Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
9. Ulah Ray


__ADS_3

Waktu begitu cepat bergulir, semua dijalani seperti biasa. Viona memutuskan untuk tidak mencari pekerjaan lagi dalam waktu dekat, ia fokus mengantar jemput ponakannya di sekolah semenjak Yesi sang kakak ikut suaminya ditempat tugas beberapa minggu yang lalu.


Yesi bukan tidak mau membawa Ainun, hanya saja saat itu mendadak berangkat bersama suaminya, sementara gadis kecil mereka bernama Ainun sedang aktif belajar disekolah. Jadi, Yesi memutuskan untuk tidak membawa Ainun dan ditambah Ainun dekat Viona membuat Yesi tidak khawatir meninggalkannya.


"Bibi, ini hari Minggu apa kita tidak ke Mall?" Tanya Ainun.


"Ngapain?" Viona pura-pura tanya balik.


"Belanja" Jawab Ainun dengan polos.


"Hmm, anak kecil tau juga tentang belanja. Emang mau beli apa di mall?" Tanya viona ingin tau keinginan ponakannya itu.


"Baju bibi, baju yang gambarnya doraemon" Ucapnya lagi.


"Hmmm, gitu. Bibi gak punya uang untuk beli baju"


"Hp bibi" minta Ainun.


"Nih" Viona memberikan hp pada ponakannya itu. Viona tidak terpikirkan kalau ponakannya itu menelfon mamanya.


"Nomor hp mama mana?" Tanya Ainun yang masih memperhatikan layar ponsel Viona.


"Sini bibi carikan" ucap Viona dan hp sudah kembali berpindah ke tangan Viona.


Viona langsung mencari kontak Yesi dan menekan tanda memanggil, seketika diseberang telepon mengangkatnya.


"Assalamualaikum dek, kenapa dek pagi-pagi menelfon?" Tanya Yesi dan ponsel Viona sengaja di spiker agar Ainun dengar.


"Wa'alaikumussalam kak, Ainun ingin bicara" jawab Viona.


"Ayo sayang, itu mama" Sambung Viona kepada Ainun dan Yesi mendengar itu.


Iya tidak khawatir kalau anaknya ia titipkan dirumah orang tuanya dan yang jaga adalah Viona.


"Mama, Ainun pengen beli baju yang ada gambar doraemonnya, tapi bibi gak punya uang" Lapor Ainun kepada mamanya.


"Ya udah, mama transfer uang ke bibi yaa nanti belanjanya sama-sama bibi, gimana?" Tanya Yesi diseberang telepon dan Ainun sudah tidak mendengar ucapan mamanya saking senangnya langsung lari menemui neneknya.


"Nek, Ainun mau mandi, mau pergi belanja dengan bibi sekarang" Ucapnya yang membuat ibu Heti geleng kepala melihat tingkah cucunya itu.


"Sayang, mau beli apa di Mall?" Tanya Marcelea yang lagi membantu ibu mertuanya di dapur.


"Beli baju Doraemon" Jawab Ainun lalu ia lari kembali ke kamar dimana Viona berada.


"Bibi mandi, kita beli Doraemon" panggil Ainun sudah tidak sabar.


"Kakak kapan pulang, lihat aku kak belum menikah sudah jaga anak kecil bisa-bisa yang naksir kabur duluan kak" Ucap Viona dalam telepon membuat Yesi dan Dafa tertawa.


"Tenang, Ayah Ainun carikan jodoh disini yang cocok untuk kamu, jadi tenang aja" ucap Yesi ditelepon itu.


"Jangan, tidak mau punya suami abdi negara" Ucap Viona lagi.


"Dari pada gak nikah-nikah, uang sudah ditransfer ke rekening ya dek" Ucap Yesi lagi.


"Baik, aku siap-siap dulu nanti Ainun ngambek, baru aku kena omelan serumah, assalamualaikum" Ucap Viona lalu mematikan sambungan telepon dan siap-siap untuk ke Mall.


