
"Viona kamu tidak apa-apa?" Tanyanya dengan panik.
Viona melihat Ahmad yang panik langsung menyuruhnya duduk terlebih dahulu.
"Alhamdulillah, aku ditolong Ray dan Alan tadi, tapi tau dari mana ada...?" Tanya Viona tiba-tiba dipotong oleh Ahmad.
"Itu gak penting, tapi kamu kenal gak orangnya?" Tanya Ahmad lagi.
Viona menggelengkan kepala. Entah kenapa perasaan Ahmad selalu tertuju pada sahabat baru Viona yang bernama Gebi dan seorang laki-laki yang pernah datang di restorannya waktu itu.
"Besar tinggi orangnya?" Tanya Ahmad.
"Iya"
"Siapa lagi kalau bukan laki-laki itu, sebelumnya Viona tidak pernah mengalami kejadian seperti ini, dijalan dan butik tidak aman lagi bagi Viona untuk keluar seorang diri" Batin Ahmad.
"Maaf aku ganggu, sepertinya aku harus pulang" Pamit Ray kepada Viona dan Ahmad.
"Kok cepat" Viona sedikit protes kepada Ray dengan tatapan memelas.
Ahmad yang melihatnya tidak suka.
"Kenapa sama aku ngegas mulu kerjanya, paling berubah kecuali minta eskrim. Ini tidak adil" Batin Ahmad.
"Viona, mama kamu tau kejadian ini?" Tanya Ahmad sengaja dengan suara sedikit tegas dan dingin.
Viona langsung ingat pesan ibunya sebelum ke butik.
"Jangan bilang ke mama Vio, bahaya" Ujarnya.
"Oh, kenapa bisa bahaya?"
"Bahaya aja, takut mama khawatir" Jelas Viona lagi.
Ahmad hanya menaikkan sebelah alisnya lalu ia bangkit dari kursinya keliling dalam butik periksa keadaan butik itu.
"Pekerjaan bagus" Gumam Ahmad seorang diri.
"Ray, kamu udah janji kita makan direstoran" Viona mengingatkan Ray.
Ray senyum agar terlihat baik-baik saja.
"Mana mungkin aku lupa Vio, nanti kita pergi" Jawabnya lalu ia pergi.
🌺
Viona sudah siap akan menghadiri undangan Mami Ray. Ia tidak ingin merepotkan Ahmad, jadi ia pergi diam-diam begitupun sama ibunya sendiri, izin lewat pesan.
Sesampainya dialamat yang tertera dalam undangan itu. Ia merasa begitu asing. Dalam gedung itu semua berpakaian rapi seperti ada acara penting. Dekorasinya seakan ada acara sakral disana.
"Viona ya?" Tanya pelayan.
"Iya" Jawab Viona sembari senyum ramah.
"Disini mbak" kata pelayan itu dan Viona nurut saja sama arahan itu.
Viona duduk sudah lumayan lama, tapi acaranya belum mulai juga. Ia mengambil segelas air mineral lalu ia minum sampai tandas. Memang Viona tidak ada elegan-elegannya berada diacara itu.
"Nyesal aku gak kasih tau Ahmad, diakan BFF aku" Batinnya.
"Hi Viona, datang sendiri?" Tanya Gebi dengan ramah.
"Iya, di undangan kan sendiri gak ada tulisannya partner" Jujur Viona.
"Waow, anda jujur sekali nona" Timpal seorang laki-laki dari arah belakang Gebi.
"Siapa tu geb?" Tanya Viona.
"Gak kenal, abaikan saja. Gimana kalau kita minum disana?" Tawar Gebi sambil menunjuk sudut ruangan yang lumayan sepi.
"Disini aja geb" tolak Viona dengan lembut.
"Sepertinya acaranya masih lama dimulai, ikut aku saja" bujuk Gebi membuat Viona tidak enak untuk menolak.
Viona pun duduk berhadapan dengan Gebi. Gebi memanggil pelayan.
"1 botol mbak" mintanya sambil mengangkat satu jarinya, "dua gelas" Lanjutnya.
Viona tidak curiga sama sekali.
Pelayan pergi dan kembali setelah 5 menit kemudian.
Mata Viona membulat melihat botol anggur didepannya itu serta dua gelas yang sudah tersedia.
Gebi menuangkan anggur tersebut dalam gelas Viona. Viona seketika menutup hidungnya, entah kenapa bau alkohol itu ia tidak bisa, sakit kepada mendadak mual.
"Halo Vio, aku cari-cari ternyata kamu disini" Ujar Gladis sambil memainkan alisnya tanda kode kepada Gebi.
"Geb, aku pamit pulang ya" Pamit Viona, ia tidak sanggup, apalagi Gladis dengan sengaja mendekatkan gelas anggurnya kearah Viona.
