Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
48. Marah


__ADS_3

Viona memutuskan untuk masuk kamar, meskipun tidak ada tujuan tertentu ke kamarnya. Meninggalkan sang ponakan yang sedang main.


Viona menatap wajahnya di cermin, "masih muda kok" Viona membatin dalam hati sembari terus melihat pantulan wajannya.


Sudah berkali-kali Viona menghela napas dengan kasar mengingat ucapan ibunya dengan temannya tentang perjodohan. Ia kira hanya sebatas candaan ternyata ucapan itu serius malah sang ibu terang-terangan berkata didepan teman-temannya.


"Ya Allah, hati ini terukir satu nama" Viona membatin.


"Solusi terbaik meminta ke siapa ya?, Kakak gak mungkin secara mereka sangat mendukung perjodohan itu. Kak Rifal pasti sibuk kantor, kak Lea pasti sibuk dengan baby Hamzah" Ucap Viona seorang diri dalam kamar sambil mondar-mandir.


"Gimana ya sekarang baby Hamzah, jadi rindu" Ujar Viona lagi dan membuka ponselnya.


"Ada pesan dari Ray"


Viona membuka pesan tersebut dan seketika tersebut.


"Ray, jangan buat aku rindu dengan makanan itu" Balas Viona dan ia lanjut menelfon kakak iparnya.


Sementara disisi lain, Ray sudah dijalan balik bengkel saat Viona membalas pesannya. Karena menurutnya bahaya membuka pesan sedang berkendara dan jarang ditempuh sudah dekat dengan bengkel jadi Ray mengabaikan pesan tersebut.


Ray sampai bengkel, sebelum turun dari motornya terlebih dahulu membuka ponselnya.


"Balas juga, kirain diabaikan" Gumam Ray sembari jarinya menari diatas layar ponselnya itu.


"Ada menu baru" Balas Ray dan kembali memasukkan ponselnya dalam saku jaketnya.


Ray sudah dalam ruangannya tapi pesannya belum dibalas juga oleh Viona.


"Apa dia direstoran seafood itu?" Ray bertanya-tanya dalam hati.


Pikiran Ray menjelajah kemana-mana hanya karena pesannya belum dibalas. Sementara Viona asyik haha hihi dengan ponakan yang sudah bisa respon ucapan yang mengajaknya bicara meskipun hanya dengan suara tawanya. Tapi itu membuat Viona rindu dan gemas dengan ponakannya itu.


Dalam video call tersebut Viona meminta iparnya untuk balik rumah, selain rindu ia juga ingin curhat secara langsung sehingga bisa menyesuaikan dengan waktu iparnya yang tengah sibuk mengurus bayinya.


"Kak Lea, kapan balik?, Balik minggu ini yaa, please" Ucapnya Viona dengan wajah memohon.


"Belum bisa dek, ayah Hamzah masih ada kerja disini. Kalau udah selesai pasti langsung pulang kok"


"Kapan?" Tanya Viona sudah tidak sabar lagi.


"Belum tau, nanti aku tanya kalau ayah Hamzah pulang".


"Hmm, kak Rifal itu super sibuk. Kakak aku mau curhat. Mama menjodohkan aku, aku harus gimana?" Tanya Viona yang sudah tidak sabar menunggu pulang dirumah baru cerita.


"Apa, kapan?" Tanya balik Marcelea dengan kaget.


"Vio juga gak tau, tapi mama hari ini mereka bahas lagi dengan teman-temannya. Mana kak Yesi setuju asal agamanya bagus" Jelas Viona, "solusi kak, bingung ini" Lanjutnya


"Apa Ray sudah tau?"


"Belum, apa perlu saya kasih tau kak?" Tanya balik Viona pada iparnya itu.


"Saya takut nanti Ray akan kecewa untuk kedua kalinya dan jujur kakak gak sanggup lihat itu"


"Jadi harus gimana kak?, Vio bingung tidak ada tempat bertanya selain sama kakak" Viona mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya saat ini.


Viona mau bercerita kepada siapa lagi, Alan sangat tidak mungkin dan lebih-lebih ke Ray bukan mencari solusi melainkan membuat orang kecewa.


"Shalat istikharah dek, gak mungkin menunggu Ray yang sudah jelas-jelas tidak bisa bersama" Ucap Marcelea membuat Viona sedikit ada pencerahan dan solusi menurutnya.


"Baik kak, terima kasih. Aku tunggu Hamzah dirumah kak. Assalamualaikum" Ucap Viona dan mematikan sambungan telepon setelah kakak iparnya menjawab salamnya.


Viona sedikit lega setelah berbicara dengan kakak iparnya itu. Ia lanjut membuat pesan dari Ray.


"Bagus, berarti restorannya ada kemajuan dong setelah saya tidak berkunjung lagi disana" Balas Viona.


Ray hanya duduk diam dalam ruangannya itu mendengar ponselnya bunyi, ia dengan cepat meraihnya dan membuka pesan yang sudah lama ia tunggu.


"Iya harus kayak gitu" Balas Ray. Ia sebenarnya sedikit kesal karena Viona tidak mengerti maksud dari pesannya.


