Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
23. Memutuskan untuk berhijab


__ADS_3

Ray dan Alan janjian untuk olahraga pagi di taman dekat komplek apartemen Alan. Kesehatan fisik penting itu yang diterapkan Alan saat ini.


"Lan, apa harus sepagi ini?" Tanya Ray yang baru sampai ambang pintu apartemen sahabatnya itu.


"Yoi" Jawabnya sembari mengambil ponselnya dalam kamar.


"Jam 7 baru mulai" Ujar Ray masih mengantuk tapi karena janjian dari minggu lalu jam 6 pagi jadi ia paksaan untuk datang.


"Justru sekarang lebih bagus" Ucap Alan.


"Tumben rajin, dulu bangun shalat saja susah" Ejek Ray membuat Alan meliriknya sesaat lalu jalan melewati Ray.


"Cepaaat" Teriak Alan yang sudah jauh dari Ray.


"Dasar, tunggu" Teriak Ray sembari ia lari kecil mengejar Alan.


Tidak membutuhkan waktu lama keduanya sampai taman tempat dimana mereka akan olahraga pagi ini. Lari-lari lalu melakukan pemasangan.


Ray langsung berhenti pemanasan, "Lan, jangan bilang... Sudahlah aku selesaikan pemanasan baru pulang" Ucapnya ia tahu kalau Alan ini mengikuti zumba yang sering diadakan seminggu sekali.


"Itu bukan untuk ibu-ibu?" Tanya Ray, "makin tidak benar ini anak" Sambungnya meninggalkan Alan.


Ray pergi dan Alan langsung lari mengejarnya. Sebenarnya Alan tidak ikut zumba hanya pemanasannya dekat dengan tempat dimana orang sering zumba. Tapi karena tidak ada penjelasan sebelumnya, jadi Ray salah paham.


"Bro, datang sama-sama pulangnya juga harus" Ujar Alan dengan napas ngos-ngosan.


"Aku gak segila kamu Lan" Ucap Ray sembari masuk dalam mobil.


Alan dengan cepat masuk dalam mobil lalu minuman.


"Habis ini kita kemana?" Tanya Alan santai.


"Urus kerjaanmu Lan. Hidupmu terlalu santai, mau makan apa nanti anak dan istrimu" Ray menasehati sahabatnya.


"Aku sudah resign Lan"


"Astaga, kenapa bisa?" Tanya Ray penasaran.


"Aku memutuskan untuk buka usaha sendiri, capek jadi anak buah mending jadi bos tinggal angkat kaki" Ucap Alan membayangkan dirinya jadi bos.


"Justru jadi bos itu berat tanggung jawabnya. Memang mau buka usaha bergerak di bidang apa?" Tanya Ray penasaran sembari mengemudi mobilnya menuju apartemen Alan.


"Nanti aku pikirkan dulu, tapi siapa yang jadi karyawannya?" Alan bertanya-tanya sembari berpikir, seketika mengingatkan Viona yang mencari kerja, "apa Viona sudah dapat kerja sekarang" Gumamnya.


"Eh, apa maksudmu?"


"Jangan salah paham, aku rekrut Viona itu biar lebih gampang kamu ketemu, gimana?" Tanya Alan.


Ray menatap sahabatnya itu sekilas lalu ia senyum seketika, "ternyata otakmu encer bro" Ucapnya sembari menepuk pundak Alan dengan satu tangan.


"Makanya jangan berpikir tidak-tidak sama sahabat sendiri. Aku ikhlas kok, tapi jika kamu sakiti dia, aku lawanmu. Aku bahagia jika Viona bahagia" Ucap Alan, "sudah sampai, mau masuk dulu atau langsung pulang?" Tanya Alan kepada Ray setelah keluar dari mobil.


"Sepertinya aku langsung pulang lan" Ucap Ray langsung memutar mobilnya menuju jalanan besar.


Alan masuk apartemen dan Ray melanjutkan perjalanan sampai rumahnya. Ray membersihkan badan terlebih dahulu lalu berpakaian santai dalam rumah dengan membaca buku.


"Bosan juga dalam rumah sendiri, mending keluar" Ucap Ray dalam hati lalu mengambil kunci mobil yang ia sendiri belum tau kemana tujuannya pergi.


