Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
57. Mencoba untuk Melupakan


__ADS_3

Minggu pagi...


Hari emas bagi dunia para pekerja, dimana hari spesial ini dihabiskan untuk istrahat sebelum kembali di dunia pekerjaan. Bahkan, bagi yang sudah berkeluarga hari minggu ini ia spesialkan untuk keluarga semata, menemani anak jalan-jalan bagi seorang ayah, memasak yang bergelar seorang Ibu atau bahkan menyempatkan waktu untuk liburan.


Sebahagia itu para pekerja, tapi itu jauh berbeda dengan para pemimpin. Ada kala santai bagai tidak ada beban tapi sekali ada masalah kantor tidur pun tidak nyenyak. Seperti halnya Ray. ia selama di Korea urus perusahaan Papinya, kembali di rumah sudah larut malam.


"Lex, baru pulang?" Tanya Maminya.


Ray melepas jaznya dan menaruh tas kantornya, "Iya mi"


"Mami siapkan makanan, kamu mandi dulu"


"Iya mi" Jawab Ray lalu jalan menuju kamarnya.


Maminya dengan telaten menyiapkan makan malam untuk anak semata wayangnya itu, datang Papi Ray setelah mendengar bunyi sendok yang jatuh di lantai.


"Alex baru pulang?" Tanya Papi Ray.


"Iya Pi, Alex akhir-akhir ini suka murung Pi. Apa dia punya masalah?" Tanya Mami Ray kepada suaminya.


"Kamu Maminya, tanya anaknya" Ujar Papi Ray lagi.


"Kamu ayahnya" Jawab Mami Ray tidak mau kalah.


Masih dalam mode debat, tiba-tiba Ray datang memecah perdebatan itu.


"Enak masakan Mami" Pujinya.


"Iya dong, makan sayang" Ujar Mami Ray.


Sementara Papi Ray terus menyuruh istrinya untuk tanya putranya itu kenapa suka murung, rasa khawatir dalam diri Papi Ray yang mendorong semua itu.


"Cepat" Ujar Papi Ray dengan berbisik.


"Bentar" Jawab Mami Ray.


Papi Ray diam sambil menunggu istrinya bertanya kepada anak mereka itu.


Duduk sambil memperhatikan anaknya makan tidak terasa 20 menit sudah berlalu. Ia kembali menyenggol istrinya pakai suku sambil memainkan alisnya setelah istrinya menoleh melihatnya.


Ray merasa aneh kepada kedua orang tuanya. Ia terlebih dahulu menyimpan sendoknya diatas piring dan minum terlebih dahulu.


"Mi, Pi, Alex boleh bertanya?" Tanyanya.


Dengan cepat Mami dan Papinya mempersilahkan anaknya itu.


"Boleh nak, mau tanya apa?" Tanya Papinya.


"Kenapa benci Viona Pi, Mi?"


"Papi dan Mami tidak membenci Viona, kami dengan tangan terbuka menerima dia sebelum kami tau kalau dia muslim"


"Mami ingin kamu menikah dengan orang yang seiman. Kalau latar belakang keluarga, Mami gak pilih-pilih mau miskin, kaya atau yatim piatu sekalipun asal dia baik, Mami pasti terima kok" timpal Maminya.


"Viona orang baik Mi, dia perempuan baik" Jujur Ray.


"Dia muslim Lex, ribet nanti nikahnya" Ujar Papinya.


"Ada gadis pilihan Mami kalau kamu mau" Timpal Mami Ray.


"Siapa Mi?" Tanya Ray penasaran.


"Kamu kenal kok dan Mami yakin kamu pasti suka" Tutur Maminya lagi.


Ray hanya menaikkan alisnya sebelah dan lanjut makan, "terserah Mami"


"Apa yang aku harapkan, Viona akan segera menikah dengan pilihan ibunya" Batin Ray.


"Ini nomor baru aku mi" Ucap Ray lagi.


"Nomor lama?"


Maminya bingung dengan ucapan anaknya.


"Aku ganti nomor, rencana akan tinggal disini untuk beberapa bulan" Tutur Ray.