Viona yang masih stand by menunggu balasan Ray itu, tidak menunggu lama setelah masuk langsung ia baca.


"Benar" Balas Viona.


Ray yang kembali bunyi ponselnya, tanda pesan Viona. Ia langsung membukanya.


"Benar saja jawabnya" Ucap Ray sedikit malas.


"Perempuan seperti ini susah juga yaa" Batinnya.

__ADS_1


Ray kembali membalas pesan Viona itu.


"Mami menanyakanmu"


Ray terpaksa membahas Maminya karena ia yakin Viona tidak akan membalas pesannya kalau tidak penting.


Dan benar adanya, seketika Viona langsung menelpon.


"Ada apa?" Tanya Ray to the point dalam telepon itu, meskipun hatinya sangat senang mendengar suara Viona, ia rindu dengan suara itu.


"Benar Ray, Mami menanyakan aku?"


"Iya, masa aku bohong. Katanya mau ke Indonesia"


"Terus?" Tanya Viona penasaran. Apa hubungannya dirinya dengan pulangnya orang tua Ray ke Indonesia.


"Mami pengen ketemu kamu"


Viona mendengar itu seketika diam, "apa saatnya aku beritahu Ray tentang perjodohan aku tapi aku juga tidak tau siapa laki-laki yang mama jodohkan dengan aku, tidak jadi" Viona membatin.


"Viona, kok diam?" Tanya Ray.


"Biasa memikirkan hidup. Percaya tidak, dengan kalimat setiap pertemuan pasti ada perpisahan?" Tanya Viona ingin tau jawaban Ray.


"Iya, saya percaya. Emang kenapa? Pasti semua orang percaya dengan kalimat itu bukan hanya aku" Jelas Ray dalam telepon.


"Iya, benar.." Jawab Viona dan sedikit menjeda ucapannya, "berarti siap dong jika sewaktu-waktu orang yang kita cintai itu pergi"


"Mungkin dibibir berkata siap tapi kalau hati belum tentu, tidak ada orang yang siap kehilangan orang yang dia cintai"


"Tapi setiap pertemuan pasti ada perpisahan, disini tidak mengatakan kalau pertemuan itu sesuai rencana kita dan berpisah saat kita benar-benar ikhlas melepaskan"


"Apaan sih Vio. Gak mau bahas perpisahan"


"Ray, semua orang pasti berpisah dengan orang yang dicintainya, entah itu siap atau tidak" Jelas Viona lagi dan lagi-lagi Ray tidak mengerti dengan ucapan Viona.


"Aku tau, tapi kalau itu terjadi dalam hidupku jujur aku belum siap. Jadi please jangan bahas lagi itu"


"Aku mengerti.. Ray seandainya aku tiba-tiba menghilang, gimana?" Tanya Viona.


"Kemana?"


"Ngawur kamu, saat itu aku pastikan kita jalan berdua" Jawab Ray dengan penuh percaya diri lalu ia diam, "Vio, izinkan aku ke rumahmu" Sambungnya.


"Ray, jika itu mau mu. Boleh kita bertemu sebelum datang?" Tanya Viona dengan serius.


"Boleh, kapan?, dimana?, Sekarang juga boleh" Ray sangat semangat mendengar Viona mengajaknya ketemuan karena selama memutuskan untuk berhijab jangannya ketemuan pesan saja dibalas seperlunya.


"Sore, gimana?" Tanya Viona.


"Ok, dimana? Apa yang aku harus bawa supaya kamu senang?" Tanya Ray lagi begitu antusias.


"Gak perlu Ray, cukup datang itu membuat aku sudah senang"


"Inilah salah satu yang membuat aku takut Vio, caramu ini membuat laki-laki diluaran sana akan jatuh cinta. Untung aku gercep, bercanda.. hehehe"


"Iya, sudah dulu ya, by"


"By"


🌺


Sesuai janji, Viona dan Ray akan bertemu dan tempat Viona sendiri yang tentukan.


Viona mengirimkan alamat restoran Ahmad kepada Ray setelah sampai direstoran seafood itu.


"Mad, pasti tau Ray kan?" Tanya Viona kepada Ahmad.


Ahmad yang biasanya datang sembunyi-sembunyi kalau ada Viona sekarang santai seperti biasa. Memang jujur memudahkan urusan.


"Tau, kenapa?"


"Dia dijalan menuju restoran ini"


"Oh, janjian dengan dia?"


"Iya, masa Mama aku jodohkan aku dengan ponakannya Mad" adu Viona kepada Ahmad.


"Oh, jadi ajak Ray disini subaya kamu bisa kawin lari?"

__ADS_1


Viona membulat matanya mendengar ucapan sahabatnya itu. Seketika sendok es krim melayang dilengan Ahmad.


"Gak terasa ini" Ujar Viona.


"Mbak, bawakan aku sendok nasi ya" Minta Viona pada pelayan restoran itu.


"Jangan, aku bos disini" Ucap Ahmad dengan cepat kepada waiternya.


