
Ray kembali dari restoran langsung mengemaskan barang-barangnya yang menurutnya penting. Kali ini rencana Ray bukan pergi hanya sebentar melainkan ingin menetap di korea. Hati dan pikirannya sedang tidak sinkron. Hati masih berharap pada Viona tapi yang ada di kepalanya untuk saat ini sementara harus meninggalkan Indonesia.
Telepon genggamnya bergetar diatas meja.
"Iya Mi, besok pagi Mi. By" Ucap Ray dalam telepon itu.
Setelah sambungan telepon dengan Maminya putus, Ray kembali menelfon Alan.
"Lan, bawa motor aku dirumah, gak sempat aku ke sana" Ujar Ray ditelepon.
"Aku lagi sibuk Ra" Jawab Alan diseberang telepon.
"Ok" Balasan Ray lalu memutuskan sambungan telepon.
Beberapa menit prepare semua barang bawaannya sudah selesai. Ia membanting diri diatas tempat tidur sambil menutup mata.
"Semoga ini keputusan terbaik" Batinnya seakan hatinya belum mengikhlaskan Viona sepenuhnya.
Alan yang dalam perjalanan tanpa bertanya banyak langsung menuju rumah Ray. Tidak menunggu waktu lama Alan pun sampai, mengetuk pintu lalu masuk dalam rumah sambil memanggil sahabatnya itu.
"Ra, ini kunci motor kamu" Teriaknya diruang tamu.
"Ra, aku balik yaa. Kunci mobil aku mana?" Tanya Alan lagi.
Teriakan dan pertanyaan Alan itu tidak direspon oleh Ray, entah Ray pura-pura tidak dengar atau ia dengar hanya malas jawab.
"Ra" panggil Alan lagi.
"Kunci mobil aku dimana Ra taruh, dipanggil gak nyahut. Kenapa lagi?" Alan bertanya-tanya seorang diri diruang tamu sambil mencari kuncinya.
"Ra, kunci aku dimana?" Tanya Alan lagi dengan teriak untuk kesekian kalinya.
"Haaaaa, susah ini" Gumamnya lagi.
Alan memutuskan untuk mencari keberadaan Ray dan ia yakin kalau Ray pasti berada di kamarnya. Ia mengetuk pintu lalu masuk.
Klek (suara pintu terbuka)
"Ra, kunci mobil aku dimana?, Buset banyak banget ini barang, kayak mau pindahan saja" Ujar Alan setelah melihat barang Ray berkoper-koper.
Ray tidak merespon ucapan Alan hanya menepuk tempat tidurnya menyuruh Alan ke atas tempat tidur.
Alan bergidik ngeri.
"Ra, aku masih normal lho, cari yang lain saja" Ucap Alan membuat Ray yang awalnya menutup mata langsung terbuka lebar.
"Hee, otakmu saja yang ke geser. Aku akan ke Korea, tolong ya awasi bengkel" Permintaan sahabat.
"Buset, aku awasi saja restoranku sudah uring-uringan, apalagi awasi dua tempat"
"Cukup sekali seminggu Lan"
"Berapa lama di Korea?"
"Tergantung"
"Maksudnya?"
Alan tidak mengerti jawaban sahabatnya itu.
__ADS_1
"Pokoknya cek bengkel aku ya bro" Ujar Ray lagi sambil menepuk pundak Alan yang duduk disalah satu kursi dalam kamar Ray itu.
"Ok" jawab Alan dengan terpaksa.
Ray tau tapi ia abaikan begitu saja. Bukan tanpa alasan berlama-lama di Korea, ia ingin melupakan Viona.
"Besok aku berangkat, jadi ini kunci apartemen aku" Ujar Ray lagi sambil menaruh kunci apartemen diatas meja depan Alan.
"Untuk?"
"Berkas bengkel aku ada disana sebagian"
"Oh" Jawab singkat Alan sembari menganggukkan kepala.
Berbeda jauh dengan Viona, dirinya saat ini gelisah dengan ucapan Ahmad. Ternyata candaannya membuat ia bingung sendiri. Viona setelah pulang dari restoran Ahmad langsung masuk kamar dan sampai saat ini, magrib menjelang ia belum keluar kamar juga. Tidak biasa bagi Viona berlama-lama dalam kamar tanpa ada yang dikerja atau shalat.
Ibu Heti sampai berpikir kalau Viona belum pulang dari gedung butik tersebut.
Yesi yang pulang sore tadi langsung melihat kembali berkas-berkas yang perlu diurus untuk pemindahan putrinya nanti.
"Yesi, Viona belum pulang jam segini?" Tanya Ibu Heti.
"Belum pulang!, Ini udah malam mam" Jawab Yesi.
"Mama bertanya?"
"Oh bertanya, kurang fokus mam lagi periksa berkas Ainun" ungkap Yesi lagi.
"Lanjut saja kalau gitu, mama cek Viona dikamar" Ujar ibu Heti lalu pergi.
Ibu Heti langsung mengetuk pintu dua kali baru masuk dalam kamar putrinya itu yang kebetulan tidak di kunci.
Viona tidur pasrah diatas tempat tidurnya mendengar pintu terbuka dan bau ciri khas parfum Ibunya.
"Hanya cek kamu saja, tumben gak keluar kamar?"
