Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
73. Merasa Aman


__ADS_3

Pukul 01.00 Dini Hari


Tiga mobil berhenti tepat depan gerbang rumah Viona. Ada rasa tidak enak dalam hati Viona, tapi itu semua diluar kemampuannya untuk melarang dua laki-laki tersebut untuk tidak mengantarnya pulang. Tapi jika ia jujur, dirinya takut melintasi jalan yang cukup jauh jarak butik dan rumahnya untuk ditempuh sendiri.


Viona turun dari mobil untuk membuka gerbang rumahnya. Ada inisiatif dari Ray untuk turun dari mobil membantu Viona, namun didahului oleh Ahmad.


"Biar aku" Ujar Ahmad kepada Viona dan itu sangat jelas terdengar ditelinga Ray.


"Pulang saja, ini sudah jam 1 pagi"


"Benar, lain kali hati-hati, assalamualaikum Vio, hati-hati" Ujar Ahmad lalu masuk dalam mobil, dan memutar kembali mobilnya menuju jalanan besar.


Ray menyaksikan itu dari dalam mobil. Sementara Viona kembali masuk dalam mobil tapi terlebih dahulu menghampiri Ray untuk mengucapkan terima kasih.


"Jangan berterima kasih" Ujar Ray saat Viona baru membuka mulut untuk mengucapkannya.


"Terus?" Tanya Viona bingung.


"Sampai kapan berterima kasih?" Ray tanya balik kepada Viona.


"Sampai aku tidak ada lagi alasan untuk berterima kasih"


"Oh ya, good" Ujar Ray sambil mengangkat jempolnya, "aku pamit, udah ngantuk" lanjutnya dan Viona mengangguk.


Viona mundur, sedikit menjauh dari mobil Ray.


Ray menurunkan kembali kaca mobilnya.


"Masuk, tunggu apalagi diluar Vio"


"Kamu, eehh.. maksud aku kalau kamu udah pergi baru aku masuk" Jelas Viona.


Ray menertawai Viona yang gelagapan akibat salah jawab.


"Oh ya, emang mau dijambret disini?" Tanya Ray, membuat Viona seketika membulat matanya.


"Gak lah, by" Ujar Viona lalu kembali masuk mobilnya membawanya masuk dalam halaman rumah.


Setelah memastikan Viona sudah dalam area yang aman, baru Ray memutar mobil menuju jalan besar pulang dibapartemen.


Viona masuk dengan perlahan dalam rumah, kaki dijinjing agar tidak terdengar oleh sang ibu.


"Selamat" Gumamnya sambil mengelus dada setelah sampai depan kamarnya.


"Viona!" Panggil ibu Heti membuat Viona kaget.


Viona memegang dadanya sembari senyum menampilkan deretan giginya.


"Maaf mam, terlambat pulang"


Ibu Heti bertolak pinggang, "Mama panik, bukan pulang langsung temuin mama malah masuk kamar diam-diam"


"Mam, bukan gak mau temui mama, tapi takut tidur mama terganggu" Jelas Viona tidak enak pada ibunya sendiri.


"Ibu mana Vio, enak-enakan tidur dirumah sementara anaknya diluar sana. Ditelepon juga gak jawab" Ibu Heti lega anaknya sudah pulang, tapi dibuat kesal seketika setelah melihat tingkah Viona.


"Kalau kayak gini lagi, mending mama nikahkan saja supaya ibu bisa tenang" Lanjut ibu Heti.


Seketika tas Viona yang ia pegang jatuh di lantai. Ia tidak menyangka jika ancaman nikah itu jadi senjata ibunya.


"Ma, aku gak cinta sama Ahmad, gimana mau nikah"


"Cinta bisa tumbuh sendirinya" Jawaban santai dari ibu Heti.


"Mama ingin Viona bahagia tapi kenapa harus dipaksa?" Tanya Viona tidak mengerti lagi dengan ibunya, ia bingung sampai kapan terus seperti ini.


"Paksa gimana? Mama dari dulu gak pernah setuju kamu pacaran, tapi nyatanya pacaran diam-diam dengan Ahmad" Jelas Ibu Heti.


Viona mendengar itu langsung diam seketika, kebohongan yang dia lakukan dulu direstoran membuatnya sulit untuk menjelaskan yang sebenarnya.


"Nanti aku putuskan Ahmad kalau gitu"


"Vio, seperti kamu harus tidur. Istrahat" ibu Heti menghentikan pembicaraan dini hari ini.


Ibu Heti pergi dan Viona masuk dalam kamarnya. Membersihkan badan itu pilihan pertamanya. Setelah memakai cream malam matanya sudah tidak mengantuk lagi. Scroll isi ponsel itu pilihannya. Jari-jemarinya bermain diatas layar benda pipih itu membawanya masuk diaplikasi Instagram.