Sebagai orang tua pasti senang mendengar itu, "Benarkah? Mami bahagia banget" Ujarnya sembari memeluk putranya itu.


"Tapi, bengkel mu gimana?" Tanya Papinya.


"Ada orang kepercayaanku disana, dan mungkin sekali-kali kembali ke Indo untuk cek perkembangan bengkel"


Mami dan Papinya paham.


"Ok, jadi itu alasannya ganti nomor?" Tanya Maminya lagi memastikan.

__ADS_1


"Ingin fokus bantu Papi urus perusahaan dulu" Kilah Ray, "Alex, istrahat dulu Mi, Pi" Pamitnya.


Ray berjanji untuk melupakan Viona selama-lamanya, jika ia masih di Indonesia maka bayang-bayang Viona selalu muncul kata move on itu sulit bagi Ray.


Ray menyibukkan diri di perusahaan Papinya, ia melarang papinya untuk kerja selama dia masih di Korea.


Waktu begitu cepat berputar. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi waktu Korea. Ray bangun terlebih dahulu cuci muka sebelum ke meja makan.


"Hari ini masuk kantor?" Tanya Maminya.


"Masuk, tapi siang"


"Kalau masih capek, istrahat aja. Papi sudah ke kantor"


"Mau bantu Papi, Mi. Mungkin minggu depan balik indo dulu"


"Ada urusan?"


"Cek bengkel aja Mi"


"Oke" Jawaban singkat dari Maminya menutup perbincangan dimeja makan itu.


🌺


Di belahan bumi lain yaitu Indonesia. Viona sekarang kembali mencari kerja, ia lebih memilih untuk menyibukkan diri cari kerja ketimbang duduk diam di rumah.


Ibu Heti tidak mendukung jika Viona cari kerja, ia lebih suka Viona dirumah menemaninya karena ia selalu kesepian jika sang cucu masuk sekolah.


"Vio, apa masih mau cari kerja?"


"Iya mam"


"Perusahaan ke berapa?" Tanya ibunya sambil mengunyah makanannya.


"Baru ke 4 mam" Jawabnya penuh semangat.


"Gimana buka usaha sendiri saja, jualan online" Usul ibu Heti.


"Bakal laku juga mam?, Banyak saingan sekarang"


"Rezeki sudah diatur, kita hanya berusaha. Kalau kamu yakin pasti bisa"


"Jual apa yang cocok mam?" Tanya Viona lagi.


"Setuju mam"


"Iya, nanti Yesi, Lea, Rifal dan Ainun bakal bantu juga".


"Bantu apa mam?"


"Bantu promosi, nanti modelnya Yesi, Lea dan kamu"


"Boleh juga tuh mam, fotografer kak Rifal. Gak sabar"


"Kita rinci dulu biaya dan cari tempat yang strategis"


"Siap mam, hehe" Jawab Viona sembari hormat kepada ibunya.


Hari ini ibu Heti dan Viona mulai memikirkan usaha fashion mereka, dari tempat sampai membahas sasaran dan pangsa pasar usahanya.


"Fix kan mi tempatnya ini?" Tanya Viona memastikan.


"Iya dong, disana itu jauh dengan Mall dan kebanyakan gadis-gadisnya itu gamisan juga" Jelas ibu Heti.


"Jadi kapan kita mulai cek lokasi?" Tanya Viona.


"Minggu depan saja. Oh iya, mama lupa teman mama mau datang dengan ponakannya yang dijodohkan dengan kamu"


Ibu Heti mengatakan itu penuh semangat.


"Mama sudah liat laki-laki itu?"


"Belum, makanya mama ajak ke sini supaya ketemu" Ujarnya lagi.


"Aku gak suka mam dijodohkan, gimana kalau duda anak lima belum punya anak sudah urus anak duluan"


"Mama percaya dengan teman mama itu, dia gak mungkin kayak gitu. Katanya ponakannya itu punya restoran tapi gak sebut restoran mana"


"Fix mam, orang pelit. Udah mapan kayak gitu mana ada masih susah cari pasangan"


"Justru yang punya kerja itu, tidak ada waktu untuk cari pasangan. Mama yakin orangnya ganteng dan agamanya bagus" Sambungnya.


