Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
80. Keputusan Orang Tua Ray


__ADS_3

"Udah dua kali, Gladis mengaku sebagai calon istrinya tapi Ray tidak pernah menyangkal, apakah dia bohong selama ini?, ternyata masih cinta sama Gladis?" Batin Viona sembari mencari baju untuk Ray yang diikuti oleh Gladis.


Gladis senang melihat Viona diam dan kurang semangat memilih baju.


"Kenapa Vio?, Lagi gak enak badan atau lagi sakit ini?" tanya Gladis sembari menunjuk dadanya tepat bagian hati.


"Terbaca kah?" Batinnya lagi.


Dengan senyum seadanya, Viona menjawab, "Lagi gak enak badan saja, makanya tu.." Viona mengarahkan jari telunjuknya diatas meja, "itu obat saya" Lanjutnya.


"Kirain sakit hati!" Pancing Gladis lagi.


Viona menoleh melihat Gladis sejenak lalu ia senyum dan lanjut memilih baju.


"Ini, tinggal suruh calon suamimu coba. Ruangannya ada disebelah sana" Ujar Viona sambil menunjuk ruang ganti yang tidak jauh dari mereka.


Gladis menerima pakaian yang beberapa lembar tersebut. Ia kembali melihat baju itu satu persatu, karena Viona sengaja mencarikan baju 5 lembar.


"Gak ada warna lain?" Tanya Gladis sengaja.


"Menurut aku sudah pilihan yang terbaik"


"Tapi, rasanya kurang" Balas Gladis sembari mengangkat telepon.


"Halo tante,.. baik Tan, by" ucapan Gladis dalam telepon sebelum sambungan dimatikan.


"Gimana?" Tanya Viona.


"Hhmm. Gimana ya" Gladis pura-pura berpikir, "Gak jadi, tidak cocok dengan badan Ra" lanjutnya mengembalikan baju-baju itu ditangan Viona.


"Sorry, by" Ujarnya sembari melangkah menghampiri Ray.


"Ra, Mami kamu menyuruh kita pulang sekarang" Ujarnya setelah sampai samping Ray.


"Kenapa?, pulang duluan saja nanti aku nyusul" Respon Ray.


"Tapi ini urgent, cepat!" Desak Gladis.


"Haa, ok!" Kepala Ray mendadak kosong mendengarnya, ia bangkit dari kursinya.


"Viona, aku harus pulang sekarang" Pamitnya lalu pergi.


"Aku juga pamit ya" Ujarnya sembari melambaikan tangan. Senyum jahat terukir indah di bibir Gladis.


"Iya, hati-hati" Balas Viona dan ikut melambaikan tangan kepada Gladis.


"Ngapain melambaikan tangan sama perempuan itu, itu sengaja manasin kamu" Ina mengingatkan Viona.


"Sini duduk, kita perlu bicarakan tentang pekerjaan saya disini."


"Dan ingin memastikan sudah resmi diterima sebagai karyawan atau belum?, Kalau diterima kapan aku bisa masuk kerja?" Lanjutnya.


Viona membalikkan badan yang tidak jauh dari Ina.


"Sudah terhitung masuk mulai hari ini" Jawabnya sambil melangkah dan duduk disamping Ina.


"Setelah dipikir-pikir, Gladis itu memang aneh ya" Lanjutnya sambil memegang dagu.


"Menurutmu gimana?" Tanya Viona.


"Memang aneh dari dulu, kamu aja baru sadar" Jawaban spontan keluar dari bibir Ina.


Viona menolehkan kepala kepada Ina, dengan kaget ia bertanya.


"Emang gitu?, Gak masalah kita jalani saja hidup ini" respon Viona setelah mendengar jawab Ina.


"Iya, gimana lagi kan?" Pertanyaan pasrah dari Ina.


"Iya" Jawaban singkat dari Viona.


Keduanya memandang ke depan, entah apa yang menarik didepan keduanya, sedangkan depan mereka hanya tembok putih.


Disisi lain, dengan keadaan yang sama seperti diawal datang di bengkel, kembalipun dengan Gladis lagi. Dengan kecepatan tinggi dan kadang menyalip motor-motor lain.


Gladis antara ingin teriak dan protes karena takut tapi kembali urungkan niat, mengingat dulu pernah dikasih turun ditengah jalan dan itu tidak ingin terjadi kedua kalinya.


Biasanya 20 menit sampai rumah dari bengkel, sekarang hanya menempuh 10 menit. Ray turun dari motor lalu masuk dalam rumah dengan langkah sedikit lari.


"Mi, Pi" Panggil Ray.

__ADS_1


Tidak ada jawaban sama sekali. Ray muncul rasa khawatir dalam dirinya kalau ucapan Gladis itu benar. Pikirannya mulai panik.