"Foto siapa nih" Viona penasaran dengan gambar misterius diakun Ahmad.


"Sok misterius" Gumamnya lagi.

__ADS_1


"Tapi kepo sih, aku DM.. ah" lanjut Viona.


Tanpa embel-embel bertanya langsung keinti.


"Mad foto siapa tu, misterius banget, gebetan baru ya?"


Setelah DM, Viona langsung meninggalkan instagramnya. Matanya berat ingin melanjutkan tidur dibutik tadi.


Mata baru ia pejamkan, ponselnya bergetar.


"Aduh, baru mau tidur. Siapa sih" Gumamnya sembari meraih ponselnya.


"Ahmad, ngapain telepon malam kayak gini?" Ujarnya tapi ia angkat juga, "aku kerjain ah, siapa suruh ganggu tidurku" Lanjut Viona tertawa jahat, lalu ia berdehem sebelum menjawab telepon Ahmad.


"Assalamualaikum, ada apa Mad?" Tanya Viona dengan santai sambil memejamkan mata.


"Wa'alaikumussalam, kenapa DM?" Tanya balik Ahmad. Ahmad sampai rumah memilih untuk periksa dan membalas pesan di email yang masuk lewat laptopnya sampai sekarang.


"Oh, menelfon hanya tanyakan itu. Gak jawab gak masalah kok" Pancing Viona lagi.


"Bukan kayak gitu maksud aku, tapi tumben aja" Ahmad mengatakan keheranannya kepada Viona yang tiba-tiba penasaran dengan apa yang ia posting.


"Hmm, nanti aku gak tanya lagi kalau gitu" Ujar Viona lagi.


"Aku gak keberatan, hanya kaget aja" Ujar Ahmad lagi, dalam hati Ahmad senang jika Viona penasaran tentang dirinya.


"Mad, kita sahabat masa ia gak boleh bertanya, dasar aneh"


Seketika senyum yang terukir disudut bibir luntur setelah mendengar Viona yang lagi-lagi mengatakan kalau mereka sahabat.


"Kita bukan hanya sahabat lho" Ahmad mencoba mengingatkan Viona.


"Pacar boongan juga kan, maksudmu?"


"Itu bukan aku yang bilang tapi kamu sendiri"


"Sudahlah Mad, kalau gak mau kasih tau siapa itu cewek kenapa menelepon, ganggu tidur cantik aku saja" Kesal Viona. Awalnya ingin membuat Ahmad kesal tapi nyatanya malah dia yang kesal.


"Bentar" Ujar Ahmad, ia memilih untuk menutup laptop dan menuju tempat tidur, merebahkan diri sambil teleponan dengan Viona menurutnya keputusan yang bagus, agar ia lebih rileks juga.


"Bikin apa sih Mad?" Tanya Viona lagi.


"Hmmm" respon Viona dengan mata sudah tidak mampu ia buka lagi saking mengantuknya.


"Itu kamu" Jawab serius dari Ahmad direspon gelak tawa dari Viona.


Pecah suara tawa Viona dalam telepon mendengar kalimat dari sahabatnya itu, "Mad, kalau gambar itu aku, gak usah semisterius itu juga kali, bikin orang penasaran tapi gak masalah juga sih, hebat loh editannya sampai aku gak tau kalau bidadari itu adalah aku."


Ahmad tertawa diseberang telepon mendengarnya, ia tau kalimat bidadari itu pasti Viona baca di caption gambar.


"Harapan sih, kalau gak diizinkan sahabat aja gak masalah" pancing Ahmad ingin tau reaksi Viona seperti apa.


"Emang kamu sahabat terbaikku, tapi Mad aku tidur dulu ya. Ngantuk nih. Assalamualaikum" Viona menutup telepon lalu ia tidur.


🌺


Pagi cerah, sinarnya masuk disela-sela gorden Viona. Ia mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk dalam kamar dengan matanya yang baru ia buka. Dengan mengumpulkan nyawanya yang sedang berpencar Viona mengambil jam beker diatas meja samping tempat tidurnya.


"Jam 9"


Viona kaget, ia mengucek matanya dan kembali melihat jam beker tersebut.


"Masa iya" Viona belum percaya jam dikamanya.


Ia mengibas selimut dan ia turun dari atas tempat tidur. Cuci muka lalu pergi menemui ibunya yang sudah dimeja makan bersama dengan seorang laki-laki yang tidak asing dimata Viona.


Untungnya laki-laki tersebut membelakang sehingga tidak melihat aurat Viona.


Viona kembali kekamar dengan cepat untuk memakai kerudung dan kembali menghampiri mereka yang sedang di meja makan.


Viona melirik Ahmad sekilas lalu mengambil piring untuk sarapan.


"Mam, sekarang udah jam berapa?" Tanya Viona sambil menyendok nasi goreng.