"Jangan dong Vi, ini acaranya belum dimulai. Gak nyaman disini ya?" Tanya Gladis sok peduli.
Gladis kembali mendekatkan gelas minumannya itu depan Viona. Seketika tangan Viona menahan gelas itu dan mendorongnya agar jauh darinya.
"Please Gladis, jauhkan aku dengan alkohol itu. Maaf jika tersinggung, tapi aku gak bisa dengan baunya" Tutur Viona yang begitu lembut dan sopan, tapi tidak berpengaruh bagi Gladis.
"Lagian apa bisa ada alkohol di acara seperti ini? Aneh, kalau mabuk gimana? Apa acaranya tetap berjalan dengan lancar?" Pertanyaan demi pertanyaan di kepala Viona.
Gebi sebenarnya merasa tidak enak mendengar kalimat itu keluar dari bibir Viona, tapi mau bagaimana Gladis ada disitu.
"Aku sebenarnya kasian sama Viona, tapi mesin ATM kita ada disini" Ujar Gebi kepada teman laki-lakinya.
"Dirasuki malaikat?" Tanyanya membuat Gebi menatapnya tajam.
__ADS_1
"Emang kamu gak dengar kata-katanya?, Jujur aku tersentuh dengan ucapannya" Tanya balik Gebi.
"Dengar, tapi kalau kita gagal aku rugi dobel" Ujarnya lagi sambil minum.
Gebi dan sahabat cowoknya itu duduk sedikit jauh dari Gladis dan Viona, sengaja mengambil jarak agar pembicaraan keduanya tidak didengar oleh orang lain.
"Rugi dobel gimana?" Penasaran Gebi kepada sahabat laki-lakinya itu.
"Uang dan kesenangan" Jawabnya sembari mengeluarkan sebatang rokok.
Gebi seketika mengambil rokok itu lalu ia patahkan, "ini bukan club yang bisa merokok dan minum, liat suasana. Kalau mau ngerokok diluar bukan disini. Tapi tunggu dulu, maksud dari kalimat mu ini gimana?, soalnya si banteng itu gak bisa datang disini, takutnya Viona mengenalinya" Ujar Gebi panjang lebar dengan mata memantau Viona dan Gladis.
"Gladis nawarin aku selesai ini ke hotel, asal berhasil rencananya malam ini" Ujarnya membuat Gebi geleng kepala tidak percaya.
"Jujur aku gak percaya, kenapa bahasa seperti ini selalu aku dengar antara kamu dan si banteng, dia itu bos sekaligus teman kita lho"
"Mana ada kucing disodorkan ikan akan dilihat begitu saja. Benar gak?" Tanyanya balik.
"Terserah kalian" Jawab Gebi malas.
🌺
Ray dibuat bingung oleh orang tuanya terutama Maminya, sedangkan Papinya nurut saja dari pada debat.
"Pakai setelan jaz ini sayang" Ujar Maminya memberikan jaz warna navy dengan kemeja warna putih.
"Harus pakai jaz, ini acara formal atau gimana?" Tanya Ray penasaran.
Acara yang diadakan Mami Ray dan Gladis ini ia tidak tahu menahu.
"Pakai saja, udah telat ini" Ujarnya sambil melihat jam dipergelangan tangannya.
"Mami tunggu didepan ya" Pamitnya lalu meninggalkan kamar putranya itu.
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka berangkat menggunakan satu mobil sesuai permintaan sang ratu dalam rumah yaitu Mami Ray.
Sesampainya di gedung itu Ray hanya mengikuti orang tuanya masuk didalam, saling sapa dengan para kolega bisnis Papinya.
"Ini ada apa?" Ray bertanya-tanya dalam hati.
Matanya menyusuri setiap sudut ruangan itu. Matanya tertuju pada Gladis dan Viona sedang berbincang, Ray tidak membuang-buang waktu langsung menghampiri keduanya.
"Viona!" Panggil Ray.
"Iya, gak perlu panggil kalau udah kenal tinggal tegur aja" Respon Viona sembari memijit kepalanya yang sakit.
"Kamu kenapa?" Tanya Ray panik.
"Katanya gak bisa cium bau alkohol" Kali ini Gladis yang bersuara.
"Disini gak ada alkohol" Ucap Ray lagi.
"Benar kata Ray" Timpal Gladis membenarkan, "makanya aku temanin dia dari tadi disini, soalnya gak ada temannya disini. Gak cocok dia ditempat seperti ini, terlalu mewah buatnya" Ucapan demi ucapan ia keluarkan membuat Viona panas mendengarnya, seakan dirinya tidak pernah ketempat mewah.