"Mi, Pi" Panggilnya menuju kamar orang tuanya.


Gladis melihat itu langsung ikut belakang Ray.


"Om dan Tante gak disini."


Kalimat Gladis mampu memberhentikan langkah Ray. Ia balik badan menghadap Gladis yang tidak jauh darinya.


"Terus dimana?"


"Dirumah aku."


"Ngapain?" Tanya Ray. Awalnya khawatir dan sekarang berubah jadi bingung.


"Gak tau, kita disuruh kesana."


"Ayo kalau gitu, Mami dan Papi bikin panik saja" Ujar Ray.


Ray dan Gladis kembali mengendarai motornya menuju rumah orang tua Gladis. Ia membawa motor dengan kecepatan sedang. Hati Gladis pun tenang.


Sampai kediaman orang tua Gladis, dan benar saja mobil orang tuanya ada disana parkir dengan santai.


"Benar kan?" Tanya Gladis setelah melihat mobil itu, "ada apa ya?" Lanjut Gladis lagi.


"Ini bukan rencana mu kan?" Tanya balik Ray dengan nada dingin tanpa ekspresi.


"Bukan, aku aja gak tau" Jawab Gladis cepat.


"Baguslah kalau gitu" kalimat itu berlalu bersama tubuh Ray meninggalkan Gladis dihalaman rumah.


Gladis menghentakkan kakinya di tanah, "iiiii nyebelin banget sih jadi orang."


Ray mengetuk pintu dan tepat berada bagian samping belakang Ray.


Orang tua keduanya menoleh kearah pintu.


"Orang yang ditunggu akhirnya datang" Ujar Mami Ray.


"Iya, benar. Masuk dan gabung dengan kami disini" Pinta Mama Gladis.


Ray dan Gladis pun masuk dan duduk diantara kedua orang tua mereka. Karena Ray pernah pacaran dengan Gladis jadi orang tua Gladis tidak asing lagi dengan Ray.


"Maaf sebelumnya Tante, tapi kabar apa ya?" Tanya Ray yang sedikit bingung lalu menoleh kearah orang tuanya yang berada disisi kanannya, "Ada apa Mi, Pi?" Lanjutnya penuh kebingungan.


"Tenang, Papi dan Mami hanya melakukan yang terbaik untukmu dan nak Gladis" Jelas Papinya.


"Maksudnya Pi?" Tanya Ray lagi.


"Gini nak Ra, orang tuamu datang disini untuk melamar putri bapak untuk nak Ra dan kami sudah menerima lamarannya sebelum kalian berdua sampai" Penjelasan itu membuat Ray kaget.


"Diterima" Ulang Ray tidak percaya.


"Iya, saya sudah mengenal baik kamu nak Ra, jadi mana mungkin menolak lamaran darimu" Tutur Ayah Gladis.


"Bagaimana Gladis?" Tanya Mamanya.


"Gladis mau Ma, Gladis sangat mencintai Ra sampai kapanpun" Jawab Gladis. Hati Gladis hari ini tidak bisa digambarkan oleh apapun, bahagia luar biasa.


Ray mengusap wajahnya dengan kasar dan itu dilihat oleh semua orang berada ditempat. Ada rasa frustasi disana tergambar jelas diwajah Ray.


"Sepertinya saya harus pulang, sudah selesai kan proses lamarannya?" Tanya Ray berusaha sebaik mungkin.


"Iya" Jawab singkat dari ibu Gladis.


"Iya, saya harus pergi sekarang. Urusan bengkel belum selesai" Kilahnya.


"Oh tidak masalah, silahkan nak Ra" Jawab ayah Gladis mengizinkan, "Gladis antar tunanganmu" Lanjutnya kepada putrinya itu.


"Tidak perlu Om" Jawab Ray sambil mengangkat tangannya tanda melarang Gladis untuk bangkit dari kursinya.


Ray pergi dengan langkah terburu-buru, ia tidak habis pikir dengan langkah yang diambil orang tuanya. Motor yang ia kendarai melaju begitu saja dijalan tanpa arah dan tujuan tertentu. Pikirannya kacau hari ini.


Kepergian Ray dari rumah Gladis dan orang tua Ray terutama Maminya memberikan cincin tanda ikatan pada Gladis sebelum menikah.


"Maaf ya jika yang pakai hanya kamu, tau sendiri kan Alex seperti apa?, Tapi jangan khawatir Mami bantu kok" Bisiknya saat memeluk calon mantunya.


Gladis mengangguk paham, "Iya Tan."

__ADS_1


Mami Ray tersenyum mendengar jawaban Gladis.


"Aku tidak salah pilih calon mantu, baik dan seiman" Batinnya.


