Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
14. Viona Diundang


__ADS_3

Diapartemen Ray sudah siap akan kembali ke rumah dikarenakan orang tuanya akan sampai segera sampai dari Korea.


Ray membeli apartemen untuk menghindari Gladis, karena rumah dan bengkel menurutnya sudah tidak aman baginya. Gladis susah untuk diperingatkan, jika dilarang datang maka tempat menunggunya di rumah.


Ray ke rumahnya membawa motor untuk menghindari macet. Dalam perjalanan tidak satu dua kali ponselnya bergetar dalam saku jaketnya.


"Mami pasti" Gumam Ray dan kembali menancap gas menambah kecepatan agar cepat sampai rumah.


Sekitar 30 menit motor Ray sudah parkir anteng dihalaman rumah tepat disamping mobil Maminya.


Ray dengan cepat masuk dalam rumah, dari pintu utama ia sudah teriak.


"Mi, aku datang nih.. Mami" suara Ray menggelegar dalam rumah.


Ray memutuskan untuk duduk sejenak disofa untuk mengistirahatkan badannya.


"Mami iiii" panggil Ray lagi.


Mami dan Papinya lagi periksa keadaan sekeliling rumah mendengar suara teriakan.


"Alex itu pi, kita kesana" ajaknya.


"Iya, itu anak gak pernah dewasa" ucap Papinya Ray sambil jalan beriringan dengan sang istri.


Ray mendengar langkah kaki Mami dan Papinya langsung menoleh kearah samping dimana suara heels Maminya bunyi.


"Mi, Pi, lama bangat" Protes Ray.


"Mami dan papi lihat sekeliling rumah, terawat atau gak. Ternyata aman semua" jelas Maminya itu.


"Oh yaa, kamu jarang disini Lex?" Tanya Maminya lagi.


"Iya Mi, aku di apartemen kadang di apartemen teman juga" Jawab Ray dengan jujur.


"Lah apartemen siapa, kan Mami sudah siapkan rumah masa tinggal di apartemen" Maminya seakan tidak terima jawaban Ray.


Namun diluar dugaan dengan Papinya Ray, ia malah mendukung "bagus itu, kapan beli apartemen itu?" Tanyanya membuat Maminya melihat suaminya.


"Kok pertanyaannya seperti itu Pi?, Harusnya larang dong Pi"


"Anak kita sudah besar Mi, biarkan dia memilih sendiri untuk hidupnya. Apalagi apartemen itu pakai uang sendiri. Biarkan dia mandiri Mi" Jelas Papinya membuat Ray tersenyum bangga pada Papinya itu.


"Terus rumah ini untuk siapa Pi?, Papi gak ngertiin bagaimana perasaan seorang ibu. Mami khawatir, gimana kalau makannya gak teratur, pakaiannya, dan...." Ucap Mami Ray lagi.


"Itu kelirunya di Mami. Anak kita udah besar, sudah selesai wisuda. Jadi yang terpenting sekarang itu, masuk kantor secepatnya" Potong Papi Ray santai sambil bersandar.


"Kapan apartemennya dibeli?" Tanyanya lagi.


"Belum lama kok Pi. Hanya disana nyaman karena mungkin tidak terlalu luas kali yaa.. hehehe" Jawab Ray sengaja dengan diakhir ketawa garing.


"Orang senang punya rumah besar, ini malah tidak nyaman" Ucap Maminya dengan kesal karena kedua laki-laki didepannya ini saling mendukung.


"Gimana pacar kamu itu?" Tanya Maminya lagi.


"Pacar, anakmu ini jomblo"


"Gimana kalau Mami carikan perempuan yang cocok dengan kamu Lex, dijamin kalau pilihan Mami pasti kamu suka"


"Gak usah mi" Jawab Ray singkat yang lagi-lagi Papinya ikut menimpali.


"Itu tandanya ia sudah punya pacar"


"Orang mana?" Tanya Maminya lagi.