"Hanya sebatas itu kualitasmu, suka merendahkan orang?"
Ray yang awalnya jengkel dengan ucapan Gladis, seketika berubah menjadi senyum lucu yang ia sembunyikan. Sedangkan Gladis malah tersulut emosi.
"Kurang ajar lu ya, tidak ada terima kasihnya udah di temanin disini dari tadi" Gladis menggebu-gebu mengatakan itu dengan harapan Ray bisa simpatik padanya.
Setelah mengatakan itu Gladis langsung diam "mati aku, mana ada Ray lagi" batinnya lagi.
"Oh, seperti ini. Kirain sudah berubah ternyata masih sama" Ucap Ray lalu menarik tangan Viona menjauh dari Gladis.
"Kepala aku ini pening Ray, bilang dong kalau mau tarik tangan aku"
Ray mengabaikan ucapan Viona, yang terpenting menjauh dari Gladis. Ia duduk tepat diseberang meja depan Viona. Keduanya diam.
"Siapa yang undang kamu kesini?" Tanya Ray memecah keheningan itu.
"Mami kamu"
"Emang isi undangannya apa?"
"Lupa, hehehe"
"Apa ada hubungannya dengan aku?" Ray masih mencoba bertanya kepada Viona.
"Lupa Ray" jawab Viona lagi.
Ray tidak bertanya lagi kepada Viona, ia memilih untuk menunggu acara dimulai yang terpenting Viona bersamanya.
Entah dipersiapkan sejak kapan, latar depan tepat diatas panggung itu seketika tersorot lampu dan pencahayaan dalam gedung itu dikurangi sehingga sangat jelas foto Ray dan Gladis bermunculan, mulai foto mereka dari SMA, kuliah bahkan dibengkel Ray pun ada.
Viona pun ikut memperhatikan foto-foto itu, ada rasa sakit dihatinya. Sedangkan Ray kaget dengan foto-foto itu.
"Foto-foto itu diambil dimana, perasaan aku sudah hapus" lirih Ray.
"Oh Gladis sering ke bengkel juga" Batin Viona.
"Fotonya bagus yaa" Puji Viona sembari senyum getir.
"Dibengkel, sejak kapan aku sedekat itu dengan Gladis setelah putus" Ray hanya mampu protes dalam hati.
"Ada yang tidak beres nih" Lanjut Ray. Ia hendak pergi tiba-tiba ingat Viona akan sendiri ditempat, ia pun kembali duduk.
Viona tidak mengalihkan pandanganya ketempat lain, matanya hanya fokus difoto-foto yang terus ditampilkan.
"Sangat memanjakan mata" Puji Viona.
Seketika matanya diliputi air bening yang kapan saja akan turun, ia menoleh ketempat lain sembari membuang napas kasar.
"Ini" Ujar Ray memberikan selembar tisu. Ternyata Ray tau kalau Viona menangis. Pantauan itu tidak putus dari matanya.
__ADS_1
Awalnya Viona tegar, ia tidak ingin terlihat lemah hanya karena foto-foto tersebut. Namun, pertahanan itu luruh seketika setelah melihat tisu didepannya. Ia menatap Ray sejenak.
"Makasih Ray" Ucapnya hampir tidak terdengar.
"Ok kan?"
Ray memastikan orang yang dicintainya itu. Viona mengangguk sembari senyum menahan luka hati.
"Aku..." Jawabnya terhenti, seakan kata-kata yang akan keluar tertahan di tenggorokan, ia diam sejenak.
Viona ingin teriak saat ini bahwa hatinya sedang tidak baik-baik saja tapi apa itu bisa merubah semuanya.
"Viona jujur.. please" Dengan nada memohon. Ia tau kalau Viona saat ini tidak baik-baik saja hanya ia ingin dengar langsung dari bibir Viona.
Viona kembali menatap keatas agar air matanya tidak jatuh sembari menghela napas. Ia tersenyum getir.
"Aku.." Ulang Viona dan seketika air matanya jatuh bersamaan setelah tatapannya bertemu dengan mata Ray.
"Aku antar pulang ya. Eh maaf aku hampir lupa, suami kamu mana?".
"Aku belum menikah Ray, kamu selalu menyebut suami, suami dan suami. Pusing tau kepala aku"
Kali ini Viona ingin teriak jika dia tidak berada dalam gedung ini, dadanya sesak air matanya sudah tidak mampu ia bendung lagi, akhirnya jatuh dengan suka rela untuk kedua kalinya hanya dalam hitungan menit.
Ia keluar dari gedung itu menuju tempat terbuka untuk menghirup udara segar. Angin malam seakan bersahabat dengannya, sembari menatap langit penuh bintang.