"Astaghfirullah Mad, kok bisa berpikiran kayak gitu. Jujur aku gak mau dijodoh-jodohkan itu, untung ganteng kalau bapak-bapak beruban gimana?" Tanya Viona.


"Gak gitu juga kali, gak terima aku dibilangkan kayak gitu" Jawab Ahmad seketika.


"Santai aja kali" Jawab Viona dan setelah melihat kearah depan terlihat disana Ray masuk dengan santai sambil mencari keberadaan Viona.


Viona mengangkat tangannya dan Ahmad langsung memukul tangan Viona agar ia turunkan lalu memanggil waiter.


"Tolong arahkan laki-laki itu ke meja ini" Perintah Ahmad dan waiter tersebut langsung menjalankan perintah dari bos dan akhirnya Ray ikut gabung.


"Maaf sudah lama nunggu?" Tanya Ray sembari senyum.


"Belum juga" jawab Viona dan Ahmad tidak diajak cerita.


Ahmad sekali-kali menimpali ucapan keduanya. Ia tidak ingin meninggalkan tempat itu sebelum pembicaraan Ray dan Viona selesai. Ia seakan penasaran.


"Mad, dengar-dengar saja ya" Ucap Viona kepada Ahmad dan Ahmad hanya mengangguk lalu mempersilahkan Viona dan Ray untuk lanjut cerita sedangkan dirinya sibuk dengan ponselnya tapi telinganya aktif dipembicaraan Viona dan Ray.


Ray terlihat sangat serius kali ini, dari tatapannya ke Viona seakan mengungkapkan sesuatu. Ia terlebih dahulu menarik kursinya agar lebih dekat dengan Viona.


"Vio, aku serius dengan kamu" Ucapnya sembari membuka kotak cincin yang ia bawa.


"Ini cincin sudah lama aku beli, dan hari ini aku memberanikan diri"


"Sahabat kamu sebagai saksinya, tolong diterima" Ungkap Ray dengan sungguh-sungguh.


"Aku tadi sebenarnya ingin membawa bunga juga tapi malu" Ujar Ray lagi, "tapi kalau kamu suka nanti aku beli sekarang" Lanjutnya.


Ahmad melihat itu terkejut, tidak menyangka kalau Ray datang membawa cincin. Ia menoleh kearah lain, tidak mau menyaksikan Viona menerima cincin itu tapi tetap hatinya tidak bisa.


"Vio, aku harus pergi" Pamit Ahmad lalu pergi tanpa menunggu jawaban Viona.


"Lho" Viona heran.


Kepergian Ahmad itu bukan tanpa alasan, ia tidak bisa menyaksikan semuanya tepat depan matanya sendiri. Menjauh lebih baik. Ia memilih kursi yang sedikit jauh dari Viona dan Ray. Memantau itu yang ia lakukan.


Sementara Viona malah menutup kembali kotak cincin itu dan mendorong pelan kearah Ray.


"Ray, aku tidak bisa menerima cincin itu" tolaknya dengan halus.


"Kenapa, bukan kita sudah saling tau kalau kita saling mencintai, lalu kenapa tidak menerima cincin ini?" Tanya Ray.


Ray tidak menyangka kalau saat ini cintanya ditolak oleh orang yang ia cinta dan mencintainya.


"Maafkan aku Ray, kita berbeda dan perbedaan itu yang membuat aku seperti ini" Jelas Viona.


"Aku tau, tapi kita bisa berjuang Vio. Ken.. kenapa kau menolak cintaku seperti ini saat hatiku mantan memilih mu" Ucapan itu keluar bersamaan dengan air matanya.


Viona menunduk diam, rasa perih di dadanya mendengar kalimat itu. Ia tidak bermaksud untuk menyakiti siapapun terkhusus Ray orang yang ia cintai juga.


"Ray, maaf kan aku"


"Kamu begitu mudah minta maaf Vio tanpa memikirkan bagaimana perasaan ku saat ini"


"Bukankah tadi kita sudah bahas, setiap pertemuan pasti ada perpisahan, siap dengan tidak itu pasti terjadi" Jelas Viona.


Ray membangunkan wajahnya yang tertunduk tadi, "jadi maksudnya ini?"


Viona menganggukkan kepala dengan air mata yang tidak bisa ia bendung lagi dan akhirnya jatuh.


Ray mengeluarkan sapu tangannya dan memberikan kepada Viona.


"Hapuslah air matamu, aku tidak mau melihatmu menjatuhkan air mata"


"Ray, carilah yang lain. Yang sejalan dengan kamu" Permintaan Viona itu membuat Ray tersulut emosi.


Ray menahan emosinya dengan nada bergetar, "Aku hanya mencintaimu Vio, ingat itu" Ucapnya lalu pergi meninggalkan cincin diatas meja begitu saja.


Viona mengikuti Ray dan sekilas menoleh kearah Ahmad, Ahmad malah pura-pura melihat ponselnya.


"Ray, cincinnya ini" Teriak Viona setelah sampai parkiran motor.

__ADS_1


Ray yang sudah diatas motor dan sudah memakai helmnya tanpa menjawab ucapan Viona langsung menancap gas, seketika hilang dari pandangan Viona.


__ADS_2