Antara senang dan bingung hadir bersamaan dihati Ray. Ia bertanya-tanya apakah nanti maminya akan menerima Viona seperti Gladis dulu atau malah sebaliknya.


Ray dalam otaknya kembali berputar dimana saat Gladis ditolak mentah-mentah sampai ia keluar dari rumah hanya untuk membelanya. Dan anehnya setelah beberapa bulan, Gladis dan Mami Ray akrab bahkan makan atau jalan ke Mall sama-sama. Perjuangan saat masa sekolah dulu pada Gladis sangat luar biasa, meskipun berakhir dengan sangat menyakitkan baginya sehingga membuat Ray mengubah cara pandangnya tentang cinta. Yang awalnya pacaran sekarang memutuskan untuk langsung menikah jika ada srek dihati.


Pandangan itu yang berlaku pada Viona, tapi penghalang keduanya bukan seperti Gladis melainkan masalah keyakinan.


"Ajak sekalian disini, natal 2 hari lagi. Rayain Natal disini bareng keluarga" Ucap Maminya.


"Emang mereka tidak natalan diajak kesini, Mami mu kadang permintaannya.." Ucap Papi Ray tidak melanjutkan ucapannya hanya geleng kepala, tapi dari gelengan itu Maminya mengerti. Sedangkan Ray malah senyum melihat kedua orang tuanya yang akur seperti itu.


Mendengar itu merupakan tanda lampu hijau dari Maminya. Bahagia? Iya seharusnya itu yang ia rasakan Ray, tapi itu berbeda jika permasalahannya seperti saat ini.


"Maksudnya Mami ini aneh?" Tanya Mami Ray mengerti maksud dari suaminya itu dan menoleh kearah Ray "Apa Gladis datang natal nanti?" Tanya Maminya lagi kepada Ray.


"Gladis gak mungkin kesini Mi, kami kan udah putus" jawab Ray dengan santai.


Papinya menepuk pundak anaknya.


"Kami pengen ketemu dengan dia, Ray" Timpal Papi Ray to the point.


"Iya, pacar barumu. Masa ia hanya pacaran saja, bukan anak ABG lagi nih" Ucap Maminya mengingatkan Ray.


"Atau tidak serius dengan dia Lex? Tanyanya lagi.


"Serius dong Mi, makanya aku setiap malam selalu minta pada Tuhan" Jawab Ray membuat kedua orang tuanya senang.


Orang tua mana yang tidak senang jika anaknya dekat dengan Tuhannya. Begitupun dengan kedua orang tua Ray. Kebahagiaan itu tergambar jelas pada raut wajah keduanya.


Tidak ada orang tua menolak perempuan untuk mantunya jika ia mampu membuat anak mereka lebih dekat dengan Tuhannya.

__ADS_1


"Aku restui kamu dengan dia nak" Ucap Maminya lagi sambil memegang tangan suaminya, "Lex, kapan kami ketemu dengan pacar mu? Siapa namanya?"


"Viona Mi" jawab Ray.


Setelah menjawab Ray memejamkan mata sambil menunduk, "maafkan aku Viona, tentang tindakan ku ini" Batinnya.


"Ajak natal disini" Ucap Maminya lagi.


"Haaa" Ray mengangkat kepala dan melihat kearah kedua orangtuanya.


"Serius mi?" Tanya Ray tidak percaya dan Maminya menjawab dengan anggukan.


"Tapi tidak bisa Mi kalau diajak rayakan Natal" jawab Ray dengan lesu seakan kurang semangat mengucapkan itu.


"Pasti sibuk Viona" tebak Maminya, "nanti sebelum Mami kembali ke Korea sempatkan waktu bertemu dengan Viona" minta Mami Ray.


"Begini kalau memiliki orang tua pengertian, gak pusing menjelaskan langsung direstui" batin Ray dan menghembuskan napas dengan kasar. Lega?, tentu saja, tapi ada satu yang mengganjal dihatinya yaitu keyakinan keduanya berbeda.