🌺


Diperjalanan ke Mall, Viona dan Ainun bercanda ria diatas motor. Ia sengaja mendudukkan Ainun di depan agar mudah menjaganya. Ainun memakai helm khusus anak kecil menurut Viona itu sangat lucu.


"Bibi, masih jauh?" Tanya Ainun.


"Lumayan" jawab Viona.


"Oh" jawab Ainun, "bibi lihat om gak?" Tanyanya lagi.


"Om siapa?, Gak tuh" Jawab Viona, ia lupa maksud dari panggilan Om dari Ainun itu.


"Om di bengkel" Jelas Ainun membuat Viona berpikir sejenak.


"Oh om di bengkel" Ulang Viona lalu fokus membawa motor.


"Bibi ngantuk" Keluh Ainun lagi.


"Jangan dong sayang, tadi maunya pakai motor sekarang mengantuk. Bahaya tidur diatas motor. Doraemon sudah menunggu tuh di Mall" Ucap Viona lagi.


"Tunggu Ainun?" Tanya Ainun.


"Iya dong" Jawab Viona sembari bertanya lagi agar Ainun tindak mengantuk, "Siapa yang punya baling-baling bambu?"


"Doraemon, hahahaha" Jawab Ainun lalu ia ketawa.


"Hahaha benar" Ucap Viona.


Viona sengaja membawa motor pelan dan sedikit kepinggir agar bisa terus mengajak ponakannya cerita.


Viona tidak menyadari kalau dibelakang mereka diikuti sebuah mobil. Yang tidak lain adalah Ray.


Ray tidak sengaja melihat Viona membawa motor dengan Ainun di dudukkan didepan dengan sambil mengajaknya cerita dan sekali-kali mereka ketawa seakan cerita mereka sangat lucu.


"Beginilah gak punya adik, lihat anak kecil ketawa aja senang" Gumam Ray dalam mobil.


Ray penasaran kemana arah pergi Viona dan Ainun dihari minggu pagi ini. Ray melihat motor viona menyalakan lampu sen, ia pun dengan cepat menyalakan lampu sen mobilnya.


"Ke mall" Ucap Ray dalam mobil seorang diri.


Viona masuk parkiran motor sedangkan Ray masuk diparkiran khusus mobil. Disanalah mereka berpisah.


Setelah memarkirkan motornya, viona masuk dalam Mall menuju pakaian anak-anak seperti yang Ainun ucapkan.


Sementara Ray, dalam pikirannya kalau anak-anak pasti tidak jauh-jauh dari tempat permainan. Ia pun memutuskan untuk ke tempat bermain anak-anak di Mall tersebut.


"Kok gak ada ya" Batin Ray sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Viona dan Ainun.


Berbeda dengan Alan, ia sekarang baru selesai olahraga, ia memutuskan untuk istirahat dengan merebahkan badannya diatas tempat tidur ternyata malah ketiduran.


Ia gelagapan melihat jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, Alan pun langsung menelpon Ray.


"Halo Ra, aku ke bengkel ya" Ucap Alan dalam telepon.


"Terserah kamu Lan, sudah dulu aku lagi sibuk, by" Ucap Ray menjawab ucapan Alan lalu ia matikan sambungan telepon.


"Dasar super sibuk" Ucap Alan melihat layar ponselnya setelah Ray mematikan sambungan telepon.


Alan pun melangkah pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu ke bengkel sahabatnya.


Sedangkan disisi lain, Viona masih mencarikan baju Doraemon untuk Ainun.


"Coba ini sayang" Ucap Viona.


"Doraemonnya jelek" Ucap Ainun membuat Viona seketika bertolak pinggang.


Menghela napas dan membuangnya dengan kasar lalu memberikan baju itu kepada penjaga toko dan tidak lupa minta maaf.


"Maaf ya mbak, atas ucapan ponakan saya" Ucap Viona lalu menurunkan pandangannya pada Ainun, "sayang minta maaf sama mbaknya" Sambungnya. Viona selalu mengajarkan ponakannya itu etika dan sopan santun.