Viona menghela napas dengan kasar dan pasrah, "Terserah mama saja"


"Ok, mama telepon dulu kapan waktu ponakannya"

__ADS_1


"Kok malah mama yang semangat?"


Viona heran dengan ibunya.


"Gak masalah dong Vio" Jawabnya.


"Assalamualaikum bu" Ucap ibu Heti dalam telepon itu.


(....)


"Makan malam bagus ya, ok tinggal tentukan restorannya"


(....)


"Ok, restoran seafood seperti biasa"


(...)


"Wa'alaikumussalam, sampai jumpa"


Viona cuek dengan percakapan ibu dan temannya itu.


Ibu Heti memberitahu putri bungsunya itu.


"Kita makan malam di restoran seafood seperti biasa"


"Dimana mam?"


"Tempat Ahmad"


"Ok, bagus dong. Kapan?" Tanya Viona.


"Besok malam" Jawab ibu Heti lagi.


"Masih ada waktu, terima kasih mam.. mmuachh" Ujar Viona bangkit dari duduknya lalu ia cium jauh setelah jauh dari ibunya.


Ibu Heti mengerutkan keningnya heran.


"Aneh, tadi nolak sekarang senang"


🌺


Waktu yang disepakati telah tiba, sore menjelang malam tanda waktu makan malam semakin dekat. Viona mondar mandir dalam kamar, ia memikirkan cara agar bisa batalkan rencana perjodohan itu.


"Ahmad, kebetulan kata mama direstoran Ahmad" Gumamnya.


Viona mengambil telepon genggamnya untuk menelpon Ahmad.


"Assalamualaikum Mad"


"Wa'alaikumussalam, kenapa telepon? Tumben gak biasa" Ahmad terdengar heran diseberang telepon itu.


"Sibuk gak?" Tanya Viona ditelepon itu.


"Lumayan, nanti malam lebih sibuk sih. Emang ada apa?" Tanya Ahmad penasaran.


"Mama dan temannya akan makan malam ke restomu"


"Bagus dong, ketiban rezeki lagi aku" Ahmad merespon ucapan Viona dengan santai.


"Mad, masalahnya aku juga ikut dan orang yang dijodohkan dengan aku itu bakal datang juga" Tutur Viona lagi.


"Terus?, Bagus dong supaya saling kenal. Selama ini kan kamu selalu berpikir tidak-tidak tentang orang tersebut"


"Mad, bantu sahabat mu. Aku ingin kabur dari perjodohan itu. Aku gak mau" Tolak Viona


"Segitunya menolak orang tersebut Vio, sampai kamu tidak mau bertemu dengannya walau sebentar. Apakah kamu sudah ada orang yang kamu cintai?" Tanya Ahmad lagi.


"Aku gak tau Mad, yang jelas saat ini aku belum bisa menerima perjodohan itu. Aku kepikiran Ray, sampai saat ini nomor hpnya tidak aktif" Tutur Viona lagi dalam telepon itu.


"Aku sudah tau, kamu mencintai Ray tapi bagaimana dengan keyakinannya?"


"Bantulah aku Mad, aku gak tau minta tolong sama siapa"


"Aku bisa bantu kamu nanti, asal ketemu dulu dengan orangnya setidaknya jujur padanya agar tidak berharap"


"Mad, kamu lucu. Mana ada orang berharap tanpa ketemu sebelumnya"


Ahmad senyum miris mendengar itu, "Mau atau tidak?"


"Mau" Jawab Viona dengan penuh percaya diri, "makasih lho Mad, kamu memang sahabat terbaikku"


Viona lega setelah mendengar Ahmad akan membantunya. Viona kembali mencari gamis yang menurutnya cocok untuk dirinya serta kerudung.


Kira-kira siapa yaa yang dijodohkan dengan Viona?😁😉

__ADS_1


__ADS_2