🌺


Hari ini Ray merayakan natal bersama keluarga besarnya dikediaman mereka. Berbagai jenis menu makanan ada. Mereka makan bersama setelah dari gereja.


Ramai!!!, itu yang menggambarkan suasana rumah hari ini, tapi tidak dengan Ray. Sunyi dan kurang bahagia itu yang Ray rasakan. Ia malah berada dikamar dengan alasan istrahat sejenak karena sakit kepala.


Ray memilih untuk menyendiri dikamar karena seharusnya hari ini Viona ada disini untuk memperkenalkannya pada keluarga besar, tapi Viona sudah menolak dari jauh hari dengan alasan yang Ray sendiri tidak bisa memaksa.


Bunyi ketukan pintu terdengar jelas dikamar Ray. Ray yang mageran hari ini langsung teriak.


"Siapa?"


"Mami Lex" Jawabnya.


Ray pun bangkit dari tempat tidur dan membukakan pintu.


"Ada apa mi?"


Mami Ray duduk dipinggir ranjang anaknya, dengan santai mengutarakan tujuan kedatangannya.


"Gini lho Ray, Mami tu penasaran dengan pacar kamu"


"Hanya itu Mi?" Tanya Ray seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


Ray duduk menggeserkan badannya, "Kita video call Viona"


"Oke, cepat sebelum Mami dicari" Jawabnya sambil menunggu dan melihat layar hp anaknya. Dan tidak lama muncul wajah kusut Viona yang sedang rebahan.


"Iya Ray" Jawab Viona dengan membuka pelan-pelan matanya mencoba untuk menyesuaikan dengan sinar yang berasal dari benda pipihnya itu.


"Lihat layar" Perintah Ray dilayar ponselnya itu dan saat itu Maminya hanya seorang penonton disitu.


"Anakku benar-benar menyukai gadis yang bernama Viona ini" Batinnya dan seketika memunculkan wajahnya dilayar ponsel Ray.


"Halo Viona" Ucapnya sambil melambaikan tangan kepada Viona layaknya anak ABG.


Viona yang masih kurang fokus dengan layar ponselnya setelah mendengar suara perempuan menyapanya langsung menatap layar ponselnya, setelah ia mencoba untuk bangun dari mode rebahannya.


Viona pun menyapa dan tidak lupa mengikuti apa yang Mami Ray lakukan padanya, "Halo juga" Ucap Viona dengan ramah.


"Saya Mami Ray, kapan ke sini? Kata dia nih hari ini gak bisa datang dan Mami paham karena sibuk kan?" Tanyanya dengan intonasi bertanya.


"Ini Mami sok akrab, belum ketemu Viona tapi caranya kayak udah akrab lama" Monolog Ray sambil menggaruk alisnya yang tidak gatal.


Viona mulai bingung kalau membahas hal yang membuatnya harus berkata serius.


Viona cengir kuda sebelum menjawab dan menggaruk kepalanya sehingga membuat Mami Ray gemas dibuatnya.


"Gimana ya Tan..." Ucap Viona yang langsung dipotong oleh Mami Ray lagi.


"Jangan malu-malu sama Mami, kapan ada waktu nih mau berbagi cerita. Mami itu pengen punya anak perempuan dulu tapi sayang pas lahir ehh laki-laki" Ucapnya dengan senyum dan Viona menutup mulutnya seketika karena tertawa.


"Tan.. Tan boleh bicara" izin Viona.


Ray yang dengar hanya geleng kepala sedangkan sang empu mendengar Viona minta izin padanya langsung menoleh kearah sang putra.


"Mami suka Viona" Ucapnya lalu kembali ke layar ponsel.


Sedangkan diseberang camera malu mendengar ucapan Mami Ray, "kok tante segitunya sama saya" batinnya.


"Apa itu?" Tanya Mami Ray penasaran dan mengambil alih ponsel itu ditangan Ray sehingga berpindah tangan. 100% layar ponsel penuh wajah Mami Ray.