"Maaf ya mbak" Ucap Ainun.


"Iya, tidak apa-apa" Jawab Mbak tersebut.

__ADS_1


Viona dan Ainun pindah toko lagi, sudah berapa toko mereka masuki tapi selalu Ainun tidak suka dan yang jadi sumber masalah penolakannya yaitu gambar doraemonnya jelek.


"Sayang, ini baju anak-anak semua, tinggal pilih" Ucap Viona sambil menunjuk pakaian dalam toko tersebut, "dan bibi duduk disini ya" sambungnya sambil menepuk tempat duduknya.


"Baik bibi" Jawab Ainun lalu ia mulai mencari pakaian yang ia suka dan Viona abadikan momen itu dalam sebuah gambar untuk sang kakak.


Viona sibuk dengan ponselnya sampai Ainun pun memanggil namanya tidak dengar.


"Bibi, Ainun mau ini" Ucap Ainun sambil memperlihatkan baju yang ia pegang.


"Ambil saja sayang kalau suka" Jawab Viona tanpa melihat ponakannya itu.


Mendengar itu Ainun kembali mencari baju lagi, berbagai model baju ia ambil, dari gambar kupu-kupu, Barbie sampai kostum buaya, komodo ia beli dan bahkan ia mengambil baju peri yang memiliki tongkat.


"Bibi, bagus gak?" Tanya Ainun lagi.


"Bagus dong sayang, kalau anak cantik pakai apapun pasti cantik" Ucap Viona dan lagi-lagi Viona menjawab tanpa melihat ponakannya.


"Aku mau jadi buaya" Ucap Ainun lagi.


"What?" Tanya viona kaget dengan ucapan ponakannya itu dan kali ini ia melihat ponakannya, "Astaghfirullah, kenapa seperti itu wajahmu Ainun, bibi marah lho" sambungnya tapi jujur dalam hati Viona ingin ketawa ngakak.


"Siapa yang memberimu bedak kayak aspal jalanan seperti ini sayang?" Tanya Viona dan seketika menoleh ke tempat lain, "ya Allah gak bisa tahan ketawa sebenarnya" Gumamnya dan menunduk sejenak untuk tertawa lalu kembali menatap ponakannya sambil menggelengkan kepala.


"Ya Allah Ainun, siapa yang bikin kamu seperti ini?" Tanya Viona lagi yang sudah tidak bisa tahan tawa.


"Om" Jawabnya singkat.


"Haa, Om, Om siapa?" Tanya Viona, "hahaha, bibi video call mama ya" Sambungnya dengan minta izin pada Ainun dan Ainun itu mengangguk tanda ia.


"Bibi, mama sudah angkat video callnya?" Tanya si kecil Ainun.


"Hahaha, duduk sayang, gak bisa berhenti ketawa kalau bibi lihat wajah Ainun, hahaha" Ucap Viona yang tidak bisa menahan tawa dan Ainun pun ikut tertawa.


Sedangkan dalang semua itu, dia pun tidak berhenti ketawa melihat ekspresi kaget dan mendengar suara tawa Viona. Apalagi melihat wajah polos Ainun dan dibaluri bedak seperti badut membuatnya pecah ketawa.


"Ternyata semenyenangkan ini" gumamnya dengan memegang perutnya karena kram.


Flashback


Ray mengelilingi Mall kesana kemari mencari keberadaan Viona dan Ainun, ia sudah capek menyusuri Mall belum membuahkan hasil. Ia ingin menyerah dan niat ingin pulang, tapi ia berinisiatif untuk pencarian terakhir yaitu di mainan anak-anak. Sementara tokoh mainan anak-anak tidak terlalu jauh dengan toko pakaian anak-anak.


Ray ingin membeli mainan untuk Ainun tapi matanya tertarik ke baju anak kecil, ia pun memutuskan untuk kesana.


