? Jangan nanti gilanya kambuh.. siapa yang cocok aku tanya.." Ray berpikir keras, "ahaa Mami" Tiba-tiba muncul bayangan Maminya.


Ray menelepon Maminya, dan tidak lama diseberang telepon itu mengangkat teleponnya.


"Halo Mi, Alex butuh bantuan nih" Ujarnya karena bingung bertanya kepada siapa lagi selain Maminya.


"Bantuan apa?" Tanya Maminya dengan penasaran karena baru kali ini anaknya minta bantuan padanya.


"Kira-kira kalau bertamu, buah tangan yang dibawa apa mi?" Tanya Ray dengan embel-embel bertamu.


"Oh kerumah Viona, saran Mami tanya Viona kue kesukaan mereka itu apa, minimal ayah dan ibunya" Saran dari Maminya itu membuat pikiran Ray terbuka.


"Bukan ke rumah Viona kok Mi" Kilah Ray, "ini mau jenguk..."

__ADS_1


"Jangan bohong deh sama Mami, Mami tau kapan anak Mami bohong dan jujur.. semoga lancar yaa, doa Mami menyertai mu" Ucapnya membuat Ray bahagia.


"Lex, bagaimana kabar Marcel?" Tanya Maminya lagi.


"Kak Marcel mau acara tujuh bulanan Mi di rumah orang tuanya" Jelas Ray kepada Maminya.


"Bukan orang tuanya tidak tinggal disana?" Tanya Mami Ray heran.


"Udah pindah mi, mereka gak bisa jauh dari kak Marcel. Apalagi sekarang mau ada cucu mana bisa bibi dan om jauh-jauh" Jelas Ray panjang lebar membuat Maminya ingin sekali anaknya itu cepat menikah dan gendong cucunya juga.


"Bahagianya dengar Marcel udah mau acara tujuh bulanan. Kapan kamu Lex?, Cepat nanti di lumbain orang, susah nyari cewek nyambung sama Mami" Maminya menyampaikan apa yang ia inginkan.


"Iya Mi, tapi sebenarnya ini sulit dan rumit Mi" Jelas Ray dengan melemah.


Mengingat perbedaan dirinya dan Viona seakan kadang ingin menyerah karena bagaimanapun setelah melihat cara Viona saat ini. Sulit untuk menyamakan keyakinan mereka berdua, meskipun diawal tidak mempermasalahkan tapi semakin lama pikirannya mentok diperbedaan itu.


"Tantangan hidup Lex, Mami tunggu kabar baik.. Ehh Gladis datang temui Mami"


Ray yang masih diam fokus dengan apa yang ia pikirkan saat ini, seketika buyar mendengar nama Gladis.


"Disitu Mi? Ngapain?" Ray bertanya-tanya kepada Maminya.


"Katanya ikut sepupunya jalan-jalan, dia ajak Mami ke gereja depan rumah tapi Mami gak tau ia tidak datang. Mami membayangkan anak Mami, mantu dan cucu ibadah bersama-sama" Tutur Mami Ray dengan semangat dan senyum terukir manis disudut bibirnya saat bercerita seperti itu pada anak semata wayangnya itu.


Legah!. Itu yang dirasakan oleh Mami Ray yang berada di negeri ginseng itu.


Ray yang mendengar itu diam tanpa respon sedikit pun. Ia bingung bagaimana cara menyampaikannya jika orang yang mereka suka itu adalah beda keyakinan.


Apakah Maminya tidak terluka? Atau Maminya malah mengusirnya seperti sepupunya dulu setelah memutuskan untuk pindah keyakinan. Sulit rasanya, sesak di dada mengingat itu dan pikiran kacau memikirkan solusi terbaik.


Ray masih mengingat bagaimana pendapat kakek dan keluarganya, sangat menentang keras hal itu, sedangkan perempuan yang ia cintai pun demikian.


Berada diantara dua pilihan yang tidak memiliki solusi selain mengalah salah satunya atau pisah itu sangat tidak mudah.


"Lex" panggil maminya diseberang telepon.


Ray tersadar dari pikiran panjangnya ternyata masih teleponan dengan Maminya.


"Alex mau istrahat dulu ya Mi, by Mi. Baik-baik disana ya" Ucap Ray sebelum mematikan sambungan telepon.


Telepon dengan Maminya tadi mendapat solusi dari masalah awal tapi dibuat bingung diakhir.


"Ternyata jatuh cinta tersulit adalah saat kita mencintai orang yang berbeda latar, menyamakan jadi satu berarti harus ada satu yang berkorban. Siap jika latar yang dimiliki hilang dan digantikan dengan latar baru, tapi bukankah cinta harus berkorban?" Batin Ray kembali rebahan diatas tempat tidur berbantalkan lengannya.


Pikiran Ray berkecamuk saat ini, niatnya untuk ke rumah Viona jadi ragu. Ia tidak mau memberikan harapan palsu kepada orang yang ia cintai.

__ADS_1


__ADS_2