Ray saat itu ingin protes seperti biasa tapi gengsi didengar Viona. Akhirnya mengalah hanya memperhatikan Mami dan Viona saling berbagi cerita.


"Mi, berarti Ray dulu dalam kandungan dikira perempuan?" Tanya Viona.


"Iya, itu harapan Mami" Jawabnya dengan santai.


"Hahaha, Tan pasti Ray kesal tuh" Ucap Viona lagi sambil lap air matanya karena ketawa.


"Iya, aku seperti baygon disini. Udah dulu yaa, aku mau baca kitab dulu" Ucap Ray dengan mode rebahan berbantalkan lengan.


Viona mendengar itu langsung berhenti ketawa dan mencoba mengatur suara dulu, "benar tuh Ray, kamu harus dengan Tuhan mu dan sering-sering baca kitab"


Mami Ray mendengar penuturan Viona tidak merasa curiga sedikitpun, ia malah memuji karena ia terus menyuruh Ray untuk lebih mempelajari kitabnya.

__ADS_1


"Memangnya selalu seperti ini?" Tanya Mami Ray kepada Viona.


"Iya Tan, maaf ya Tan kalau berkesan mengatur" Ucap Viona karena ia kira mami Ray tidak suka.


"Mami suka kok. Kalau Mami suruh dia banyak alasan. Sering-sering ingatkan ya.. Ingat ya ketemu sebelum Mami kembali ke Korea" harapan Mami Ray itu kepada Viona membuatnya sulit untuk menolak.


"Iya Tan" jawab Viona singkat, ia bingung harus bahas apalagi dengan ibu Ray itu.


"Viona, Mami pamit dulu yaa, sudah lama dikamar anak muda" Ucapnya lalu memberikan kembali ponsel Ray dalam keadaan kamer on, "ingat" Ucapnya lalu ia pergi dan Ray hanya mengangguk mengiyakan.


Layar ponsel kembali terlihat wajah Ray yang sempat menghilang, "ee.eee mmm" Ray bingung.


Viona melihat itu hanya mengerutkan keningnya.


"Santai aja kali Ray, kita kan teman" Ucapnya sembari senyum.


"Iya, aku lupa" Jawab Ray ingin protes tapi tidak enak. Ia sangat tidak suka dengan ucapan Viona kalau dirinya hanya dianggap teman tapi apa boleh buat dia sendiri yang berkata seperti itu pada Viona.


"Ray sudah dulu yaa, mau cuci muka. By" Ucap Viona lalu ia matikan sepihak tanpa menunggu jawaban dari Ray.


Sedangkan Ray mengomel kayak emak-emak sedang marahi anaknya.


"Kebiasaan nih Viona suka matiin sepihak, gak bisa apa dengar dulu jawabanku baru matiin itu kan lebih sopan. Dasar wanita aneh tapi... Bikin pusing dan takut kehilangan. Jampi-jampi apa yang Viona gunakan sehingga aku tidak karuan seperti ini" Ucap Ray seorang diri dalam kamar.


🌺


Natal sudah tiga hari berlalu. saat ini, Papi dan Mami Ray telah membicarakan kepulangan mereka ke Korea. Namun, disini yang ngeyel untuk minta lebih lama itu Mami Ray sendiri.


"Papi duluan, nanti Mami nyusul" Bujuk Mami Ray.


Ray mendukung dan sebenarnya masih rindu dengan kedua orang tuanya. Itulah kadang dirasakan seorang anak yang ditinggal lama oleh orang tuanya, tapi gengsi berkata jujur untuk menyampaikan rasa rindunya itu.


"Benar kata Mami, Pi"


"Sunyi sendiri gak ada teman bicara" Jawab Papinya tidak mau.


"Jadi?" Tanya Mami Ray lagi.


"Dua hari kedepan kita terbang ke Korea, aku tau Mami mau ketemu dengan Viona dulu kan?" Tanyanya diakhir kalimat.