Awalnya, ia mencari pakaian sebagai hadiah untuk Ainun tapi saat mengambil baju dengan karakter buaya, Ainun mengambil itu.


"Om, ini buat Ainun" Ucap Ainun tiba-tiba.


Ray yang tidak memperhatikan langsung meng iyakan tanpa melihat siapa yang bicara.


"Om di bengkel" panggil Ainun.


"Iya" jawab Ray singkat sambil melihat ke bawah dimana Ainun sedang mendongakkan kepalanya melihat Ray.


"Ainun" Panggil Ray kaget, "sendiri sayang?" Tanya Ray.


"Dengan bibi, tapi bibi meyuruhku pilih baju sendiri" Jelas Ainun.


"Oh" jawab Ray singkat. Ia melihat Viona duduk santai sambil main ponsel.


Ray muncul ide untuk membuat ponakan Viona itu seperti badut dan ia yakin Ainun pasti mau, karena anak kecil suka dengan permainan.


"Ainun mau gak main badut-badutan?" Tanya Ray.


"Mau om" Jawab Ainun senang.


5 menit kemudian Ray kembali dengan paper bag ditangannya dan Ray tidak lupa minta bantuan pada salah satu karyawan toko tersebut.


Dandan ala badut pun dimulai dengan gerakan cepat wajah Ainun berubah. Ray tidak bisa bohong kalau wajah polos anak kecil jadi lucu seketika setelah didandani.


"Bilang sama bibi Viona, mau beli baju buaya" Ajar Ray kepada Ainun.


"Iya om" jawab Ainun nurut.


"Kalau bibi Viona tanya siapa yang dandanin kamu seperti ini, bilang saja tidak tau" Ajar Ray lagi.


"Iya Om" jawab Ainun lagi.


"Pokoknya rahasia berdua ya, janji?" Tanya Ray sambil menaikkan jari kelingkingnya.


"Janji" Ucap Ainun sambil menautkan jari kelingkingnya ke jari Ray.


Ray dan Ainun pun ketawa senang. Ray pun bersembunyi dibalik pakaian yang bergantungan di toko itu sedangkan Ainun pergi menghampiri Viona.


Flashoff


Viona masih menunggu kakaknya mengangkat telepon, "lama banget angkat telepon" Gumamnya.


"Lain kali VC nya yaa, bergaya agak jauh dari bibi, bibi mau ambil gambar untuk mama" Ucap Viona


"Ok sudah" Ucap Viona dan langsung mengirimnya lewat WhatsApp kepada Yesi.


"Mbak apa ada tisu basah?" Tanya Viona.


"Sebentar ya mbak" Jawab penjaga toko itu dan pergi mengambil tisu basah.


Penjaga tokoh pergi, Viona kembali bertanya kepada ponakannya.


"Ainun waktu cari baju ketemu orang gak?" Tanya viona.


Ainun mengangguk dan tiba-tiba langsung menggeleng.


"Mana yang benar sayang, ketemu orang atau tidak?" Tanya Viona lagi.


"Hmmm" Jawab Ainun bingung dengan mata tertuju pada satu tempat yang sedikit jauh darinya.


"Ainun, bibi tanya lho ini" Ucap Viona lagi.


"Ini mbak tisunya" Ucap penjaga toko itu dan memberikan kepada Viona.


"Makasih ya mbak" Ucap Viona dan langsung membersihkan wajah ponakannya itu.


Masih membersihkan wajah Ainun, dari arah belakang ada yang memanggil Viona.


"Ainun" Panggilnya


Ainun dan Viona pun melihat kesumber suara.


Yang memanggil Ainun itu adalah Alan. Alan singgah di Mall rencana membelikan mainan untuk Ainun. Tapi ternyata malah ketemu di Mall.


"Om bengkel" Panggil Ainun.


Viona langsung mengulum senyum mendengar nama Alan di ganti dengan om bengkel.


"Wajah Ainun kenapa?" Tanya Alan mengabaikan panggilan barunya.