🌺


Viona lagi memastikan butiknya terkunci dengan baik. Sebenarnya Ina tidak keberatan untuk melanjutkan jaga butik sore sampai malam seperti biasa Viona lakukan, tapi karena harga pakaian dibutik Viona belum dikuasai semua, jadi memilih pulang seperti pemiliknya.


"Besok jam berapa buka butiknya?" Tanya Ina sembari jalan menuju parkiran mobil mereka.


"Seperti biasa" Jawaban santai Viona seakan Ina sudah kerja lama di butiknya.


"Biasanya itu berapa?"


"Jam 9, nanti aku telepon kalau lupa besok" Ujar Viona.


"Kan masih demam, demamnya ini baru star lho" Ina lebih menghawatirkan kesehatan Viona.


"Gak apa-apa, kan aku tinggal duduk santai di kasir, gak apa kan?" Tanya Viona memastikan.


"Gak dong, aku jemput saja mulai besok supaya jalannya sama-sama"


"Tapi.." kalimat itu dipotong oleh Ina dengan menaruh jari telunjuknya didepan bibir, tanda Viona diam.


"Bawel banget" Ucapan Ina itu mendapat respon ketawa dari Viona.


Viona merasa punya kakak kembali setelah kedua kakaknya Yesi dan Rifal sibuk dengan pekerjaan mereka.


"Terima kasih, aku seperti punya kakak lagi" Ungkap Viona dengan tulus dengan menepuk punggung tangan Ina yang pegang setir mobil.


Ina menoleh sekilas sembari senyum. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing, Ina memilih fokus mengumudi dan Viona main ponsel.


Rasa bosan mulai muncul dalam diri Viona, setelah beberapa menit diam, kini Viona kembali bertanya lagi.


"Na, kamu sahabat aku kan?" Tanya Viona dengan sengaja.


"Kalau diterima"


"Yee, serius malah dibercandain" Ujar Viona sembari mengeluarkan ingusnya ditisu.


"Jorok"


Viona seketika tertawa disela mengeluarkan cairan bening dari hidungnya itu, suara Viona mulai sedikit serak.


"Ini penyakit Na" Ujar Viona lagi sembari mencari kantong plastik dalam mobil Ina.


Ina paham apa yang dicari Viona, tapi dalam mobil ia tidak stok kantung plastik.


"Buang!" Perintah Ina.


"Haa" viona tidak menangkap maksud dari Ina.


"Itu tong disamping, cepat bau Viona" Ina sedikit teriak tidak tahan.


"Oh ok" Viona seketika keluar dari mobil membuang tisu bekas yang ia pakai dalam mobil.


Ina menatap Viona dengan diam setelah kembali masuk dalam mobil. Ia sengaja sedekat mungkin dengan bak sampah agar lebih mudah dibuang dari atas mobil, Viona malah turun membuangnya dan joroknya pintu mobil Viona tidak tutup.


"Kenapa sih, main tahap-tahap kayak gitu?, Jangan macam-macam lho, aku bosmu" Ujar Viona membuat Ina menjitak jidat Viona.


"Sakit tau Na" Viona mengusap jidatnya, "aku kasih tau my besti nih" Lanjutnya sambil mengangkat ponselnya.


"Silahkan" Jawab Ina dan melanjutkan perjalanan, "bau lagi mobil aku" Lanjutnya.


"Bau tapi baru jalan, coba pas masuk mobil tadi langsung jalan, pasti... Gak parah-parah amat baunya"


Viona dan Ina terus berdebat dalam mobil, ia menemukan sosok kakaknya dalam diri Ina. Berhenti debat saat mobil sampai depan gerbang rumah Viona.


"Na, gak mampir dulu?" Tawar Viona kepada Ina.


"Lain kali aja ya, capek hadapi kamu" Jawaban jujut Ina membuat Viona kembali tertawa.


Viona demam tapi ia tidak rasa sebab kekesalan Ina dalam mobil seperti obat mujarab bagi penyakitnya.


"Na, kamu persis seperti kak Yesi, hanya saja.."Ujarnya lalu dengan cepat keluar dari mobil.


"Hanya bedanya, kak Yesi gak suka kesal tapi suka nyuruh" Lanjutnya.


Viona sengaja melanjutkan kalimatnya setelah keluar dari mobil Ina, karena ia tahu kalau lanjut pasti kena jitak untuk kedua kalinya.

__ADS_1


"By, assalamualaikum" Ujar Viona lagi lalu melambaikan tangan kearah Ina.


"Wa'alaikumussalam" jawab Ina dengan nada pelan dan ia kembali memutar mobilnya kembali menyusuri jalanan kota.


__ADS_2