Ray kali ini melihat Papinya, "Papi tau juga Viona?" Tanyanya.


"Mami yang kasih tau" Jawabnya untuk menjawab pertanyaan anaknya itu.


"Oh" Jawab Ray lalu kembali diam.


"Menikah cepat dengan Viona supaya gak kesepian dirumah" Ujar Maminya lagi.


"Gak semudah itu Mi" Jawab Ray dengan lemah. Ucapan Viona masih terngiang di telinganya.


"Mudah, mau gereja mana? Tinggal pilih" Timpal Papi Ray itu untuk meyakinkan anaknya kalau untuk menikah jangan ragu karena ada mereka yang siap membantu.


"Nanti dibicarakan Mi, Pi" Jawab Ray lagi dan mengambil ponsel dalam saku jaketnya lalu melihat ke layar, "Viona hari ini belum chat aku juga" Batinnya.


"Alex, keluar sebentar ya, cepat pulang kok" Ucapnya lagi lalu mencium tangan kedua orang tuanya.


Mami dan Papi seketika tertegun melihat perubahan Ray yang drastis. Dulu tinggal pergi tanpa pamit sekarang malah cium tangan. Sopan, itu satu kalimat dari orang tuanya buat Ray.


"By Mi, Pi.." Ucap Ray sembari jalan menuju mobil.


Mami dan Papi mengikuti anaknya itu sampai garasi, "gak bawa motor lex?" Tanya Maminya.


"Gak mi, mau ganti knalpot dulu" jawabnya.


"Kenapa knalpotnya rusak?" Tanya Maminya penasaran karena dilihat dari motornya sangat terawat.


"Bukan mi, hanya suaranya sedikit bising. Gak enak sama yang lain kalau lewat jalanan umum" Jawab Ray lagi dan masuk dalam mobil, "Mi, aku pergi dulu, by"


Mobil Ray dengan pelan keluar halaman rumah dengan kedua orang tuanya yang terus menatap mobil anaknya.


Mami dan Papinya kembali masuk dalam rumah. Mereka tidak habis pikir anak mereka yang dulu seperti anak rocker sekarang berubah drastis dan yang paling membahagiakan tidak pernah talet ke gereja. Itulah yang membuat mereka semakin suka pada Viona.


"Pi, apa sebaiknya kita nikahkan saja Ray dengan Viona?" Tanyanya.


"Ide bagus, jarang nemu wanita baik sekarang" dukungnya.


Sementara disisi lain, Ray menelepon Viona sambil mengendarai mobilnya.


"Viona, kedua orang tua aku balik ke Korea dua hari lagi. Mereka minta untuk bertemu, bisa kan?" Tanyanya lewat telepon itu.


Viona terdengar lagi temanin ponakannya belajar bawa sepeda.


"Hati-hati sayang, jangan jauh-jauh ya" Teriak Viona dan terdengar juga suara Ainun menyahuti ucapan Viona.


"Iya bibi cantik" jawab Ainun.


"Memang ponakan aku nih suka menghibur hati ku yang sedang galau" Ucapnya lalu menarik napas dan membuangnya dengan kasar.


Ray mendengar itu ingin bertanya, tapi itu bukan urusannya dan terlebih mereka hanya sebatas teman. Pilihan kata itu sebenarnya Ray tidak terima saat Viona mengucapkannya, tapi harus bagaimana lagi kata teman yang bisa membuat Viona tidak canggung pada Ray.


"Besok ketemu di restoran seperti biasa ya" Ucap Ray.


"Aaa, Iya.. maaf ya Ray, masih jaga Ainun nih belajar bawa sepeda takut jatuh" Ucap Viona karena mengabaikan telepon dari Ray.

__ADS_1


"Gak masalah, aku menelepon hanya itu kok, by" Ucapnya mengakhiri telepon lalu ia matikan dan Viona pun kembali fokus kepada ponakannya.


__ADS_2