"Ada yang iseng, masa di wajah Ainun tiba-tiba berubah jadi badut" Ujar Viona.


"Peri cantik, siapa yang menggambar seluruh wajahmu?" Tanya Alan dengan pelan agar Ainun mengerti.

__ADS_1


"Menggambar itu di buku gambar om bengkel bukan di wajah" Jelas Ainun membuat Alan sebenarnya malu tapi demi menjaga image depan Viona maka ia terima dengan rasa malu itu.


"Pernah lihat bibi Viona pakai lipstik?" Tanya Viona dan Ainun langsung mengangguk.


"Oke, siapa yang pakaikan Ainun lipstik?" Tanya Viona lagi.


"Om di bengkel" Jawab Ainun lagi.


"Om bengkel dan om di bengkel. Ini aku bingung" Ucap Viona, "lupakan sayang, baju yang Ainun pilih, man?" Sambungnya.


"Bibi menyuruh Ainun langsung bawa dikasir" Jelas Ainun.


"Hehehe, bibi lupa, ayo ke kasir" Ajak Viona pada ponakannya itu.


Viona menuju kasir dan Alan dengan secepat kilat membeli baju lucu yang sangat cocok dengan Ainun.


"Berapa semua mbak?" Tanya Viona.


"Lima juta mbak" jawab mbaknya dan seketika Viona melihat ponakannya sedangkan Ainun hanya cengar-cengir sambil menunggu hasil belanjaannya.


"Buset ini anak, kecil-kecil satu kali belanja lima juta" Monolog Viona.


Viona membayar belanjaan Ainun menggunakan kartu kredit, setelah selesai proses pembayaran pegawai bagian kasir langsung menyerahkan semua paper bag belanjaan Ainun tadi.


"Banyak bangat mbak" Protes Viona.


"Sudah begitu belanjaan ponakan mbak" Jawabnya membuat Viona hanya menghela napas dan pasrah.


Masih menatap 8 paper bag yang berjejer diatas meja kasir, datang lagi satu paper bag baru.


"Mbak makasih, 8 paper bag saja sudah bingung bagaimana ditambah satu" Keluh Viona.


Viona bingung karena kendaraan yang dibawah ini motor bukan mobil, makanya ia sedang mencari solusi yang tepat.


"Aku bantu" Ucap Alan membuat Viona menoleh kesamping.


"Alan terima kasih banget, tapi masih bisa membawanya kok" Tolak Viona dengan lembut agar Alan tidak tersinggung.


"Yakin dengan membawa anak kecil dan 9 paper bag pakai motor?, kenapa gak bawa mobil?" Tanya Alan.


"Kurcaci ini yang minta pakai motor" jawab Viona membuat Alan tertawa., "Maaf ya Alan paperbagnya diambil saja" sambung Viona lalu mengangkat paper bag itu dan memberikan ke Alan.


"Itu untuk Ainun, jadi mana mungkin saya mengambilnya kembali" Jawab Alan.


"Sayang, pegang paper bag dari om bengkel ya" Ucap Viona sembari mengulum senyum, ia merasa lucu setiap mengingat ponakannya memanggil Alan dengan sebutan itu.


Dari aktivitas mereka bertiga, semua dipantau langsung oleh Ray dari toko yang sama. Ia ingin menghampiri tapi waktunya kurang tepat karena ada Alan disana.


Ray berlalu begitu saja tepat dibelakang Alan dan Viona, sedangkan Ainun mondar-mandir dalam toko itu sehingga dapat melihat Ray lewat.


"Om di bengkel" Gumamnya sambil memperhatikan Ray berlalu menggunakan topi warna coklat dengan jaket hitam.


"Om di bengkel" panggil Ainun dan Ray menoleh seketika mendengar panggilan itu.


"Om, tunggu" teriak Ainun dan lari menuju Ray.


"Hai sayang" Ucap Ray kepada Ainun, "mati kamu Ray" sambungnya dalam hati.