"Pukul 10 pagi, baru bangun ya?" jawab Ahmad berakhir tanya.


Viona menjawab tanpa menoleh kearah Ahmad, sambil menyuapkan makanan dalam mulutnya dan ia kunyah sedikit menjawab.


"Terlambat tidur tadi malam"

__ADS_1


Jawaban itu Ahmad hanya meresponmya dengan menaikkan sebelah alisnya. Dari jawaban itu ada yang Ahmad tidak percaya.


"Oh ya, di butik tidur berapa jam?"


"Ketiduran Mad, bukan tidur" Viona memperjelas.


Ibu Heti dari arah dapur ikut menimpali ucapan anaknya itu.


"Vio, kamu perempuan mau ketiduran atau tidur itu gak boleh. Untung Ray gak macam-macam sama kamu"


"Emang Ray gak mungkin lakukan hal yang tidak baik lah mam, apalagi sama Vio" jawab Viona, dengan tidak segaja ia telah membela Ray dengan ibu dan Ahmad.


Ahmad hanya menghela napas, ia tidak ingin memperpanjang lagi pembahasan soal tadi malam.


"Tan mau ke butik gak?" Tanya Ahmad mengalihkan pembicaraan.


"Kebetulan aku mau kearah sana juga" lanjutnya lalu ia minum tanda sarapannya sudah berakhir.


"Sepertinya tidak. Kepala mama ini pening, kurang tidur semalam" Ujarnya.


"Oh gitu ya tan"


Ahmad paham betul, karena ia ikut mengantar Viona pulang.


"Vio, gak ke butik?" Tanya Ibu Heti kepada Viona.


Viona menggeleng kepala pelan, masih bada rasa takut kalau hari ini ke butik seorang diri.


"Istrahat dulu" Kilahnya sambil menyendok nasi goreng, ia terlihat santai dimata orang didepannya.


"Terima karyawan saja kalau gitu" Usul Ahmad lagi.


Viona tertarik dengan usulan Ahmad, tapi seketika ia urungkan karena uang dari butiknya belum stabil.


"Gak dulu deh, mungkin nanti" Tolaknya halus.


Ahmad mencoba paham dengan keputusan Viona. Ia sengaja mengusulkan untuk menerima karyawan agar ia tidak khawatir dengan keselamatan Viona.


"Aman di butik?" Tanya Ahmad yang membuat Viona berhenti mengunyah dan mengerutkan keningnya sambil menatap Ahmad.


"Kamu tau banyak hal?" Tanya balik Viona.


Ahmad seketika tertawa kecil mendengar pertanyaan balik dari Viona. Ia mengambil kunci dan membuka ponselnya sejenak lalu ia pamit.


"Jaga diri"


Kalimat itu, membuat Viona berpikir keras. Kenapa Ahmad selalu mengucapkan kalimat itu, sejak tadi malam. Ada apa?.


Viona diam sejenak sebelum memutuskan untuk kembali ke kamar untuk melanjutkan ritual tidur siangnya. Badannya pegal-pegal dan tulungnya seperti remuk tak bertenaga itu yang dirasakan Viona saat ini.


Tidur siang, bermalas-malasan dalam kamar salah satu kegiatan yang dirindukan. Rasa nyaman ada saat kita berada ditempat yang aman dari bahaya.


"Apa sih maksud dari kata-kata Ahmad itu?" Viona tiba-tiba kepikiran kalimat Ahmad tadi pagi.


"Mungkin, karena aku perempuan dan ketiduran di butik makanya aku disuruh hati-hati" Lanjutnya seakan mengerti maksud dari kata-kata Ahmad.


Waktu begitu cepat berlalu, jam tidur siang Viona sudah habis. Ia memutuskan untuk ke butik sore hari hanya untuk sekedar melihat keadaan butiknya.


Berpakaian rapi tapi sederhana, itu lah Viona. Ibu Heti sedang membaca buku menggunakan kacamata, ia langsung menurunkan sedikit kacamatanya sembari bertanya.


"Udah sore kayak gini, mau kemana?"


"Butik mam, hanya cek aja gak akan lama disana" Jelasnya.


"Hati-hati kalau gitu" Pesan ibu Heti kepada Viona sebelum Pergi.


Mobil ibunya yang dia gunakan, setengah perjalanan tidak lupa Viona menelfon Ray hanya untuk memastikan apakah dibengkel atau dilluar.


"Halo Ray, di bengkel?"


"Iya, kamu?"


Seketika hati Viona lega mendengar Ray berada dibengkel.


"Aman berarti" Batinnya.


"Aku otw butik, by" percakapan berakhir.


Akhirnya Viona hari ini tidak buka butik, ia menganggap libur sehari tidak masalah, karena badannya punya hak untuk istrahat.

__ADS_1


__ADS_2