Hari minggu merupakan hari berharga bagi pegawai kantor karena bisa bersantai ria dirumah seharian tanpa mengingat pekerjaan.

__ADS_1


Dengan pakai celana jins baju kaos putih dan tidak lupa memakai topi hitam dan jam tangan. Itulah style Ray hari ini.


Ray memutuskan untuk masuk Mall hanya untuk menghilangkan rasa bosan. Keliling Mall tiba-tiba perutnya bunyi dan baru sadar ternyata hari ini belum sarapan dan sekarang sudah masuk waktu makan siang. Ia memutuskan untuk masuk restoran Mall tersebut.


🌺


Viona dan Yesi serta Ainun siap-siap ke Mall belanja keperluan Viona. Setelah mendengar nasehat Yesi, ibunya dan kakak iparnya membuat Viona sadar dan mantap untuk berhijab.


"Sudah siap Vio?" Tanya Yesi dibalik pintu kamar adiknya itu.


"Bentar lagi selesai, masuk aja kak gak dikunci" teriak Viona.


Yesi dan Ainun masuk dalam kamar Viona, seketika Ainun mengambil mainan yang ia simpan dalam kamar Viona.


"Ibu ini mainan dikasih sama om baik" Ucapnya.


"Om baik siapa?" Tanya Yesi penasaran.


"Om baik yang sudak kasih Ainun mainan, tapi Ainun sering kasih kembali kok" Ujarnya lagi.


"Terus ini?" Tunjuk Yesi yang ada ditangan putrinya itu.


"Lupa ibu, hehehe" Jawab Ainun.


Yesi tidak mungkin bertanya lebih kepada Ainun, ia menunggu Viona mengambil kerudung ibunya untuk ia pakai. Yesi menawarkan kerudung tapi kata Viona lebih panjang kerudung ibunya.


"Taraaaa" Ucap Viona memperlihatkan penampilannya kepada Yesi dan Ainun.


Ainun melihat Viona sembari memujinya, "waaahhh, bibi cantik" Pujinya dan Viona seketika menghampiri ponakannya itu.


"Lebih cantik siapa, ibu atau bibi?" Tanya Viona, "nanti aku belikan eskrim, di Mall itu banyak eskrim yang enak" Sambungnya membuat Ainun melihat ibu dan bibinya silih berganti.


"Ibu dong, ibukan yang kasih Ainun uang nanti uangnya belikan eskrim" Jawab Ainun membuat Yesi ketawa seketika.


Sampai Mall Viona jalan beriringan dengan Yesi sedang Ainun berada didepan mereka. Pertama toko hijab, semua size kerudung ada. Karena Viona belum pernah belanja pakaian syar'i sebelumnya, maka ia memutuskan Yesi yang carikan.


"Mbak kerudung ukuran jumbo ada?" Tanya Yesi dan seketika Viona menoleh kearah Yesi.


"What? Jumbo seperti apa dulu itu kak, Jangan-jangan sampa betis tuh"


"Bukan, ini ukuran 150cm. Seperti yang kamu pakai saat ini" Jelas Yesi dan Viona mengangguk mau.


Setelah membeli beberapa kerudung lanjut di toko gamis.


"Kak Yesi apa harus gamis juga?" Tanya Viona.


"Iya, gamis lebih cocok. Dek aku tau kamu cantik maka tutup kecantikan mu itu dengan sempurna" Ucap Yesi dengan lembut.


"Tapi menutup tidak mesti gamis kak, kan bisa baju tunik baru pakai rok" jawab Viona dan kali ini dirinya belum siap jika pakai gamis.


"Oke" Jawab Yesi dan membawa Viona ditoko pakaian muslimah dan disana ada baju tunik dan rok juga.


Yesi mengambil beberapa gamis, baju tunik dan rok lalu menyuruh Viona coba terlebih dahulu sebelum dibawa ke kasir.


"Nih, coba dulu kakak tunggu disini" Ujar Yesi


"Ok" Jawab Viona menerima pakaian itu lalu keruang ganti yang telah disediakan toko tersebut.


Viona mencoba gamis lebih dulu, rasa penasaran dalam hatinya setelah melihat gamis silver itu. Ia keluar minta pendapat kakaknya.