Viona dan Alan menoleh kebelakang setelah mendengar Ainun memanggil orang yang membuat Viona lagi-lagi ingin tertawa.


"Sayang, jangan laaa...ri" Ucap Viona melambat setelah melihat Ainun memeluk Ray.


"Itu siapa? Kok Ainun memeluknya" Heran Viona karena ia tidak bisa melihat wajah Ray yang tertutupi pet topi.


Alan hanya diam dan menatap orang yang memeluk tubuh mungil Ainun itu.


"Apa itu Ray?" Batin Alan.


Alan dan Viona menghampiri Ainun yang sedang memeluk Ray.


"Sayang, anak manis gak boleh lho peluk orang sembarang" Tegur Viona dengan lembut kepada Ainun.


"Ini Om di bengkel itu bibi" Jawab Ainun setelah melepas pelukannya pada Ray.


"Siapa? Bukan ini om bengkel?" Tanya viona sambil menunjuk Alan disampingnya.


"Itu Om bengkel" Ainun tunjuk Alan lalu jarinya mengarah ke Ray, "ini Om di bengkel" Sambungnya dengan polos.


Viona bingung tapi ia juga tidak bisa menahan tawa melihat dua orang laki-laki yang memiliki nama bagus tapi tiba-tiba berubah setelah bertemu Ainun.


"Sayang, gak boleh ganti nama orang, gak sopan namanya" tegur Viona, "bibi gak suka lho" Sambungnya dan Ainun mengangguk mengerti.


"Minta maaf sayang" Ucap Ainun lagi.


Ainun pun mendongak melihat Ray dan Alan silih berganti.


"Om marah?" Tanyanya.


"Lah, bukan minta maaf tapi malah bertanya" Ucap Viona lagi, "maaf ya" sambung Viona kepada Alan dan Ray.


Tatapan Ray dan Alan sulit diartikan oleh Viona, mereka berdua hanya meresponnya dengan seulas senyum.


"Ayo pulang om antar" Ajak Alan dan Ray bersamaan.


"Yeeee, Om ajak Ainun pulang. Ayo Om" Ucap Ainun.


"Ainun, kamu buat bibi pusing hari ini" Monolognya.


"Mmm, bukan Ainun mau jalan-jalan dengan bibi Lea sore nanti" kilah Viona.


"Temanin dede bayi jalan-jalan?" Tanya Ainun.


"Iya, dede bayi dalam perut bibi Lea ingin di temanin kakak Ainun" Ucap Viona lagi.


"Apapun alasannya, jalan-jalan dengan orang yang belum lama di kenal itu hal yang tidak mungkin terjadi" monolog Viona.


Viona melihat Ray dan Alan dengan ekspresi bersalah, "maaf ya tidak bisa, soalnya Ainun sudah janjian dengan istri kakak saya ingin jalan-jalan sore ini"


Ray mengerti hal itu, begitupun dengan Alan.


"Om, nanti Ainun ajak Om jalan-jalan, by Om" Ucap Ainun sambil melambaikan tangan pamit pulang.


"By sampai ketemu sayang" Balas Ray.


Alan sebagai pakar cinta, menaruh curiga pada Ray.


"Pancing" Batin Alan.


"Viona ke ibuan ya" Ucap Alan sambil melihat Viona dan Ainun jalan beriringan keluar dari toko pakaian anak.


"Katanya ke bengkel, kenapa nyangkut disini?" Tanya Ray mengalihkan pembicaraan.


"Panggilan hati bro, mau gimana lagi" Jawab Alan lalu pergi meninggalkan Ray.


Ray mendengar jawaban itu dan melihat Alan pergi langsung lari mengejar sahabatnya itu.


"Ke bengkel?" Tanya Ray lagi yang sudah sampai parkiran mobil.


"Iya, kemana lagi" jawab Alan lalu masuk dalam mobil begitu pun dengan Ray masuk dalam mobil dan membawa mobilnya menuju bengkel.

__ADS_1


__ADS_2