"Kok kamu beruntung, aku iri padamu" gumam Viona sembari menertawai dirinya sendiri yang begitu mudahnya menangis hanya karena seorang laki-laki.
"Bintangnya banyak yaa" Ucap seseorang disamping Viona.
Viona seketika menoleh mendengar suara itu. Ia melihat wajah perempuan tersebut baginya tidak asing, tapi ketemunya dimana. Ia lupa.
"Seperti aku dejavu" Batin Viona.
"Kamu Viona kan?" Tanyanya lagi.
Kali ini Viona menatap lama wajah perempuan itu sembari mengingat wajahnya, tapi lagi-lagi ia tidak mengingat apa-apa.
"Kenal aku?" Tanya Viona sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, apa kabar?"
"Baik. Maaf ni kenalnya dimana ya?" Tanya Viona hati-hati, takut nanti orang tersebut tersinggung.
"Di butik, masa lupa. Oh iya aku Ina" memperkenalkan diri.
"Oh Ina, terima kasih untuk hari itu di butik" Ujar Viona.
Cerita keduanya berlanjut nyaris lupa waktu kalau mereka sedang disebuah acara.
"Apa acaranya sudah selesai?, Soalnya kamu disini sudah lumayan lama" Ujar viona tiba-tiba setelah mengingat dimana mereka saat ini.
"Sepertinya sedang berlangsung" Jawan Ina, "yuk kita masuk dalam" lanjutnya mengajak Viona.
"Aku lebih nyaman disini, masuk aja didalam gak enak sama yang lain" Viona mempersilahkan Ina.
"Yakin gak mau masuk?" Ina memastikan. Ia disini ditugaskan untuk menjaga Viona.
"Disini itu gak aman, mending ikut aku saja" Tawarnya lagi.
Viona tersenyum mendengar kalimat dari orang yang ia baru kenal, ini kali pertama ada perempuan yang khawatir tentang dirinya selain keluarganya sendiri.
"Justru saya didalam aku gak aman" Jawab Viona dengan senyum terpaksa seakan menggambarkan ada luka disana.
"Lebih tepat hati yang tidak aman disana" Lanjutnya dalam hati.
Ina tidak memiliki skill membujuk, ia diam sejenak memikirkan cara lalu berjalan kebelakang Viona dan memegang pundak Viona lalu ia dorong pelan kedepan agar Viona mau bergerak dan jalan masuk dalam gedung.
"Ini orang berani dan seakan sudah kenal lama" Batin Viona, namun karena tingkah Ina itu Viona dapat tertawa lepas, ia merasa terhibur.
"Hahaha, baru kali ini lho aku seperti ini" Jujur Viona.
"Oh iya" jawabnya sembari menuntun Viona, untungnya tinggi mereka tidak jauh beda.
Kelakuan itu membuat para tamu heran dan sempat jadi pusat perhatian.
"Malu" Ujar Viona sambil memukul-mukul pelan tangan Ina yang berada dipundaknya.
"Ok, kesana" Tunjuknya.
Viona dan Ina duduk sambil menikmati suguhan lagu diatas panggung dan para undangan sedang menikmati makanan yang sudah disediakan. Disela-sela itu pemilik acara itu yaitu orang tua Ray naik diatas panggung dengan mikrofonnya.
"Mohon perhatiannya sebentar kepada para tamu undangan malam ini, saya ibu dari Alex Ray Farendra Manullang ingin memperkenalkan calon mantu saya yaitu Gladis. Kesini sayang" panggilnya dengan senyum yang tidak luntur disudut bibirnya.
Gladis dengan bangga naik diatas panggung sembari senyum seramah mungkin.
"Apa-apaan ini Pi?" Tanya Ray kepada Papinya.
"Papi juga gak tau Lex, Mami mu senekat itu ternyata" Ujar Papinya. Ia heran dengan istrinya tanpa persetujuan darinya dan Ray melakukan semuanya.
"Akkh" Ray pergi meninggalkan tempat begitu saja.
Namun, sebelum hilang dari pandangan, Maminya langsung memanggil Ray.
"Anak saya Alex, ayo sayang kesini" Ujarnya lagi.
Ray antara kembali dan tetap lanjut pergi dari tempat itu jadi dilema. Dengan terpaksa menghampiri maminya diatas panggung bersama Gladis disana. Ia lakukan ini hanya sekedar menghargai orang tuanya.
"Sangat cocok kan?" Tanya Mami Ray lagi setelah Ray berada diatas panggung yang sama.
Ray senyum terpaksa dengan sorotan mata ke Viona. Arah pandang Ray itu membuat Gladis jengkel dan kesal.
Gladis berbisik ditelinga Mami Ray dan seketika Mami Ray mengangguk tanda setuju.
__ADS_1