__ADS_1


"Masyaallah dek, cocok untuk kamu. Coba pakai yang lain!" Ucap Yesi dan Viona kembali keruang ganti lagi.


Sekarang Viona memakai model baju tunik dikombinasikan dengan rok, dan Viona berharap ini yang paling bagus dan cocok untuk dirinya.


Yesi melihat itu, "kurang cocok dek, lebih bagus gamis" pendapat Yesi.


Viona masih belum percaya, ia mencoba tanya Ainun. Biasanya anak kecil paling jujur jawabannya.


"Sayang, bagus gak pakai ini?" Tanya Viona dengan harapan jawaban Ainun sependapat dengannya.


"Bibi lebih cantik pakai gamis" Jawaban itu membuat Viona melemah dan seketika semangat lagi.


"Yang terpenting nyaman dulu" Ucap Viona dan kembali dalam ruang ganti mengambil semua baju yang ia coba tadi.


Viona sudah memutuskan untuk memakai potongan saja. Meskipun demikian, Viona tidak lupa melihat harga pakaian itu dan seketika matanya membulat.


"Lebih mahal baju dan rok ketimbang satu gamis?" Batinnya dalam hati.


"Fix potongan yaa" Ucap Yesi dan menuju khusus baju tunik dan rok mengambil beberapa potongan untuk adiknya itu.


Viona masih berpikir dengan harga yang ia lihat tadi, tidak enak hati itu yang ada dalam hatinya saat ini.


"Aku coba pakai gamis saja ah" Gumam Viona lalu menghampiri kakaknya, "kak gamis saja" sambungnya setelah berada disamping Yesi.


Yesi tidak menyangka, "serius dek?" Tanyanya masih tidak percaya.


"Iya" Jawab Viona dan mengambil beberapa gamis dengan berbagai warna dan model lalu membawanya di kasir.


"Masyaallah dek, semoga istikomah yaa" Ucap Yesi seneng tanpa memperhatikan gamis yang ia ambil adiknya itu.


"Model apa ini?" Tanya Yesi setelah pegawai kasir itu membuka hanger gamis yang Viona bawa.


Mata Yesi terbelalak melihat warna yang dipilih Viona yaitu warna terang semua dan yang paling Yesi heran modelnya tidak karuan.


"Ini mau konser atau gimana Vio, bisa diganti mbak?" Tanya Yesi kepada pegawainya.


"Bisa, gamis apa saja yang ditukar atau dikembalikan bu?"


"Semuanya mbak" Jawab Yesi dan menoleh kearah Viona tepat berada disampingnya, "dek jaga Ainun" sambungnya.


Yesi kembali mencari gamis yang menurutnya cocok untuk Viona. Waktu yang dibutuhkan hanya untuk belanja gamis setengah jam.


Setelah mereka belanja, Yesi meyuruh adiknya itu membawa belanjaan dimobil lalu kembali di restoran Mall. Ia sudah kangen dengan salah satu makanan favoritnya di Mall itu.


Viona langsung membawa semua paper bag dan memasukkannya dalam mobil lalu kembali masuk Mall menuju restoran.


Dipintu restoran, ia berpapasan dengan Ray. Ia kaget begitupun dengan Ray.


"Viona" Panggilnya sedikit kaget.


"Iya, aku" Jawab Viona dengan senyum seadanya.


"Sejak kapan?" Tanya Ray dan Viona mengerutkan kening bingung.


"Maksud aku sejak kapan berpakaian seperti ini?" Tanya Ray lagi yang masih berdiri pintu keluar restoran itu.


"Oh, ini baru" Jawab Viona lagi singkat, "aku masuk dulu, kakak aku sudah menunggu didalam" Sambung Viona kepada Ray.


"Oh, iya. Silahkan" Jawab Ray lalu menggeserkan badannya agar Viona masuk dalam restoran itu.

__ADS_1


Viona melanjutkan masuk dan mencari meja kakaknya sedangkan Ray masih menatap Viona dari arah pintu keluar.


"Kenapa dia tambah cantik setelah mengenakan jilbab" Gumamnya lalu pergi meninggalkan restoran.


__ADS_2