"Malas mam, gak ada inspirasi diluar. Hehehe"
Ibu Heti memilih duduk dibibir ranjang agar dekat dengan anaknya itu.
"Gimana gedung untuk butik, sudah siap digunakan gak?" Tanya ibu Heti ingin tau perkembangan gedung tersebut.
Viona mendengar itu, langsung bangkit dari tidurnya. Ia merasa aneh dengan gedung yang akan beli nanti itu.
"Mam, siapa pemilik gedung itu sebelumnya?"
"Mama gak tau, kan kita beli lewat agen"
Jawaban ibu Heti masuk akal, emang mereka beli lewat agensi dan sampai saat ini belum bertemu dengan pemilik sebelumnya.
"Belum dibeli mam, katanya diperbaiki dulu semua bahkan warna gedung pun bisa request sendiri, Viona senang dan penasaran" Tutur Viona kepada ibunya.
"Bagus dong, kenapa penasaran?"
"Aku pengen berterima kasih langsung kepada pemiliknya itu, karena itu yang biayai pemilik gedung itu"
"Tapi harga gimana?"
"Seperti harga kesepakatan, gak berubah makanya aku tuh penasaran sebaik apa sih itu orang" Ujar Viona sambil berpangku tangan diatas tempat tidur.
__ADS_1
"Bersyukur dan kita doakan saja semoga dia diberikan rezeki lebih dari itu" Ujar Ibu Heti.
Dan diamini oleh Viona dengan cepat sambil menengadahkan tangan keatas.
"Aaamiiin" Jawab Viona lalu mengusap wajahnya.
🌺
Waktu begitu cepat berganti, semalam dengan pergerakan bulan dan matahari yang awalnya didominasi bulan sekarang digantikan oleh sang surya. Koper-koper Ray sudah dimasukkan dalam mobil yang saat ini Alan sudah dirumah Ray dari sejam yang lalu. Alan menguap sudah berkali-kali menahan rasa kantuk.
"Ra, jam berapa berangkat ke bandara?"
"Bentar lagi, Lan apa Viona tau aku balik ke Korea hari ini?" Tanya Ray dan berharap Viona datang menemuinya untuk terakhir kalinya.
"Kalau kamu kasih tau pasti datang tapi kalau gak berarti tidak tau dan sudah dipastikan tidak datang" jawaban santai Alan.
"Gak penting Lan, dia udah bahagia juga kok sekarang dengan pilihan ibunya.
Alan langsung bisa menebak alasan Ray ke Korea dengan waktu yang Ray sendiri tidak tau. Ia senyum melihat sahabatnya yang patah hati itu, tapi yang membuat Alan penasaran tentang bahagianya Viona.
"Mau Viona tau?" Tanya Alan dan ditangannya sudah menggenggam gadgetnya.
Ray seketika mengangkat tangannya melarang Alan.
"Dia udah bahagia Lan, yuk antar satu jam lagi aku cake-in".
Alan membawa mobil yang berpenumpang Ray bersama kopernya. Alan memutar musik dalam mobil untuk menghilangkan rasa kantuknya.
Alan mengirim pesan kepada Viona tanpa sepengetahuan Ray. Ray bersandar sambil menutup mata, tidak ada perbincangan dalam mobil seperti biasa.
"Baru seperti ini sudah pindah negara, gimana Viona menikah" Gumam Alan lagi.
Bunyi ponsel Ray membuatnya harus membuka mata hanya untuk melihat siapa yang menelfon.
"Oh" responsnya sambil meletakkan kembali ponsel dalam saku jasnya.
"Siapa Ra?" Tanya Alan pura-pura tidak tau.
"Viona"
"Kenapa gak dibalas?"
"Aku ngantuk, tidak konsentrasi balas pesan saat ini" Kilah Ray lalu kembali menutup matanya untuk tidur sebelum sampai bandara.
"Halah bilang aja kesal karena Viona tidak ketemu sebelum ke Korea, sampai Korea nyesal tidak balas pesan Viona"
"Terserah kamu Lan, kasih tau aku kalau sudah sampai bandara" Ujar Ray lagi malas untuk memperpanjang cerita.
10 menit kemudian sampai bandara, Alan membangunkan Ray dan turun dari mobil serta membantu Ray mengeluarkan koper-kopernya dari dalam mobil.
"Ra, kamu serius ke Korea dalam waktu lama?" Tanya Alan tidak yakin.
"Iya, kenapa gak percaya?" Tanya balik Ray kepada sahabatnya itu.
"Hmm gimana ya. Apa gak takut Viona di ambil orang lain?" Tanya Alan lagi.
Ray hanya tertawa mendengar itu, entah tertawa khawatir atau kecewa hanya Ray yang tau.
"Kamu ada masalah dengan Viona? Kalau ada jangan lari tapi selesaikan"
__ADS_1
"Masalahnya tidak ada, jadi apa yang mau diselesaikan. Sepertinya aku harus masuk melakukan check ini sekarang" Ungkap Ray sambil melihat jam tangannya, "by Lan" sambungnya lalu mereka jabatan tangan.
Ray masuk bandara untuk check in sebelum melakukan penerbangan sedangkan Alan kembali ke apartemennya sebelum ke restoran.